Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 90

Dibaca 776 orang
Font Size :
Table of Content

Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 90

Chapter 90 – Menetapkan Pendirian

Saat aku pulang, aku hanya ingin tidur sampai besok pagi, jadi aku merebahkan diri lalu menarik selimut setelah melakukan rutinitas sebelum tidur.

Tapi anehnya pikiranku sedang was-was, dan kelopak mataku tidak merasa lelah.

…. Pikiranku masih dipenuhi dengan percakapanku dengan Ibu dan pemandangan menara itu.

“…. Untuk mencegah kesedihan dari terulangnya tragedi itu, untuk melestarikan pemandangan yang ada di depan kita.”

Wajah Ibuku sangat cantik saat dia mengatakannya.

Itu bukan berarti karena penampilannya yang alami, tapi lebih seperti… Aku melihat seorang Ibu yang penuh kasih sayang sedang mencintai segala yang ada di sekitarnya.

Aku mengintropeksi diriku sendiri, Apa perasaanku terhadap perasaan rakyatku…? Saat aku merenungkan ini, aku tertawa tanpa sadar.

Bukankah aku sama seperti ibuku?

Saat aku bertemu dengan nona Mina dan anak-anak di panti asuhan… atau bahkan sebelum itu. Aku sudah menguatkan ketetapanku saat aku sedang berkeliling di wilayah.

Pada saat itu, aku belum terlibat dalam politik, tapi aku punya kekuatan. Sebuah kekuatan yang disebut “Otoritas sebagai wakil penguasa wilayah”.

Jalan kedepanku, serta tanggung jawabku sangat berhubungan dengan kehidupan rakyat.

Termasuk juga tumpukan kertas yang ada di mejaku. Saat aku memeriksa tiap kertas, aku selalu bisa merasakan beban yang terus menekan di pundak.

Itu semua untuk melindungi cara hidup para warga.

Bukannya aku sudah menetapkan pendirian itu dari dulu?

Mungkin karena… setelah pengucilan itu, membuat ketetapan pendirian itu melemah.

Apakah keberadaanku sungguh berguna bagi pemerintahan wilayah? Jika itu benar, maka semua yang kulakukan dan semua kemajuan sudah membawa wilayah menjadi lebih maju, kan?”

…. Itu sudah selalu menjadi fakta kalau tidak ada waktu untuk kehilangan keyakinan.

Karena aku sudah bergerak maju sepenuhnya, dan arahanku yang sudah menarik kehidupan para warga dan wilayah dengan itu.

Setelah semua yang terjadi di masa lalu, aku tidak bisa terus mengatakan, “Aku belum menetapkan pendirian.”

Aku melangkah maju untuk mewujudkan impianku sendiri.

Aku tidak akan kehilangan tujuan lagi. Kalau aku tersesat di tengah jalan, maka orang-orang yang berada di belakangku akan ikut runtuh juga.

Jadi aku hanya harus melakukan apa yang bisa kulakukan sebaik mungkin.

Saat aku memikirkan semua ini, perasaan tidak senang dan rasa kekhawatiranku hilang dan pikiranku kembali stabil.

Dengan perasaan puas, aku jatuh ke dunia mimpi.

Keesokan harinya, aku memanggil Ryle dan Dida kembali.

“Apa yang Anda butuhkan, Nona?”

“Mm, Aku hanya ingin memberitahu kalian berdua tentang pendirianku.”

Setelah mendengar perkataanku, Ryle kaget melebarkan matanya, dan Dida tersenyum senang.

“… Kemarin, Dida bertanya padaku apa aku sudah yakin dengan pendirianku.”

“Benar.”

“Meski sikapku sedikit ragu… Setelah memikirkannya, aku pikir seharusnya kemarin aku tidak mengambil waktu selama ini saat mempertanyakan ini.”

Rahang Dida turun setelah mendengar ucapanku.

“Karena aku sudah memutuskannya di dalam hatiku sejak dulu- Aku ingin melindungi wilayah ini, dan melindungi penduduk tanah ini.”

