GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5

Dibaca 11 orang
Font Size :
Table of Content

— Part 5 —

“Masa remaja, huh?”

Kemudian, Akihara Karasu berpikir tentang itu.

Seperti yang kupikirkan, ini hanyalah dua kata yang sederhana. Namun masa remaja adalah kata yang begitu rumitnya mampu menggerakkan hati manusia—memberikan harapan, kedewasaan, tanggung jawab dan kenangan pahit…. memberikan gadis remaja rasa rindu abadi serta memberikan orang-orang sepertiku rasa kebencian dan kecemburuan mendalam.

Kehidupan SMA-ku sendiri tidak begitu baik, sebuah kehidupan abu-abu—dunia yang penuh dengan warna hitam dan putih.

Tapi bukan berarti aku punya semacam penyesalan terhadap cara hidup seperti itu. Bahkan, kamu bisa katakan bahwa aku menikmati kehidupanku dan bahwa aku merasa bangga pada diriku sendiri.

Pergi ke Game Center untuk menyelesaikan rekor-rekor setiap permainan…. Menyalakan radio di malam hari dan menjadi terpesona oleh bagaimana cara kerja radio bercerita… Menemukan bagian hangat di laut elektronik yang didominasi oleh Sub Machine Gun… Semua hal ini dimungkinkan justru karena aku telah hidup dalam kehidupan semacam itu.

Dalam hal ini, mungkin masa mudaku sendiri dapat diwarnai dengan warna sci-fi remaja, meskipun tidak semuanya seperti itu. Dan mungkin, suatu hari, aku juga akan melihat warnaku sendiri di kehidupanku selanjutnya, bahkan jika itu berarti aku akan melihatnya melalui mata berkaca-kaca dari ikan mati. Aku bisa merasakannya tumbuh dalam diriku, sesuatu yang memungkinkanku untuk setidaknya berharap bahwa sesuatu seperti itu akan terjadi.

Namun, aku ingin membuat ini jelas bahwa meskipun demikian, aku tidak akan menolak cara hidup orang lain. Aku tidak akan menolak cara orang-orang yang merayakan masa remaja.

Seperti, pergi ke pantai atau semacamnya.

Benar, kehidupan seperti itu tidak buruk juga.

Bukan, aku tidak membicarakan soal pantainya di sini. Siapa juga yang mau pergi ke tempat di mana butiran-butiran pasir akan menempeli sekujur tubuhmu sedangkan panas matahari bisa membakar permukaan kulit.

Melainkan yang aku bicarakan di sini adalah—

Adalah pemandangan seperti ini.

—Di bawah payung besar yang seperti payung kertas-minyak jepang, Akihara Karasu berbaring di atas kursi dari anyaman rumput dengan sebuah gelas di tangannya.

Di sisi Akira, berbaring di kursi yang serupa adalah gadis werebeast 11 tahun dan seorang «Humanless» yang dipanggil Konokoneko Ruri.

“Nah, Ruri, berpikir bahwa kau bisa bertahan di bawah panas ini yang seharusnya mustahil bagi seorang Neet…. terkadang kamu harus menikmatinya juga.”

“Entah bisa bertahan atau tidak, aku tidak suka atmosfer di luar ruangan. Tapi bukankah ini karena sihir serbaguna orang di sana yang harus diperbarui setiap beberapa menit?”

Memandang ke kejauhan laut adalah Ruri yang mengelus rambut lembut nan halus Tama.

“Ja-jangan menyebutnya ‘orang di sana’! Nama ‘orang di sana’ itu sebenarnya adalah Emi-V! Emi-V, oke?! Jadi aku akan sangat menghargainya kalau orang-orang memanggilku begitu–!”

Seseorang yang barusan dipanggil ‘orang di sana’ berteriak pada dua orang yang masih menikmati masa remajanya.

…. Tapi, mari kita sedikit beralih tempat, seperti, lokasi di luar ruang ganti 3 jam 30 menit yang lalu.

~**~

“Rasanya agak aneh memakai ini tapi… aku selesai.”

Melambaikan telinganya sementara keluar dari ruang ganti, Tama melangkah ringan di atas pasir. Shion yang melihat itu membuat sikap seperti kakak yang baik hati, sementara Akira melepaskan gairahnya tanpa menutupi apa pun.

