GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4

Dibaca 33 orang
Font Size :
Table of Content

— Part 4 —

“Waktu yang tersisa….. jangan memikirkannya—aku tahu itu tidak banyak.”

Slide puzzle terbesar dan terumit yang pernah Shion lihat ada di depan matanya.

Seperti dalam kebanyakan permainan puzzle, itu adalah Game menyusun anak-anak untuk menyelesaikan enigma(masalah) yang diberikan sebagai hiburan.

Tingkat kesulitan sebuah Game, cara bermain dan juga metode penyelesaian—setiap jenis puzzle memiliki banyak variasi enigma yang berbeda.

Dalam ‘masalah catur’ itu adalah situasi di mana kau harus men-checkmate raja musuh dalam sejumlah langkah singkat. Dengan tidak adanya batas yang jelas antara langkah mana yang perlu dan tidak boleh kau ambil, kau dituntut untuk menganalisis setiap pola kejadian dan belum lagi membuat langkah paling efektif di atas papan.

Dalam sudoku itu adalah mengisi setiap kotak kosong dengan angka yang tepat tanpa tertimpa oleh angka yang bernilai sama dalam satu kolom ataupun baris.

Dan dalam slide puzzle, itu adalah ‘mengembalikan susunan awal setiap kotak tanpa mengangkat bahkan satu kotak pun dari papan’.

Akan jadi hal yang mudah jika kau mempelajari ‘enigmatologi’ dan menyelesaikan setiap masalah dengan cepat.

Contohnya jika, dalam permainan ini kau menguasai ‘enigmatologi’—maka, kau bisa menyelesaikan slide puzzle 3×3 hanya dalam 3 detik waktu bermain… itu sebenarnya sangat mudah, bahkan kamu bisa lebih cepat jika kecepatanmu membuat gerakan lebih tinggi atau jika kondisinya hanya mengharuskanmu membuat sejumlah kecil langkah. Dan tentu saja, karena itu sebuah Game maka itu juga akan lebih sulit jika jumlah bloknya—levelnya, ditambahkan.

Dalam slide puzzle 9×9, bahkan dengan enigmatologi sekalipun kau masih akan butuh setidaknya satu jam untuk selesai, belum lagi untuk 9×10, 10×10. Dan di atas itu—permainan mungkin membutuhkan analisis komputer karena kebanyakan orang akan menyerah.

….. Jadi setelah selesai mendeskripsikan Game ini ke dalam kenyataan—ayo lihat.

Slide puzzle yang menuliskan 1 – 143 angka romawi tersusun di atas blok 12×12—membentang di depan Shion seolah itu adalah jalan penghubung antara dirinya dan kubus semi transparan dimana ‘player keenam’ ada di sana.

“Hey kau—kau bisa mendengarku kan? Atau itu kedap terhadap suara?”

Dan, tidak ada jawaban.

Pilihan ‘bisa mendengarku’ dieliminasi dari otaknya.

Lalu—Shion mengambil beberapa langkah ke depan, saat ia akan menyentuhkan tangannya dengan kubus, dia melihat—terpantul dalam mata emasnya adalah seorang gadis manusia yang bersandar di dalam dinding kubus tepat di hadapan Shion, duduk sambil memeluk lututnya, ‘dia’ mengubur kepalanya di antara kakinya.

Secara samar Shion mampu melihat melalui warna biru semi transparan adalah rambut emas yang menutupi jaket biru kusut sekaligus seluruh kepala perempuan itu. Kepadanya, Shion menjelaskan—

“Aku tidak mengenalmu ataupun peduli pada keselamatanmu tapi, mau tidak mau kau harus keluar dari dimensi ini. Nah benar… puzzle itu mungkin adalah kuncinya——-tidak, bukan ‘mungkin’. Tidak salah lagi itu kuncinya…… aku masih punya sedikit waktu, jika aku menyelesaikannya dengan cepat itu seharusnya mungkin. Benar, itu seharusnya masih mungkin——tidak…. sialan!!”

Sambil memukul permukaan kubus, dia seperti orang yang berbeda. Sifat tenang yang sebelumnya—lenyap, dan sejumlah besar emosi yang dipenuhi oleh akal sehat mulai meluap dalam dirinya.

— Bukan….. kau salah—!!

Itulah akal sehat.

— Waktu, harapan—kau tidak punya cukup waktu. Bahkan orang sepertimu tidak diijinkan berharap untuk setidaknya kau bisa melakukannya jika bekerja keras!!

Shion tidak mempunyai kemampuan analisis komputer untuk menyelesaikan puzzle yang sekarang ada di belakangnya hanya dengan sisa waktunya, tapi! Tapi meski begitu, tidak! Justru karena itulah, karena dia menyadari kelemahannya dia bisa melihat setidaknya di masa depan, dengan semua keadaan yang ada memenuhi ekspektasinya adalah—mustahil.

Tanpa melihat apapun selain kenyataan tersebut di depan matanya, Shion di dalam pikirannya juga menyalahkan dirinya sendiri. Dan lalu…. remaja itu yang hanya seorang ras terlemah di alam semesta, menyadarinya, dan kemudian—dia juga telah menerimanya.

“——Apa-apaan, tentang omong kosong kemenangan ini….. Bagian mananya—dari ini kau pikir adalah menang—! Bahkan jika aku berhasil membunuhnya, jika peraturan itu dilanggar itu hanya akan jadi sebuah stalemate(imbang)! Jadi….”

