Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 81

Dibaca 689 orang
Font Size :
Table of Content

Kami Resmi Tutup! Bagi yang ingin mengurus FT ini silahkan baca selengkapnya di postingan FacebookPengumuman Terakhir

Penerjemah: niznet
Penyunting: niznet

Chapter 81 – Keyakinan Sei IV

“… Begitu ya kata anda, tapi ada seorang wanita yang meninggalkan perusahaan di saat yang sama sepertiku justru bisa kembali bekerja. Terlebih lagi, dia ada di sana!” (Damme)

Damme menunjuk ke seorang wanita yang berpakaian seperti pelayan di kasir, dan dia gemetar saat ditunjuk olehnya.

Tepat saat aku ingin muncul dan menanggapi Damme, aku mengingat janjiku dengan Ryle dan membuatku tetap diam mengawasi mereka.

Sei berjalan untuk melindungi wanita itu dari pandangan sekitar, dan kemudian dia berbicara, “Dia sebelumnya cuti hamil. Karena dia mengajukannya, saya menyadari keadaannya dan memberinya izin untuk bekerja kembali. Hal ini sepenuhnya berbeda dari anda; jadi, kenapa anda menanyakan tentang dia?”

“… Yah, huh. Saya tidak tahu jika itu izin untuk cuti hamil atau apapun, tapi masih ada banyak wanita di perusahaan ini yang hanya bekerja untuk stok barang-barang atau bekerja di bagian pendaftaran. Dan meskipun wanita itu bisa kembali, mengapa saya tidak bisa. Perusahaan ini jelas cenderung pilih-kasih… atau apakah anda percaya jika itu tidak beralasan? Bagaimana dengan anda dan wanita di sana itu?” (Damme)

Aku harus menahan dorongan yang terus bertambah untuk membalas tuntutan keterlaluannya dengan segala watakku.

Tubuhku bergemetar karena kemarahan, dan sekali lagi menahan doronganku untuk membalas.

Dari dalam perutku muncul perasaan nafsu dan lapar untuk memperbaiki pernyataannya.

Ini merupakan sebuah penghinaan terhadap perusahaan; itu juga sebuah penghinaan terhadap Sei; itu juga sebuah penghinaan yang memandang rendah semua wanita yang bekerja.

Ah, untuk alasan apa orang ini memprovokasiku? Mungkin ini sudah waktunya untuk menunjukkan kekuatan wilayah dari putri seorang duke, mirip dengan sewaktu di akademi.

Untuk Menahan lidahku… rasanya mustahil. Tapi, begitu aku membuka mulut untuk membiarkan perasaanku meledak karenanya, muncul suara kasar terdengar di seluruh ruangan.

“… Jangan anggap enteng kemampuan seorang wanita. Sangat memuakkan untuk mendengarkan omong kosong yang tidak masuk akal anda.” (Dida)

Dida dan Sei menatap tajam pada Damme. Dida memperkuat cengkeramannya pada Damme yang wajahnya kini meringis kesakitan.

“Mengantarkan barang dagangan, akuntansi… Yah, mereka memang terlihat seperti pekerjaan monoton. Tetapi karena pekerjaan yang sama itulah toko ini berjalan dengan baik. Menurut pendapat saya, pekerjaan yang anda lakukan dan kerjakan memang sama pentingnya. Hirarki pekerjaan bukanlah segalanya. Bagaimanapun, dia adalah anggota penting dari tenaga kerja kami yang mampu melakukan pekerjaannya dengan efisien, kompeten, dan mahir.” (Sei)

“Ow, ow, ow ,ow! Itu sakit!!” (Damme)

Damme lebih fokus pada rasa sakit daripada wawasan Sei.

“Ups, maaf. Ketika Damme menyatakan tuduhan terhadap perempuan sampai di telinga saya, Saya langsung merasakan kemarahan yang tidak enak untuk dipandang.” (Dida)

Permintaan maaf Dida tidak ditujukan ke Damme, melainkan Sei karena dia sudah mengganggu dia saat bicara.

Sei menerima permintaan maaf Dida dengan senyum pahit.