“Ah, Tama kah? Aku dengar kamu memakai baju renang yang disarankan Akira, awalnya kupikir akan ada semacam pakaian tidak bermoral.”

“Kau terlalu dangkal, orang tua! Pertama! Ini masuk akal bahwa gadis-gadis muda akan mengenakan「baju renang sekolah」!”

Tama memiringkan kepalanya sementara bergumam “Baru renang sekolah?” dengan imut.

Itu adalah—dari dunia lain, sebuah baju renang sekolah jepang.

Tentu saja, benda itu adalah sesuatu yang tidak ada di dunia ini.

Baju renang sekolah awalnya ditenun dengan sutra sebelum masa perang dunia kedua, di mana itu adalah bahan yang tidak ada di sini.

Namun produk ini terbentuk dari tenunan sempurna setelah memadukan polyester dan sejumlah bahan lain, yang mana, dibuat khusus oleh Akihara Karasu mengikuti petunjuk rinci yang tercantum pada blueprint.

Dari apa yang Shion tahu, Verdernia seharusnya tidak memiliki「baju renang」.

Apa yang mereka miliki tentang baju renang harusnya hanya ada itu.

Seperti abad ke-17 Eropa timur, baju renang mereka full-body dan tampak kuno, di mana itu adalah satu-satunya baju renang yang ada di benua Shuvasphere.

Karena kesenjangan itulah, salah satu hal pertama yang Akira lakukan begitu tiba di dunia ini adalah membuat baju renang baru.

“Tapi itu tidak terlalu menampakkan kulit.”
“Biar kukatakan lagi, kau terlalu dangkal, orang tua! Tanpa lekukan tersembunyi yang membuatmu ingin mengintip ke dalam hanya untuk mengetahui apa yang ada di baliknya, bagaimana bisa itu dikatakan romantis!?”

Tama berjalan di depan Shion, dan seolah ingin memperlihatkan apa yang ada di belakangnya, ia berputar-putar.

“Apakah ini bagus?”

Shion tersenyum normal sembari memberikan beberapa elusan kepala, sementara Akira mengacungkan jempolnya dengan mata berkaca-kaca dari ikan mati.

“Ini sempurna, Tama… kamu awalnya penjahat imut, tapi sekarang kamu bisa diklasifikasikan sebagai harta nasional!”

Mendengar itu, Ruri tersenyum pahit sesaat setelah keluar dari ruang ganti.

“Aku tidak terlalu mengerti dengan cara berpikirmu tapi… aku memberikan persetujuan tulus karena tidak membiarkan Tama memakai pakaian tidak bermoral. Maaf membuat kalian menunggu.”

“U-um…. aku juga sudah selesai.”

“Haha, itu bukan masalah, Ruri, membuat pria menunggu adalah kebiasaan wanita yang baik juga.”

Sementara mengatakan itu, Akira menoleh ke sumber suara diikuti Shion.

“Eh…?”

…… Kehilangan waktu mereka untuk berpikir, Shion dan Akira langsung bergerak mengikuti naluri, keduanya berlutut di lantai dalam pemujaan fashion, seakan itu wajib mereka lakukan.

Apa yang mereka lihat ketika berbalik adalah—Dua dewi.

– Sang dua dewi yang pertama adalah «Humanless» bernama Konokoneko Ruri.

Rambutnya yang melambai tertiup angin berubah-ubah antara warna emas dan putih karena pancaran cahaya dari langit, dan tampak lebih indah dan mempesona.

Struktur keindahannya hampir pada titik kesempurnaan yang akan membuat semua hati pemahat mencair pada pandangan pertama.

Kulit halus yang biasa tersembunyi di bawah jaketnya sekarang dilapisi dengan baju renang biru-putih yang menyerupai gaun.

Dan karya seni tubuh itu, mengenakan baju renang yang direkomendasikan oleh Shion di mana itu juga diambil dari katalog baju renang Akihara Karasu.

Ruri biasanya mengenakan pakaian yang tertutup sehingga pakaian terbuka seperti ini meninggalkan impact yang begitu besar. Meski begitu, Shion memilih bikini berenda seperti itu juga karena pakaian yang berkibar tidak akan terlalu memalukan untuk dipakai.

Dan pakaian itu sekarang menyebar seperti kumpulan bunga di pagi hari, menampakkan bahu merah muda nan lembut, membuatnya tampak luar biasa indah.

