Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 105 Bahasa Indonesia

Dibaca 605 orang
Font Size :
Table of Content

Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 105 Bahasa Indonesia

Penerjemah: niznet
Penyunting: –
Korektor: Saito


Chapter 105 – Berunding 2

Van menggigit keras bibirnya

“… Jadi, aku tidak ingin melanjutkan rundingan ini denganmu. Maaf, aku harus pergi sekarang.” (Iris)

“… Tunggu!” (Van)

Dia mencoba mendekatiku saat aku berdiri.

Tapi Tanya, Ryle dan Dida berdiri di tengah antara aku dan dia.

“Apa kamu punya urusan lagi denganku?” (Iris)

“Aku, aku…!” (Van)

Aku menatap dingin Van saat dia berteriak.

“Apa yang harus kulakukan! Tolong bantu aku!” (Van)

Tolong bantu aku…. ya. Mendengar kata-katanya, aku tidak bisa menahan tawaku.

“Kenapa oh kenapa aku harus membantumu?” (Iris)

“Itu…” (Van)

“Aku si ‘gadis jahat’ yang berusaha mencelakai Yuri sang ‘lembut’, kan? Bukannya kamu sudah memperingatku bersama Edward-sama? Kamu ingin orang seperti itu membantumu tanpa menawarkan ku imbalan apapun?” (Iris)

Suaraku sangat dingin sampai-sampai aku sendiri juga ikut takut.

Mendengar permohonannya, pikiranku tetap kosong tanpa memikirkan apapun.

Tentu aku tidak punya simpati padanya. Dan posisiku sudah tidak lagi merasakan kepuasan seperti dulu.

Tidak ada… apapun. Rasanya seperti hampa. Aku sudah tidak peduli apa yang terjadi dengannya lagi.

“Ayahku dipecat dari posisi paus. Tapi aku berpikiran jika Yuri akan tetap berada di sisiku, layaknya sebelumnya…!” (Van)

“Tapi dia tiba-tiba berubah aneh. Seolah kami tidak pernah saling kenal.” (Van)

Kesimpulannya, Yang Yuri inginkan adalah kuasa gereja yang membantunya.

“Semuanya juga begitu, mereka telah berubah dan juga Sangat dingin kepada ku . Aku…” (Van)

“Jadi apa?” (Iris)

Kujawab dengan dingin.

“Diperlakukan seperti orang asing oleh mereka yang kau sayangi? Semua orang menjadi dingin, tidak peduli? Aku juga tidak peduli bahkan situasimu seperti itu. Kamu pasti juga tidak peduli saat kamu mengusirku keluar dari akademi, kan?” (Iris)

Wajahnya berubah mendengar ejekanku kepadanya.

“…Ah, benar. Ya, Aku berdiri di samping saat mendorongmu jatuh. Dan setelah melakukan itu aku masih datang kemari. Bahkan aku sendiri merasa kalau aku orang bodoh.” (Van)

“Oh? Baguslah kalau kamu mengerti. Kalau begitu, tolong cepat pergi.” (Iris)

“Tapi meski begitu, Aku tidak boleh menyerah. Aku ingin menunjukan kepada orang-orang yang meninggalkanku bahwa mereka salah. Aku tidak mau menyerah tanpa melakukan apapun!” (Van)

“Ha…” (Iris)

Aku ketawa mendengarnya bicara dengan marah-marah. Apa itu menyindirnya? sama sekali tidak.

Tak bisa ku percaya karena Orang yang santai dan tenang menjadi seperti ini karena dia sangat ingih berubah.

Mukanya masih meringis, dia berteriak bahkan meski dia tahu kalau itu percuma, betapa berantakannya sehingga aku tidak bisa menyamakan dia di ingatanku dengan seseorang yang ku kenal saat di akademi.

“Ah, ya. Jujur, aku tidak peduli dengan negara. Aku hanya ingin orang-orang yang meninggalkanku untuk kembali. Itulah kenapa aku disini…!” (Van)

“Jadi bagaimana kalau mereka kembali? Kamu memohon rasa sayangnya? Memohon kalau kamu bisa terus berdiri disisinya?” (Iris)

“…Mereka meninggalkanku. Mereka tidak penting lagi. Aku hanya, Aku hanya melakukan ini untuk diriku sendiri…!” (Van)

… Betapa egois, cara berpikirnya memetingkan diri sendiri.

