GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8

Dibaca 13 orang
Font Size :
Table of Content

— Part 8 –

Pertama kali bertemu dengan adik perempuanku, aku pernah berpikir dunia ini adalah keberadaan yang sangat bodoh—tidak pasti dan tidak mungkin untuk dapat diandalkan.

Dan lalu, sampai kapanpun ayo terus mempercayainya—cara berpikir seperti itu.

………——-

Mengambil skill card kosong yang tercipta dari ribuan cahaya bintang, Shion memandang rendah Zenth D’Arc Moongarden yang bahkan di antara para Vhampires adalah salah satu yang dijuluki sebagai Nosferatu(penguasa malam).

Namun di hadapan Shion saat ini, apa yang dia lihat dari Vhampires itu hanyalah seorang bocah laki-laki 12 tahun, bersandar di depan batu hitam yang jauh lebih besar dari tubuhnya.

Seorang ras Vhampires—jika saat ini adalah kondisi terbaiknya maka dia tidak perlu kerepotan membunuh Zombist di depannya hanya dengan tiga detik—tapi di bawah matahari perak yang berwarna seperti bongkahan es, mengangkat satu tangan bahkan sudah menjadi batasnya.

“Haha… jadi begitu ya…. legenda itu, itu kamu juga yang membuatnya.”

Meskipun dia mencoba menertawakan keadaannya sendiri, Zenth mengernyit pahit di dalam.

“Membuat labirin hanya untuk membodohi seorang Vhampires dan belum lagi aku harus memancingmu masuk ke dalamnya, hah…. aku percaya tidak banyak yang lebih merepotkan dari ini sepanjang hidupku.”

“Sungguh, sedangkan aku seharusnya lebih percaya pada ramalan kartuku daripada memasuki labirin buatanmu, huh. Siapa sangka artefak yang menjelaskan tentang gerhana itu sebenarnya palsu. Yah kau sudah benar-benar menipuku, Zombist. Aku harus minta maaf pada Dewi Selene karena rasa raguku, kan…”

Di dalam artefak yang Zenth dulunya temukan, Shion memasukkan banyak sekali fakta tentang gerhana matahari sehingga tidak mempertimbangkan kebenarannya adalah keputusan yang sulit—bukan, dengan keahlian Shion untuk melihat dan memanipulasi cara berpikir musuh tidak mempercayai artefak yang dia sendiri ciptakan akan menjadi hampir mustahil dilakukan.

Dengan pemilihan kata-kata yang tepat, dia hanya harus menanamkan cara berpikir seperti ini—‘lalu saat gerhana itu terjadi, seorang ras Vhampires akan membuka kekuatan sejatinya dengan tertidur di bawah cahaya bulan’.

Dengan kata lain Zenth harus menghilangkan kesadarannya tepat ketika gerhana matahari dan perlu tertidur di bawah cahaya bulan—yang membuat Zenth D’Arc Moongarden kehilangan kekuatannya begitu gerhana matahari berakhir.

Sejak 200 tahun lalu, Shion memikirkan segala cara yang mungkin dia gunakan, tapi, itu hanya satu tahun sejak ia bertemu dengan sang Creator dan seorang remaja laki-laki dari dunia teknologi dan sains—ia pada akhirnya, dengan tangannya sendiri membawa stalemate(imbang) 200 tahun ini pada checkmate(akhir).

Untuk itu dia memainkan semua kartu yang dapat digunakan—menipu Zenth, membuat legenda yang justru membawa Zenth pada kehancuran dirinya sendiri, dan lalu mengambil skill terbaiknya. Itulah cara Shion mengadopsi kemenangan.

Dengan senyuman pahit, Shion membuka mulutnya—ia menetapkan sebuah penegasan.

“Kalah adalah standar bagi yang lemah.”

Tepat sekali. Itu karena yang kuat selalu menggunakan kekuatan mereka untuk mengintimidasi, membunuh, mengancam dan menghancurkan yang lemah, itulah kenapa yang lemah selalu kalah.

“Tapi meski benar begitu sekalipun—tidak…. bukan, justru karena itulah kebenarannya, karena yang lemah tidak terikat oleh ilusi aneh yang dikenal sebagai rasa percaya dirilah—yang membuat mereka kuat.”

Dan bagi yang lemah untuk mengerti fakta di mana mereka sudah kalah hanya dengan mempertimbangkan statistik awal permainan, menang melawan yang kuat memang tidak lebih dari omong kosong anak kecil namun, justru itulah kenapa, mereka, sebagai yang lemah adalah pihak yang paling memiliki kualifikasi melihat dan menggunakan segalanya selain ‘kekuatan’ mereka.

