Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia

Dibaca 197 orang
Font Size :
Table of Content
Dark Mode
Bagaimana menurutmu tentang situs ini? Berikan ulasanmu disini: Halaman Ulasan

Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia

Penerjemah: HaruRin
Penyunting: –
Korektor: –


Chapter 162 – Pertemuan

Lorong dalam terasa lebih panjang dari biasanya.

 

Aku tidak ingin pergi … tapi aku juga harus pergi.

 

Tanggung jawabku memaksaku untuk mengambil langkah-langkah berat ke depan, selangkah demi selangkah.

 

“Maaf karena membuat anda menunggu.”

 

Lalu kita memulai pembicaraan kita.

 

Pria di ruang tunggu itu sekitar seumuran denganku.

 

Rambutnya terbungkus sebuah sorban dan dia mengenakan pakaian longgar dari kerajaan Acacia. Ketika dia melihatku, dia tersenyum lembut.

 

“Tidak, saya minta maaf atas kunjungan mendadak ini. Nama saya adalah Hafis Bante Marsed.”

 

… Ketika diplomat dari Acacia berkunjung, Istana selalu menyambut mereka dengan sebuah jamuan.

 

Sebelum diusir dari Akademi, aku juga menghadiri jamuan tersebut sebagai anak perempuan Duke … tapi aku belum pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya. Tentu saja, aku hanya benar-benar bertemu diplomat utama, jadi aku tidak bisa membuat penilaian tentang itu.

 

 

“Mengetahui nama Anda adalah sebuah kehormatan. Nama saya Iris, Iris Lana Armenia. Senang bertemu dengan Anda.”

 

“Tidak, tidak, saya benar-benar terkejut dengan semua ini. Untuk berpikiran kalau orang yang bertanggung jawab untuk mengawasi wilayah ini adalah wanita seperti diri Anda … dari rumor yang pernah saya dengar, sepertinya Anda telah mengurus tanah ini ke keadaan yang makmur. Keputusan Ayah anda yang memilih untuk menyerahkan tanah ini kepada Anda sangatlah bijak.”

 

“Ah, sama sekali tidak … Anda berbicara terlalu berlebihan untuk saya.”

 

“Anda terlalu sederhana. Ketika Anda mengambil alih wilayah ini, perdagangan dengan negara saya meningkat. Bahkan bangsawan negara kami sangat menghormati keterampilan Anda. Itulah mengapa Pangeran pertama kami, Pangeran Majid, ingin mengunjungi tanah ini.”

 

“Ah…”

 

Aku menutupi mulutku dengan kipas lipat dan mulai cekikikan.

 

Jadi, hal yang sebenarnya di balik itu … Berpikir itu, aku mempelajari pria yang ada di hadapanku dengan cara yang cukup jauh untuk bersikap sopan.

 

Pria di depanku memiliki wajah kasar dengan ciri-ciri yang dijelaskan.

 

Meski dia memasang senyum lembut di wajahnya, jauh di dalam matanya  tampak menilai.

 

“Saya merasa terhormat, tentu saja … tapi saya masih harus melaporkan hal ini kepada ayah saya sebelum melanjutkan.”

 

“Begitukah? … Saya mendengar bahwa Anda memiliki banyak kuasa seperti penguasa wilayah lainnya …”

 

… mereka benar-benar melakukan pekerjaan mereka dalam meneliti wilayah negara asing … itulah yang aku teriakkan pada diriku sendiri karena aku sedang mempertahankan senyuman.

 

“Yah, tidak apa-apa juga, jika Anda akan melapor kepada ayah Anda, ada hal yang lain, saya ingin meminta kepada Anda untuk menceritakannya juga.”

 

“… apa itu?”

 

“Jujur … Kunjungan ini hanyalah alasan. Pangeran Majid datang ke tanah ini untuk melamar anda.”

 

Jantungku hampir berhenti karena kaget.

 

Aku paham kata “melamar”. Tapi apa yang dia katakan entah kenapa sepertinya tidak masuk akal.

 

“Pangeran Majid sepertinya telah jatuh cinta kepada Anda pada pandangan pertama, dia kehilangan hatinya untuk Anda … jika ini bisa membuat jembatan antara dua negara, itu akan menjadi hubungan yang bagus.”

