Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia

Dibaca 169 orang
Font Size :
Table of Content
Dark Mode
Bagaimana menurutmu tentang situs ini? Berikan ulasanmu disini: Halaman Ulasan

Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia

Penerjemah: HaruRin
Penyunting: –
Korektor: –


Chapter 163 – Yang Asli

“… Aku akan segera pergi ke kota kerajaan.”

 

Setelah melihat utusan itu pergi, aku mengatakan itu kepada Sebastian.

 

Sebastian dan Tanya memberiku tatapan cemas.

 

Aku telah terjatuh dan hampir pingsan satu kali saat utusan itu pergi.

 

Sekarang aku setengah berbaring di sofa, dan berharap aku bisa membiarkan tubuhku beristirahat.

 

Apa aku masih bisa melakukan perjalanan panjang dalam kondisi seperti ini? Aku tersenyum setelah mereka bertanya seperti itu.

 

“Tidak masalah, jika aku istirahat, aku akan baik-baik saja … lagipula, sepertinya perusahaan kita akan sulit untuk diurus. Aku tidak menyangka kalau utusan itu adalah Tuan Majid sendiri.”

 

“Apa …?”

 

Setelah mendengar apa yang kukatakan, Sebastian dan Tanya ketakutan.

 

Tentu akan begitu. Tak satu pun dari kita yang menduga bisa melihat anggota keluarga kerajaan di sini.

 

“Apa … apakah anda yakin tentang itu?”

 

“Mungkin. dia memakai cincin dengan ukiran lambang elang.”

 

“Ya…”

 

Sebastian memindah file di tangannya. Saat matanya melihat cincin itu, sepertinya dia mengerti apa yang sedang kubicarakan.

 

“Di negara itu, setiap anggota keluarga kerajaan memiliki lambang dan memakainya secara teratur.”

 

“Apakah Anda tahu tentang lambang milik pangeran?”

 

“Tidak. Tapi elang adalah salah satu hewan yang paling berharga di negara itu. Jadi tidak akan biasa untuk melihatnya sebagai lambang bagi pangeran.”

 

Aku sudah membaca informasi yang dikumpulkan oleh keluarga Armenia dari generasi ke generasi, serta laporan tentang Kerajaan Acacia yang disimpulkan dari perdagangan.

 

“Ditambah, bukankah dia telah banyak berkata, kalau pangeran itu akan melamar … bukankah seharusnya itu terjadi hari ini? Dia bahkan datang dengan dokumen formal sebagai utusan.”

 

“Oh…”

 

“Maafkan saya jika ini menyinggung Anda, tapi Nona, apakah Anda akan menerima lamaran tersebut?”

 

Tanya menanyakan itu dengan kekhawatiran.

 

 

Aku hanya bisa menanggapinya dengan senyum tipis.

 

Meskipun aku tetap cenderung kaget, pikiranku sudah cepat-cepat membayangkan manfaat yang bisa aku dapatkan dari pernikahan itu.

 

Meskipun kami negara tetangga yang terpisah oleh laut, kerajaan Acacia dan kerajaan Tasmeria adalah negara besar dengan luas yang sama.

 

Jika aku bisa berguna sebagai penghubung untuk hubungan diplomatik, aku kira pentingnya peranku akan dimaksimalkan.

 

Tidak diragukan lagi kalau akan ada keuntungan bagi negara kami, keluarga dan wilayah kami.

 

Dibandingkan dengan kemungkinan hubungan yang tidak mungkin menakutkanku, mungkin pernikahan ini penuh dengan tujuan dan kesetiaan yang lebih cocok untukku.

 

Mungkin suatu hari, aku tetap bisa berharap untuk tersenyum saat menghadapi rasa sakit lamaku dan tidak berkata lebih dari, “Inilah yang terjadi.”

 

“Siapa yang tahu? Jika aku tidak membahas hal ini dengan Ayah, tidak akan ada keputusan yang akan dibuat.”

 

Sudah jelas kalau aku telah membuat semua keputusan untuk diriku sendiri, tapi hatiku terus berusaha menolak keputusan itu.

 

Hanya butuh sedikit waktu lagi dan semua akan baik-baik saja.

