Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 89

Dibaca 756 orang
Font Size :
Table of Content
Dark Mode
Bagaimana menurutmu tentang situs ini? Berikan ulasanmu disini: Halaman Ulasan
Pengen novel yang kamu sukai disini diprioritaskan? beri komentarmu disini: Halaman Request

Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 89

Chapter 89 – Masa lalu Sang Ibu (Okaa-sama)

Aku menyeruput tehku dengan anggun di ruang tamu.

TLN: Inggrisnya Salon, tapi dilihat dari konteksnya berarti ruangan besar untuk menerima/menjamu tamu. Saya gak tahu harus di artiin ruang tamu atau teh… Mungkin kamu ada saran?

Biasanya, aku selalu memandangi dekorasi bunga yang cantik untuk menenangkan pikiranku… Tapi hari ini, aku tetap tidak bisa tenang.

“Fuahh…”

“Ah, Iris-chan, ada apa? Kenapa kamu terlihat murung.”

Ibu datang dengan suaranya yang merdu dan lembut.

“Okaa-sama….”

“Kamu yang di sana, bawakan aku minuman yang sama dengan Iris-chan.”

 

Ibu duduk di sebelahku setelah memerintahkan pelayan itu.

“Sedang istirahat?”

“…. Mm, Aku hanya sedikit lelah.”

“Kamu tidak usah membebani dirimu dengan pekerjaanmu. Duh, Kamu persis dengan ayahmu.”

 

Ketawa kecil Ibu “fufufu” merdu seperti biasanya.

Bahkan caranya memegang cangkir tehnya ke bibirnya sangatlah menawan. Meski dia ibuku, aku merasa kagum.

“Apa benar cuma karena kamu capek? Atau kamu sedang memikirkan sesuatu?”

Aku menjadi gugup karena kaget mendengar perkataan Ibu.

Apa seseorang sepertiku sangatlah mudah untuk dibaca?

“… Iris-chan, apa kamu mau berjalan-jalan di luar? Kalau kamu selalu berada di dalam ruangan seharian, pikiranmu nanti cuma fokus ke hal-hal buruk saja”

Selagi dia berbicara, Ibuku memegang tanganku lalu menarikku berdiri dan mulai berjalan.

“Eh? Eh?”

Meski penampilannya ramping, Ibu ternyata kuat. Dia menarikku ke sampingnya sembari berjalan.

Aku menoleh ke belakang dan melihat para pelayan yang terlihat bingung dan panik. Mereka tidak tahu cara menanggapi tindakan Ibu.

….. Kemudian aku mengikutinya selama beberapa menit.

Entah kenapa, aku naik ke kereta kuda, dan kami bergerak maju dengan penuh guncangan selama sepuluh menit.

TLN: Saya gak tahu harus tulis apa selain getaran ada saran kah? Thx @Xeann!

Kami menaiki tangga berbatu yang menakutkan.

Di saat akhirnya aku berdiri di puncak menara yang tinggi dan menghadap ke kota Kerajaan.

“… Indah sekali….”

Aku terkagum sambil menarik napas dengan pemandangannya.

Kami sangat dekat dengan awan yang mengambang dan merasakan sinar matahari yang hangat mencapai tubuhku

Di bawah keindahan matahari, Kota Kerajaan terlihat lebih mempesona dari biasanya.

“Mm, benar, Iris-chan.”

“Okaa-sama, ini…”

“Tempat ini adalah menara pengawas untuk penjaga Kota Kerajaan. Saat ini, pastinya sedang di bawah pengawasan tentara.”

“….  Kita diizinkan untuk masuk?”

Singkatnya, menara ini adalah properti militer. Meski sebagai bangsawan, aku kaget kalau kami boleh masuk bahkan sebagai warna negara.

“Dengan nama kakekmu, itu mudah.”

Bagi Ibu untuk berkata seperti ini dengan entengnya adalah suatu yang harus dihormati tentangnya.

“… Saat aku masih kecil, aku selalu datang ke sini kalau ada sesuatu yang terjadi padaku. Jadi aku sudah terbiasa dengan para penjaga.”

Ibu tersenyum lembut,

“…. Okaa-sama, apa yang sering mengganggumu di saat itu?”

“Hehehe… Seperti, saat aku bertengkar dengan ayahku, atau saat aku kalah bertarung melawannya.”

Ibu terlihat sangat senang selagi dia berbicara.

“Dan juga, aku pergi kesini saat salah satu mimpiku hancur berkeping-keping.”

“Mimpi Okaa-sama? ….. seperti apa…?”

Mimpi milik Ibu… Aku sama sekali tidak membayangkannya.

Orang ini, dijuluki sebagai “Bunga Masyarakat” yang dipuji dengan kehormatan dan kekaguman di seluruh negeri.

Aku merasa kalau apapun yang ia inginkan, dia pasti akan mendapatkannya.

Aku tidak pernah membayangkan satu mimpi pun kalau Ibu akan menyerah pada mimpinya.

