Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 66 Bahasa Indonesia

Dibaca 546 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Saksi

Chapter ini dipersembahkan kepada anda oleh: Inzero.




“Kedua saksi silahkan memperkenalkan diri?” (Iris)


Aku melangkah mundur dan membiarkan kedua orang yang masuk memperkenalkan diri.


“…Halo. Nama saya Danban. Saya adalah seorang pengurus kapel di kota ini.” (Danban)


Walaupun ada banyak kapel kecil untuk warga sebagai tempat berdoa, tapi hanya ada satu kapel resmi di ibukota. Yang dimaksud Danban adalah kapel resmi tunggal itu, atau dikenal sebagai pusat gereja yang terletak di bagian utara kota. Jika seseorang mengatakan bahwa mereka pergi ke kapel ibukota, kapel itulah yang pertama akan terlintas di dalam pikiran.


“Saya adalah seorang paus yang tekun dan bekerja seperti itu selama 20 tahun… Oh, ya. Penjualan kapel di Armelia itu atas nama saya. Saya diperintahkan untuk melakukan ini oleh paus dan kemudian untuk suatu alasan aneh saya diusir dari kapel setelah 20 tahun bekerja.”  (Danban)


“Halo, Yang Mulia. Saya adalah Lenin. Saya bekerja di kapel yang sama dengan Danban. Peran saya adalah menginformasikan wilayah Armelia tentang penjualan kapel mereka. Saya bersumpah saya hanya melakukan apa yang diminta Gereja dari saya, tetapi… Saya diusir dari Gereja belum lama ini. Saya hanya melakukan apa yang mereka instruksikan, tetapi entah bagaimana, saya dituduh melakukan kejahatan palsu. Saya masih memiliki salinan instruksi dan surat yang saya kirim ke wilayah Armelia. Jika ada keraguan tentang identitas saya, Anda dapat bertanya kepada orang lain di sini untuk menjamin identitas saya, karena saya sangat akrab dengan wajah-wajah mereka ini.” (Lenin)


Setelah kesaksian dari dua saksi ini, para penonton menjadi berisik. Aku merasa bahwa kita sekarang sudah menguasai situasinya.


“Saya yakin banyak dari para pastor yang hadir di ruangan ini dapat menjamin identitas mereka; Bahkan Saya yakin beberapa dari para pastor yang hadir berteman dengan mereka.” (Iris)


Daripada menanyakan pertanyaan kepada para pastor, aku menegaskan lagi fakta-faktanya.


Banyak dari para pastor yang terkejut saat melihat kedua saksi itu dengan mata terbuka lebar, dan segera menghindari tatapanku.


“Saya telah menyampaikan bukti-bukti dan kesaksian dari kedua saksi. Dengan ini, Saya telah sepenuhnya menyampaikan perkara saya, Yang Mulia. Apa keputusannya?” (Iris)


Nyonya Ellia menggigit bibirnya pada pertanyaanku. Dia berusaha mencari cara untuk membantah pernyataanku, apapun yang dia katakan pada saat ini hanya akan melemahkan argumennya, kecuali dia bisa memberikan bukti dengan kualitas yang sama.


Wajah Paus, Wilmotz, memerah karena marah, tapi tidak ada yang bisa dia katakan juga.


“Yah, kupikir ini menandai akhir dari pertemuan penyelidikan ini. Kita semua telah mencapai kesimpulan bulat… Apakah itu tidak benar?” (Ibunda Ratu)


Ibunda Ratu berbicara untuk pertama kalinya dalam pertemuan ini. Sepertiku, tidak ada yang bisa berbicara untuk menentang atau membantah pernyataan dari Ibunda Ratu. Pertanyaannya kurang terarahkan dan lebih bersifat retoris yang menegaskan bahwa pertemuan penyelidikan akan segera berakhir.

Kalimat tanya Retoris merupakan kalimat tanya yang mana pertanyaannya sudah dapat di jawab oleh masing-masing orang yang mendengarnya.

 
“Iris Lana Armelia, Dengan ini Keluarga Kerajaan menyatakan Anda terbebas dari semua kejahatan dalam perkara ini dan Anda memang seorang bangsawan yang layak dari nama Armelia, salah satu keluarga terkemuka di negara kita.” (Ibunda Ratu)
 
Pernyataan ini menandakan akhir dari proses perkara ini.
 
“Terima kasih. Terima kasih banyak atas kata-kata Anda, Ibunda Ratu. Namun, Saya memiliki satu permintaan: Apakah tidak apa-apa untuk melanjutkan pertemuan penyelidikan ini?” (Iris)
 
“Oh… Apakah masih ada sesuatu yang harus dibahas?” (Ibunda Ratu)
 
“Ya. Ini adalah tentang siapa yang akan bertanggung jawab karena melakukan tindakan tercela seperti ini.” (Iris)
 
Nyonya Ellia mengerutkan kedua alisnya.
 
