Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 62 Bahasa Indonesia

Dibaca 577 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Pergi Ke Ibukota Lagi



Propaganda:


“Informasi, terutama dari sifat yang berat sebelah atau menyesatkan, digunakan untuk mempromosikan atau mempublikasikan penyebab suatu politik atau sudut pandang.”


Pidato dan kinerja yang aku ucapkan persis seperti itu. Aku menggunakan Minae-san untuk melakukan suatu pekerjaan untukku dengan menyebarkan cerita. Pidato yang nantinya aku ucapkan menghubungkan rumor itu denganku. Ini adalah buku teks siasat yang digunakan oleh setiap politisi di duniaku sebelumnya.


Ada kutipan dari Adolf Hitler:


“Penerimaan massa sangat terbatas, kecerdasan mereka kecil, tapi kekuatan mereka untuk melupakan sangat besar. Sebagai konsekuensi dari fakta-fakta ini, semua propaganda yang efektif harus dibatasi hanya pada beberapa poin dan harus mendapat kecaman ini dalam slogan sampai anggota terakhir masyarakat mengerti apa yang Anda ingin dia pahami dengan slogan Anda.”


Hal-hal dan tindakan-tindakan yang dilakukan sebagai bagian dari pelaksanaanku ini – doa pembukaan imam, melalukan upacara pembukaan pada waktu menjelang malam – adalah memberi pencahayaan dan suasana kapel yang tepat; semuanya untuk membuat pidatoku lebih efektif.


Dengan pidato ini, aku seharusnya sudah tenang atau setidaknya menenangkan para warga wilayahku, jadi sekarang aku bisa meninggalkan wilayah untuk sementara waktu. Aku harus kembali ke ibukota untuk menyelesaikan masalah utama sekarang.


Meski begitu, aku masih mempunyai banyak pikiran.


Aku berterima kasih pada Dean; karena dua surat yang dibawanya, aku bisa melakukan upacara pembukaan secara damai. Aku juga bisa mendapatkan kerja sama dari imam karena salah satu dari surat itu. Surat lainnya adalah untuk menyelesaikan kekacauan ini. AKu akan meminta ayah atau ibu untuk mendapatkannya… tapi bagaimana Dean bisa mendapatkannya… Dean siapan kamu… tidak mungkin…


“Nona, apakah anda baik-baik saja?” (Ryle)


Saat aku tenggelam dalam pikiran, Ryle bertanya padaku dengan suara gelisah.


“…Oh, aku baik-baik saja…” (Iris)


“Mohon bertahanlah sedikit lebih lama. Kita akan segera sampai.” (Ryle)


Aku sedang menuju ke ibukota. Kamu mungkin ingin tahu kenapa dia bertanya apa aku baik-baik saja. Yah, ini karena aku tidak sedang naik kereta tapi menunggangi kuda. Kami harus pergi ke ibukota secepat mungkin, jadi pilhan terbaik adalah menunggangi kuda. Aku pikir aku akan baik-baik saja, tapi astaga, ini terlalu bergoyang. Bukan, bukan aku yang mengarahkan kuda. Aku masih belum mampu melakukannya. Ryle yang mengendalikannya.

Aku ditemani oleh Dida, Tanya, dan beberapa pengawal kalau ada seranangan. Aku meminta Dean untuk menemani kami, tapi dia bilang dia mempunyai urusan penting dan tidak bisa ikut dengan kami. Dia malah mengusulkan untuk bergabung dengan kami nanti. semua orang menunggangi kuda dengan lancar tidak sepertiku. Aku ingin tahu kapan Tanya belajar melakukannya… Cuma aku yang menjadi beban di sini.


…Aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak muntah, dan kami entah bagaimana berhasil tepat waktu. Aku tiba di rumahku di bangunan perdana menteri. Ketika aku turun dari kuda, tubuhku tidak bisa berjalan lurus seperti anak rusa yang baru lahir dan hampir tidak bisa berdiri.


“Selamat Datang, Nona.” (Pelayan)


Semua pelayan datang untuk menyambutku, karena aku belum pulang dalam waktu yang lama.


