Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 93

Dibaca 664 orang
Font Size :
Table of Content

Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 93

Penerjemah: niznet
Penyunting: –
Korektor: –

Chapter 93 – Pintu Hatinya

“… Akankah dia bermanfaat?”

Setelah dia pergi, Tanya bertanya..

“Siapa tahu? Kalau aku bisa menggunakannya dengan benar, Aku akan mencapai tujuanku.Yang harus aku lakukan sekarang adalah memastikan negosiasi besok berhasil.”

Aku tersenyum mengingatnya kembali.

“… Tapi, seiring waktu, ia pastinya akan berkembang juga, kan?”

“Apa kepastian anda…?”

“Hanya Intuisi.”

Mendengar balasanku, Tanya memasang ekspresi masam.

Melihat reaksinya, aku tersenyum kembali dan berkata,

“Dia terlihat tidak senang saat kita membicarakan tentang adik laki-lakinya, kan? Saat aku menyinggung topik itu hanya untuk bersenang-senang, jawabannya selalu mengejutkan. Ketika membicarakan tentang harta nasional dan bagaimana uang berjalan juga. Meski kamu akan menemukan banyak orang yang memuji Ed-sama dan Yuuri-sama pas berjalan di sekitar kota… Diperlakukan sebagai hewan peliharaan ya? ekspresinya cukup menarik.”

“Aku mengerti…”

“…. Yah, yang terpenting, aku suka bagaimana dia tidak akan dimenangkan dengan mudah.”

Saat aku mengatakan itu sambil tersenyum, Tanya terlihat bingung seolah dia tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan.

“Aku yakin, kedepannya… dia akan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kebaikan yang aku berikan padanya. Tapi cuma itu saja. Dia mungkin sudah membuat perbedaan yang jelas tentang hal hanya bekerja atau sebaliknya mungkin tidak akan mempercayaiku.”

Layaknya bisnis. Kalau dia hanya melakukan pekerjaannya dengan cukup baik, Maka itulah yang terbaik.

“Dia akan selalu tetap memikirkan peluang untuk dihianati di dalam pikirannya. Di saat-saat dia dihianati… Tepatnya karena dia pernah dihianati sebelumnya. Mungkin bagian dari dirinya mempunyai kesamaan denganku.”

Meski mengatakan seperti itu membuatku sedikit sedih.

Tapi, inilah apa yang aku pikirkan sebenarnya.

Dia juga punya pintu yang sangat rapat di hatinya. ‘Seberapa jauh aku bisa membukanya? Seberapa jauh untuk membiarkan mereka melihat diriku yang sebenarnya?’ Dia mungkin berpikir seperti itu.

Sama sepertiku.

Dan itulah kenapa aku tidak merasakan ketidaknyamanan sedikitpun karena kewaspadaannya yang polos. Nyatanya, aku bisa menganggapnya wajar saja.

Aku bahkan bisa bersimpati.

…. Yah, kalau dia bekerja di sebuah perusahaan mulai sekarang, aku ingin dia belajar untuk mengungkapkan lebih tentang dirinya tanpa berkata-kata, meski… Itulah berapa banyak yang dia mengungkapkan perasaannya.

Tapi siapa tahu… mungkin karena dirinya saling bertabrakan denganku dengan pikiran jujurnya seperti itu yang membuatku senang.

Bahkan Moneda yang berada di guild perdagangan yang sama tidak akan melakukan seperti itu dan aku bahkan tidak bisa mengatakan apa yang terjadi di dalam kepala Sei belakangan ini.

Mendengar kata-kataku, Tanya memalingkan matanya ke bawah dengan ekspresi sedikit sedih.

Merasa sedikit canggung dengan suasananya, aku berdiri lalu pergi menuju ke kantor.

Tanya mungkin sudah tenang saat mendengar sebuah suara dan menyusul mengikutiku.
*TLN: Suara langkah kaki mungkin.

Kembali ke ruang kerja, aku duduk ke kursi yang berada di mejaku.

“…. Tanya, tolong buatkan sesuatu yang hangat untuk aku minum.”
Selagi Tanya sedang membuat teh, Aku menatap ke dokumen-dokumen yang berserakan.