Tapi aku tidak kaget. Aku mengerti perasaan itu juga. Bahkan sekarang, di lubuk hati terdalam aku ingin mereka kembali padaku.

Tapi sekaligus… betapa bahayanya pemikiran itu.

Perbedaan yang pasti diantara dia dan aku adalah aku tidak menganggap itu sebagai tujuan utamaku. Kalau aku terjebak di pola pikir seperti itu, aku takkan mampu berhadapan dengan semua pengikutku dalam kesadaran penuh.

Tapi Van sekarang… Dia menganggapnya sebagai motivasi satu-satunya tujuan untuknya.

Aura tajam mengelilinginya karena dia sangat menginginkannya. Tak peduli apa yang terjadi, dia tidak akan menyerah.

Aku duduk di depannya sekali lagi.

“Jadi kamu ingin bekerja sama” (Iris)

Dia mengangguk.

Jadi begitu ya… Aku juga masih berharapan kalau mereka mungkin kembali padaku. Hanya sejauh ini yang bisa kudapatkan.

… Sangat disayangkan

“Bahkan dengan dukunganku, kamu takkan pernah menjadi paus pada titik ini. Dengan organisasi sedang di reformasi total.” (Iris)

Aku masih terus berkontak dengan Pastor Ralph. Laporannya sangat jelas: Van tidak akan pernah menjadi Paus.

Sebagian besar orang-orang kalangan atas gereja sudah di tangkap tanpa ragu. Proposal untuk menghapus Paus sebagai posisi turun menurun juga disetujui walaupun ada beberapa yang keberatan.

Sebagai gantinya, di masa mendatang mereka berencana meminta kepada para kardinal untuk memilih siapa yang akan menjadi Paus.

“Di posisiku, dibandingkan mendukungmu, aku lebih mendukung Pastor Ralph, yang sudah menunjukkan keterampilannya dalam menghadapi situasi sekarang ini. Sekarang Gereja bukan di kuasamu lagi, tidak peduli dalam hal pengalaman atau kemampuan, kamu tidak bisa dibandingkan dengan Pastor Ralph. Kalau kamu terus melanjutkan jalan ini, sulit untuk mengatakan kalau kamu bisa tetap berada dalam agama ini.” (Iris)

Lagipula, Van saat ini sedang di posisi tidak menguntungkan. Tanpa semua kejadian ini, dia akan masuk Gereja untuk mengumpulkan pengalaman dan mempersiapkan perannya di masa depan… tapi sekarang, dia tidak mempunyai jalan yang bisa dilalui olehnya.

Bagi Gereja Daryl yang sedang mencoba untuk menghapus sistem lama, keberadaannya merupakan halangan murni untuk maju.

Masih tidak jelas apa dia bahkan bisa tetap mempertahankan haknya sebagai anggota Gereja.

“…tapi untuk menjadikanmu di gereja lain mungkin masih bisa. Sebagai anti klerikal tentunya.” (Iris)

Aku tahu sebagai seorang pastor dan kepala gereja ada tingkatan pribadi.

Kalau itu dia, mungkin aku bisa meminta bantuan.

“Menjadi seorang anti klerikal biasa yang sesungguhnya. Kamu mungkin bahkan tidak bisa masuk ke Gereja yang sebenarnya, apalagi menjadi paus. Tapi orang tersebut lebih cenderung mempercayai apa yang dia lihat dalam dirimu daripada apa yang orang lain katakan. Kalau kamu mengumpulkan dan menunjukkan kemampuan pribadimu, mungkin dia akan bersedia memberimu lebih banyak tanggung jawab.” (Iris)

Jadi. Apa yang akan dia lakukan?

Sehubungan dengan pertanyaan ini, aku tidak bisa melihat kebingungan atau keraguan dalam dirinya.

tags: baca novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, web novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, light novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, baca Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 105, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 105 manga, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 105 online, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 105 bab, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 105 chapter, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 105 high quality, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 105 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of