Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 61 Bahasa Indonesia

Dibaca 587 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Pidato Dari Sudut Pandang Seorang Warga Wilayah

 
Saat Waktu menjelang malam biasanya kebanyakan orang akan berkumpul di kedai minum, tapi hari ini semua orang sedang menuju ke gereja yang baru dibangun. Aku tahu gereja itu baru. tapi aku merasa ada alasan yang lebih besar untuk ini.
 
Saat aku menuju gereja, di antara kerumunan orang, aku melihat banyak bangsawan dan orang-orang berpengaruh di kereta mereka atau berjalan dengan penjaga mereka, termasuk para presiden perusahaan besar dan kepala desa, bergerak ke arah gereja. Ada juga orang biasa sepertiku. Aku secara khusus memperhatikan orang luar dari ibukota di antara kerumunan orang.


Aku bisa datang lebih awal dan mendapatkan tempat duduk di dalam, karena aku tinggal agak dekat dengan gereja baru itu. Kapel baru itu besar, tapi bahkan dengan ukurannya yang besar, masih tidak bisa menampung semua orang yang datang untuk melihat apa yang akan terjadi. Ada juga orang yang melihat dari jendela dan pintu yang dibiarkan dibuka agar orang-orang yang tidak mendapat tempat duduk di kapel bisa untuk melihatnya.


Pernyataan dari Gereja mengatakan bahwa penguasa wilayah kami dikucilkan dari Gereja adalah hal yang sulit untuk ditelan dan membuat semua orang termasuk aku, khawatir dengan masa depan. Aku mendengarkan bahwa hari ini penguasa wilayah ini akan menjelaskan kenapa mereka dikucilkan, sehingga banyak dari kita yang datang untuk mendengarkannya.


Ada alasan lain kenapa orang-orang ada disini: rumor tentang anak yatim piatu di panti asuhan terdekat. Rumor mengatakan bahwa penguasa melindungi anak-anak yatim piatu dari pedagang budak dan membeli gereja tua dari mereka untuk memberikan tempat tinggal bagi anak-anak yatim piatu. Aku sendiri sudah bertemu dengan para yatim piatu dan pengasuh mereka, Nona Minae, karena pekerjaanku sebagai pedagang. Ketika aku mendengar rumor itu, aku langsung menemui Nona Minae untuk memastikannya. Tapi, setiap kali aku pergi dan memanggilnya, dia tidak pernah ada di sana. Aku lebih sering berbicara dengan Nona Minae dan anak-anak di masa lalu, jadi saat aku mendengar rumor itu, aku merasa marah pada para pedagang budak dan bersedih. Aku yakin tidak hanya sebatas itu, karena aku mengerti bahwa seseorang pasti sudah membantu mereka. tapi apa penguasa kami melakukannya atau tidak. Kesanku terhadap penguasa adalah mereka tidak akan melakukan sejauh ini untuk membantu anak-anak di panti asuhan.


Sambil memikirkan hal-hal ini, aku melihat seorang imam di altar berlutut dan berdoa kepada tuhan. Pada saat yang sama, suara organ pipa bergema dan melodi yang indah mulai dimainkan. Aku merasa hatiku berdebar dengan melodinya.


Saat imam memulai doanya, kami semua ikut berdoa.


Tidak lama setelahnya, khotbah dimulai.


“Tuhan mengasihi semua anak-anaknya. Tuhan ingin ssemua anak-anaknya saling memahami satu sama lain. Dengan membantu satu sama lain, seseorang dapat hidup dengan bermatabat, dan dengan menerima cinta tuhan, seseorang dapat menunjukkan kerendahan hati dan hidup dengan kebanggaan. Tuhan telah mengajari semua anak-anaknya nilai dari hubungan yang kita miliki dengan orang lain.” (Imam)


Suara lembut dan ramah dari imam itu terdengar di seluruh kapel.


“Namun, Tuhan juga membantu mereka yang ingin untuk bertobat atas dosa-dosa mereka. Tuhan menghargai semua anak-anaknya dan menganugerahkan pengampunan kepada mereka yang bertobat dan memperbaiki kesalahan yang telah mereka lakukan. Kita sebagai anak-anak Tuhan harus meliat dengan hati yang jernih dan menilai apa yang jahat dan apa yang adil. Kita harus mengulurkan tangan bagi mereka yang jujur dan benar dan menawarkan bantuan kepada mereka yang telah berbuat kesalahan. Saya Berdoa bagi mereka yang telah melakukan dosa untuk menerima cinta tuhan dan menebus kesalahan dengan cara mereka.” (Imam)


Setelah imam menyelesaikan doanya, kapel menjadi berisik dan tegang. Apa kata-kata ini diarahkan pada penguasa wilayah?


