GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6

Dibaca 8 orang
Font Size :
Table of Content

— Part 6 –

“Aa~ Kalian duluan saja.”

Baru saja—keluar dari tanah berpasir itu adalah sosok dengan celana pendek dan jaket hitam polos, melihat ke kejauhan laut.

“Ada yang salah senpai?”

Setelah berhenti di daerah luar pasir pantai bersama yang lain, Emi-V berbalik.

Untuk sesaat, Akihara Karasu memandang sinis orang yang baru saja bertanya.

“… Karena salahmu, aku meninggalkan data penjualan di tempat tadi.”
“I, itu salahku-!? Bukan bukan, itu pasti kesalahan senpai!”

“Kau lihat itu, Ruri? Orang yang bersalah selalu saja menyalahkan orang lain.”

“Ya, dunia akan lebih baik tanpa orang-orang seperti dia.”

“A,apa-? Apa yang terjadi-? Kenapa saat tidak melakukan apa-apa aku bisa terlihat seperti orang bersalah!?”

– Emilia Evelyn, seperti biasa menjadi korban dari semacam akal sehat yang dipermainkan—menggeser matanya antara Akira dan Ruri untuk sebuah jawaban.

Tapi—

“Sampai jumpa di penginapan.”

“Data penjualan adalah tanggung jawabku sebagai manager keuangan.”

Dan—

Meninggalkan Emi-V seperti patung batu, dua orang kembali ke daerah berpasir.

Angin dingin bertiup di tempat kejadian itu terjadi—namun Emi-V tidak goyah dan tetap melihat mereka dengan mata kosong yang membeku.

“Hahah.”

Orang yang tertawa masam pada penampilan 3 orang barusan adalah gadis werebeast 11 tahun—atau yang saat ini dikenal sebagai Tama-chan.

Beberapa saat kemudian muncul ilusi yang menampilkan retakan pada patung batu bernama Emi-V, dan sosoknya mulai berteriak di langit malam.

~**~

“Jadi Akira, kenapa kamu berbohong?”

Memasukkan kedua tangan putihnya ke dalam saku jaket yang didominasi oleh warna biru, Konokoneko Ruri melihat Akira yang mulai membungkuk di atas pasir.

“… Hm? Soal apa itu?”

Melihat ke bawah, Akira mencari di sekitar balok kayu yang mereka tadinya tempati saat memanggang ikan tropis.

— Ah.

Tangannya meraih benda yang ia incar, lalu mengangkat itu ke langit, menunjukan beberapa lembar kertas kasar pada Ruri.

“Lihat? Aku tidak berbohong, ini data penjualan hari ini.”

“Maksudku bukan soal data penjualan…. juga bukan soal ini salah Emi-V, karena sebagian memang salahnya…”

Ruri menggembungkan pipinya, melihat orang di depannya dengan tajam.

“… Sudahlah. Jadi sampai repot-repot menyuruh seorang ninja membuat semacam sandi suara, apa yang ingin Akira bicarakan denganku?”

— Heh, sudah kuduga Ruri sadar.

Akira tertawa dalam hatinya, sedangkan Ruri menatap lebih tajam.

“… Pertama, mari memulainya dengan—ini sudah dua tahun, Ruri, kamu dan Shion tidak berubah banyak sejak dulu, ya?”

— Apa-apaan itu?

Ruri melihatnya seperti Akira memulai pembicaraan dengan sedikit basa-basi. Dia tertawa ringan.

Tapi bagi Akira itu lebih dari sekedar basa basi. Bahkan, ada hal yang ingin dia sampaikan dari kata-kata seperti itu.

“Akira sendiri juga, aku lega karena Akira tidak banyak berubah sejak aku bergabung dengan «Humanless». Jujur saja, cukup aneh melihat seorang leader yang menyukai sesuatu seperti Machine Gun atau semacamnya, kan? Aku lega Akira masih seperti Akira.”

“Tunggu, apa-apaan itu?”

Lalu, Akira yang masih seperti Akira mengepalkan tinjunya, menjadi filosofis.

“Senapan dan mesin adalah gejolak tersendiri bagi seorang pria, kau tahu!? Tanpa bumbu dari teknologi dan perkembangan jaman, apa bisa itu disebut ‘romansa’!?”

Dapat terlihat mata berapi-api dari ikan mati di atas sana, tapi Ruri sadar kalau itu sebenarnya cuma ilusi.

“Nah, mari kembali ke topik. Atau Akira tidak mau… mengenalkan dia padaku?”

Apa yang ia maksud adalah orang ketiga selain Ruri dan Akira.

Melihatnya begitu, Akira mengatakan sesuatu yang membuat gadis itu memiringkan kepala karena itu adalah pernyataan yang tidak bisa ia mengerti.

“… Kamu mungkin sudah mengenalnya lebih dulu dariku.”

Kalau ada yang Ruri kenal di dunia ini maka itu akan terbatas pada Shion, Akira, Tama dan Emi-V. Jika mempersempit satu data di atas dengan relasi ‘mengenalnya lebih dulu dari Akira’, maka seluruh data akan tanpa sisa menghilang.

Artinya adalah—apa yang dikatakan Akira tidak mungkin suatu kebenaran.

Kecuali….

Pada tingkat apa ‘mengenal’ itu disebutkan—-Ruri tidak punya waktu untuk memikirkan pertanyaan bodoh seperti itu.

