GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1

Dibaca 9 orang
Font Size :
Table of Content

— Part 1 —

– «Scared Ability».

Seperti bagaimana kata itu tertulis, “Ability” itu ada pada tingkatan yang「menakutkan」. Kebanyakan orang menyebut itu「spesial」dan「istimewa」yang mana hal ini benar karena hanya 1:10.000 orang yang memilikinya di dunia ini.

Jika kamu mencari “Skill” dalam buku panduan petualang, maka kata itu akan mengacu pada「Ability」,「Art」,「Equipment Ability」, dan「Scared Ability」.

Selain itu ada juga「Name」,「Race」,「Level」,「Job」,「Gender」,「Class」, dan「Alliance」yang ada dalam kategori “Basic”.

「Life」,「Ether」,「Strength」,「Vitality」,「Defense」,「Agility」,「Accuracy」dan「Intelligence」dalam kategori “Stat”.

Dan「Title」dalam kategori “Etc”.

Semua kategori dan informasi di atas dibuktikan dengan “Status” yang tertulis dalam diri setiap makhluk hidup yang pernah ada.

— Baiklah, dengan begitu mari kita mulai menguasai satu atau dua negara setelah memanfaatkan semua kategori di atas, seperti, 100 atau 200 kepala yang berdiri menghalangi jalanmu!

Jika kau melakukan itu maka ribuan tepuk tangan akan segera mencapai telingamu!

Atau seharusnya begitu, tapi bahkan saat salah seorang di antara mereka memiliki «Scared Ability» ini, Akihara Karasu hanya memanfaatkan itu untuk….. um, membuat bando kucing.

“Akhirnya…. 100 unit selesai! Sisanya masih…. 400, haah~”

Akira mengangkat satu bando kucing yang menjadi unit ke-100-nya. Kemudian menurunkan itu lalu mengeluh setelah menyadari bahwa pekerjaannya masih jauh dari selesai.

“Baiklah, mari terus berjuang, Akira-sama, fight-ou, okey?”

Di samping Akira, gadis werebeast 11 tahun mengangkat kedua tangannya seperti pemandu sorak yang memberikan semangat pada rekan satu timnya.

Dia adalah anak perempuan dari pemilik penginapan «Bear Claw» yang akhir-akhir ini Shion dan Ruri mintai untuk membeli buku dari toko buku di ibukota.

—Di Kerajaan Rinea, setiap orang diharuskan memiliki setidaknya satu「Identity Card」untuk memulai transaksi dengan orang lain seperti membeli dan meminjam buku.

Sebenarnya itu tidak diwajibkan juga karena tidak memiliki itu tidak akan membuatmu ditahan tapi, penjaga biasanya akan menghampirimu dan memaksamu membuat satu「Identity Card」baru saat kau baru saja ingin memulai transaksi dengan orang lain.

Membuat「Identity Card」baru tidak butuh banyak uang dan tidak terlalu merepotkan juga, tetapi…

‘Aku tidak mau orang dari casino melacak identitas kami dari guild, jadi kami sengaja tidak membuatnya untuk sementara.’

Itu yang Shion katakan saat Emi-V menanyainya tentang「Identity Card」milik Ruri dan Shion.

Untungnya kasino di Kota Asterion mengizinkan para tamu menggunakan identitas palsu seperti nama palsu dan semacamnya, sehingga Shion dan Ruri tersenyum licik bahkan saat mereka tidak memiliki satu pun kartu identitas.

Akan tetapi, toko buku dan perpustakaan tidak menggunakan sistem seperti itu, yang mana Shion terpaksa meminta anak pemilik penginapan membelikan buku untuk mereka.

Tama adalah werebeast tipe beruang. Rambut panjangnya berwarna antara kuning dan abu-abu seperti manusia, tapi telinga dan ekor coklat beruang tumbuh menjadi ciri khas bahwa Tama seorang werebeast.

Di kota ini di mana hampir setiap tempat dipenuhi dengan budak werebeast, Tama tumbuh penuh kasih sayang dari orang tuanya.

Ayah Tama, seorang manusia membebaskan ibu Tama dari perbudakan sekitar musim dingin 15 tahun lalu dan membawanya menuju pernikahan.

Mereka mendapatkan kehidupan yang bahagia bersama. Tetapi ibu Tama meninggal sejak musim dingin 2 tahun lalu karena penyakit yang tidak dapat diobati, itu tepat di hari Tama seharusnya mendapatkan ulang tahunnya yang ke-9.

Setelah merelakan kepergian ibunya, Tama bersyukur karena saat ini masih dapat menjalankan penginapan «Bear Claw» bersama ayahnya.