 

Hatiku mengatakan bahwa aku seharusnya tidak membunuh perasaan yang mulai tumbuh.

 

 

 

※※※

 

 

 

“Tuan Majid, jadi bagaimana?”

 

Pria tua yang tampak lembut bertanya pada teman mudanya. Pemuda itu tersenyum.

 

Itu adalah senyum yang sangat berbeda dari yang dia tunjukkan di keluarga Armenia.

 

Tidak ada perasaan hangat, hanya sedikit permusuhan yang mengerikan.

 

“Tujuan kita telah tercapai.”

 

Katanya dengan duduk di sofa mewah.

 

Sofa itu kelihatan lebih pendek dari pada yang ada di Duke Armenia, namun jauh lebih nyaman. Tubuh pria itu hampir tenggelam sepenuhnya ke dalamnya.

 

“Kalau begitu semuanya berjalan dengan baik … Saya selalu khawatir dengan keamanan Anda sejauh yang saya rasakan sendiri. Kadang Anda membodohi orang di sekitar anda, Anda harus tahu batasan Anda.”

 

“Tanpa kau di sini … semua akan sangat menjengkelkan untuk berurusan dengan hal ini.”

 

Pemuda itu … Majid, tertawa terbahak-bahak.

 

“Bagaimanapun, Anda benar-benar kembali lebih awal. Tentunya, mereka tidak memperhatikan identitas dari Tuan Majid, kan?”

 

“Tidak, gadis kecil itu memperhatikanku, bahkan saat aku memperkenalkan diriku sebagai Hafis, aku yakin dia tahu kalau aku adalah pangeran.”

 

“Apa?! Dia memperhatikan itu, dan dia membiarkan Anda kembali?”

 

“Sepertinya ayahnya sakit. Tapi dia bilang dia akan menyambutku secara formal lain kali. Aku berpikir apa yang dia maksud karena aku tidak mengatakan kepadanya yang sebenarnya, dia akan membiarkan semuanya menjadi. Itu cukup lucu … ”

 

Majid tertawa.

 

“Dia seorang gadis yang punya keberanian.”

 

Majid mengambil buah dari piring di sampingnya.

 

Dia di kapal. Kapal itu telah meninggalkan pelabuhan, dan angin laut menyusup melalui jendela, dengan lembut membelai kulitnya.

 

“Ini lucu. Ayah, aku rasa aku mau gadis itu sekarang.”

 

Majid berkata dengan senang, menjilati air buah di tangannya.

 

“Lalu, anda menyerahkan dokumennya?”

 

“Yah, aku masih perlu memutuskan apakah aku ingin menikahinya sebagai permaisuri atau sebagai selir. Dalam hal ini, aku harus mengatakan bahwa gadis itu sangat baik. Dia cukup mahir memanfaatkan kekuasaannya dibandingkan dengan bangsawan biasa.”

 

“Apa anda serius dengan ini?”

 

“Hanya untuk manfaat yang akan aku dapatkan darinya. Ini membingungkanku, seberapa besar keinginan ayah dengan hal-hal ini. Di usia itu, kau harus lebih terbuka dan mendengarkan daripada menuruti keinginanmu sendiri.”

 

Majid sama sekali tidak terlihat bingung. Sebaliknya, terlihat jelas bahwa dia menikmati dirinya sendiri.

 

“Aku pernah dengar di wilayah ini, ada pemimpin yang kuat. Kita menghadapi tantangan, baik dari dalam maupun dari luar. Apa lagi yang bisa kita lakukan?”

 

“Bagi saya itu bagus, saya akan bekerja keras.”

 

“Hei, bahkan jika kau salah, tapi jangan sampai kau bekerja untuk musuh kita.”

 

“Saya akan memeriksa dengan baik dengan siapa saya akan bekerja keras. Tuan Majid, tidak peduli siapa yang menang, tidak akan membuat perbedaan besar bagi Anda, kan?”

 

Majid tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lebih cerah dari sebelumnya.

 

Kapal berlayar di dalam hempasan angin dan terus bergerak maju.

tags: baca novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia, web novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia, light novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia, novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia, baca Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia , Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia manga, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia online, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia bab, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia chapter, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia high quality, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 163 Bahasa Indonesia manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of