“Saya kembali, Ayah, Ibu, Bern… Saya sungguh-sungguh minta maaf atas masalah yang saya sebabkan pada kalian kali ini.”


Seluruh keluargaku datang untuk menyambutku di pintu masuk juga. Mesti tak terduga, aku bersyukur untuk ini. Tapi pujian itu tidak cukup untuk menghentikan jalan bergoyang-goyangku.


“Kamu datang lebih awal. Apa kamu baik-baik saja?” (Louis)


Ayahku melihatku sepertini, menunjukan ekspresi khawatir, dan bertanya apa aku baik-baik saja.


“Ya… Sepertinya…” (Iris)


“Istirahatkan tubuhmu sekarang. Kita akan bicara lagi nanti.” (Louis)


“Ya. Terma kasih.” (Iris)


Dari sana, aku dipandu oleh Rime ke kamarku untuk beristirahat untuk sementara waktu. Kemudian, aku dipanggil untuk mingum teh di ruang tamu. Tapi suasananya menjelaskan kalau aku tidak dipanggil cuma untuk minum teh, karena semua anggotaku hadir.


“Sekali lagi, mohon izinkan saya meminta maaf atas masalah yang telah saya sebabkan kali ini. Aku sungguh-sungguh minta maaf.” (Iris)


Aku meminta maaf kepada semua keluarga untuk masalah yang kusebabkan.


“Tidak, kamu tidak perlu untuk meminta maaf. Kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Bahkan aku tidak mengira Daryl akan melakukannya sejauh ini.” (Louis)


“Tetapi…” (Iris)


“Tidak ada tapi-tapian. Kamu tidak salah apa-apa.” (Mellice)


Hatiku mulai sembuh dari kata-kata baik dan ibuku.


“Yah, kita siap untuk pesta yang akan mereka berikan. Pihak lain itu kuat, dan karena mereka memilih bertarung, kita tidak perlu menahan diri lagi.” (Mellice)


“Ya… Oh ya, Dean mempercayakanku dengan sebuah surat untuk diberikan kenapa anda, Ibu.” (Iris)


“Oh. Tolong berikan itu padaku.” (Mellice)


Ibuku menerima surat itu dan segera memulai membacanya. Pada saat dia selesai membaca surat itu dia tertawa kecil.


“Apa yang dia katakan?” (Iris)


“Tidak, tidak ada yang penting. Dia hanya meminta maaf karena menggunakan namaku tanpa ijinku untuk mendapatkan informasi yang kamu butuhkan.” (Mellice)


“Menggunakan nama Ibu… Efektivitas metode itu hampir sejajar dengan keputusan kerajaan. Bahkan sekarang, aku mendengar jeritan dan teriakan kepada ibu karena memilih keluar dari semua acara amal yang diakan oleh gereja. Karena ibu tidak hadir di sana, semua pihak-pihak lain yang berhubungan dengan ibu, yang dasarnya sebagian besar bangsawan, juga tidak hadir.” (Bern)


Apa yang dikatakan Bern benar. Bagi ibu yang tidak hadir dari acara apapun berarti acara seperti itu akan menjadi sangat buruk atau membuang-buang waktu. Aku yakin itu sangat menyakitkan untuk gereja, tapi lalu…


“– Tetapi apakah itu baik-baik saja? Apakah gereja tidak menyerang ibu juga?” (Iris)


“Tidak, semuanya baik-baik saja. Kami masih berdonasi ke gereja. Aku juga menanggapinya dengan surat bahwa alasanku tidak akan hadir adalah karena kenyataan bahwa ibu mempunyai seorang putri yang sudah dikucilkan pergi ke pesta seperti itu hanya akan membawa kesedihan suasana hati.” (Mellice)


Aku tersenyum dengan jawaban langsung ibuku.


“Yah, aku yakin masalah ini akan cepat deselesaikan, dan aku harus menghadiri pesta dengan salah satu kondisi yang dijabarkan di surat Dean.” (Mellice)


“Apa maksud ibu?” (Iris)


“Tidak, tidak ada apa-apa. Itu lucu. Aku digunakan sebagai kepingan tawar menawar oleh Dean. Dia menggunakan namaku untuk bernegosiasi dengan Gereja untuk menarik kembali pengucilan Iris. Aku baik-baik saja dengan cara apapun selama itu membantumu, sayangku.” (Mellice)


… Dean… Kamu berani menggunakan nama ibu selama bernegosiasi dan melaporkannya setelah apa yang terjadi. Aku tahu ibuku mengatakan itu tidak apa-apa asalkan demi aku, tapi ini membuat kepalaku sakit.


