GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6

Dibaca 14 orang
Font Size :
Table of Content

— Part 6 –

Puzzle kombinasi yang menantang pemain untuk membuat konfigurasi akhir dengan menggeser fragment(potongan) di sepanjang papan dua dimensi—dengan nama lain slide puzzle.

Dalam semua Game, ada sebuah taktik yang dibangun. Itu adalah sesuatu yang ada di atas spesifikasi dan aturan; dan merupakan langkah terbaik yang paling mungkin dimaksimalkan. Dalam sebuah Game, itu adalah strategi, dan, ‘harga diri’ seorang Gamer.

Dalam dunia di mana segala hal ditentukan oleh aturan dan kondisi kemenangan—tingkat kesulitan sebuah Game, aturan permainan dan kemampuan bermain player harus telah dipertimbangkan sejak awal.

….. Tapi bagaimana jika—menantang Game yang tidak bisa dimenangkan, kamu secara terbuka melawannya dan justru tanpa ragu mempercayai kemenanganmu hanya karena satu orang baru saja ditambahkan. Apa itu salah?

Ya itu salah….

Semua orang akan tanpa ragu—secara alami mengatakan kalau itu salah.

…………..——-

“Kanan kanan, atas kiri atas kiri.”

Kemampuan analisis, perhitungan matematis dan movement skill. Memaksimalkan semua faktor penentu yang dibutuhkan ke dalam sebuah Game, seorang Zombist dan manusia belaka mengubah ‘mustahil’ menjadi ‘mungkin’—seperti keinginan mereka. Di mata orang lain itu memang ‘salah’ tapi—itulah yang Shion dan Ruri, mereka berdua anggap itu sebagai ‘kebenaran’.

Dan untuk orang-orang yang tanpa ragu menyerah pada kemustahilan itu, aku punya kata-kata yang bagus untukmu—

 …… Jangan samakan cara hidup kalian denganku, noob sialan.

Tepat sekali, adalah alami jika kebanyakan orang akan ‘tidak bisa melakukan’. Tapi tolong untuk jangan menyamakan orang-orang seperti mereka dengan ‘mereka berdua’. Karena mereka berdua—karena Shion dan juga Konokoneko Ruri telah benar-benar menantang akal sehat—dan menjatuhkannya.

…………——-

7 menit 15 detik——permainan berakhir.

Dengan mata emas dan birunya mereka menyaksikan saat dimensi dihancurkan. Alam semesta mengalami keretakan di berbagai sisi, lalu kubus yang menyegel si gadis manusia, Konokoneko Ruri juga mulai mengalami distorsi—dan menghilang.

—————………….

“Ini, dimana…?”

Fraclayfe, dunia papan permainan dan kata. Mereka kembali ke dunia sebelumnya—

“Tempat sebelum aku pergi ke dimensi tadi. XeeX pasti memindahkan kita ke sini sebelum dimensi itu benar-benar rusak.”

Di dalam spekulasi Shion ada tingkat kemungkinan yang tinggi. Tapi pada pernyataan itu Ruri memiringkan kepalanya, dan bertanya.
“XeeX, apa itu…. sebuah nama?”
“Hah?”

………….

……………….. Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Shion tiba-tiba memiliki keinginan berteriak di dalam dirinya.

Nama dari sang Creator, XeeX—tidak mengetahuinya adalah hal yang mustahil kecuali jika seseorang selama hidupnya dikarantina dari dunia luar, atau jika—Shion memikirkannya kembali.

“Aku memang sudah membuang dugaan ini tapi…. Ruri, apa sebenarnya kamu bukan berasal dari dunia permainan dan susunan kata ini?—Atau setidaknya pernah tidak kamu mendengar tentang Betting Game dan Fraclayfe Word?”

*Menggeleng~~

“Begitu.”

“….. Kamu tidak terlihat…. kaget, huh.”

“Yah….” Karena—- “Aku mengenal seseorang yang juga berasal dari tempat selain Fraclayfe. Dia menyebut itu dunia tekonologi dan sains.”

Dan jika mereka berdua memang berasal dari tempat yang sama Ruri pasti akan mengetahui banyak hal dengan bertemu dia. Atau barangkali, kemungkinan kecilnya mereka akan mampu mengungkap kebenaran di balik keberadaan mereka di dunia Fraclayfe.
“Mungkin saja aku dan dia pernah, bertemu? Dunia tekonologi dan sains, aku mungkin mengenalnya—-Eh….”

