Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 59 Bahasa Indonesia

Dibaca 596 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Disonansi

“‘Upacara pembukaan’ akan berlangsung besok. Tapi menggesampingkan itu untuk saat ini, Dean, kamu jelas sudah membuat persiapan untuk situasi ini. Berapa banyak dari rencanaku yang sudah kamu ketahui.” (Iris)
 
Pemahaman Dean tentang rencanaku mempunyai sedikit perbedaan di sana-sini, tapi secara keseluruhan sangat mirip.
 
Dia sadar apa yang sudah aku lakukan dengan gereja dan pembongkarannya. Dia mendengar sebagian besar dariku dan berbagai rumor yang beredar, dan mempbuat persiapannya berdasarkan informasi yang dia kumpulkan.
 
“Saya mengerti langkah-langkah yang akan anda ambil, namun apakah anda pergi keluar dan bertemu orang itu dengan wajah seperti itu?” (Dean)
 
“Wajah seperti itu?” (Iris)
 
“Anda mungkin tidak menyadarinya sendiri, Nona. tapi Anda terlihat buruk sekarang.” (Dean)
 
Tidak, Anda terlihat buruk, aku ingin membalas, tapi aku bahkan tidak bisa membantah kata-katanya.
 
“Semua orang di sini telah mengetahuinya, namun, meskipun mereka khawatir, tidak ada yang berani mengatakan apapun kepada Nona, itulah sebabnya saya ingin  menyampaikan pikiran saya di sini. Saya telah mendengar banyak hal tentang Nona, dan melalui pengalamanku bekerja secara langsung dengan Nona, Saya menjadi ingin tahu… Nona, yang pertunangannya dengan pangeran kedua dibatalkan, yang sekarang bekerja keras untuk rakyatnya, dan terus bekerja keras untuk rakyatnya di tengah-tengah badai ini… dia tidak pernah menangis, dia juga tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan, bahkan dalam suaranya. Dia terus bergerak maju dengan semua bebannya dipendam kedalam. Mengapa anda berusaha menjadi begitu kuat?” (Dean)
 
“…Kamu salah. Aku tidak pernah mencoba untuk menjadi kuat.” (Iris)
 
Tidak menangis… Menjadi kuat. Apa itu ‘Iris’ akan atau aku sekarang? Takdir memang aneh.
 
“Memisakah dirimu dari perasaan anda, bukan?” (Dean)
 
TIdak. Tolong, berhenti. Aku tidak ingin bergantung pada orang seperti itu lagi. Tolong, berhenti menyudutkanku. Aku menggigit bibirku.
 
“Air mataku tidak akan menyelesaikan apa-apa.” (Iris)
 
Kata-kata yang keluar dari mulutku sendiri adalah kata-kata yang paling tidak ingin kudengar.
 
“…’Air mata tidak akan menyelesaikan apa-apa.’ Hmmm. Meskipun saya setuju dengan pernyataan itu, mengurung diri seperti itu adalah jauh lebih buruk daripada menangis. Melalui air mata anda akan dapat keluar dari sangkar anda dan benar-benar maju ke depan. Anda harus menghadapi perasaan anda secara langsung, meskipun mereka berbahaya, karena itu akan membuat hati anda tertutu.” (Dean)
 
Aku tidak bisa menahannya lagi… begitu aku memikirkan itu, semua emosi dan perasaan yang aku pendam akan meledak.
 
“Lalu, apa yang kamu sarankan?! Menangis di sudut dan berteriak minta tolong untuk berharap seseorang datang dan membantuku?! Apa kamu mencoba mengatakan padaku bahwa menangis dan mengeluh akan memecahkan situasi ini!? Kamu juga tahu aku melakukan itu agar tidak ada yang akan terjadi…!” (Iris)
 
Aku ingin berhenti, tapi remku tidak berfungsi.
 
“Aku tidak mempunyai kemewahan untuk menjatuhkan segalanya dan menangis! Bahkan pertunanganku — itu sangat menyakitkan dan membuat furstasi betapa tidak berdayanya aku!” (Iris)
 
Meskipun cintaku sudah padam setelah pembatalan, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku masih tidak memikirkannya. Aku khawatir tentang ke mana aku harus pergi dari sini dan frustasi pada kebencian diriku sebelumnya. tapi menangis tidak akan memberiku kepercayaan diri dan mempunyai sinar matahari diatas kepalaku. Jadi aku berhenti menangis. Aku memutuskan untuk menggunakan kepalaku untuk bernegosiasi dengan ayah.
 
Bahkan setelah aku tiba di wilayah, aku masih tidak yakin dengan semuanya. Dalam kehidupanku sebelumnya, aku hanyalah akuntan biasa yang bisa kamu temukan di agen pajak manapun. Ini adalah pertama kalinya aku harus belajar dan mengurus perselisihan politik dan situasiku yang selalu khawatir apa pilihanku benar-benar akan meningkatkan kehidupan rakyatku dan apa aku diizinkan untuk menerapkan kebijakan. Semua pertanyaan ini menggangguku.
 