Dengan senjata terkuat yang lemah—dengan kata lain dengan ‘kelemahan’ mereka mengasah pengetahuan mereka—kebijaksanaan mereka.

“Dan lalu—sebagai keberadaan yang terus-menerus diinjak kami akan mengambil kemenangan melawan yang kuat———-Aku akan membuktikannya padamu.”

Menunjukkan kartu sederhana di tangannya ke arah Zenth—dia bilang bahwa dia akan membuktikannya. Lalu ayo buktikan.

“Kepada seluruh bintang(jiwa) di dalam 13 konstilasi aku bertanya pada kalian semua—apa tidak mungkin bagi kita(ras tanpa nama)?”

“<<—Dzeus—>> [salah]”

Melalui perangkat metalik Zvaigner [penghubung bintang] di telinga Shion—jawaban dari seribu-empat-ratus-lima-puluh-enam bintang didengarkan.

“Aku lelah terus-menerus stalemate yang tidak jelas kapan akan berakhir ini. Jika itu tidak diinginkan(kalah) maka kita akan sesuaikan(menang). Itulah kita(ras tanpa nama).”

“<<—Zweisz—>> [benar]”

Dan kemudian, seorang remaja yang hanya seorang Zombist, dia menegaskan.

“Hidup dengan kekalahan masa lalu, pergi dengan kegagalan—kita kembali dengan kemenangan.”

“<<—Cardial—>> [Activate]”

– Konokoneko Ruri.

Dia menilai Shion adalah leader pada kali permatanya dia melihat Shion. Karena dia telah benar-benar merasa putus asa, hancur, dan berharap—melihat dari penampilan dan cara berpikir—dari segala hal Shion memang terlihat seperti leader yang membuat Ruri tidak bisa tidak berharap pada fakta ini.

Tapi justru karena itulah—karena Ruri terlalu mempercayai hal itulah yang membuat dirinya mendapatkan penolakan. Tapi sekarang, dia bisa menegaskan.

Ini dia. Arti sebenarnya—dari apa yang dilihatnya pertama kali dia bertemu Shion. Jika itu sekarang, maka Ruri bisa menjawab dengan yakin dan bangga. Inilah harga diri—keyakinan. Itulah apa yang dia(Konokoneko Ruri) yang menjadi lemah sejak leader tidak ada di sisinya tidak bisa miliki.

Zenth D’Arc Moongarden berkata lemah.

“Orang di belakangmu itu… dia terlihat sama seperti adikmu, kan………. Ruri—kalau tidak salah.”

Itu benar, tapi… itu bukanlah dia.
“…….———–Konokoneko Ruri—–remaja wanita yang kau buat mati di tanganmu. Mendengar nama Ruri keluar dari mulutmu entah kenapa aku ingin membakar tenggorokanmu.”

“—Hahh…. sebegitu bencinya kau padaku, Zombist. Ya aku paham, perasaanmu, aku masih mengingatnya. Sebagai individu manusia tanpa skill kuat apapun dia jauh melampaui definisi kata menakjubkan bahkan di antara ras lain. Adikmu punya kemampuan mutlak dalam perhitungan matematis, tapi, tetap saja…. dia hanya ‘alat’.”

“Diam kau Vhampires.”

Shion masih bisa menahan amarahnya jika itu sekarang. Jika itu 200 tahun yang lalu, tanpa basa-basi dia pasti sudah memukul wajah Zenth tidak peduli sekuat apapun ras Vhampires itu, tapi sekarang, dia mengernyit pahit di dalam.

Mengabaikan hawa kebencian yang keluar langsung dari mata Shion, Zenth melanjutkan.

“Meski begitu, sebagai kakak laki-lakinya…… bukan—lebih tepatnya, kalian masih belum menjadi saudara karena itu pertama kali kalian bertemu. Di saat itulah kau yang hanya seorang Zombist, dengan keegoisanmu menolak gadis muda itu untuk hanya menjadi sekedar ‘alat’……. Sebuah alat yang menolak untuk terus menjadi alat—tidakkah kau pikir itu terlalu angkuh? Tapi dia sendiri menolak untuk memikirkan dirinya sebagai manusia, jadi…. Itulah kenapa, kau, Shion sebagai kakaknya membuat batasan antara manusia dan tidak. Itulah Alliance yang kalian buat 200 tahun yang lalu. Jujur saja Zombist, itu cuma sampah.”

– Membuat batasan antara manusia dan tidak.

