Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia

Dibaca 163 orang
Font Size :
Table of Content
Dark Mode
Bagaimana menurutmu tentang situs ini? Berikan ulasanmu disini: Halaman Ulasan

Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia

Penerjemah: HaruRin
Penyunting: –
Korektor: –


Chapter 165 – Ketetapan Hati

“Tuan Bern, kami akan menunggu Anda di sini.”

 

“Ok, terima kasih.”

 

Setelah itu, Bern dan kakak berangkat dari istana.

 

Tempat ini tidak sebagus di istana, dan sepertinya sangat tenang dan serius.

 

Bahkan tempat ini mengingatkan pada Ratu itu sendiri.

 

Sejak pertama kali datang, Bern berjalan dengan pelan, mengamati segala sesuatu di sepanjang jalan.

 

Saat aku bergerak maju, aku menjadi semakin gugup, dan aku tidak bisa menahan diri untuk meletakkan tanganku di dadaku.

 

Aku harus memastikan kalau aku masih punya dokumenku.

 

… lakukan apa yang harus kau lakukan.

 

Inilah yang ayah maksud untuk memberitahuku. Dia mempercayakanku untuk menyerahkan dokumen tersebut kepada Ratu.

 

Ini hanya sepotong kertas, namun rasanya sangat besar.

 

“Kau tidak bisa membiarkan orang lain tahu apa yang ada di dalam. Bahkan pelayan yang paling kau percaya.”

 

Karena ayah mengatakannya, isinya pasti cukup penting.

 

Apa dia khawatir tentang pengkhianatan? Atau apa dia takut orang-orang yang tahu isi dokumen ini akan berada dalam bahaya? Atau …?

 

Dilihat dari kenyataan kalau ayah biasanya memiliki kepercayaan yang hebat untuk pelayan-pelayannya, aku percaya kalau itu harus menjadi perkara yang terakhir.

 

Tidak peduli seberapa keras seseorang bisa mencoba melindungi warga sipil seperti para pelayan, musuh cukup kuat sehingga mereka bisa menghancurkannya tanpa pikir panjang.

 

Mereka bahkan menyeret ayah ke sisi gelap negara ini …

 

Bern menebak kalau mungkin itu yang ayah khawatirkan.

 

Setelah memasuki istana, kami dipandu oleh pelayan.

 

Tujuan kami adalah pemilik istana ini saat ini – Ibu Ratu.

 

“Oke … jadi anda yang datang hari ini. Apa kondisi Louis sedang buruk?”

 

“Tidak. Meskipun ayah saya sekarang sedang dalam perawatan, hidupnya tidak dalam bahaya. Dia ingin datang hari ini …”

 

“Begitu…”

 

“Ayah memberikan ini kepada saya dan meminta saya untuk menyimpannya di suatu tempat yang aman.”

 

Bern menyerahkan surat kepada petugas yang sedang berdiri.

 

Ibu Ratu mengambil surat dari petugas, dan dia mulai membacanya.

 

Ekspresinya berubah seketika. Berubah dari ekspresi baik ke ekspresi seperti penguasa yang keras.

 

Karena perubahan itu, suasana secara alami menjadi sangat tegang.

 

pada saat itu Aku tidak bisa lupa kalau dia adalah wanita yang pernah memimpin seluruh negara untuk berperang.

 

“Apakah Anda tahu isi surat ini?”

 

Setelah mendengar pertanyaannya, Bern menggelengkan kepalanya.

 

“Anda juga?”

 

“Saya tidak membacanya.”

 

“Benar … Louis benar-benar mencintai anaknya.”

 

Ibu Ratu tersenyum.

 

Namun, ada hawa dingin di matanya.

 

Rasanya seperti diinterogasi. Keringat dingin mengalir di tubuh Bern.

 

“Atau apakah karena Anda dan Louis berada di pihak yang berbeda?”

 

“… Maaf, saya tidak mengerti apa yang Anda maksud.”

 

“Oh, itu karena Anda dan Edward pernah menjadi teman sekelas. Mungkin Anda adalah bagian dari tim dengan Yuri sebagai pusatnya.”

 

“… Memang, saya memiliki hubungan baik dengan Pangeran Edward. Tapi saya termasuk keluarga Duke Armenia. Saya bangga melayani duke Armenia sebagai menteri. Jadi, bagi saya, prioritas utama saya adalah stabilitas negara.”

 

“Apakah Anda mengatakan kalau akan lebih baik membiarkan Edward berhasil menjadi pewaris?”

 

“Tidak. Menurut hukum kerajaan, seharusnya pangeran pertama yang mewarisi takhta. Ditambah … Tidak, tidak ada, tolong maafkan kekasaran saya.”

 

“… Apa yang kita katakan di sini akan tetap di sini, Anda bebas mengatakan kepada saya apa yang Anda pikirkan.”

 

Ibu Ratu mendesak Bern, yang masih ragu untuk berbicara.

 

Menghadapi tekanan dari Ibu Ratu, aku merasa kasihan untuk melepas diri, tapi sudah terlambat.