“Kakak tersayang, aku ada sesuatu yang harus aku laporkan kepadamu.” (Bern)


Bern mulai berbicara kepadaku.


“Oh? Apa itu?” (Iris)


“Perkara pengucilan ini… Van tidak terlibat.” (Bern)


“Jadi, apa kamu memberitahuku seharusnya aku memaafkannya?” (Iris)


Bern menggelengkan kepalanya ketika aku mengatankan itu.


“Tidak… Aku memiliki informasi yang dapat dipercaya bahwa orang yang menjadi dalang di balik ini adalah Paus sendiri dan pedagang pangeran Monroe telah terlihat belakangan ini.” (Bern)


“Kamu mengatakan bahwa pedaang itu adalah dalang sebenarnya di balik insiden ini?” (Iris)


“Mungkin… Meskipun paus memang memiliki kekuatan yang besar, aku sangat ragu dia akan melawan keluarga seorang duke. Aku juga sudah menanyakan Van tentang masalah ini, meskipun seperti yang diguga, aku tidak bisa langsung mendapat informasinya. Aku terpaksa menggunakan percakapan berputar-putar dan pertanyaan tidak langsung untuk mendapatkan informasinya. Dari apa yang aku dengar darinya, pedagang dan paus sering bertemu di manor pangeran Monroe sebelum pengumuman pengucilanmu.” (Bern)


“Hmm… Ayah, pedangang itu….?” (Iris)


“Jangan khawatir. Kita sudah menyelidiknya.” (Louis)


Seperti yang diharapkan dari ayah. dan juga mendengar kalau Bern mengambil tindakan karena khawatir denganku membuatku merasa sedikit tersentuh.


“Bagaimana dengan keterlibatan pangeran kedua?” (Iris)


“Tidak. dia tidak terlibat dalam perkara ini, tapi…” (Bern)


“Apa ada sesuatu?” (Iris)


“Kelihatannya sulit bagi orang itu sendiri mengatakannya… tapi dia tidak merasa senang bahwa kamu telah mulai mendukung pangeran pertama. Dia banyak mengeluh kepadaku tentang ini; itu cukup tak tertahankan… Bagaimanapun, setelah mendengar tentang pengucilan kakak, dia memulai membuat orang-orang pindah dan mulai mencuri karyawan dari tokomu dan konglomerat sebagai pembalasan… apa yang belum pernah aku lihat dalam dirinya?” (Bern)


“Wah… Aku kehabisan kata-kata…” (Iris)


Apa yang belum pernah kulihat dalam dirinya? Dia pria yang sangat kecil. Tapi, harus kuwaspadai, karena penjualan konglomerat sudah turun. Aku harus mengatasi masalah ini nanti.


“Bern, terima kasih untuk semua yang sudah kamu lakukan. Tolong jagalah dirimu sendiri.” (Iris)


“Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya membantu keluarga.” (Bern)


“Sekarang, Iris mari kita makan malam. Setelah itu, tolong beristirahatlah. Besok adalah pertarungan sesungguhnya dan kita akan mencapai tidak lain adalah kemenangan sempurna.” (Mellice)


“Ya, Ibu.” (Iris)


Yah, pesta besok akan menjadi medan perang kita. pendiri pesta sebelumnya juga membuatku tegang, tapi aku tidak dalam bahaya. Kali ini takdirku dipertaruhkan. Kalah bukanlah pilihan. Permainan terbesar dalam hiduku akan segera dimulai.

* * *
 

Chapter ini cukup membuat kepala saya pusing dan saya tinggalkan beberapa saat untuk menyegarkan pikiran. Jika ada kesalahan silahkan lapor!

tags: baca novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, web novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, light novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, baca Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 62, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 62 manga, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 62 online, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 62 bab, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 62 chapter, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 62 high quality, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 62 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!