Ketika imam berjalan menjauh dari altar, kami pikir upaca akan berakhir. Tapi, seorang gadis menggantikannya.


Dia mengenakan gaun putih tanpa dekorasi atau desain. Daripada disebut gaun, itu lebih mirip dengan kebiasaan seorang biarawati. Tapi meski saat mengenakan gaun putih polos, sosoknya sangat cantik sehingga setiap orang akan segera jatuh cinta padanya.


“Halo semuanya. Saya berterima kasih karena telah datang ke upacara pembukaan kapel baru ini.”


Suaranya yang jernih dan saat dia membungkuk, dia cocok dengan gambaran wanita yang sempurna… Aku merasa sepertinya pernah melihatnya di suatu tempat sebelumnya…


Siapa wanita itu? bisikan terdengar diseluruh hadirin. Aku juga mendengar seseorang memanggilnya ‘Alice’… asal suara itu berasal dari orang biasa sepertiku.


Seolah dia mendengar pertanyaan kami, dia menjawab.


“Namaku Iris. Iris Lana Armelia. Aku adalah putri dari Duke Armelia dan wakil penguasa dari wilayah ini.”


Begitu dia memperkenalkan dirinya, ada kegaduhan… Yah, tentu saja, akan ada. Orang ini dikucilkan oleh Gereja, jadi kehadirannya di gereja baru merupakan kejutan besar.


“Semua orang, saya sadar akan pertanyaan yang harus anda tanyakan sekarang: Mengapa saya ada disini, di tempat suci tuhan ini ketika saya telah dikucilkan? Mohon jangan khawatir. Saya telah menerima izin dari imam, dirinya sendiri untuk berdiri dan berbicara di hadapan anda semua hari ini. Saya meminta hal yang sama dari anda semua seperti Bapa sebelumnya. Mohon, semua orang dengarkan dan putuskan mana yang benar dan salah dengan hati yang jernih.”


Suaranya, suasana dan nada terdengar bermatabat. Dia terlihat seperti wujud kapel itu sendiri. Saat dia memulai berbicara, suara dan bisikan itu berhenti, kecuali bisik-bisik dari hanya beberapa orang di samping.


“Wilayah kita kaya dan masyarakat mengikuti ajaran Tuhan dengan segenap hati mereka dengan memperlakukan satu sama lain dengan cinta. Tetapi tidak semua orang menerima ajaran-ajaran ini dan tidak semua orang dapat menerimanya karena keadaan lingkungan mereka.”


Dia menggemgam kedua tangannya dalam doa dan mengangkat suaranya sedikit.


“Saya bertemu orang-orang seperti itu; mereka adalah anak-anak yatim piatu. Anak-anak ini diberkati selama beberapa waktu demham seorang hamba tuhan yang merawat mereka – seorang saudara perempuan yang mengajarkan mereka ajaran-ajaran tuhan dan dunia. Tetapi, seperti dengan halnya semua kehidupan, hamba tuhan yang tercinta ini meninggalkan dunia ini dan kembali kepada bapa suci kita. Karena tanah itu tidak dibayar dan karena tidak yang mengunjungi kapel lagi, Gereja menjual tanah itu. Anak-anak itu kemudian dibiarkan untuk berjuang mereka sendiri. Orang-orang yang membeli tanah itu penjahat dan menolak ajaran bapa suci. Anak-anak ini yang tidak bersalah dan tidak layak diperlakukan kejam seperti itu, ditinggalkan di tangan penjahat-penjahat itu. Saya tahu bahwa banyak dari anda di sini mengenal anak-anak ini dan dapat menyetujui bahwa mereka semua murni dan indah.


Diseluruh kapel, aku bisa mendengar orang-orang mengatakan hal-hal seperti, “Aku kenal mereka,” “anak-anak itu hebat,” di antara hal-hal lainnya. Aku juga merasa seperti itu, karena aku mengenal mereka dengan baik.


“Bahwa kami tidak memperhatikan penderitaan anak-anak ini sebelumnya adalah dosa, tetapi setelah menemukan keadaan mereka, saya tidak dapat menutup mata; ajaran dari bapa suci kita yang mewajibkan saya untuk melindungi mereka.”