Ruri, sang adik tidak salah lagi memang manusia, meski begitu dia menolak untuk memanggil dirinya sendiri sebagai manusia. Dia bilang bahwa dia adalah alat dan tidak lebih dari itu, tapi Shion menolaknya untuk sekedar hanya menjadi alat. Dia katakan, dengan memohon—[akan kuberikan sebuah tempat untukmu, jadi]—

Dia akan memberikan tempat untuk sang alat tidak perlu terus menjadi alat ataupun manusia. Dan kemudian dia—setelah itu juga menambahkan ‘permintaannya’—[tolong jadilah… adik perempuanku]—

—–…… Itu yang Shion minta—untuk menjadi bagian dari keluarganya. Sesuai janji itu, Shion membuatkan tempat yang ia janjikan.

– Humanless.

Alliance kecil dengan bidak catur sebagai Crest mereka.

Menilai dari seberapa besar ‘nilai’ sebuah Alliance itu memang sampah—tapi bahkan di antara para sampah, bagi Shion itu merupakan permata tak tergantikan.

“Kau tahu Vhampires, jika di matamu Alliance kecil kami memang tidak bernilai maka justru kau sendirilah yang perlu dikasihani.”

“Oh? Jadi kamu akan mengkasihaniku setelah itu membunuhku? Kukira individu sepertimu akan lebih kejam dan realistic, Zombist.”

“Hah…! Menurutmu aku realistic? Cobalahh untuk pikirkan itu lagi… Aku bahkan dari awal bukan realist sama sekali.”

Di tangannya, skill card kosong mulai mengeluarkan cahaya dan kepingan poligon 13 warna. Seribu-empat-ratus-lima-puluh-enam bintang—masing-masing kekuatan mereka—berkumpul dalam sebuah kartu dua sisi sederhana.

—Shion mengumumkan.

“Checkmate…—”

— Permainan selesai.

“Aku mengambil skill terkuatmu. Alasanku tidak membunuhmu—kau pasti paham kan? Janji yang aku buat dengan Ruri 200 tahun yang lalu—hanya ada kau, Zenth D’Arc Moongarden—sebagai satunya-satunya orang yang menyaksikannya, maka, mulai sekarang juga kau harus menyaksikannya sampai akhir.”

Untuk janji itu sendiri, Shion kali ini menegaskan.

Benar.

“Humanless Alliance akan menyusun ulang dunia ini—itulah janji yang kami buat.”

“Hahah… itu tidak… lucu, hei… Jika kau tidak membunuhku sekarang Zombist, aku akan membunuhmu setelah ini, malam ini, besok, atau kapanpun, membunuh seorang Zombist belaka hanya hal mudah bagiku.”

Dalam 200 tahun terakhir, Shion masih hidup karena ia memutar otaknya setiap saat untuk menghindari kekalahan, itulah yang menyebabkan stalemate pada Game ini.

Tapi setelah ini, karena ia memutuskan untuk berpartisipasi dalam Game yang dibuat oleh Creator maka Shion tidak punya pilihan selain untuk menunjukkan dirinya. Jika begitu maka Zenth bisa, dengan mudah, langsung menemukannya dan menghancurkannya….. Tetapi sebelum itu—
“Yah bagaimanapun juga, hal seperti itu tidak akan terjadi.” Shion menjaminnya.

“Karena jika aku mati, maka skill terkuatmu yang sekarang ada dalam kartu ini juga akan menghilang denganku.”

“Dengan kata lain aku harus memohon agar kau mengembalikan skill yang sejak awal memang milikku? Jangan bercanda denganku Zombist. Lebih baik aku membunuhmu…. ”

Pada Zenth yang berbicara sambil menahan sakit karena matahari, Shion mengatakan.

“3 bulan. Mengambil skill individu lain dan menyimpannya itu bukan keahlianku. Aku cuma meminjam dan memakai skill ini untuk tujuanku——3 bulan, itu batas waktu sampai skillmu dikembalikan dengan sendirinya, jadi kau tidak bisa membunuhku sebelum hitung mundurnya selesai.”
“Ya, dan setelah 3 bulan itu aku akan pergi menghancurkanmu, menurutmu itu oke?”

“Hahah, bebas.”

Karena—

“Hanya dalam 3 bulan—–” Dengan senyuman liar, remaja bermata emas di bawah rambut putihnya mengumumkan. “Akan kususun ulang dunia ini.”

 

 

 

tags: baca novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8, web novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8, light novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8, novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8, baca GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8 , GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8 manga, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8 online, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8 bab, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8 chapter, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8 high quality, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 8 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of