 

“… Meskipun ini adalah masalah pribadi keluarga, ada banyak kesempatan untuk introspeksi diri setelah lulus. Setelah mempertimbangkan banyak aspek, akhirnya saya menyimpulkan bahwa saya bangga dengan Keluarga Armenia dan juga mencintai mereka dengan baik … bahkan, ketika saya masih menjadi siswa yang dengan bodoh menyabotase rasa kebanggaan ini sendiri.”

 

Dalam retrospeksi, semua insiden itu tampak seperti terjadi kemarin.

 

Sejak aku mulai masuk akademi sampai ke insiden itu, aku tidak pernah khawatir dengan kakak perempuanku.

 

…… Tidak, hanya saja aku tidak berpikir untuk menganggapnya.

 

Bahkan jika itu hanya sedikit, aku ingin wanita itu lebih menyukaiku.

 

Hampir seperti kakakku yang seperti noda yang harus dibersihkan.

 

… dan sebagai hasilnya, semuanya sudah rusak.

 

Ekspresi itu, saat didorong ke tanah oleh Dawson, yang ucapannya terlalu bebas …

 

Ketika Bern memikirkannya, wanita itu tersenyum seolah-olah dia menolak segalanya, dan berbicara tentang kata-kata yang sepenuhnya diabaikan.

 

… Saat itu, perilakunya yang seperti itu malah membuat Bern sedih.

 

Saat memikirkan itu sekarang, semua yang tersisa adalah rasa dingin di punggungku.

 

Lalu, kegelapan ada di depan mataku, perasaan yang mengejutkan tentang bagaimana mengerikannya kesalahanku.

 

Meninggalkan kakak perempuannya, benar-benar keluar dari pilihan.

 

Atau mungkin, memperlakukannya seperti sebuah bidak untuk mendekat ke wanita itu.

 

Seorang kakak perempuan yang sedarah.

 

Kenangan waktu kecil dengan kakakku terus-menerus muncul di depan mataku.

 

Kalau dihitung, terlalu banyak waktu yang hangat dengannya.

 

Perasaan ini yang membuatku seperti itu, tapi aku sepenuhnya lupa tentang itu semua.

 

Sekarang Bern mengerti kalau tindakan semacam itu adalah alasan di balik pengabaian lengkap dari keinginan untuk masa depan.

 

Karena hal-hal yang ditinggalkan dengan sembarangan sangatlah sulit untuk mendapatkan itu kembali.

 

Tidak, sama sekali tidak ada cara untuk membawa itu semua kembali.

 

Karena kejadian itu, apa yang hilang bukan hanya hubungan keluarga … tapi juga harga diri.

 

Meski begitu, ada kemungkinan untuk terus maju ke masa depan. Itu adalah kebangkitan yang datang ketika seseorang melihat kakak perempuannya lagi, orang yang telah sangat ditinggalkan dengan penuh semangat.

 

“Karena itu, saya bertekad untuk tidak berjalan ke jalan yang salah lagi, saya tidak ingin membahayakan semua yang penting bagi saya. Seperti yang sangat penting, saya akan melindungi mereka dengan baik kali ini. Saya telah memutuskan kehendak saya.”

 

Akibatnya, Bern tidak tahan di dekat Tuan Edward.

 

Karena usulan pernikahan telah dibatalkan, dibuang oleh semua gereja, sampai insiden pajak dengan keluarga Armenia.

 

Selain insiden dengan guild pedagang, tidak ada insiden lain yang terjadi karena Edward. Meski begitu, seseorang bisa mengatakan bahwa itu semua terjadi karena adanya Tuan Edward.

 

Bern tidak ingin kakakknya merasakan penolakan dan keputusasaan hari itu.

 

Jika sesuatu seperti itu terjadi lagi, dia tidak akan pernah meninggalkannya.

 

… Itu keputusannya.

 

Sekarang dia tahu apa yang paling penting untuknya.

 

“Menurut Anda, jika membandingkan masa depan kerajaan ini, apakah keluarga sangat penting?”

 

“… maaf.”

 

Menghadapi pertanyaan bermasalah dari Ibu Ratu, Bern menunduk dengan takut.

 

Keheningan yang  berat jatuh di ruangan itu.

 

Tawa Ibu Ratu memecahkan keheningan.

 

“Tidaklah salah, tidak ada sesuatu yang menjadi perhatian politisi untuk diri mereka sendiri. … Tapi jika seseorang tidak dapat melindungi orang-orang penting dalam kehidupan seseorang, bisakah seseorang melindungi negara ini? Heh. Saya tidak membenci garis logika ini.”

 

Bern tidak bisa menahan diri untuk menghela lega saat mendengar kata-kata Ibu Ratu.

 

“Sekarang, masyarakat kelas atas negara ini dibagi menjadi dua faksi. satu sisi menginginkan pangeran pertama untuk sukses, dan yang lainnya adalah orang yang menginginkan pangeran kedua untuk sukses. Orang-orang yang menjadi pemimpin di sisi pertama adalah bangsawan dari keluarga Armenia. Pemimpin di sisi lain adalah Ratu Ellia dan Duke Maelia. Kedua faksi ini terus-menerus memeriksa otoritas satu sama lain, menjaga keseimbangan kekuatan. Nah, sisi mana yang harus saya pilih?”