“Nah, Tama…..” “Ada apa Akira-sama?”

Anak itu menolehkan kepalanya dengan bersemangat sampai gaun one piece coklat yang Tama dapatkan dari Emi-V sedikit bergerak mengikuti tubuh Tama.

Saat itu, Akira tidak menatap langsung mata Tama, melainkan pandangannya jatuh pada meja kerja dan peralatan di depannya.

“Maaf jika pertanyaanku membuatmu marah. Um, Tama tidak perlu menjawabnya kalau tidak mau, oke….? Ini cuma untuk memastikan, Tama, kapan terakhir kali kamu bermain dengan teman-teman seusiamu?”

Tama menolehkan kepalanya kembali dengan lemah, dia juga menundukkan kepalanya pada kumpulan alat di atas meja. Meski begitu, Tama berusaha untuk tetap tersenyum bahkan saat senyuman itu hanya diisi dengan kesedihan belaka.

“Akira-sama….” Dengan suara lemah Tama memanggil nama Akira saat sebuah senyum mengisi pipi putih anak itu.

Akira mendengar dan merasakan kata-kata Tama seperti menusuk ke dalam hatinya. Ia sadar kalau pertanyaan yang ia buat terlalu menyakitkan untuk Tama.

— Dia hanya anak-anak 11 tahun… apa yang kupikirkan?

Akira mencoba berpura-pura tertawa sambil memegangi rambut belakangnya karena perasaan bersalah.

“Hahahah~ Maaf, Sudahlah, lupakan itu. Tama tidak perlu memikirkannya, lupakan saja apa yang aku katakan, oke?”

Tapi karena itu, Tama menutup matanya sambil tetap tersenyum lemah, ia menggeleng pelan beberapa kali sebelum membuka matanya kembali.

“Tidak apa-apa, Akira-sama, aku baik-baik saja.” Suasana menjadi tenang untuk beberapa saat.

Tepat ketika Tama akan membuka bibir kecilnya, ia menoleh karena Akira menaruh tangannya di atas kepala Tama sambil mengusap rambut Tama secara lembut.

“Tidak, Tama itu masihlah anak-anak, cobalah untuk jangan memaksakan dirimu.” Akira tersenyum. “Jadi ayo selesaikan semua ini dengan cepat setelah itu kita coba mainkan sesuatu, oke Tama?”

Tama melihat senyuman cerah yang menghiasi pipi Akira, membuat Tama mulai tersenyum sekali lagi tapi kali ini dengan senang.

“Hn!” Tama mengangguk ceria selayaknya anak kecil seumurannya, sedangkan Akira mengusap lagi rambut Tama lebih cepat. “Bagus, bagus, seperti itu…”

Bunga merah muda dan putih menghiasi latar belakang di mana kejadian seperti ini terjadi—koreksi, Emi-V melihat mereka saat air hangat hampir saja keluar dari matanya.

“Aneh…. hiks…. jadi ini yang disebut ‘menjadi bagian dari udara’, yah…”

“Apa yang kau katakan? Berbeda denganmu setidaknya O2 masih berguna bagi orang lain.”

“Kalau begitu tolong biarkan aku membantu juga senpai~ hiks… hiks….”

“EMI-V SINGKIRKAN TANGANMU DARI—”

*Crk*

“SUDAH KUBILANG JANGAN MENYENTUH APA PUN IDIOT!!”

Akira menjitak kepala Emi-V karena satu bando baru saja hancur menjadi dua.

– Reaksi Emi-V adalah….

“UWAAA~!”

“Sudah sudah Emi-sama, Emi-sama sangat membantu dalam hal lain, benar kan?”
“Uwaa~ Cuma Tama-chan yang mengerti onee-chan! Aku tidak butuh senpai kejam seperti orang di situ jadi meledak saja kau sana Akira-senpai~!”

Sambil mengatakan itu, Emi-V melompat pada Tama lalu menggosokkan pipinya dengan dada anak itu.

“Malulah sedikit.”

“Hahah…” Tama tertawa masam.

“Aku masuk.”

Tiba-tiba, pintu terbuka.

“Apa yang kalian lakukan?” Shion memandang ke dalam kamar no.2 penginapan «Bear Claw» terutama pada keberadaan yang telah menjadi aib(Emi-V) dengan sinis.

“Ini mengejutkan.” Ruri membuka mulutnya pada pemandangan tidak tahu malu di depan matanya. “Siapa sangka aku akan melihat yang seperti ini di sini…. tidak—baginya ini pasti adalah hal yang sudah biasa terjadi, benar-benar, kasihan sekali, saraf simpatik dalam dirinya pasti sudah rusak parah sampai-sampai aib ini(Emi-V) tidak bisa merasakan apa itu rasa malu.”