“Bahkan sekarang, pengucilan dari gereja… aku, seorang pendosa… Apa-apaan ini? Apa yang sudah kulakukan untuk menerima pernyataan seperti itu?!” (Iris)
 
Tik. Tik. Aku bisa merasakan air mataku jatuh.
 
“Ini Sulit. Ini sangat sulit. Kenapa? Kenapa ini terjadi padaku?! Aku hanya ingin lari, menjerit, dan berteriak, tapi…” (Iris)
 
Aku mencoba untuk menyembunyikan air mataku dengan tanganku, tapi air mataku menetes dari telapak tanganku.
 
“Dan semua ini karena diriku yang tidak berguna… Dadaku sakit ketika aku memikirkan rakyatku dan penderitaan mereka. Mereka semua sudah berusaha keras dan melakukan begitu banyak untuk membangun wilayah kita… Karena aku, semuanya menderita. Aku sangat tidak berguna dan menyedihkan… Ini sangat menyakitkan.” (Iris)
 
Seperti lumpur, kata-kataku menjadi berantakan dan buruk, emosiku membingungkan kata-kata yang keluar dari mulutku. Kata-kata yang datang setelah mengalami kedua emosi dan doronganku di dalamnya.
 
“Kalau aku menagis dan meminta bantuan, akankah seseorang datang untuk menyelamatkanku? Tidak ada, aku hanya akan menjadi beban berat yang harus ditinggalkan. Bahkan kalau aku mencari bantuan, sebagai anggota keluarga Armelia, hanya disebut orang berdosa akan mempengaruhi semua orang yang berhubungan denganku. Kecuali aku bisa membuat mereka menarik kembali pernyataan itu, Tidak ada yang akan berubah. Sampai saat itu, Aku hanya akan menjadi orang yang bertanggung jawab.” (Iris)
 
Ya, bahkan kalau aku melepaskan semua kekuasaan dan statusku kepada seseorang, selama aku masih orang berdosa yang dikucilkan dari gereja, itu akan tetap mempengaruhi konglomerat dan keluargaku. Itulah betapa buruknya. Bahkan kalau aku tidak bisa menghapus yang sudah disebut orang berdosa, setidaknya aku harus menyingkirkan pernyataan itu.
 
“Aku mencoba untuk tetap kuat… Dean, kamu salah. Aku tidak menahan air mata karena mereka tidak berguna… Aku tidak bisa menangis karena… Bagaimana kalau aku ditinggalkan lagi?” (Iris)
 
Aku takut menjadi beban. Meskipun aku tahu bodoh untuk berpikir seperti itu, aku masih tidak ingin kehilangan semua orang. Aku menyimpan rasa takut itu di hatiku, karena, mungkin… mungkin saja itu bisa terjadi.
 
“Aku tidak berusaha untuk menjadi kuat… Aku hanya berusaha terlihat kuat. Tapi aku bahkan tidak berhasil. Aku hanya manusia yang menyedihkan – Itulah aku.” (Iris)
Setelah mengungkapkan perasaanku, air mataku meluap. Ini mungkin pertama kalinya sejak aku menjadi Iris, Aku mencoba mengekspresikan emosiku yang menjijikan dan kebingungan.
 
 
“…Tampilan kekuatan Anda sungguh indah… tapi, tolong jangan luapa siapa dirimu yang sebenarnya. Ini adalah harapan semua orang yang bekerja dengan anda. Anda tidak membiarkan diri anda menjadi rentan atau mengambil waktu untuk diri anda sendiri… Meningat posisi anda dan masa lalu, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, namun jika anda menekan seperti ini, anda akan mengkhawatirkan orang-orang yang berbagi perjalanan anda dan anda mungkin kehilangan arah. Tolong jangan lupakan ini.” (Dean)
 
Ekspresi Dean saat dia mengungkapkan pikirannya yang sebenarnya terlihat sangat serius.ini bahkan terasa seperti salah satu ceramah yang biasa diberikan ayahku. Tapi sekarang aku mengerti arti dibalik kata-kata itu, Ayah, dan sangat menyakitkan. Terima kasih, Dean.
 
Setelah waktu yang lama… yah, setelah menangis sangat banyak, aku sudah tertidur dimana saat Dean tidak mengetahuiku dan mengatakanku untuk beristirahat sambil menunjukkan kalau dia akan menangani sisa pekerjaan hari ini. Kalau bukan karena dia, aku akan tetap bekerja. Ini adalah pertama kalinya aku tidur nyenyak; Aku tertidur begitu aku meletakkan kepalaku di bantalku.
 
Besok paginya, ketika aku melihat ke cermin, aku melihat kalau mataku masih merah. Tapi, kulit dan hatiku terasa segar. Sekarang, saatnya untuk ‘Upacara pembukaan’.
 
* * *

Saya agak bingung untuk menentukan judulnya, karena Disonansi terasa ambigu bagi saya. Sebelumnya saya menuliskannya Kerumitan tapi malah lebih ambigu. Disonansi ini menggambarkan suara nangisnya Iris hehehe.

tags: baca novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, web novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, light novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, baca Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 59, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 59 manga, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 59 online, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 59 bab, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 59 chapter, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 59 high quality, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 59 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!