Cahaya putih transparan menambahkan ilusi seperti terdapat aura suci tak kasat mata pada sosoknya. Menghasilkan keindahan surgawi yang berpadu dengan cahaya kebesaran surya dan tidak diragukan lagi akan meyakinkan orang lain bahwa ia adalah dewi yang turun dari langit.

– Sang dua dewi yang kedua adalah Emi-V.

Pipi Emi-V bersemu merah padam sementara matanya terus melihat dari sisi ke sisi. Baju renang yang ia kenakan adalah Twopiece modifikasi dengan tambahan ruffles dan sabuk yang terbuat dari bahan semi-transparan.

Dari ekspresi yang ditunjukan Emi-V, ia mungkin memilih baju renang yang ia sukai dari katalog baju renang Akihara Karasu.

—Muncul menggunakan selendang sebagai semacam sabuk yang melilit pinggang ramping kemerahan. Bikini berenda hitam-putih ditutupi dengan semacam kain berbentuk kerang di bagian atas dari Twopiece-nya, sedangkan sehelai pita kemerahan menggantung di bawah itu.

Dengan lekukan halus tubuhnya—jika Ruri dianggap sebagai perwujudan ketenangan maka ia akan menjadi keindahan yang ekstrim.

Tapi alasan mengapa Akira dan Shion membeku di tempat bukan karena keindahan semacam itu.

Alasan sebenarnya adalah karena mereka melihat ‘itu’ yang cukup besar sampai titik di mana itu hampir meledak dari baju renangnya—dan tanpa henti melintas di otak mereka yang membuat dua pria membeku.

“Ti—tidak mungkin! Delapan-sembilan, lima-delapan, delapan-sembilan… level powernya sampai di lima ratus ribu–?!”

“Senpai kau—bagaimana kau tau—tidak! Apa yang kau bicarakan!?”

Scanner level power dalam kepala Akira yang menghitung Emi-V membuat bingung bagian「pengukuran dada」, membuat Akira gemetaran tak karuan.

— Hal seperti ini ada!

— Apa aku melewatkannya karena uap padat saat pengintipan sebelumnya!?

Melihat pada kenakalan yang tercipta dari lekukan tubuh luar biasa, dan terutama pada dada yang membuat scanner power hampir meledak itu tidak salah lagi adalah—wujud dari dewi iblis yang menggoda manusia untuk perbuatan biadab dan tak bermoral. Sebuah bentuk keindahan nyata yang hanya akan seseorang temukan di jahanam paling dalam.

“…Ugh… teryata Emi-sama punya standar tinggi seperti itu—!”

Tama memasang ekspresi pahit yang di mana, orang dewasa Emi-V membuat anak-anak Tama menunjukan wajah sedih saat dia melihat ke dada mungilnya.

“Eh, ah! B-benarkah? Ini, ini bukan apa-apa…”

Emi-V bermaksud merendahkan dirinya tapi, serangan itu justru menjadi pukulan penghabisan di atas ring.

— I-itu masih, b-bukan apa-apa—katanya–!

Tama yang terjatuh dengan kedua tangannya sebagai penopang, memiliki pikiran semacam itu.

Dia hendak mengatakan sesuatu yang lain, tapi—

Kedua laki-laki itu masih berlutut, bersama air mata mengalir di pipi mereka.

Mereka berdoa kepada eksistensi-tak-diketahui yang alasannya karena pencitraan di luar batas akal sehat manusia.

“…. «Humanless», Shion, akhirnya menyadari mengapa ia hidup di atas dunia ini–!!”

“Oh, dewa! Aku tidak tahu siapa engkau, atau ada di mana engkau berada, tapi kau adalah dewa yang mempunyai selera luar biasa untuk menciptakan Ruri dan Emi-V di bumi ini—ah, tolong angkat aku sebagai muridmu!!”

– Terciptanya sebuah agama.

Tama menyaksikan momen berharga ini, namun—

“Dewa seperti itu… pasti adalah wujud kekejian dan ketidakadilan–!!”

Gadis werebeast 11 tahun—mengutuk dalam-dalam.

“Le-leader, aku tidak pantas menerima pujian itu, tolong bangun atau ini akan terlalu memalukan bagiku untuk—”

“Se-senpai! Aku akan marah oke!? Aku juga bisa marah kalau kau terus melihatku begitu, oke!? K-kau tahu kan, senpai–!!”

Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh kedua wanita itu, Shion dan Akira berdiri takut.

Menetapkan lagi mata mereka pada dua sosok sakral, Shion dan Akira melihat ke langit dan berpikir—ini adalah surga.

“… Aku merasa seperti telah lahir sekali lagi.”

“… Ya, aku juga merasakannya.”

– Keduanya menjadi filosofis.

Dua orang yang biasanya bersaing dalam puncak suatu Game, pada saat itu, tidak punya penghalang apa pun di antara mereka.

Kedua laki-laki itu menatap langit yang sama, membawa pikiran yang sama dalam diri mereka.

— Mengapa semua orang harus bertarung satu sama lain? Dunia adalah tempat yang sangat indah.

“… Ayo kembali, Akira-san.”
“… Sangat jarang kita setuju soal ini, Shion-san.”

“Tidak, tunggu! Mengapa kita datang ke sini!?”

Emi-V berteriak pada dua orang yang masih menjalani pencerahan dalam cakrawala.

— Eh?

“… Mengapa yah?”

“Perkenankan aku untuk menjawab, leader, aku percaya kalau kita ke sini untuk memulai ‘fase kedua’.”

— … Ah, benar.

Shion akhirnya teringat akan hal itu.

~**~

Tapi—

“Padahal dia yang menyuruh kita melakukan semua ini, jadi kenapa cuma Shion-san yang tidak membantu sama sekali dan malah pergi ke tempat lain?”

Emi-V menggerutu sembari melayani pelanggan di toko.

Di sisi lain Akira menggoyangkan gelasnya sambil menikmati nirvana nan indah itu.

Anehnya, sepasang sayap hitam menggantung di punggung Akira yang menghalangi cara manusia berbaring dengan normal. Tidak salah lagi itu adalah bulu-bulu palsu yang tidak seharusnya seseorang miliki.

“Leader punya alasan untuk itu. Teruskan saja kerjamu dan berhentilah berbicara yang tidak perlu.”

“Tidak, aku sudah berusaha di sini, tahu!? Justru yang bermalas-malasan dan terus mengobrolkan topik yang tidak penting sama sekali tidak salah lagi adalah kalian!”

“Apa yang kau bicarakan? Apa lensa kontak binatang menutupimu dari melihat kenyataan? Istirahat juga bagian dari bekerja.”

“Ja-jangan mempermainkanku dengan memutarbalikkan akal sehat yang sudah ada!”

— Memutarbalikkan akal sehat, huh…

— Itu kata-kata favorit leader.

Menempel di antara rambut emas Ruri adalah sepasang telinga kucing besar berwarna putih. Sedangkan lensa kucing biru di matanya adalah produk terbaru Akihara Karasu sekaligus yang termurah dari daftar barang「Kemonomimi Store」, yang mana toko itu sekarang dikelola oleh Emi-V.

Sekarang bukan hanya dadanya yang besar, tapi juga saat ini, satu set perlengkapan anjing merah muda termasuk telinga, lensa kontak untuk mata dan sepasang sarung tangan anjing turut menambah atribut baru Emi-V yang mana itu juga sangat kontras dengan rambut merah sedadanya.

Sekali lagi, memandang pada semua atribut baru itu, Akihara Karasu berpikir—ini adalah surga.

– Laut

Ketika kamu pergi ke tempat liburan, itu mungkin bisa dibagi menjadi 2 kategori utama: daerah pegunungan dan daerah dekat laut atau samudra.

Selama musim panas, banyak orang secara naluriah akan berduyun-duyun ke tempat-tempat ini, seperti ngengat berkumpul di sekitar lampu.

– Sejujurnya, butiran-butiran pasir akan susah hilang dari tubuh, kulit yang terkena sinar matahari untuk waktu yang lama juga akan terasa sakit dan tidak nyaman, sedangkan angin laut membuat rambut menjadi rusak. Memikirkan itu, sulit dimengerti mengapa orang-orang datang ke tempat ini.

Tapi—sebuah tempat kebencian seperti ini sekali pun, pada kondisi tertentu akan berubah.

“Senpai~ ini sudah 3 jam dan hampir tidak ada pelanggan sama sekali! Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian membiarkanku sedikit bermain-main dengan Tama-chan!”