“Itu terlalu kasar, Ruri. Kamu terlalu tidak sopan pada para aib(Emi-V) di dunia ini.”

Muka Emi-V menjadi merah seperti dia baru saja menelan sekotak biji lombok bulat-bulat. Dia berdiri dan menggerakkan tangannya gelisah.

“Bu-bukan seperti itu! Kalian salah paham! Kalian berdua benar-benar salah paham! Ini tidak seperti yang kalian berdua pikirkan jadi berhentilah menatapku dengan mata kasihan!”

Mengabaikan Emi-V yang terkejut, Shion dan Ruri masuk.

“Orang di sana, kau taruh di mana barang yang kusuruh membelinya sekitar 20 menit yang lalu?”

“Oh, itu ada di atas meja di sebelah sana—tunggu, siapa itu ‘orang di sana’!? Apa namaku sekarang terlalu hina untuk diingat!?”

“Mantel Hitam, topi hitam dan kaos hitam. Sisanya adalah… apa ini?”

Sementara Ruri mengambil jubah abu-abu selutut dari Shion, dia melihat—sebuah gambar cakar dan sepasang telinga kucing yang mencuat dari tudung jubah. Emi-V membusungkan dadanya dengan bangga.

“Sempurna, benar? Tidak hanya gambar cakar kucing di bagian depan dan belakangnya tapi juga telinga kucing yang melambai setiap kali orang yang memakainya bergerak! Itu melengkapi jubah ini dan membuatnya cocok untuk Ruri-nyan!”

“Menjijikkan. Aku tidak akan menyangkal soal leader yang menyuruhmu membeli sesuatu yang bisa menyembunyikan rambutku tapi… biarkan aku mengatakan ini, orang di sana; ada yang salah dengan sistem saraf di otakmu.”

“Itu imut kau tahu!? Apa kalian tahu seberapa sulitnya aku mempersiapkan dua set pakaian seperti ini hanya dalam 20 menit? Lagipula kenapa kita butuh dua set jika cuma Shion-san dan Ruri-san yang akan memakainya? Itu tidak masuk akal—Tidak tunggu dulu, apa Ruri-san baru saja memanggilku ‘orang di sana’!? Kalian tahu aku punya nama ya kan?! Itu Emi-V! Emi-V, okey!?”
“Nah, Akira, biarkan Tama tidur di sini sebelum tengah malam. Sedangkan kau Emi-V.”

“…. Hiks…. Mengabaikan fakta bahwa aku diabaikan bahkan orang setoleran aku hampir saja marah. Hiks… Apa?” “Karena kau tidak berguna di tempat ini jadi tidurlah di kamar Ruri, lalu jangan lupa rapikan bantal dan selimutku juga. Ruri, ayo pergi.”

“Selamat jalan~!”

Mengabaikan Emi-V yang menangis di pojokan, Tama melambaikan tangannya pada Shion dan Ruri sebelum mereka pergi.

“Orang di sana, kau tidak ada kerjaan di sini kan? Tidurlah di kamar Ruri.”

“Itu kejam~ Senpai~ aku boleh membantumu sebentar kan ya Tama-chan?”

Tertawa masam pada ‘orang di sana’ yang memohon dengan mata berkaca-kaca, Tama menunjukan jari telunjuknya ke atas.

“…. Papa selalu bilang kalau cepat tidur akan membantu pertumbuhanmu lebih cepat.”

“….. Uwaaa~ ja-jadi kalian mengusirku, ya? kalian mengusirku iya kan? Oke, aku paham aku akan pergi dari sini!”

Bunyi pintu yang ditutup secara kasar terdengar. Emi-V pergi ke kamar di sampingnya dengan menggerutu.

“Tama, Senpai, dan mereka berdua juga, semua orang sama saja, huh. Semuanya jahat padaku. Padahal aku juga ingin diperlakukan secara lembut, kalian tahu? Seperti tuan putri misalnya. Tunggu, apa ini….?”
Sebuah objek terlihat di bawah bantal di kasur Shion. Itu adalah—tercermin dalam bola mata Emi-V, selembar kertas putih dengan huruf-huruf di atasnya.

『 Gunakan pakaian itu lalu pergilah ke taman pukul 02.00 dengan Akira 』

『 Tambahan: Jangan tunjukan ini pada Tama 』

tags: baca novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1, web novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1, light novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1, novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1, baca GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1 , GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1 manga, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1 online, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1 bab, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1 chapter, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1 high quality, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 1 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of