Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 157 Bahasa Indonesia

Dibaca 272 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Penerjemah: HaruRin
Penyunting: niznet
Korektor: –


Chapter 157 – Sebuah sistem baru

“D-Dean!”

 

“Yaaa?, Ada apa, mengapa anda begitu terkejut? Apakah saya datang pada saat yang tidak tepat?.”

 

Wajah Dean terlihat bimbang saat memikirkan itu.

 

“Tidak, sama sekali tidak. Si-silakan, duduklah, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Ah, teh …”

 

Aku sungguh tidak bisa bilang kalau aku baru saja memikirkan dia, jadi aku berbicara dengan gemetar dan mengajaknya untuk duduk.

 

Tapi karena aku terlalu gugup, ucapanku patah-patah.

 

Karena aku menyadari bagaimana perasaanku, bukankah ini sudah sering terjadi…

 

“Ketika saya datang ke ruangan ini, saya mengatakan halo kepada nona Tanya dan memintanya untuk membawa teh untuk dua orang di sini, jadi jangan khawatir tentang hal itu. Kembali ke Topik: Nona, apakah ada sesuatu yang terjadi di sini?”

 

“Tidak… aku hanya berfikir tentang sesuatu…”

 

Aku tidak tahu bagaimana cara menanggapinya, jadi suaraku sedikit gagap.

 

Mungkin aku hanya canggung… sebentar, kuharap Tanya cepat kembali.

 

Aku tidak tahu apakah dia bisa merasakan pikiranku, tapi Tanya memasuki ruangan dengan teh segera setelah aku mengharapkannya.

 

Menyeduhkan teh vanilla yang telah dia buat untukku, hatiku mulai tenang.

 

“Terima kasih telah datang ke sini. Maaf baru mengatakannya, tapi aku sudah memikirkan sesuatu. Kau muncul tepat waktu pada waktu yang tepat untukku yang ingin berbicara denganmu, jadi aku sedikit terkejut … aku minta maaf karena membuatmu melihatku seperti orang bingung, dan tidak pantas untuk mengatakannya. Juga, aku masih belum mengucapkan terima kasih atas hadiah yang kau berikan kepadaku sebelumnya …”

 

Aku menutup rapat hatiku sendiri, memilih kata-kata dengan ketenangan yang sangat banyak.

 

Ketika aku mengunci hatiku, aku bisa berbicara dengannya seperti yang biasanya.

 

Aku perlu berpura-pura kalau aku tetap tidak terefek oleh semua ini. Dalam keadaan yang tidak boleh dia lihat bagaimana perasaanku.

 

Jika ada yang tahu, aku tidak akan bisa menghabiskan waktu bersamanya lagi.

 

Akibat dari perasaanku, aku harus menutup emosiku.

 

“Tidak, dalam hal pemberian terima kasih … Saya hanya melakukan apa yang saya inginkan. Saya juga sungguh minta maaf karena melibatkan anda seperti ini. Saya sebelumnya berada di suatu tempat untuk menangani masalah lain dan mengingat bahwa saya masih bermasalah dengan bagaimana cara menangani kejadian semua ini, jadi saya memutuskan untuk datang. Seharusnya saya menghubungi anda sebelumnya.”

 

“Tidak, ini sungguh bantuan yang besar untukku kalau. Tidak perlu meminta maaf. Jadi, apa yang ingin ku bicarakan denganmu adalah …”

 

Aku segera mulai berbicara dengannya tentang rencana yang aku bayangkan dalam pikiranku.

 

Apa yang telah kupikirkan adalah tindakan asuransi dan keamanan.

 

Aku juga membicarakan ini dengan Dean dulu.

 

Saat aku bingung dengan potongan-potongan ini, aku terus mengumpulkan lebih banyak dokumen tentang topik ini. Dalam proses pengulangan itu, akhirnya aku memilih sebuah dokumen yang ada mejaku.

 

Tentang kapan tindakan asuransi mulai dilakukan, ada seseorang yang mengatakan bahwa itu sudah muncul sejak Abad Pertengahan, cara tradisional untuk saling membantu di dalam kemasyarakatan.

 

Jika seseorang terluka dan tidak dapat bekerja, maka pendapatan keluarga akan turun. Hal ini bisa sangat mempengaruhi mata pencaharian keluarga, dan akan berakhir mengurangi semangat bekerja.

 

Tentu saja, skenario terbaik adalah kalau sama sekali tidak ada kecelakaan. Tapi jika ada rencana cadangan saat itu terjadi, maka pekerja akan bisa bekerja dengan pikiran yang lebih tenang.

 

Kenyataan bahwa pekerja akan mengembangkan rasa memiliki ke arah yang lebih luas terhadap wilayah tersebut, juga merupakan salah satu keuntungan tambahan.

 

Jika kita akan menetapkan kebijakan seperti ini, hal ini tidak bisa hanya dibatasi dengan pekerja konstruksi. Semua warga negara di negeri ini berhak menikmati manfaatnya.

 

“Kebijakan yang anda bicarakan sebelumnya? Apakah sekarang sudah di waktu yang tepat?”