———–Seketika, saat ini, yang menghentikan kata-kata Ruri adalah pemandangan di mana warna langit telah berubah hanya dengan hitungan detik.

Langit kehitaman yang membuat siapapun berpikir ini adalah malam hari menghilang seperti waktu baru saja diputar.

Di dalam waktu yang diputar itu—di dalam Fraclayfe, langit yang sepenuhnya berwarna biru tidak pernah ada, atau hanya tidak ada yang mengingatnya.

Sedangkan yang sedang Konokoneko Ruri saksikan di balik kumpulan awan putih itu adalah alam semesta yang sama sekali berbeda, karena alam semesta yang dilihatnya sekarang menyimpan tujuh warna langit Fraclayfe.

“Kudengar darinya di duniamu langit berwarna biru, huh.”
“Iya tapi… apa yang terjadi? Bukannya itu—”

“Gerhana matahari.”

“Huh? Kamu tahu apa itu gerhana?”

“Salah satu dari satu juta lebih pengetahuan yang orang itu bawa dari dunianya, seluruhnya ada di sini.”
Sambil mengatakan itu, Shion menunjukkan papan perangkat metalik dari balik jaketnya.

“Device itu tidak salah lagi memang dari duniaku. Tapi kenapa ‘gerhana matahari’? Apa itu di sini sering terjadi?”

Pada Ruri yang bertanya sambil mengerutkan dahinya, Shion menjetikkan jari, berkata.

“Time limit. Tadi aku bilang masih ada 15 menit tapi, sebenarnya aku salah. Aku lega kita berhasil di saat-saat terakhir. Kerja bagus, Ruri.”

Memang, itu sudah sangat lama sejak Shion terakhir kali merasa sesenang ini karena bermain Game. Dan yang pasti, ya pasti itu ada alasannya, meskipun itu merupakan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan sekarang.

Dan berdasarkan apa yang Shion katakan, dengan kata lain ia telah memperkirakan akan adanya gerhana matahari dan bahkan mampu membaca sampai menit terdekat.

“Aku yakin ada banyak hal yang ingin kau tanyakan tentang Fraclayfe atau yang lain, tapi…. untuk sekarang—”

Shion mengatakan, dengan serius.

“Ada hal yang harus kuakhiri.”

Suasana di sekitar mereka, seketika—koreksi, intonasi yang Shion gunakan ketika berbicara berubah—sekali lagi koreksi, bukan suaranya yang berubah, melainkan aura yang dia berikan dari kata-katanyalah yang memberi kesan seolah tekanannya berubah, seolah ada orang lain yang bicara. Tapi…

Tapi Ruri, meski tahu itu dia mencoba bersikeras akan satu hal.

“Ya, itu… benar. Memang ada banyak sekali yang ingin aku tanyakan, tapi…! Tapi yang paling ingin aku tahu bukan soal dunia ini atau semacam itu. Itu adalah…. kamu tahu, namamu, aku belum mendengar namamu.”

Sambil menyampaikan itu Ruri juga—di dalam hatinya berharap.

— Jika dia sama seperti leader…. aku mohon…….. ‘Shion’.

“Ah, itu—benar juga, aku belum memberitahumu. Namaku Shion.”

Mata Ruri terbuka lebar. Dadanya mulai sedikit panas dan di wajahnya agak mendapati warna merah.

——Seperti ‘dia’ yang Ruri panggil leader, nama remaja itu sebagaimana ia memperkenalkan dirinya adalah Shion.

Di saat pikiran Ruri terus bergerak dan membuatnya seperti afk, Shion mulai berjalan sebelum kemudian berhenti setelah beberapa langkah, lalu memanggil Ruri.

“Kenapa, kau tidak mau ikut? Kalau masih ada pertanyaan lain aku bisa menjawabmu sambil berjalan.”

—-“A, ah, iya…”

Jauh di dalam hatinya, sambil tersenyum di belakang Shion Konokoneko Ruri berpikir.

— Banyak, ada—sangat banyak kau tahu…. ? Leader. Yang ingin Ruri tahu tentangmu ada sangat banyak.

tags: baca novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6, web novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6, light novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6, novel GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6, baca GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6 , GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6 manga, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6 online, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6 bab, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6 chapter, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6 high quality, GAME と LOGIC – Prologue: 『 Neverending Game 』Part 6 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of