“… Untuk memenuhi itu, akankah darah perlu ditumpahkan?”

“Jawabanku adalah ‘ya’… tapi juga ‘tidak’.”

Ryle dan Dida memiringkan kepala mereka karena bingung.

“Pundakku sudah memikul beban dari ratusan warga sejak dulu. Misiku adalah untuk melindungi wilayah ini… dan kehidupan yang ada di dalamnya. Jika kekerasan diperlukan di tengah jalan dari tujuan itu, aku akan memerintahkan tentara kita untuk bertindak. Lalu aku akan memikul semua yang terkait dengan tanggung jawabku.”

Tidak ada dunia tanpa rasa sakit.

Aku sudah memahami ini sejak dari dulu.

“Namun, untuk mencegah tragedi itu terjadi… Aku akan melawan sekeras mungkin, sampai detik-detik terakhir. Aku akan menggunakan setiap kesempatan untuk mencegah hal-hal yang akan menjerumuskan ke arah yang mengerikan. Daripada berpikir susah payah bagaimana untuk memenangkan perang, mencari tahu bagaimana untuk mencegahnya jauh lebih baik. Ini adalah prioritas yang paling penting, dan aku akan mengikuti rencana ini.”

Sudahkah aku mengubah tujuan dan metode?

Itu memang kesalahan yang kubuat.

Aku selalu berpikir- kalau perang terjadi, siapa yang akan memikul tanggung jawab? Apa yang harus dilakukan oleh orang yang memiliki posisi Duke dalam masalah ini?

Tapi, bukannya itu berarti harus turun tangan. Karena ada lebih dari satu metode untuk mencapai tujuan kita.

Memprediksi peristiwa di masa depan, dan memanfaatkan kecerdasan dan menangkis ancaman. Pena, pikiran, dan tulisan akan menjadi senjataku.

Kekuatan militer akan menjadi kartu terakhirku. Tapi sebelum memainkan kartu itu, aku harus belajar untuk menggunakan semua kartuku sampai ke potensi maksimalnya.

Ini adalah misiku yang sebenarnya.

“Tapi… jika, apapun yang terjadi… jika kekerasan akan menjadi satu-satunya jalan, maka aku harus bergantung kepada kalian, Dida, Ryle. Bahkan setetes darah yang terlindung akan tetap sepadan. Tapi aku adalah satu-satunya yang bisa memikul tanggung jawab sehingga itu akan terlindungi olehku.”

Setelah aku selesai berbicara, entah kenapa Dida mulai tertawa.

… Apa aku mengatakan sesuatu yang tidak tepat?

Tidak, semua perkataan itu kukatakan dengan nada yang sangat serius…

“Pendirian yang sangat hebat… Tapi juga sangat naif.”

“Dida….!”

Berdiri di sampingnya, Ryle terlihat sangat marah.

“Tapi, tidak apa-apa. Alasan mengapa kami bersedia melayani nona adalah karena memang seperti inilah anda. Nona bisa melindungi hal-hal yang nona sayangi.”

… Jadi apa itu persetujuan?

“… Katakan terus terang sajalah.”

Ucap Ryle dengan kesal.

“Nona, kami adalah perisai dan pedang anda. Kerutan kekhawatiran anda akan kami hapuskan. Kapanpun, jika anda merasa kekerasan itu akan menjadi satu-satunya jalan yang harus diambil… Mohon bergantunglah pada kami. Kami akan melindungi anda dengan segenap kekuatan kami.”

Ryle berlutut.

Dida juga berlutut.

“Mm, Terima kasih…. Ryle, Dida.”

Aku juga tidak mau kehilangan mereka… Mereka juga termasuk apa yang ingin kulindungi.

Maka aku akan terus berjuang, untuk wilayahku.

tags: baca novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, web novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, light novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, baca Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 90, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 90 manga, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 90 online, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 90 bab, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 90 chapter, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 90 high quality, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 90 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of