Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 92

Dibaca 834 orang
Font Size :
Table of Content

Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 92

Chapter 92 – Masalah Seorang Pria

Chapter 92: A Man’s Troubles

(Sebuah) Masalah Seorang Pria

 

Although I kept my guard, I still followed the woman’s steps.

Meski aku menjaga kewaspadaanku, Aku masih mengikuti langkah kaki wanita itu.

 

“… Tanya.”

Tiba-tiba, dia memanggil sebuah nama ke udara yang hampa di depannya.
(TLN: Hampa disini diartikan, anginnya itu ga kenceng gitu, tahu kan kalau di dalem rumah anginnya kyk bagaimana, hehe)

Tak ada seorang pun disana…? Tepat saat memikirkan itu di benakku, muncul wanita lain ke sisinya.

 

“Anda memanggil saya, nona?”

“Mm, tolong siapkan dokter secepatnya.”

“Itu sudah dilakukan. Kami menunggu perintah Nona.”

“Ah, bagus, Tanya… kalau begitu, apa yang ingin kamu lakukan?”

Obrolan itu tiba-tiba dilempar padaku. Aku hanya membalas bingung.

 

“Apa yang ingin aku lakukan, itu berarti…”

 

“Kami sudah membuat persiapan, jadi dokter akan segera pergi ke adikmu. Sekarang, kamu punya dua pilihan- Percaya padaku dan meminta Tanya membawa/menyuruh/memanggil dokter ke tempat adikmu sekarang, atau pertama-tama datang ke rumahku?”

 

Jantungku berdebar-debar sebentar. Jujur aku tidak menginginkan apa pun selain meminta dokter untuk merawat adikku.

 

… Tapi.

 

“… Mari pergi ke rumahmu terlebih dahulu.”

 

Aku memilih yang kedua. Mendengar jawabanku, gadis yang bernama Iris menyipitkan matanya.

 

“Yah, kenapa?”

 

“Sudahku bilang, Aku tidak bisa mempercayai seseorang yang muncul entah dari mana. Aku akan pergi ke tempatmu tinggal, dan membahas apa yang kau katakan dengan benar. Aku tidak menyerahkan adikku begitu saja dengan mudahnya.”

 

Sesudah aku menyatakan pendapatku dengan berani, entah kenapa dia mulai tersenyum.

“Pemikiran semacam itu tidaklah buruk… Kalau kamu berubah pikiran, katakan saja langsung kepadaku. Oh, dan jangan khawatir tentang biayanya. Itu semua ku tanggung.”

“… Aku mengerti.”

 

Kemudian, kami mulai berjalan lagi. Setelah berjalan beberapa saat, kami sampai di jalan utama. Dia naik kereta kuda yang terparkir di sisi jalan.

 

Keretanya tidak terlihat seperti yang digunakan publik/umum atau disewakan, tapi melainkan miliknya sendiri. Dan meski penampilannya sederhana setiap orang yang matanya jeli pasti akan tahu kalau kualitasnya kelas atas.

 

…. Jadi mungkin dia tidak bohong saat dia bilang jika dia adalah presiden Konglomerat Azuta.

Saat aku sedang merenung, dia memanggil namaku, dan aku langsung tersadar kembali.

Mm, kalau gitu…!

 

Aku menguatkan kehendakku, dan menaiki kereta.

Selama kami terus diam, kereta bergerak selama sekitar setengah jam. Aku merasa kalau kami berada di suatu tempat yang jauh, dan sadar kalau kami sudah sampai di kawasan para bangsawan yang sangat luas.

Kereta kami memasuki tempat yang terlihat sangat mewah dibandingkan dengan rumah kelas atas lainnya.

 

… Ha? Kereta kuda itu terus berjalan maju.

 

“Selamat datang di rumah keluarga Duke Armelia.”

 

“… Duke, sama?” (TLN: Maksudnya adalah Duke-sama (Tuan Duke))

 

Dengan mendengar kata-katanya, dia menjadi kaget.

 

 

Dulu, aku berpikir kalau aku tidak akan pernah mendekati seseorang seperti Duke. Aku tidak pernah menduga situasi seperti ini.

 

“Sa, masuklahnya.”

 

Aku diantar masuk ke dalam wilayah oleh gadis itu.

Sebenarnya boleh saja untuk mengatakan kalau aku berjalan sendirian, aku pasti tidak akan bisa menemukan gerbangnya dan bakal tersesat.

 

Sebelum semuanya dirampas oleh “orang itu”, hidupku dulu sangat kaya. Tapi meski begitu, aku belom pernah melihat rumah bangsawan seperti ini.

 

Akhirnya, kamu berjalan ke suatu tempat yang menyerupai sebuah ruang tamu.

 

Yah, setidaknya aku tidak kaget lagi nanti, sembari memikirkan itu aku duduk ke kursi.

 

“…. Apa kamu sudah tenang?”

“Apa kau pikir kalau aku punya… Tidak, Apakah nona berpikir bahwa saya memilikinya?”

Sekarang yang aku pikirkan adalah aku tidak pernah bertata krama saat berbicara. Kalau ini berada di situasi lain, aku mungkin akan disuruh untuk meminta maaf… Yah, kalau itu terjadi, aku terima saja.

 

Orang ini mungkin masih menginginkanku untuk melakukan sesuatu untuknya, jadi aku mungkin tidak bisa melakukan apapun sekarang.