“Setelah pensiun, anda akan menerima uang pensiun dan bonus; tetapi dengan meninggalkan perusahaan untuk selamanya. Itu berbeda dengan cuti karena orang tersebut pasti akan kembali setelah periode ketidakhadiran mereka berakhir.” (Sei)

Kemudian Sei berpaling ke pelayan itu dan berkata: “Pertama-tama, dalam dokumen yang sudah ditanda tangani saat kami merekrut orang, jelas dinyatakan bahwa cuti dan pensiun berbeda. Kami juga menjelaskannya sebelumnya… Anda mendengar penjelasannya, lalu anda masih tetap ingin meninggalkan perusahaan, benar?” (Sei)

“Baik, itu benar. Ketika Tuan Sei bertanya alasan saya ingin berhenti. Saya mengatakan kepadanya tentang mengharapkan seorang anak, dan kebutuhan untuk merawat bayi yang baru lahir. Kemudian Tuan Sei bertanya kepada saya tentang apa yang akan saya lakukan setelah merawat bayinya. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan mencari pekerjaan baru. Tepat setelah saya selesai mengatakan itu, Tuan Sei mengusulkan agar saya mengambil cuti tanpa meninggalkan perusahaan untuk selamanya. Sejujurnya, sangat sulit untuk mencari pekerjaan baru, dan saya sangat berterima kasih kepada Tuan Sei karena menawarkan saya sebuah pilihan untuk kembali setelah absen untuk periode waktu yang singkat.” (Pelayan)

Para penonton terpana dan kaget.

Sistem cuti absen adalah hal yang baru, hanya baru dijalankan oleh perusahaan kami saja. Reaksi dari penonton itu wajar saja. Butuh waktu yang lama untuk memperkenalkan dan mengimplementasikannya.

“Sungguh? Luar biasa!! Saya juga ingin bekerja di sini! Kita tidak bisa hanya menunggu gaji suami kita, dan memikirkan anak itu sendiri sulit untuk dikatakan…” (Penonton)

“Ya benar, lebih mudahnya: intinya aku akan berhenti dari pekerjaanku setiap kali aku melahirkan seorang anak; Namun, di perusahaan ini, setelah melahirkan, aku bisa kembali dan bekerja yang sama seperti sebelumnya. Sayang sekali kalau hanya perusahaan ini satu-satunya yang menggunakan sistem itu!” (Penonton)

Para pelanggan wanita berpikiran sama, menyutujui apa yang dipikiran mereka. Tidak heran bagi wanita yang sulit untuk bekerja dalam kondisi yang keras seperti itu.

Meski perempuan yang bekerja di jepang menghadapi masalah yang sama tentang kesetaraan gender, tapi lebih parah disini karena kurangnya hak-hak perempuan.

Alangkah baiknya kalau ada keluarga yang menggantungkan hidupnya di dekat ini, tapi sebagian besar orang kerajaan mempunyai anggota keluarga yang banyak. Selain itu, tidak ada tempat yang bisa mengasuh anak-anak.

Setidaknya, mungkin lebih baik untuk membuat sebuah fasilitas seperti tempat penitipan anak bagi perempuan yang bekerja.

Pelayan itu berkomentar,
“Terima kasih. Artinya apa yang dikatakan Damme merupakan tuduhan dan fitnah terhadap perusahaan kami.” (Pelayan)

Sei mengucapkan terima kasih pada pelayan itu dan baru saat itu suasana dingin yang ia pancarkan akhirnya berhenti.

Namun;

“Setelah keluar dari perusahaan, anda menjadi bebas. Namun, Saya tidak pernah bermaksud untuk membatasi kebebasan anda, walaupun anda bergabung dengan perusahaan terpisah. Artinya, sampai anda menyebabkan keributan di toko ini. Sekarang, anda adalah…” (Sei)[1]

Sei berbalik menghadap Damme lagi, tapi matanya yang sangat dingin cukup untuk membuat dia tertusuk jantungnya. Tubuh Damme bergemetar melihat tatapan Sei.

“Masalah ini tidak akan pernah terjadi lagi. Kali ini, saya akan menghentikan penjaga untuk membunuh anda. Tapi jika insiden ini terjadi lagi, saya akan menggunakan metode yang berbeda.” (Sei)

Sei berbisik ke Damme dengan nada yang sangat dingin. Damme tahu kalau jika insiden seperti ini terjadi lagi, dia akan segera mati.

Dia tersenyum saat Damme gemetar ketakutan di hadapannya.

“Oh, penjaga sekitar sudah datang. Dida, serahkan dia pada mereka.” (Sei)

“… Apa itu tidak apa-apa?” (Dida)

“Ya.” (Sei)

Sei mengangguk saat Dida menyerahkan Damme ke para penjaga. Dia tidak melawan atau bahkan meronta, malah menatap Sei dengan mata yang suram dan tak bernyawa.

* * *


[1]Maksudnya adalah dia sehabis keluar itu bebas dan tidak dibatasi kebebasannya sampai dia malah bikin keributan di toko itu.

tags: baca novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, web novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, light novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, baca Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 81, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 81 manga, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 81 online, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 81 bab, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 81 chapter, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 81 high quality, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 81 manga scan, ,
Table of Content

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of