Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia

Dibaca 741 orang
Font Size :
Table of Content

Pertemuan Penyelidikan

 

Kata “Imam” yang biasanya saya tulis di chapter sebelumnya, setelah saya mencari tahu hal hal itu di google, lebih cocok saya tuliskan pastor/pastur.



Saat aku membuka pintu, semua mata orang berpaling kepadaku, dan ketika mereka menyadari siapa aku, Sekelompok para bangsawan berdiri dengan gempar. Satu-satunya yang tidak terpengaruh oleh kedatanganku adalah Ayahku, Ibunda Ratu, yang tahu aku akan datang, dan pastor Christopher.


Aku meneruskan berjalan ke ruangan belakang. Ruangan itu dipenuhi para bangsawan dan pejabat lainnya. Bagian belakang ruangan ini dikhususkan untuk bangsawan, dan satu-satunya orang yang duduk di sana sekarang adalah Ibunda Ratu, Nyonya Ellia, dan seorang utusan dari Gereja.


Semua tatapan orang menusuk ku seperti jarum, dan aku merasa tanganku gemetar bahkan dengan kata-kata dorongan dari ayahku.


Semua akan baik-baik saja. Aku harus berpikir seperti ini. Bahkan ketika aku mencoba untuk mengepalkan tanganku untuk menghentikan gemetarku, itu tetap tidak berhenti gemetar.


Rasanya seperti butuh waktu yang lama untuk mencapai bagian belakang ruangan, tapi kenyataannya, itu hanya semenit. Syukurlah aku berhasil sampai di sana, tapi saat berjalan kembali, aku melihat sekilas seseorang.


Pastor Christopher adalah pira kurus dan cerdas yang mengenakan kacamata. Wajahnya tidak berekpresi, tapi aku merasa tatapannya berbeda dari orang lain.


Itu adalah tatapan yang mengatakan, dia akan berhasil atau dia akan gagal dan menghilang terlupakan?


Saat aku merasakan tatapannya dan mengenalinya, tanganku berhenti gemear. Pastor itu adalah orang yang mempunyai koneksi dengan pria yang membantuku mendapatkan potongan bukti itu.


Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan membalas kepercayaan yang kamu dan semua orang taruh kepada diriku.


Aku berjalan mendekati ayahku dan berdiri di sampingnya. Aku langsung dihadapkan tahta kosong yang berdiri antara Nyonya Ellia dan Ibunda Ratu. Utusan gereja duduk sedikit di depan mereka.


“…Mengapa kamu di sini?” (Ellia)


Nyonya Ellia menatapku dengan dingin.


“Saya merasa perlu bagi saya untuk menjelaskan dan melaporkan rincian yang sebenarnya dari situasi ini.” (Iris)


“Tidak ada lagi yang bisa Anda laporkan atau jelaskan. Fakta bahwa anda telah menghancurkan tempat suci tuhan tidak akan berubah. Pertemuan ini bukan untuk anda tapi sebaliknya untuk ayah anda yang akan bertanggung jawab atas tindakan anda sebagai Duke Armelia.” (Paus/Utusan Gereja”


Kata-kata ini datang dari Paus Gereja Daryl yang merupakan ayah dari Van, salah satu teman dekat pangeran kedua.


“Iris Lana Armelia, Anda dituduh melakukan kejahatan dengan menghancurkan rumah suci tuhan tanpa berkonsultasi dengan gereja. ini adalah penghinaan terhadap tuhan kita dan perilaku orang yang mengingkari tuhan. Tuhan sangat sedih dengan perbuatan ini yang dilakukan oleh salah satu anaknya, apalagi memegang status bangsawan.” (Paus)


“Ini persis seperti yang anda katakan: Rumah suci tuhan dihancurkan. Tindakan ini jelas menandakan penolakanmu untuk berbicara dengan tuhan.” (Ellia)


Ejekan itu tercemin di warna mata Paus dan Nyonya Ellia.


“Ya, saya setuju dengan pernyataan itu. Namun yangjauh lebih mengerikan adalah kisah tentang bagaimana rumah suci tuhan dijual demi keuntungan. Apakah anda ingin mendengarnya?” (Iris)


“Apa yang kamu coba katakan, gadis kecil?” (Ellia)


Nyonya Ellia tertawa melalui hidungnya, tapi menyembukan wajahnya di balik kipasnya.


“Bahkan jika anda menanyakan itu pada saya, maksud saya sama seperti yang saya katakan.” (Iris)


“Aku bertanya, karena tidak jelas artinya, gadis kecil. Penghancuran tempat suci adalah kejahatan. Jadi, lebih baik memindahkan alasan ke orang lain… Tidak ada hal semacam itu… Kedua perbuatan itu harus dianggap sebagai penghinaan dan pengkhianatan terhadap tuhan.” (Ellia)


“Ya. Saya setuju dengan Nyonya Ellia. Faktanya, ini memang terjadi. Saya memiliki kontrak penjualan tanah itu di tangan saya ini.” (Iris)


Aku menarik kontrak keluar dari tasku dan menunjukannya kepada Ratu. Ini adalah sertifikat untuk tanah tempat gereja itu pernah ditinggali. Isinya nama penjual, Gereja, dan pembeli, cincin perdagangan manusia.


Sekelompok orang-orang bodoh yang sebelumnya berisik menjadi sunyi. Kupikir mereka sekarang ingin melihat siapa yang akan memenangkan kasus ini… Meski begitu… Fraksi pangeran kedua tetap berisik.