Shion berbalik. Dan mengatakan sesuatu dengan nada yang kekurangan kehangatan.

“Ini saatnya mengakuinya…. di dunia ini untuk kepingan sampah sepertiku—sesuatu seperti harapan—tidaklah ada.”

Remaja itu, dengan berpegang pada kenyataan(akal sehat) telah menerimanya. Jika dia pergi memainkan Game yang dibuat oleh Creator sekalipun, dia juga ‘tidak akan’ menang. Lalu, untuk apa memainkan Game yang tidak mungkin bisa kau menangkan? Terus menerus kalah kalah dan kalah—apa itu menyenangkan—? Tidak…—-

“Berhenti main-main denganku bajingan…. bukan untuk itu aku dan adikku dulu memainkan sebuah Game…”

————–“Lalu untuk….. apa….? Aku ingin tahu…..”

Tersenyum pahit, Shion setelah mendengarkan pertanyaan itu—di hatinya dia tertawa seperti orang gila.

“Apa—seperti yang kuduga, kau, bukannya itu… mendengarku…”

Orang yang bicara—selain Shion orang lain yang ada di sana hanya ada dia. Bahkan jika Shion ingin mempercayai fakta bahwa sang Creator bisa merubah wujud dan juga suaranya—untuk saat ini, dia membuang pikiran itu dan mempercayainya bahwa gadis itulah yang bicara.

Meskipun Shion tidak menoleh pada suara itu, dia berbalik, dan bersandar di sisi kubus. Mengatakan ini.

“Aku tidak tahu apapun soalmu jadi… Player keenam—kau mungkin tidak tahu apa artinya itu tapi aku bicara padamu….. Ini mungkin permintaan yang jika dikatakan aku pasti berharap terlalu banyak. Tapi bisakah kau setidaknya mendengarku?”

“Tidak bisa dimengerti…. sebelum itu, kamu harus… menjawab pertanyaanku, kan? ‘Untuk apa kalian berdua bermain Game?’ itu yang aku tanyakan.”

Dengan kalimat yang gelap dan tanpa kehangatan, perempuan itu mengatakan setiap kata sambil membenamkan wajahnya di antara kakinya.

“ ‘Untuk apa bermain Game’ itu yang kau tanyakan. Oke, pertama, kau tidak harus memikirkannya karena Game itu bagaimanapun juga itu tidak berguna, jadi pertanyaan ‘untuk apa’ itu sendiri sebenarnya adalah kontradiksi—dihentikan dengan satu alasan di atas, kau tidak perlu bermain Game. Tapi sebenarnya….. kau tahu, bahkan Game tidak berguna seperti itu juga, jika—jika aku bisa memainkannya dengan adikku itu akan lebih lebih menyenangkan dibanding apapun—-”

…….. Kemudian, di akhir penyataan itu….. Shion juga menambahkan, berguman seolah tidak ingin siapapun mendengarnya. “Sial—bahkan jika aku harus memohon ribuan kali aku ingin memelukmu Ruri….”

Gadis itu setelah mendengarkan dia melihat pada Shion. Terpantul dalam mata birunya adalah seorang remaja dengan rambut putih dan jaket berwarna merah, bersandar pada dinding tepat di belakangnya, dengan wajah yang tidak bisa dia lihat karena Shion melihat ke arah lain. Tapi gadis itu merasakannya—kehadiran dari ‘eksistensi yang ia kenal’.

— Leader….?

——-Itu yang dia pikirkan. Shion tidak tahu. Itu sesuatu yang hanya gadis itu sendiri di dunia ini tahu. Dan dia mengatakannya—

“Leader…!”

Kali ini bukan memikirkannya tapi benar-benar mengatakannya.

Mengatakannya dan merasa terkejut dengan kata-katanya sendiri. Bahkan jika dia telah mengenali suara remaja itu sejak beberapa saat yang lalu, dia membuang pikiran tersebut dan mengabaikannya seakan itu adalah hal yang terlalu melegakan jika sampai terjadi, sehingga dia tidak bisa mempercayainya. Tapi kali ini, ia juga telah melihatnya.

Meskipun ada banyak perasaan memenuhi hatinya, apa yang paling ia rasakan adalah kegembiraan bahwa ia memerah karena orang yang dia panggil leader ada di sana.

Dia tidak punya cara untuk menyembunyikan kegembiraan di dalam dadanya, dan banyak perasaan kompleks mulai meluap-luap…..

“Lea, leader! Kau ke sini—HIGII—!?”

Perempuan itu bergegas maju, tapi wajahnya membentur sisi kubus dan hidungnya mulai berdarah sementara ia membuat suara ratapan aneh.

“Hah, apa yang kau lakukan?”

……….————Dan, mata mereka bertemu…—–

Itu hanya sesaat—sebenarnya, itu seharusnya hanya untuk sesaat, tapi bagi mereka itu adalah saat-saat yang panjang seakan mereka berdua dipaksa memacu otaknya hingga overheat untuk memastikan keberadaan di depannya.

“Lea… der…?”

Koreksi—bukan ‘mereka’, tapi hanya Shion yang memacu otaknya terlalu keras. Karena apa yang tercermin dari mata emasnya itu adalah—

“Leader, ini aku! Konokoneko Ruri, lho!”

—Adalah adik perempuannya.

tags: baca novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4, web novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4, light novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4, novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4, baca GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4 , GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4 manga, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4 online, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4 bab, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4 chapter, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4 high quality, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 4 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of