 

Aku tidak menjawab pertanyaan dari Ibu Ratu. Aku tidak bisa menjawabnya.

 

Bukan hanya karena aku tidak tahu jawabannya, tapi juga karena suasana di tempat ini memberitahuku untuk tidak membuat jawaban yang konyol.

 

“Jawaban yang benar dari saya adalah cenderung netral, dengan beranggapan kepada pangeran pertama.”

 

Karena dia mengerti keheninganku yang kulakukan, Ibu Ratu berbicara tentang jawabannya sebelum aku melakukannya.

 

“Saya menyembunyikan pangeran pertama, mengadopsinya, membesarkannya, tahu kalau akan ada kekacauan di masa depan. Namun saya masih melakukannya. menurut Anda, kenapa saya melakukannya?”

 

“… untuk mengekang pertumbuhan aristokrasi.”

 

“Lanjutkan.”

 

 

“Meski masih mungkin kalau tidak akan ada kekacauan jika pangeran kedua mewarisi takhta, tapi jika kita melakukan itu, dasar negara akan terpengaruh saat raja terpengaruh oleh keempat bangsawan. Apakah idenya seperti itu?”

 

Aku memilih kata-kataku dengan hati-hati.

 

“Ya … Meski demikian, saya netral. Jika pangeran pertama sedang redup, saya akan berpikir untuk segera meninggalkannya. Yang mengagetkan saya, anak itu cukup kompeten. Karena alasan ini, sepertinya saya dianggap sebagai bagian dari faksi pangeran pertama … di mata keluarga tertentu.”

 

Bahkan tanpa mengatakannya, Bern mengerti bahwa “keluarga tertentu” tidak lain adalah keluarga Armenia.

 

“Hambatan terbesar untuk Pangeran Kedua bukanlah Duke Armenia. Saya akan menjadi masalah terbesar karena kekuatan yang saya miliki.”

 

“Kalau begitu, apakah mereka juga menyerang Anda seperti apa yang mereka lakukan pada ayah Anda?”

 

“Yah, saya pikir begitu, saya akan segera kehilangan hak saya sebagai keluarga kerajaan. Ayahmu dan pangeran pertama bertindak menghentikan ini. Itulah isi dari surat ini.”

 

“Begitu …”

 

“Dan untuk balasan surat itu: ‘Saya tidak peduli. Kembalilah ke wilayah Anda.” Itu adalah pesan saya untuk Louis. ”

 

“Apa… kenapa?”

 

“Raja masih bisa mendukung dirinya selama sebulan. Setelah kematian anaknya, akan ada tindakan dari Duke Maelia. Saya tidak berpikir Louis bisa pulih sepuluh dalam sebulan? Dia baru saja mengalami cedera serius. Kita tidak bisa membuat segalanya lebih sulit baginya.”

 

“Baiklah…”

 

“Saya tidak berharap Ellia akan bertindak melawan anak itu seperti itu.”

 

Bertindak melawan … Bern menelan ludah saat dia menyadari makna sebenarnya dari kata-kata itu.

 

“Apakah Anda yakin tentang semua ini?”

 

“Ya, meski dia sakit, dia sedang dalam masa pemulihan. Namun, tiba-tiba mengatakan bahwa dia tidak bisa melewati satu bulan lagi …

 

Ibu Ratu menggigit bibirnya dengan keras.

 

Karena dia tidak memiliki bukti, dia tidak bisa menyalahkan keluarga Duke Maelia.

 

“Kurasa itu karena mereka saling mencintai. Ketika emosi tumbuh dengan tidak enak, maka mereka juga membenci satu sama lain lebih dari orang lain. Nah, jangan  didiskusikan sekarang. Dengan situasi Louis saat ini, saya pikir sebaiknya kita membiarkan pangeran pertama pergi ke negara lain.”

 

“Dimana?”

 

“Rahasia … mengingat keadaan saat ini, mungkin hal yang baik. Meskipun kita tidak dapat menganggap keamanan negara lain, tapi itu mungkin masih lebih baik dari sini. Apalagi anak itu menyalahkan dirinya sendiri sehingga dia hampir ingin bunuh diri.”

 

Ibu Ratu menghela napas dengan berat.

 

“Tapi, Ibu Ratu, apa yang ingin anda lakukan?”

 

“Siapa yang tahu, bagaimanapun, saya harus mempertaruhkan masa depan kita pada anak itu. Lalu aku tidak akan menyesal.”

 

Ada secercah harapan di mata Ibu Ratu.

 

“Bern, tolong biarkan Louis tahu apa yang telah saya katakan kepada Anda.”

 

“Tentu.”

tags: baca novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia, web novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia, light novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia, novel Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia, baca Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia , Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia manga, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia online, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia bab, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia chapter, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia high quality, Common Sense Of A Duke’s Daughter Chapter 165 Bahasa Indonesia manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of