Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia

Dibaca 499 orang
Font Size :
Table of Content

Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia

Penerjemah: HaruRin
Penyunting: –
Korektor: Saito


Chapter 101 – Permintaan Dawson

“Kenapa, kenapa! Kau tidak mengumpulkan cukup tenaga untuk pedangmu!” (Ryle)

 

Squeak, squeak! Kedua pedang itu saling menghantam satu sama lain, membuat suara besi logam dan logam.

 

Si baik hati Ryle saat ini sedang mengajari ksatria seputar teknik pertarungan.

 

Di sisi lain, aku sedang berurusan dengan orang militer.

 

… Bagaimana hal ini bisa jadi seperti ini!

 

Kemarin aku sedang berlatih tanding melawan Master… Yah, lebih seperti saat yang menjengkelkan untuknya!

 

Aku tak tahu kenapa, tapi orang-orang dari militer dan ksatria sedang melihat kami dari jarak yang sama saat kami bertarung.

 

Tidak seperti saat kami mengunjungi latih tanding di ibukota dulu, saat ini mata mereka membawa sedikit petunjuk dari rasa hormat dan juga takut.

 

Yah, saat itu aku pikir kalau dilihat seperti itu bukanlah masalah besar, jadi aku acuhkan saja mereka. Tapi hari ini seseorang berlari dan langsung bertanya kepadaku apakah aku mau untuk membandingkan kemampuan kami di pertarungan.

 

Kata Master itu bagus paling tidak untuk menghibur mereka, jadi aku menyetujuinya dengan pikiran kalau setidaknya itu akan jadi hal yang bagus untuk menghabiskan waktu.

 

… Tapi sekarang jelas kalau ini sama sekali bukan latih tanding. Kami hanya membantu mereka berlatih.

 

Aku tak tahu kapan Ryle memulainya, tapi rasanya seperti dia tidak benar-benar bertarung dengan lawan yang seimbang, tapi lebih seperti melatih pasukan Armenia!

 

Untuk seperti kesempatan yang langka, dia bisa memilih lawan yang lebih baik… Kadang aku juga mencari orang dengan kemampuan joust* yang lumayan dari orang-orang kecuali Ryle dan Master!

*TL Note : bertarung menggunakan tombak dengan menunggang kuda.

 

Tiba-tiba, aku merasa seseorang mengawasiku.

 

Hanya beberapa detik untukku menjatuhkan pedang dari tangan lawanku. Biarkan aku lihat siapa yang mengawasiku.

 

Hmm, orang itu adalah anak dari pemimpin orde ksatria. Kelihatannya namanya itu Daw…son? Persetan dengan nama, itu tak penting. Tapi si kampret itu pasti salah satu dari orang-orang yang memperlakukan Nona secara tidak sopan!

 

Kenapa, kenapa sekarang dia menatapku dan Ryle dengan tatapan di mukanya yang seperti ingin mengatakan sesuatu?

 

Bahkan saat pertanyaan itu muncul di kepalaku, keberadaan keparat itu sendiri saja sudah membuatku marah. Lebih baik aku pura-pura tidak menyadarinya dan fokus di pertarungan.

 

“… Bisakah kau mengajariku pada latihan tanding?” (Dawson)

 

Hanya beberapa menit setelah aku mengakhiri pertarunganku sebelumnya, Dawson berlari untuk bertanya padaku.

 

Kelihatannya perilakunya membuat orde ksatria menjadi panik dengan lebay . Kelihatannya seperti mereka khawatir bagaimana aku menanggapinya!

 

“Hm, baiklah.” (Dida)

 

Aku menanggapinya dengan biasa, aku berencana untuk memadamkan kekhawatiran orang-orang. Tapi setelah mendengar tanggapannya, aku tidak bisa tenang lebih lama.

 

“… Jika aku menang, tolong biarkan aku bertemu dengan anak dari Duke Armenia.” (Dawson)

 

Apa yang bocah ini katakan?

 

“… Apa yang kau katakan?” (Dida)

 

“persis seperti yang aku maksud… Aku hanya berharap kalau kau mungkin mengizinkanku untuk bertemu dengannya sekali saja.” (Dawson)

 

“Aku hanyalah pengawal. Bagaimana aku memberi hal seperti itu kepada Sang Nona?” (Dida)

 

“Aku sudah mengirim permintaan untuk bertemu kepada keluarga Duke, tapi aku selalu ditolak… Semua orang di luar sana tahu kalau perempuan itu sangat mempercayaimu. Kalau kau ikut campur, kau bisa berkemungkinan untuk mengatur pertemuan kita.” (Dawson)

 

“… Kepercayaan dan semacamnya tidak ada hubungannya dengan hal ini. Kami, yang memperhatikan Nona kami, punya tanggung-jawab untuk melakukan sesuatu seperti ini dan bekerja untuk orang sepertimu!”

 

“… Itulah kenapa aku bilang kalau aku menang…” (Dawson)

 

“… menarik.” (Dida)

 

Heh heh. Hatiku sudah penuh dengan kemarahan!

 

Apa yang dia inginkan dari Sang Nona?

 

Apakah dia ingin mengganggu Nona lagi, atau mencoba untuk mendekatinya… Atau sekarang dia hanya ingat untuk meminta maaf untuk apa yang dia lakukan sebelumnya!

 

Tak peduli yang mana, sekarang kita ada di masalah ini, bagaimana bisa aku membiarkan hal itu!