Aku harus bernegosiasi dengan Presiden perusahaan itu besok, jadi kurasa aku akan menahan diri untuk tidak bekerja hari ini.

Lagipula, kalau aku pingsan setelah bekerja sampai larut, nanti tidak akan berarti apa-apa.

Tiba-tiba, tanganku berhenti membalik halaman.

Aku berhenti saat aku melihat dokumen yang berjudul ‘Keputusan Guild Perdagangan’.

Sebuah perusahaan bisa membuka bisnis saat perwakilannya mendaftarkan perusahaannya ke guild perdagangan dan menerimanya.

Selama perusahaan tersebut mempunyai dokumen itu, mereka bisa melanjutkan bisnisnya.

Bahkan kalau presiden perusahaan itu meninggal, dokumen izin itu juga diwariskan pada anaknya sebagai warisan.

Namun, kalau anak itu masih dibawah umur dan tidak mempunyai pengalaman bekerja, maka sang wali bisa melanjutkan bisnisnya sampai anak itu bisa mewarisi perusahaan tersebut.

Karena itu, sang wali harus mengelola perusahaan sambil membantu sang anak mendapatkan lebih banyak pengalaman dan menyerahkan padanya di waktu yang tiba… atau setidaknya seperti itulah.

Tapi… sehubungan anak itu tidak mengajukan permohonan warisan perusahaan kepada guild perdagangan, maka akan dianggap tidak ada penerus garis keturunan dan izin perusahaan tersebut akan diserahkan kepada ‘Wali’ secara otomatis.

Dan satu-satunya orang lain bisa memperoleh izinnya adalah ketika perwakilan perusahaan secara resmi mengajukan formulir kosong atau ketika mereka tidak mempunyai penerus.

Sebaliknya, jika formulir itu tidak dikirim dan jika tidak ada penerus, maka perusahaan tersebut akan ditutup.

….Singkatnya, itulah yang ditulis di dokumen itu.

“Meski begitu, untuk memikirkan kalau keputusan itu tidak diperbarui selama lebih dari 10 tahun… sungguh sangat menakjubkan.”

Aku berkata gitu pada diriku sendiri.

Namun, perlu untuk sebuah izin diperbarui setiap tahun di wilayah Duke Armelia.

Disana, mereka bisa bertanya ringan seperti siapa perwakilannya dan apa ada perubahan dalam produk yang mereka tangani, dan lain-lain.

datangnya itu bersamaan dengan laporan pajak baru dan sekarang kalau pajak tidak dibayar dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak dijawab juga, maka mereka tidak bisa memperbarui izinnya.

Selain itu, ada pemeriksaan mendadak juga dilakukan apakah mereka benar-benar melakukan bisnis yang mereka katakan, atau justru melakukan sesuatu yang ilegal, dan lain-lain.

Sebaliknya di Ibukota, izin hanya boleh diperbarui jika perwakilannya berubah.

Izin tidak diperbarui selama 10-20 tahun sudah cukup umum di sana.

….Yah, seseorang bisa membantah itu karena tidak ada pilihan sejak banyaknya perusahaan yang berdiri di ibukota.

“Permisi.”

Tanya berdiri di depanku dengan minuman hangat yang sudah kuminta sebelumnya.
“…Ah, itu mengingatkanku, Tanya. Kamu sudah melakukan pekerjaan yang cukup baik saat ini juga. Terimakasih banyak.”

Aku teringat betapa menakjubkannya keterampilan Tanya dalam pengumpulan intel selama 2-3 hari terakhir ini.

Sungguh, Apa yang sebenarnya dia incar… Itu salah satu pertanyaan terbesarku.

“…. Tidak, Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”

Tanya membalas apresiasiku secara mendatar.

Namun, bibirnya melengkung sedikit.

tags: baca novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, web novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, light novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, novel Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia, baca Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 93, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 93 manga, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 93 online, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 93 bab, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 93 chapter, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 93 high quality, Koushaku Reijou no Tashinami (Common Sense Of A Duke’s Daughter) Bahasa Indonesia 93 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of