“Keputusan telah dibuat. Tidak perlu untuk tetap melanjutkan masalah ini. Bukankah tidak ada gunanya untuk melanjutkan pertemuan ini lebih lama lagi?” (Ellia)
 
“Ada alasan untuk melanjutkan perkara ini lebih lanjut: Kita harus menemukan pelaku sebenarnya yang menyebabkan kegaduhan dan keresahan bagi warga kerajaan ini.” (Iris)


Saat aku menyelesaikan kalimatku, aku mengangkat kepalaku untuk menatap langsung kepada paus.


“Anggota keluarga Armelia telah melayani sebagai perdana menteri negara ini selama beberapa generasi. Kami telah setia dan berpengaruh besar di posisi kami. Saya bangga dengan keluarga kami dan perannya. Bagi seseorang yang menabur kecurigaan dan ketidakpercayaan di keluarga kami… Kami harus memastikan siapa yang berani melakukan hal seperti itu.” (Iris)


Beberapa orang mengalihkan pandangannya. Ini adalah yang kumaksudkan sebelumnya saat aku mengatakan bahwa semuanya akan berjalan lancar.


“Yang Mulia. Untuk meninggalkan insiden yang belum terselesaikan dengan cara seperti ini akan mendorong dan membuka jendela bagi negara-negara lain untuk meremehkan kita dan warga yang telah terpengaruh dampak negatif oleh tindakan keji ini tidak tidak pantas mendapatkan keadilan; Itu akan menodai nama baik kaum bangsawan. Ini adalah tugas kita untuk menemukan pelakunya dan membawa mereka ke pengadilan.” (Iris)


Benar, kan, Paus Wilmotz? Aku tidak mengatakannya dengan keras, tapi dengan tersirat saat aku menatap langsung padanya.


“Sesuai dengan yang kamu katakan. Apa pendapatmu tentang masalah ini, Ellia?” (Ibunda Ratu)


Ibunda Ratu meminta pendapat Nyonya Ellia tapi mulutnya tetap tertutup.


“*Menghela Nafas*. Apa yang para pastor Gereja pikirkan tentang perkara ini?” (Ibunda Ratu)


Sang ratu mendesah kecil karena kurangnya respon dari Nyonya Ellia dan mengunci tatapannya pada para pastor Gereja.


Banyak dari mereka membuka mulutnya untuk berbicara tapi segera menutupnya pada akhirnya.


Sang Ratu mulai mengusap pelipisnya saat dia menatap para pastor dengan dingin.


“Aku tidak tahu mengapa begitu banyak dari kalian memilih untuk tetap diam. Tidak seperti Iris, tidak ada satupun dari kalian yang memberikanku bukti untuk mendukung pihakmu dan pernyataan tidak bersalah. Dua pastor diasingkan dari Gereja, seorang bangsawan dikucilkan, dan sekarang negara kita berada dalam keadaan krisis. Tapi semua yang kulihat dari pihakmu adalah upaya untuk menghapuskan saksi, menghancurkan bukti, dan merencanakan tuduhan palsu terhadap sekutu yang telah lama ada di kerajaan ini. Sekarang, siapa yang akan bertanggung jawab yang tepat dan menyampaikan argumen mereka?” (Ibunda Ratu)


“…Mohon Maaf, Yang Mulia.” (Ralph)


Pastor Ralph berdiri untuk berbicara mewakili Gereja. Semua orang mengalihkan perhatiannya kepadanya.


“Yang Mulia. Berkatian dengan perkara ini, Kami, Gereja akan melakukan penyelidikan besar-besaran dan akan bertanggung jawab atas insiden ini. Ini adalah sepenuhnya kesalahan kami.” (Ralph)


“Tentu saja, penyelidikan terperinci diberikan. Namun, mengingat bahwa Gereja dikelilingi oleh dinding yang menutupi pekerjaan bahkan itu kaum bangsawan, bagaimana kita akan tahu bahwa Gereja tidak akan mengulangi kesalahannya dan mendorong kesalahan ke dua orang ini? Apa kamu akan menyelidiki kebenaran dengan benar?” (Ibunda Ratu)


Tatapan dingin dari sang Ratu menghisap udara keluar dari ruangan dan menusuk hati para pastor yang hadir. Dia bahkan lebih baik daripada Ayah yang mengintimidasi orang.