Melihat sesuatu yang bergoyang-goyang secara tak bermoral, Akihara Karasu mempertahankan ekspresi pokernya.

“Hei, aku tidak melihat apa yang kau bicarakan di sini. Ada 3 pasangan datang dan membeli set lengkap sejak 3 jam terakhir. Itu tidak seperti pelanggan benar-benar nol. Intinya adalah—teruslah bekerja dan kau akan dapatkan bagianmu.”

“Ta-tapi, aku—tidak tidak, Tama-chan juga ingin bermain denganku, kan?”

“Dasar bodoh, jangan samakan Tama dengan mainan. Dia seperti membencimu sejak kalian selesai ganti baju.”

“M-maafkan aku, itu—itu aku—karena–!”

“Sudahlah Tama-chan.” Ruri juga memasuki pembicaraan. “Ini tidak seperti kamu harus melakukannya hanya karena kasihan.”

“T-tapi kan–!”

“Daripada itu.”

Mengabaikan Emi-V yang menangis di tempat lain, Akira melihat dua dewi—Ruri, dan bertanya:

“Shion lama sekali. Kau tahu sesuatu tentang ini kan Ruri?”

“Tidak tahu. Dia punya cara pikir tersendiri yang tidak aku mengerti. Tapi, apa pun yang terjadi aku percaya pada leader. Jika dia memang tidak mengatakan apa pun itu artinya adalah ‘fokuslah pada pekerjaanmu, lalu serahkan sisanya padaku’.”

“… Jadi, dia juga tidak memberitahumu, hah….”
Sekali lagi, Akihara Karasu berpikir sambil menatap laut.

~**~

Matahari telah tenggelam, meninggalkan bulan keperakan dan lautan bintang—dan pantai yang diterangi oleh api unggun.

“Oh, Ruri, kau hampir selesai memanggangnya kan?”

“… Ikan tropis… dapatkah kita memakannya?”

“Ini ikan laut yang disebut「Lelite」, aku dengar rasanya sangat enak.”

Shion yang datang saat penutupan toko membawa banyak ikan sebagai oleh-oleh, api unggun malam ini dimaksudkan untuk memanggang ikan-ikan yang ia bawa.

“Hnm~ lezat lezat~ Biasanya aku memakannya sebagai lauk pauk dengan alkohol setelah bekerja…. kalau saja—”

Emi-V selesai minum satu tegukan sirup, memakan setusuk ikan panggang yang ia bawa di setiap tangan.

“Kalau saja ada「Tahu kacang goreng」, ya kan?”

“–Ba-bagaimana kau tahu makanan favoritku—? Apa aku mengatakannya?”

Mengabaikan Emi-V yang terkejut, Shion dan Ruri mulai tertawa.

— Apa-apaan ini!? Apa yang sebenarnya terjadi!?

Emi-V masih tampak belum mengerti apa yang terjadi, dan bertanya pada dirinya sendiri.

Di sampingnya Akira menggigit ikannya dengan wajah poker, sambil matanya melirik ke kiri. Sementara jauh di depan, Tama tersenyum masam pada 4 orang lalu menyadari ada sesuatu seperti bau menyengat.

“A,aah, ini gosong—!”

“Gosong, yah. Singkirkan itu, ambil punyaku Tama.”

“Ta-tapi, aku tidak bisa menerima ini dari Shion-sama begitu saja. Anda terlalu baik untuk orang sepertiku.”

“Tidak apa, Tama itu imut. Sebagai gantinya tetaplah jadi orang yang imut.”

Dengan sedikit paksaan, Tama mengambil ikan「Lelite」panggang dari Shion sambil tersenyum masam.

“Leader, apa kau mau aku memanggangkan yang baru untukmu?”

“Anda terlalu baik…”

Shion menyatukan tangannya dalam pemujaan, sementara Ruri memainkan stik ikan ketika menyentil dahi Shion.

“Itu sakit…. Nah tapi, aku bisa mengatasi ini sendiri.”
Shion tersenyum nakal saat Ruri memiringkan kepalanya.

Di samping Ruri, nama Emi-V yang sedang memakan ikan dengan ria dipanggil.

“Eh—Apa-! A-apa yang kau lakukan pada ikanku-!?”

“Leader, itu ciuman tidak langsung.”

Mendengar Ruri yang mengatakan sesuatu setelah menghela napas, Shion memiringkan kepala pada ketidakmengertian.