Selagi dia berbicara, dia mulai perlahan meneteskan air mata. Melihat dia sekarang ini seolah Tuhan sudah melukisnya dirinya sendiri.


“Saya tidak ingin mengulangi kesalahan karena tidak segera menyadari kesulitan mereka. Jadi, untuk agar mereka aman, saya memutuskan untuk membangun kapel baru ini. Anak-anak ini adalah kunci untuk sama depan kita – mereka mewujudkan tekad saya untuk menjaga masa depan bagi semua orang yang cemerlang disini. Gereja menyatakan bahwa dosa saya adalah menghancurkan gereja, tetapi saya melakukan itu untuk membantu anak-anak ini masa depan cerah bagi kita semua. Apakah itu salah? Haruskah saya meninggalkan ajaran bapa yang paling penting bahwa kita saling membantu? Haruskah saya meninggalkan penjahat untuk merusak gereja yang ditinggalkan? Apakah itu jalan yang benar untuk diambil?”


Nada suaranya tiba-tiba menjadi penuh kesedian dan campuran emosi lainnya. Aku merasa hatiku berdebar dengan kata-katanya. Kalau apa yang dia katakan itu benar, lalu apa itu orang berdosa? Kalau dia orang berdosa, maka semua orang di dunia ini akan menjadi orang berdosa, kan?


“Saya hanyalah seorang pengikut tuhan yang rendah hati dan saleh… Namun, aku juga seorang penguasa yang harus melindungi rakyatnya. Tuhan memperhatikan dan memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri, tetapi peluang ini tidak berarti apa-apa jika tidak menjangkau dan menggemgam mereka untuk memperoleh kebahagiaan. Tuhan tidak mengirimkan kebahagiaan tetapi memberi kita kesempatan untuk mengejarnya. Semua itu tergantung pada tindakan dan keinginan kita untuk bertindak. Mereka yang berpikir bahwa kejahatan tidak dapat dihindari dan turut ambil bagian dalam berperilaku jahat adalah salah. Mereka yang melihat kejahatan dan perilaku salah tetapi tidak bertindak juga salah.


“Ada banyak orang disini yang mengenal anak-anak itu yang memperlakukan mereka dengan baik, tetapi tidak menyadari kesulitan yang mereka hadapi – bahkan Saya sendiri tidak menyadari masalah mereka sampai hampir terlambat. Saya hanyalah seorang diri; Saya hanya memiliki dua mata, telinga, tangan, dan kaki, dan hanya ada beberapa tempat dimana kaki-kaki ini dapat berjalan menuju benda-benda yang dapat saya pegang. Namun, saya memiliki orang-orang yang mendukung saya sebagai penguasa dan saya mendapat dukungan dari anda sesama anak-anak tuhan yang memungkinkan saya mencapai lebih jauh dan membantu mereka bahkan di tempat yang paling terpencil. Saya memohon pada anda. Bantu saya melindungi yang lemah dan bantu mereka di tempat paling gelap sekalipun. Bantu saya memberi mereka kehidupan yang lebih kaya dan lebih sehat. Mohon… pinjamkan saya kekuantan anda.”


Saat dia mengakhiri pidatonya, beberapa tepukan bergema di seluruh ruangan dan bertambah sampai tepuk tangan menjadi gemuruh. Aku bahkan bisa mendengar tepukan dari luar kapel.


Aku merasa kalau, kalau aku mengikuti orang ini, kita bisa menjalani kehidupan yang lebih baik. Kalau orang ini, maka tidak peduli siapa musuhnya, dia akan menarik kita melewati masa-masa sulit. Aku tidak punya bukti, tapi aku merasakan ini di hatiku. Suasana kapel menjadi jauh lebih baik, dan aku merasa kalau harapan itu ada di udaranya.


“..Aku menganugerahkan kepada anda berkat dari bapa suci kita.” (Imam)


Imam itu memberkati penguasa dari wilayah ini dan saat dia berlutut untuk menerima berkatnya, imam meletakkan tangannya di atas kepalanya. dia kemudan berdiri dan berbalik untuk menghadap kami dengan senyuman.


Aku berpikir dari lubuk hatiku kalau aku senang aku datang dan melihat sekilas tentang dia.

* * *
tags: baca novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, web novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, light novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, baca Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 61, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 61 manga, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 61 online, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 61 bab, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 61 chapter, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 61 high quality, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 61 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!