“Saat itu, Aku ingin mengabdi di militer.”

Pupilku melebar saat aku mendengar jawabannya yang mengagetkan.

“… Di militer?”

“Mm…. Aku sudah berlatih bertarung sejak masih muda. Itu karena ibuku dibunuh oleh penjahat.”

Saat aku mendengarkan ceritanya yang tidak dikenali, aku kaget lagi.

“Kedukaan ayahku saat itu sangat-sangat besar. Orang yang memenangkan banyak kemenangan dan mempertahankan keamanan kerajaannya… Dia tidak pernah terpikirkan kalau ia tidak akan berdaya untuk melindungi istrinya, dan terlebih lagi bahwa nyawanya diambil oleh rakyat yang dia lindungi.”

Dadaku sakit.

Seorang pejuang yang hebat… Sang penyelamat di medan perang.

Kakekku yang dipuji dan dihormati, tidak mampu untuk melindungi nenekku dari bahaya…

Dan, dia dibunuh oleh seorang warga dari kerajaan ini…

“Jadi setelah ibuku meninggal… aku mulai untuk belajar bertarung. Ayahku tidak menghentikanku. Aku tidak pernah belajar sopan santun dan semua yang dipelajari oleh gadis bangsawan lainnya, tapi sama seperti anak lelaki yang berotak otot.”

Aku tidak tahu cara menanggapi cerita ini.

Percakapan dengan ibuku ini benar-benar mengagetkanku hari ini.

Karena, ini adalah Okaa-sama?

Untuk berpikir kalau ibu yang dijuluki sebagai panduan istri bangsawan, tidak pernah belajar tata krama atau kesopanan saat dia masih muda.

“… Entah itu karena ajaran ayahku atau karena aku memang punya bakat bawaan, seperti yang diklaim ayahku? Lupakan anak-anak lain seusiaku, aku bahkan tidak pernah kalah melawan orang dewasa yang lebih tua dari ayahku. Seingatku, hanya dia yang satu-satunya mengalahkan ku.”

Ibu tersenyum selagi ia berbicara, tapi mulutku tidak bergerak sedikit pun.

“…. Aku tidak tahu kapan, tapi aku memutuskan untuk menjadi seorang tentara, dan melindungi negara seperti yang dilakukan oleh ayahku.”

“…. Namun, orang-orang yang merenggut nyawa nenek masih disini sebagai warga negara. Kenapa harus….”

“Benar…. seperti yang kamu katakan, Aku membenci penjahat yang membunuh ibuku, dan aku tidak mengerti kenapa ayahku tetap melindungi negara setelah dia meninggal. Kebencian, atau hanya keinginan untuk melindungi diriku sendiri? Sejujurnya, aku sendiri bahkan tidak tahu alasan kenapa aku berlatih bertarung sampai hari ini.”

Ada bayangan dibalik senyuman ibu.

Under the sunlight, I somehow felt that Mother’s grin was fraudulent.

Di bawah sinar matahari, Aku entah mengapa merasa kalau senyuman Ibu hanyalah kepalsuan.

“Jadi, mungkin itu penyebabnya aku menjadi seperti ini… Saat Ayah akhirnya menangkap penjahat-penjahat yang terlibat dalam kasus pembunuhan itu, untuk sementara waktu, hatiku terasa sangat kosong. Kenapa aku belajar bertarung? Aku kehilangan ambisiku… Pada saat itulah, aku mulai sering datang ke sini untuk merenung. Kenapa aku menggali ilmu berperang? Aku merenung dan lagi…. Berkat pemandangan yang mempesona di sini, aku bisa menjernihkan emosiku.”

 

“Lihat…” Ibu menunjuk ke pemandangan yang menakjubkan.

Disitu ada lautan manusia, serta jalan-jalan yang yang indah.

“Di setiap bangunan-bangunan itu, ada beberapa orang individu… Sebab mereka “Menjalani Hidup”, mereka tertawa, menangis, dan mempunyai kehidupan sehari-hari mereka sendiri. Aku berpikir… Keindahan apakah ini, betapa berharganya ini!”

“Okaa-sama….”

“Ya, ada orang-orang yang menjadi penjahat dan semacamnya, tapi ada juga banyak warga yang tak berdaya. Untuk mencegah sesuatu seperti tragedi keluargaku menimpa orang lain, untuk mencegah orang-orang menangis dalam kesedihan, untuk mempertahankan pemandangan di depan kita sekarang, aku ingin melindungi semua ini bahkan kalau itu perlu untuk membasahi tanganku dengan darah segar.”

“…. Kemudian, Ibu mempertahankan pola pikir itu sejak kecil…?”

“Mungkin itu karena aku kehilangan ibu yang kusayangi, dan aku tidak ingin kehilangan orang lain lagi, sejak itulah aku menetapkan pendirianku.”

“Okaa-sama….”

“Tapi, kenyataannya memang kejam. Alasannya adalah karena militer melarang wanita untuk mendaftar. Seorang lelaki yang kalah dariku dalam duel mengingatkanku tentang itu, dan aku menabrak pagar besi itu. Mimpiku hancur berkeping-keping.”