Sementara melihat Emi-V yang terkejut, dia berbicara senang sambil menggigit ikannya.

“Kudengar penjualan hari ini tidak berjalan dengan baik, jadi tidak diragukan lagi itu pasti adalah salahmu—aku mengambil ini untuk hukuman.”

“—Sudah dipastikan ini salahku-!?”

— O~oh, bergerak, itu bergerak!!

Di sampingnya, Akira yang melirik ke kiri dengan wajah poker menaikkan alisnya pada ketidaknormalan duniawi. Sementara jauh di depan, Tama yang mengamati semua pemandangan malam itu menampilkan senyum masam.

— Tunggu sebentar, Shion-sama sudah mendengar tentang hasil penjualan?

Menggigit ikan Emi-V dengan wajah mengejek, Shion melirik ke Akira.

“Cuma memastikan, kalian bisa menyiapkan paling tidak 500 unit untuk setiap daftar penjualan sebelum hari ketiga, ya kan?”

“… Serahkan padaku.”

Menyatukan tangannya seperti bos mafia dalam film Gangster, Akira menjawab dengan nada dan wajah poker, sambil melirik ke samping.

“Tunggu, apa-!”

Emi-V yang akhirnya melihat itu menutupi dadanya dengan panik.

“Itu pelecehan seksual! Aku akan marah tahu senpai! Juga ikanku—-Aarh–!! Benar! Dari awal, tujuanku ikut melakukan semua ini adalah membebaskan budak werebeast di Asterion! Apa yang sebenarnya membuatku pergi ke pantai menjual bando kucing? Hahh!! Kau bego ya? Kau bego! Kau memang bego, kan!?”

Gadis berambut merah yang menutupi dua keindahan alam duniawi mengulangi kalimatnya tiga kali.

– Emilia Evelyn, atau yang dikenal sebagai Emi-V.

Ia adalah penyihir hebat yang menguasai sihir cahaya sekaligus memiliki kualifikasi langka dalam pemakaian spirit magic.

Ia adalah kouhai Akira sekaligus member dalam «Humanless Alliance».

Ia pasti akan menjadi wanita dengan potensi luar biasa di masa depan—namun, potensi itu tidak dimilikinya saat ini, dan jelas ia tidak tahu cara menjelaskan situasi yang sedang ia masuki bersama Shion dan yang lain.

Dia duduk di balok kayu, menggaruk kepalanya kesal sembari mendongak dan berteriak kencang.

“Siapa yang idiot, Emi-sama?”

Pertanyaan itu dilemparkan oleh werebeast yang duduk bersila di depan Emi-V—anak yang membantu dengan sukarela yang dikenal sebagai Tama-chan.

“Maksudku Shion-san dan Ruri-san dan senpai, tidak, itu aku!! Apa yang kukatakan waktu itu—『 rela melakukan apa pun 』- Argh!! Apa aku idiot? Ya aku memang idiot!!”

… Tertawa setelah melihat itu, Shion berdiri.

“Mau pergi?”

Ruri bertanya setelah meletakkan ikannya ke samping.

“Heheh.” Shion tertawa ringan.

“Aku ke kasino malam ini. Lalu untuk besok, kuserahkan「Kemonomimi Store」pada kalian. Jadi yah, sampai jumpa di hari penjualan ketiga.”

……….

— Pada hari itu, hari pembentukan «Humanless Alliance», Emi-V mungkin bisa melihatnya.

Ia mungkin melihat hal yang sama dengan Akira dan Ruri, melihat—

– Saat mereka mulai mengerti masa depan yang mereka perkirakan untuk dunia ini.

“Ah~ benar… ‘orang di sana’, kamu mengatakan sesuatu yang aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

“Huh?”

Emi-V tersentak dari sikap emosionalnya ketika mendengar kata-kata Shion.

“ ‘Membebaskan budak werebeast di Asterion’ – pertama, kata ‘membebaskan’ itu agak keliru, dan–”

Ia sekali lagi mendengar sesuatu yang membuatnya membeku.

“Bukan di Asterion – itu seluruh Rinea.

….

– Huh?

tags: baca novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5, web novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5, light novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5, novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5, baca GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5 , GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5 manga, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5 online, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5 bab, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5 chapter, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5 high quality, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 5 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of