“Kamu tidak perlu mengubah paksa nada bicaramu, belajarlah sedikit demi sedikit di masa mendatang.”

 

Meski aku sudah punya pemikiran itu, tapi aku tidak menyangka kalau aku tidak harus meminta maaf, aku sudah terbiasa dengan cara bicaraku seperti yang kulakukan ini.

Para bangsawan biasanya tidak pernah melihat kami warga/rakyat sebagai manusia… tapi lebih seperti semut.

Oleh karena itu, aku pikir dia tidak bisa mentoleransi cara berbicaraku dengannya.

 

“Ha….”

 

Buktinya adalah meski dia mengatakan kalau dia sendiri tidak mempermasalahkannya, tapi pelayan yang berada di belakangnya menatap tajam padaku dari matanya.

“… Kan, Tanya?”

Tapi, sepertinya dia menyadarinya, dan berbicara langsung ke pelayannya.

Karena master-nya berbicara seperti itu, mau tidak mau dia menurutinya? Pelayan itu menghela napas.

“… Ya, sesuai yang Nona katakan”

 

“Kalau gitu, mari kita saling tidak mempermasalahkan cara bicara kita. Yang aku mau kamu lakukan sekarang… Tidak banyak. Terus terang saja, gimana kalau kamu terlebih dahulu belajar tata krama yang benar untuk pekerjaanmu di masa mendatang?”

 

“… Ha?”

 

“Mulai hari ini, kamu akan bekerja untuk konglomeratku sebagai tanganku. Sebagai gantinya, kami akan membantumu untuk balas dendam dan merawat adikmu. Itu kesepakatan yang bagus, kan?”

“Ah. Ini terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, Sangat bagus sehingga aku tidak percaya/ragu/curiga tentang semua kontrak yang tersembunyi.”

“Hehehe… Yang aku ingin darimu adalah memanfaatkan diri sendiri setelah bergabung dengan Konglomerat Azuta. Ketika saatnya tiba, aku akan memberi instruksi padamu.”

 

“Aku punya firasat kalau instruksi itu akan sangat menakutkan.”

Dari bicaranya pasti ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya… Aku ingin tahu seperti apa nanti instruksinya.

 

“Aku adalah presiden Konglomerat Azuta, Putri Keluarga Duke Armelia, dan serta sebagai Perwakilan penguasa wilayah kekuasaan Duke ini.”

Mendengarnya yang tiba-tiba secara resmi memperkenalkan dirinya membuatku bergemetar tanpa sadar. Sebelumnya, aku pikir kalau sudah tidak ada yang akan mengkagetkanku nanti. Tapi mendengarkan apa yang ia ucapkan, aku menerima kejutan yang hebat.

Memikirkan lagi, padahal sudah sangat jelas. Karena dia tinggal di rumah ini, dia mempunyai darah seorang duke Armelia.

Tapi aku tidak pernah membayangkan kalau dia bakal berada di garis keturunan langsung seperti itu, dan apalagi mempunyai kekuasaan/otoritas yang sama seperti Duke sendiri atas tanah ini.

Terlebih lagi, Putri Duke Armelia adalah wanita yang dikucilkan oleh Gereja beberapa waktu yang lalu, menyebabkan keributan besar di seluruh wilayah.

 

“Sedangkan dampaknya, Aku tidak bisa melakukan sesuatu yang aneh atau mencurigakan. Sebagian dari alasan itu adalah karena ayahku seorang perdana menteri. Lebih pentingnya lagi, aku tidak bisa menghadap ke rakyat wilayahku… dan kalau aku merencanakan sesuatu secara rahasia, aku lebih suka untuk mempekerjakan seseorang yang sudah terbiasa dengan bidang itu daripada kamu.”

Meski aku punya pertanyaan tentang di bagian pertama penjelasannya, tapi aku bisa menerima yang bagian terakhirnya.

Memang benar, dia bisa mencari seseorang yang lebih mumpuni untuk melakukan hal-hal itu dengan mudah.

 

“… Kamu sudah sadar, kan? Akulah yang dikucilkan saat itu.”

Aku terasa kesulitan untuk menjawab pertanyannya. Melihat ekspresiku yang diam, dia mulai tertawa.

“Aku bisa mengatakan apa yang sedang kamu pikirkan dari reaksimu… Setiap gerakan yang aku lakukan, akan diawasi oleh semua orang. Statusku sebagai bangsawan membuatku sulit untuk menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, aku membutuhkanmu.”

 

Setelah itu, dia menjelaskan apa yang diinginkan konglomerat padaku saat perekrutan.

Jadi itu yang dia maksud dengan menggunakan otoritas/kekuasaan dan kekuatan. Anehnya, aku bisa menerima persyaratannya.

 

“… Jadi, apa kamu menerima tawaran kami? Kalau kamu menerimanya, Aku akan meminta dokter merawat adikmu dengan baik.”

Dengan begitu, aku membuat kesepakatan dengannya.

tags: baca novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, web novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, light novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, baca Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 92, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 92 manga, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 92 online, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 92 bab, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 92 chapter, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 92 high quality, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 92 manga scan, ,
Table of Content

2
Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
1 Komentar Chapter
1 Balasan Chapter
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
niznetZhafran Anas Firdaus Recent comment authors
  Ikuti  
terbaru terlama top voting
Notify of
Zhafran Anas Firdaus
Guest
Zhafran Anas Firdaus

cepetin updatenya tong

niznet
Guest

Ya sabar, bos >:( wkwkwk