 

“Ryle tak mau melakukannya, tapi kau pikir kalau kau bisa mengalahkanku, kan? Huh. Ayo mulai! Jika aku menang, kau takkan kubiarkan terlalu dekat dengan Sang Nona!” (Dida)

 

Si wasit kelihatan bingung, tapi tetap menyatakan tanda untuk memulai pertandingan.

 

Jadi, bagaimana caraku untuk mengajari bajingan ini sekarang.

 

Sekarang hatiku dipenuhi dengan kemarahan untuk orang itu. Ah, bahkan tubuhku merasa gelisah. Berapa lama aku tidak semarah ini?

 

Kujilat bibirku, aku memusatkan pikiranku tentang cara yang terbaik untuk mengalahkan keparat ini sebelum aku kelelahan. Ah, mungkin karena itu orde militer dan ksatria tidak mau menghentikanku.

 

… Tapi ini seperti aku sedang berpikir keras. Tubuhku bergerak dengan sendirinya!

 

Dalam satu detik.

 

Dalam reflek satu detik, aku menjatuhkan pedang lawanku dari tangannya.

 

Cih. Aku berencana untuk bermain lebih lama dengannya sebelum memojokkannya. Terserah-lah.

 

Terakhir kali Ryle melakukannya dengan sangat lembut. Saat ini giliranku untuk benar-benar mengalahkannya!

 

Berpikir seperti itu, aku tak bisa berhenti dan tak bisa memukul musuhku dengan lembut. Tapi—

 

“… Kenapa ini, Ryle!” (Dida)

 

“Tenang, Dida.” (Ryle)

 

Karena suatu alasan, Ryle menghentikan pedangku.

 

“Aku sangat tenang, jadi jangan menghalangiku. Jika kau paham, minggir.” (Dida)

 

“kau yang sama sekali tidak paham.” (Ryle)

 

Sial, sekarang aku merasa jengkel! Laki-laki yang selalu menjaga Sang Nona di prioritas utamanya sekarang berdiri untuk orang yang sudah menyakiti Nona. Kupikir dia prajurit yang bisa diandalkan, tapi apa yang dia pikirkan sekarang?

 

“Jika kau masih melindungi orang itu, aku tetap tidak akan melepaskanmu.” (Dawson)

 

“… Oke. Kalau begitu, ayo maju.” (Dida)

 

Saat kami berbicara, aku menuangkan lebih banyak tenaga ke pedang yang ada di tanganku. Tapi di saat yang sama, Ryle tidak mundur. Dia malah menaikkan tenaga tangannya juga

 

“… Buka matamu dan lihat lebih dekat, Dida,” Kata Ryle saat dia menahan pedangku

 

“Huh, apa yang harus kulihat?” (Dida)

 

Saat aku mengatakannya, aku tak bisa berkata lagi, karena aku melihat Dawson, yang duduk di belakang Ryle di tanah.

 

Lalu, pedang di tanganku jatuh.

 

“… Kenapa kau berhenti?” (Dawson)

 

Pertanyaan itu tidak datang dari mana-mana selain dari Dawson sendiri.

 

“Aku akan bertanya satu hal. Kenapa aku harus membantumu untuk mewujudkan keinginanmu!” (Dida)

 

“… Itu…” (Dawson)

 

“lihatlah dirimu sendiri, kelihatan bagaimana menyedihkannya kau. Cih, betapa mengecewakannya.” (Dida)

 

“T-tunggu sebentar…” Dawson memanggil kami saat melihat kalau kami akan meninggalkan tempat bertarung.

 

Tapi, aku tak mau mendengarkannya, jadi aku tidak menengok ke belakang.

 

“Bahkan jika kau tak mau menghukumku, siapa yang harus aku mintai untuk menghukumku?!” (Dawson)

 

apa-apaan yang dia katakan? Aku tak bisa menahan diriku dan berjalan kembali kepadanya.

 

Lalu, aku menarik pedangku dan menghunuskannya ke bawah. Bahkan kalau ini tidak begitu tajam, ini menancap lurus ke tanah.

 

“Berhenti bermain di sini.” (Dida)

 

Aku memperingatkannya dengan kasar. Dawson tumbang dengan terang-terangan

 

“siapa yang akan kau mintai untuk menghukummu? Siapa yang tahu… Sebab-akibat di antara kita sebenarnya cukup saat tuduhan itu.” (Dida)

 

Saat bisa meminta maaf dan semua kesalahan dimaafkan.. Bagaimana sesuatu se-ideal itu bisa terjadi!

 

Pengalaman dengan rasa kecewa dengan sangat mendalam, terasa penuh dengan rasa kebencian.

 

Dengan sangat menyalahkan dirimu sendiri, membekaskan hukuman di hatimu.

 

Lalu pengalaman yang sebenarnya. Kemarahan kami, kesedihan Nona kami.

 

Setelah mengatakan hal itu, aku meninggalkan tempat bertanding dengan tenang, tanpa melihat ke belakang.

 

Kelihatannya Ryle tidak punya masalah dengan yang aku lakukan, dan pergi di sampingku.

 

Lalu, kami memulai latihan kami lagi.

tags: baca novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia, web novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia, light novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia, novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia, baca Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia , Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia manga, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia online, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia bab, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia chapter, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia high quality, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 101 Bahasa Indonesia manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of