 

Aku tidak ingat bertemu pangeran pertama saat kunjungan sebelumnya.

 

… jadi apa maksudnya cinta pada pandangan pertama, apa itu bohong? Atau mungkin pangeran bergabung dengan diplomat …?

 

“Ini adalah dokumen resmi.”

 

Hadis mengulurkan tangannya dengan sebuah file.

 

Pada saat itu, cincin emas di tangannya menarik perhatian mataku. Bagian tengah yang pipih memiliki ukiran elang.

 

File itu diserahkan ke Sebastian, yang berdiri di samping, dan dioperkan ke tanganku.

 

“Ya … Tuan Hafis, cincinmu terlihat agak mahal.”

 

“Oh … ini? akses di negara kami tethadap emas belum pernah terjadi sebelumnya, itulah sebabnya …”

 

“Begitu, desainnya cukup luar biasa, saya tidak bisa tidak mengaguminya.”

 

Senyuman Tuan Hafis menjadi lebih bagus lagi setelah mendengar kata-kataku.

 

Untuk waktu yang cukup lama, kita hanya menatap satu sama lain.

 

Kami saling pandang, mencoba mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, sementara itu juga menunggu orang lain untuk bergerak.

 

Karena saat bersikap bertahan dengan diam, suasananya tampak berat.

 

“… Permisi.”

 

Di tengah pertemuan, Tanya masuk ke ruangan.

 

“Ada apa?”

 

Dia tidak segera menanggapinya, malah bergerak mendekatiku dan mendekatkan bibirnya ke telingaku.

 

“Master telah diserang seseorang.”

 

Apa yang kau katakan …? Meskipun aku ingin berteriak, pria di depanku cukup  menekan untuk mendesakku.

 

“Saya sangat minta maaf, Tuan Hafis. Sepertinya ada kabar penting. Bisakah Anda membiarkan saya pergi untuk saat ini?”

 

“Oh, tentu saja. ”

 

Aku berdiri dan meninggalkan ruangan, menjaga kesopanan di depannya.

 

Aku dan Tanya pergi ke sebuah ruangan berjarak dua ruangan dari ruang tamu.

 

“Diserang? Apa ayah masih baik-baik saja?”

 

“Ya, beliau tampaknya mengalami cedera berat, tapi hidupnya tidak dalam bahaya.”

 

“Ah…”

 

Aku menghela napas. Seluruh tubuhku terasa lemas.

 

“Nona… !”

 

Aku hampir jatuh di tempat itu. Syukurlah, Tanya meraihku sebelum aku jatuh.

 

“Apakah anda baik-baik saja?”

 

“Ah … ya …”

 

Aku terus menarik nafas, mencoba menyesuaikan pernapasanku. Meskipun penglihatanku tampak hampir kabur, secara bertahap aku kembali normal.

 

“Tidak apa-apa … ayo kembali.”

“Tapi…”

 

“Kita tidak bisa membuatnya menunggu.”

 

Pada awalnya aku sempoyongan, namun akhirnya berhasil berdiri dan melangkah maju.

 

“Maaf sudah menunggu.”

 

“Jangan khawatir tentang itu. Wajah anda terlihat agak pucat? Apa anda baik-baik saja?”

 

“Ya, hanya saja saya mengetahui bahwa ayah saya telah jatuh sakit.”

 

“Oh…”

 

“Untungnya tidak terlalu serius … tapi sebagai anak perempuan, saya sangat khawatir dengannya, dan ingin kembali ke sisinya di ibukota. Saya harus meminta maaf kepada Anda, Tuan Hafis …”

 

“Tidak, ayahmu telah mengalami kemalangan seperti itu, jadi mau bagaimana lagi. Ditambah, anda begitu jauh dari ayahmu. Itu hanya membuat anda kerepotan.”

 

“Terima kasih banyak atas pengertian situasi saya. Lain kali saya akan menyambut Anda dengan lebih banyak lagi jamuan.”

 

Dan seperti itulah, kami mengakhiri diskusi kami.

tags: baca novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia, web novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia, light novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia, novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia, baca Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia , Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia manga, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia online, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia bab, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia chapter, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia high quality, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 162 Bahasa Indonesia manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of