Dinding misteri ini lebih dari sekedar metafora. Gereja telah berakar sangat dalam di pusat kerajaan. Tidak peduli betapa kuatnya seorang bangsawan, mereka tidak diijinkan masuk ke markas Gereja. Agama itu juga berakar di dalam hati dan pikiran masyarakat. Jadi, jika mereka ingin memicu pemberontakan atau bahkan kudeta mereka mampu untuk melakukannya.


…Aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini. Aku akan membongkar celah di baju besimu. Aku harus memisahkan fraksi pangeran kedua dan Gereja hari ini. Jika tidak, hal seperti ini pasti akan terjadi lagi. Khususnya, Aku perlu menjatuhkan paus dan memisahkan hubungan antara Van dan Edward.


“Tentu saja, Yang Mulia. Saya tidak akan membiarkan sejarah terulang kembali. Saya mungkin seorang pastor, tetapi saya juga seorang warga negara kerajaan Tusmeria ini. Bahkan jika orang yang bertanggung jawab duduk di kursi tertinggi Gereja, mereka akan dibawa ke pengadilan.” (Ralph)


“Oh. Betapa handalnya… Bahkan jika mereka menemukan bahwa pelakunya adalah dirimu sendiri?” (Ibunda Ratu)


“Tentu saja. Kami akan menyerahkan semua dokumen yang terkait dengan insiden ini dan memberikan pertanyaan kepada semua pastor dan anggota oleh penyidik dari keluarga kerajaan. Kami akan menerima hukuman yang diputuskan oleh keluarga kerjaan sendiri sebagai warga negara yang berbaik dari kerajaan ini.” (Ralph)


“…Pastor Ralph, itu bukan hak anda untuk membuat keputusan itu…!” (Paus)


Setelah mendengar pernyataan pastor Ralph, Paus mulai keberatan.


Tapi keberatannya dengan cepat hilang karena tatapan dingin pastor Ralph.


“Ya, Saya sadar akan posisi saya, tetapi ini adalah satu-satunya hal yang dapat kami lakukan, Yang Mulia. Hutang harus dilunasi dan kita harus memberikan dokumen-dokumen akuntansi kepada Putri Duke Armelia. Saya yakin Anda menyadari itu, Yang Mulia.” (Ralph)


“…” (Paus)


“Mohon lihatlah kedalam mata orang-orang yang berdiri di depan kami. Sampai sekarang, ketidakbersalahan kami dipertanyakan dan kepercayaan yang mereka taruh kepada kami telah rusak. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali kepercayaan mereka adalah dengan membiarkan pihak lain untuk menylidiki perkara ini dengan benar dan bagi kami yang seharusnya menerima hukuman.” (Ralph)


“…Sesuai yang dia katakan. Aku memujimu, pastor Ralph atas keberanian dan tekadmu. Karena ketulusanmu, Aku ingin Kamu memimpin tim penyelidikan perorangan yang aku pilih dan mencari tahu kebenaran di balik insiden ini.” (Ibunda Ratu)


“Saya akan mengabdikan diri untuk menyelesaikan tugas ini dengan setiap bagian dari diri saya.” (Ralph)


Pasto itu menundukkan kepalanya untuk menerima tugas sebagai balasan… Seperti yang diperkirakan dari seorang aktor dan aktris dengan kemampuan akting yang setar dengan dewa.


“Tidak! Yang Muila! Sesuatu seperti itu tidak dapat ditangani olehnya!” (Paus)


Itu adalah Paus Wilmotz yang menentang keputusan Ratu.


“Mengapa kamu berteriak?” (Ibunda Ratu)


Sang Ratu bertanya padanya saat dia menusuknya dengan tatapannya.


“Mohon maaf, Yang Muila. Tetapi tolong pikirkan kembali keputusan ini! Izinkan saya mengumpulkan tim yang tepat untuk menyelidiki insiden ini, dan saya akan memastikan mereka melaporkan kepada anda secara langsung setiap hari. Saya bahkan akan memimpin tim ini untuk memastikan bahwa tidak ada yang korupsi.” (Paus)


“Tidak, Paus Wilmotz. Seperti yang dikatakan Pastor Ralph. Tidak ada orang di sini yang mempercayai personil Gereja lagi. Aku bertanya kepada Pastor Ralph, karena dia bahkan siap untuk menghadapi pengadilan jika dia diduga sebagai pelakunya. Aku menghormati tekadnya dalam menghadapi kemungkin seperti itu.” (Ibunda Ratu)


“Itu…” (Paus)


“Tidak akan ada lagi yang keberatan. Pastor Ralph, Aku menantikan pekerjaanmu.” (Ibunda Ratu)


“Ini merupakan kehormatan bagi saya.” (Ralph)

* * *
tags: baca novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, web novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, light novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, baca Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 66, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 66 manga, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 66 online, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 66 bab, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 66 chapter, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 66 high quality, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 66 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!