Orang-orang itu benar-benar… pengecut. Aku tahu kalau itu semua sudah berlalu, tapi aku masih tetap merasa marah.

Kalau aku hanya merasakan ini sebagai pihak ketiga, bagaimana dengan perasaan ibuku saat itu?

“Apakah Ibu tidak berpikir untuk menjadi seorang ksatria?”

Posisi ksatria terbuka untuk wanita tertentu.

Mereka akan melindungi anggota wanita dari keluarga kerajaan.

“Aku tidak belajar bertarung untuk melindungi keluarga kerajaan. Dan terus terang kalau ksatria wanita tak lebih dari sebuah dekorasi saja.”

Itu benar, Aku menggangguk.

Kesatria wanita tidak perlu keterampilan yang handal. Mereka dijauhkan dari pertempuran karena kalau seorang wanita muncul di garis depan, dia akan langsung ditargetkan sebagai kelemahan.

“… Dan pada saat itu, Aku datang ke sini lagi. Tapi aku sungguh putus asa saat itu, karena tujuan baruku kembali memudar lagi.”

Keinginannya untuk balas dendam sudah hilang, dan mimpinya sudah lenyap.

…. Setelah mendengar cerita masa lalu Ibu, aku mengubah pandanganku terhadapnya tentang kegigihannya yang kuat.

“Lalu, aku bertemu ayahmu di sini.”

“Oto-sama….”

“Mm. Saat itu, ayahnya yang masih menjadi Perdana Menteri. Dia menemukan tempat ini juga dan mulai sering datang ke sini.”

…. Tiba-tiba aku terpikirkan, apa keamanan menara ini baik-baik saja?

Yah, selama tidak ada yang mengenali…. kan?

“Aku menangis tepat di sampingnya, tapi ayahmu tidak memperhatikanku, dia tetap memandang pemandangannya. Memalukan untuk memikirkannya lagi sekarang, tapi aku memarahinya karena dia mengganggu satu-satunya tempat yang kusukai.”

Wajah ibu mulai memerah, masih gugup dengan pertemuan pertamanya dengan ayahku.

“Tapi, ayahmu mengajariku.”

“Me…ngajari?”

“Ya. ‘Jika kau ingin menyerah sekarang, itu berarti mimpimu ternyata hanya sebesar ini’.”

Melontarkan kata-kata keras ke gadis yang sedang menangis memang terdengar seperti gaya Oto-sama.

Dan bagi Okaa-sama untuk berbicara tentang ingatan itu dengan sangat senang, dia menjalani hidupnya sesuai dengan reputasinya.

 

 

“Dia bertanya padaku: ‘Kenapa, kau melatih dirimu seni bertarung? Untuk mendapatkan kehormatan di militer? Atau melindungi rakyat kerajaan? Jika itu memang itu, maka menangislah semaumu. Tapi jika itu yang terakhir, maka apa ada alasan sesungguhnya untuk menangis?’ dia berkata begitu padaku.”

“….. jika itu yang terakhir, maka apa ada alasan sesungguhnya untuk menangis?”

“Ya, benar. Ayahmu mungkin bermaksud untuk mengatakan, ‘Kau telah menganggap metode[1] dan tujuanmu adalah hal sama.’”

Jadi begitu ya, Aku mengerti sekarang.

“Ayahmu memberi tahuku ini, “Jika tujuanmu adalah melindungi, maka kau hanya akan kehilangan satu metode, ada lebih banyak lagi metode yang bisa kamu hitung yang menggenggam kehidupan orang-orang. Aku sendiri tidak ingin meraih itu melalui peperangan, tapi politik… tapi meski aku mengatakan seperti itu, aku masih punya beberapa cara untuk mencapai tingkatan ayahku.” Aku merasa sangat kaget mendengar perkataan itu… Dan aku merasa terlahir kembali. Dan setelah itu, aku mulai berkencan dengan ayahmu, dan memperoleh rasa hormat yang besar untuknya. Aku jatuh ke sungai cinta bersama ayahmu, dan akhirnya menikah… Setelah itu aku masuk ke medan perang lain.”

“Medan perang lain?”

“Ya, benar. Kebermasyarakatan adalah arena yang sangat berbeda.”

Selagi ia berbicara, Ibu tersenyum lembut, dan terlihat sangat bangga… Sosoknya sungguh menakjubkan.

Kemudian, aku mulai tertawa.

Itu benar, sebuah arena.

“…. Okaa-sama, aku sangat berterima kasih padamu karena sudah mengajakku ke sini hari ini. Bisakah aku… tinggal di sini sebentar lagi?”

“Mm, tentu.”


[1] Metode: Cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, jadi yang dimaksud disini adalah tentang metode belajar bertarung dia.

tags: baca novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, web novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, light novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, baca Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 89, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 89 manga, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 89 online, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 89 bab, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 89 chapter, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 89 high quality, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 89 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of