“Saya terkejut melihat bahwa tanah suci tuhan dijual! seperti yang anda katakan, Nyonya Ellia, penjualan atau bahkan pikiran menjual tanah tuhan itu keterlaluan. Namun transaksi ini dilakukan dan tanah terjual setelah manajer asli meninggal. Pastor yang menandatangi tanda terima untuk sertifikat itu namanya tertulis di sini. Bagaimana anda akan menjelaskan ini?” (Iris)


“Betapa Bodohnya! Di sana… Tidak ada pastor di gereja Daryl yang sangat bodoh untuk akan menjual tanah tuhan. Ini adalah kejajatan dan penghinaan terhadap gelar ‘pastor’!” (Ellia)


“Saya sepenuhnya setuju, Nyonya… Saya juga percaya bahwa tidak ada seorang pun di negeri ini akan melakukan perbuatan seperti itu. Namun, itu adalah fakta bahwa kombinasi pembeli dan penjual ini telah merencanakan untuk menyerang suster, merusak kapel. dan menjual anak-anak yatim yang tinggal di sana.” (Iris)


“Omong kosong apa yang kamu bicarakan?! Mustahil bagi seseorang yang melayani tuhan untuk melakukan hal seperti itu… Apa keluargamu telah jauh terlalu dalam untuk berbohong? Ini cukup mengecewakan.” (Ellia)


Nyonya Ellia melakukan upaya-upaya untuk menyangkal kata-kataku dan mengejek keluargaku.


“Saya mengerti anda tidak percaya, Nyonya, tetapi seperti yang anda tahu, saya memegang posisi sementara sebagai penguasa wilayah. Ayah saya memberikan saya gelar ini dan saya telah melakukan tugas saya atas namanya. Saya telah melakukan banyak hal sebagai wakil penguasa wilayah, termasuk reformasi pemerintahan, pemeriksaan pajak, pembentukan rute perdagangan dan terakhir pengawasan transfer tanah dan transaksi.” (Iris)


“… Dan maksudmu?” (Ellia)


“Tentunya, kami merekam keadaan properti tanah, dan saya telah mengunjungi semua properti dengan nama pemilik. Saya juga telah mengunjungi gereja untuk memastikan bahwa itu adalah milik orang yang melakukan perbuatan itu. Sudah ditetapkan pada waktu itu bahwa tanah kapel itu tidak dimiliki oleh gereja, yang berarti bahwa gereja tidak lagi memiliki tanah itu lagi.” (Iris)


Itu sangat tidak terduga, tapi itu mengutungkanku sehingga aku bisa memajukan klarifikasi kepemilikan sejak awal.


“Saya terkejut mengetahui bahwa Gereja Daryl sendiri mengatakan bahwa mereka tidak memiliki tanah itu, meskipun sebuah kapel berdiri di sana. di tangan saya memegang surat dengan korespondensi tersebut juga.” (Iris)


Aku mengangkat surat itu lagi sehingga semua orang bisa melihat bagian bawah surat itu dengan nama-nama pastor yang terlibat.


“Sebagai salah satu anak tuhan dan wakil penguasa wilayah, saya terkejut bahwa tidak ada kapel di kota saya. Dengan demikian, saya memutuskan untuk menghancurkan yang lama dan membangun kapel baru untuk memberikat masyarakat saya tempat baru untuk menyembah tuhan. Saya jua telah memberi tahu para jabatan gereja dan kerajaan tentang keputusan ini dan transaksi selanjutnya. Saya juga memiliki surat dari orang-orang itu.” (Iris)


“Kasus ini berkaitan dengan para pejabat kerajaan itu… tapi kamu masih tidak memiliki bukti bahwa gereja juga diberitahu. Aku akan mengatakan ini sekarang: Pekerjaan menjual tanah tuhan ini mungkin adalah pekerjaan orang yang memalsukan nama dan tanda tangan gereja. hal ini sangat mungkin seeorang bersekongkol denganmu untuk membuat dokumen-dokumen ini, bukan?” (Ellia)


Nyonya Ellia bertanya dengan kaku dan menuntut bukti keterlibatan gereja.


“Jika apa yang anda katakan itu benar, maka setiap transaksi atau berurusan dengan istana kerajaan atau pejabat kerajaan juga akan menjadi tidak berarti. Anda juga menyindir bahwa setiap pria, wanita atau anak dapat menggunakan segel istana kerajaan untuk melakukan penipuan. Apakah itu bisa diterima? Jika demikian, maka semua transaksi dan kesepakatan oleh istana kerajaan seharusnya tidak ada, bukan, Nyonya Ellia?” (Iris)


Aku membalas balik perkataannya. Nyonya Ellia menutup kipasnya secara keras dengan ketidaksenangan dan berbicara.

Ketidaksenangan = Perasaan tersinggung/tidak senang.



“Betapa lucunya. Namun, Aku tidak akan menarik kembali saranku sebelumnya… Kecuali kamu memilki bukti untuk membuktikan bahwa Gereja Darly benar-benar melakukan ini. Bicara lebih lanjut darimu tidak ada artinya kecuali kamu memberikan buktinya. Mu—.” (Ellia)


Saat dia mulai mengatakan kepadaku untuk ‘Mundur’, Aku memotong perkataannya.


“Jika anda meminta bukti, maka saya memilikinya di sini di tangan saya.” (Iris)

* * *
 

Wah maaf ya, ga lanjut update lagi padahal saya sudah bilang akan update setiap hari sekali, saya benar-benar minta maaf.

tags: baca novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia, web novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia, light novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia, novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia, baca Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia 64, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia 64 manga, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia 64 online, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia 64 bab, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia 64 chapter, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia 64 high quality, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 64 Bahasa Indonesia 64 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of