 

“Ya, sebelum kita membicarakannya, itu bukan prioritas dalam daftar hal yang perlu kita ubah. Tapi sekarang bahwa segala sesuatu telah pindah ke langkah berikutnya … lebih penting lagi, kita membutuhkannya dalam situasi kita saat ini. Tentu saja, wilayah tersebut juga akan mendistribusikan hibah. Untungnya seseorang memotong bagian yang boros dalam anggaran kita, jadi kita bisa punya cukup banyak uang untuk itu. Di sisi lain … tentang bagaimana warga harus saling membantu. Semua orang membantu orang lain … itulah yang penting.”

 

“Menarik.” Mata Dean berkilau saat dia tertawa.

 

Itu adalah tawa yang sama yang telah dia lakukan saat dia menuntun semua orang di departemen keuangan dalam sebuah argumen.

 

“Tapi pada saat bersamaan, ini sulit jika kita akan meminta tolong semua orang untuk uang, maka kita perlu menjamin kejujuran. Sebelum kita mengusulkan kebijakan ini kepada semua pejabat, kita perlu membuat petunjuk yang jelas. Pertama-tama adalah jumlah uang yang tepat untuk pajak orang-orang.”

 

“Kita juga sudah membicarakan ini sebelumnya. Aku merasa seperti jika kita bisa menjalankan sistem perpajakan bertahap yang akan menjadi yang terbaik.”

 

“Benar, sekarang kita telah membersihkan buku catatan kita dan tidak lagi menjalankan pajak berdasarkan jumlah orang, kita bisa memperhitungkan semua pendapatan keluarga, menurut saya ide Anda bisa dilakukan.”

 

“Kalau begitu, ada faktor dari berapa banyak kita bisa menggunakan kebijakan ini dalam metode penyembuhan dan penggunaan obat.”

 

“Bisakah kita berbicara dengan ahli di lapangan? Ada baiknya kita memiliki banyak orang-orang yang berpengetahuan luas di wilayah tersebut.”

 

“Benar, kemungkinan besar akan bermanfaat untuk berbicara dengan kepala sekolah Akademi … Kedokteran di wilayah kami telah maju dan melompat terbang di wilayah kami, jadi kita perlu mempertahankan pemeriksaan berkala.”

 

“Ya. Seperti untuk metode penyembuhan, ku pikir jenis yang paling umum harus berada di dalam asuransi, sementara layanan dan pengobatan yang lebih baik harus dibayar oleh orang itu sendiri jika mereka mau membayarnya. Jika kita membiarkan asuransi menutupi semuanya, maka cepat atau lambat akan ada kekurangan dalam kebijakan tersebut.”

 

“Hingga saat ini setiap rumah sakit telah menentukan harga perawatan mereka sendiri. Sekarang kita perlu untuk menyatukan harga mereka.”

 

“Itu juga perihal yang dibicarakan dengan pihak kepala.”

 

Saat topik ini berkembang, aku mulai bersemangat.

 

“Kita perlu membangun jalur pembayaran yang jelas untuk setiap dokter. Mari kita mencoba gagasan yang kita bicarakan tentang membangun serikat untuk penyedia layanan kesehatan.”

 

Ketika percakapan kami mencapai puncaknya, suara dingin Tanya muncul.

 

“Nona, sudah waktunya untuk bertemu dengan serikat pedagang. Bagaimana rencana anda?”

 

“Ah… ya.”

 

Karena sangat menggeloranya yang sudah aku capai saat mengobrol sangat berlebihan dengan Dean , aku sampai lupa waktu.

 

“Kalau begitu, Saya juga akan memastikan langkah setelah acara dari insiden itu , dan ke Departemen Keuangan untuk memeriksa berapa banyak dari pengurangan anggaran. Juga, kita perlu melihat bagaimana pembersihan kewarganegaraan telah terjadi.”

 

“Tentu, terima kasih.”

 

“Aku juga akan bertanya kepada pihak kepala tentang pendapatnya juga. Meskipun belum terbentuk, akan bagus untuk memberinya kepemimpinan.”

 

Setelah itu, aku mengganti mode berpikirku dan menuju ke ruang rapat.

 

“Anda terlihat cukup senang, nona.”

 

Aku berbalik, sedikit gemetar pada kata-katanya.

 

“Hah? Apa yang kau katakan, Tanya. A-aku tidak …”

 

Karena apa yang dia katakan, pikiran tenangku mulai mendidih lagi.

 

“Saya pikir … bahwa Anda sangat bahagia saat memikirkan kepentingan rakyat, memikirkan kebijakan yang akan mendorong kami ke depan.”

 

Ah, begitu … aku menghela napas lega dalam hati.

 

“Ya, karena, aku … cinta dengan wilayah ini.”

 

Begitu banyak yang terjadi. Saat ada masalah di sana, aku mulai mendapatkan kesadaran diri.

 

Aku bangga dengan keturunanku, warisanku, dan aku cinta wilayah ini.

 

Itulah sebabnya aku senang. Bahkan jika itu berarti mengunci perasaanku.

 

Karena aku benar-benar mencintai tempat ini, yang membawaku saat aku telah kehilangan semuanya … dan orang-orang yang tinggal di sini.

tags: baca novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, web novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, light novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, novel Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia, baca Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 157, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 157 manga, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 157 online, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 157 bab, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 157 chapter, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 157 high quality, Koushaku Reijou no Tashinami [Duke’s Daughter] Bahasa Indonesia 157 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!