Dengan begitu, jawaban tersirat dari pernyataan Akira menjadi jelas.

“…. Aku tidak kenal siapa pun yang termasuk.”

– Apakah itu ambigu atau kebohongan, pernyataan Akira tidak bisa Ruri benarkan begitu saja.

Namun, akira tersenyum puas.

—Menghapiri kumpulan pohon dan bebatuan yang tidak jauh, dia menarik tangan seseorang.

“… Dia adalah—”

Apa yang dia perlihatkan membuat mata Ruri membesar.

“Aah, dia…!”

Ruri terkejut pada sosok yang baru saja muncul. Tidak salah lagi, Ruri memang pernah melihatnya—dan itu bukan cuma sekali atau dua kali.

Dia adalah—

Apa yang mereka berdua katakan selanjutnya membuat「ia」menghela napas.

“—Assassin-chan!”
“Bunny Maid!”

“… Semuanya, namaku Yusagi.”

— Huh?

Orang yang baru muncul, selain memakai kacamata hitam dan masker, juga memiliki rambut hitam panjang dan sepasang telinga kelinci.

Ia adalah—Assassin-chan yang melawan Akira dan Emi-V satu malam yang lalu, sekaligus pembunuh yang kasino kirim secara eksklusif untuk Shion dan Ruri.

Ia merupakan—Bunny Maid yang mengikuti Shion dan Ruri untuk 50 kali kegagalan beruntun.

Dan nama gadis itu yang sebenarnya, atau sebagaimana dia memperkenalkan dirinya—Yusagi.

“… Assassin, Yusagi, huh? Kukira dia sudah mati, bukan begitukah Akira?”

“Hahah~ ini ya ini dan itu yang itu, kenapa kamu mempermasahkannya itulah yang aneh.”

— Bunny Maid, Assassin-chan—Yusagi.

Malam itu, malam ketika Akira hampir membunuh gadis elf dengan M200 Intervention, dia(Elf) menanyakan tentang itu padanya. Kemudian—

“UTC(Universal Time Coordinated) 11/6/1 02:22…「Elf」– ”

Seakan ia adalah alat perekam, Ruri membacakan kata-katanya.

“…『 Yusagi…. jika kalian ada di sini, apa yang terjadi pada Yusagi…? 』”

Ruri berpegang pada waktu akurat yang ditampilkan dalam jam tangan Akihara Karasu sendiri, di mana saat itu menampilkan tanggal 11, bulan 6 dan tahun 1, pukul 02:22.

Untuk menunjukan ingatannya, Ruri yang mengingat dan mampu menghitung setiap detik waktu dunia nyata menjelaskan itu. Ia membacakan kata-kata Elf sebelumnya dengan akurat, sama seperti「replay」, seolah ia adalah alat perekam yang sempurna, menyebabkan semua orang terkejut.

“Dan untuk menjawab ini…”

Ruri dengan tenang melanjutkan.

“UTC(Universal Time Coordinated) 11/6/1 02:23…「Akihara Karasu」—”

Ruri membacakan jawaban Akira—

“『 Ah, maksudmu assassin itu, yah? Dia…. dia sudah mati. Aku membunuhnya. 』”

“Itu, itu tadi–”

Yusagi masih sulit mempercayai apa yang dia dengar, atau lebih tepatnya, ia merasa takjub.

Tapi itu bukan ditujukan padanya, melainkan pada satu-satunya orang yang seharusnya menjelaskan semua ini sebelum dia membagi ‘ini’ dan ‘itu’—yang merupakan sikap untuk melarikan diri.

Tapi Ruri telah menegaskan itu sekali lagi.

“Jika aku leader, aku pasti mendapat setidaknya satu hipotesis yang bagus sekarang tapi… aku bukan leader, jadi aku tidak tahu kenapa kamu berbohong soal kematian Yusagi.”

Ruri bukan Shion, yang berarti dia tidak ada dalam posisi tahu dan mampu memikirkan kebenaran yang terjadi. Atau bahkan jika dia bisa membuat beberapa hipotesis sekali pun, Ruri mungkin tidak bisa mencapai apa itu kebenaran sesungguhnya. Karena itulah ia melakukan apa yang setidaknya bisa Konokoneko Ruri lakukan.

Namun daripada memberikan persetuan, Akira menampilkan senyum menarik dan merasa bangga akan sesuatu.

“… Kau salah soal satu hal, Ruri—dalam hal ini aku tidak sedang berbohong.”

— Huh?

“Kubilang, Yusagi memang sudah mati, aku membunuhnya, begitu ‘kan?”

“….. Aku tidak mengerti. Dia, ada… di sini.”

“Itulah kenapa–”

Melihat ke atas langit, Yusagi melanjutkan kata-kata Akira yang terputus.

“—Akira bilang, dia akan ‘mengakhiri penderitaanku’, jadi…. Yusagi yang ada di sini, aku bukanlah… Yusagi yang ada di sini tidak sama dengan Yusagi yang dia(Elf) kenal.”

~**~

“Nah, saatnya mengakhiri ini. Selanjutnya hiduplah dengan bahagia.”

Dan, pelatuk ditarik, mengirimkan sisa peluru berikutnya.

— —-

*ck

“…………………………”

— Huh?

Suasana menjadi hening setelah kalimat itu.

Dengan takut, Emi-V dan Yusagi membuka mata.

“Heh?”

“…. Aku, masih hidup… kenapa?”

Karena—

“Kubilang, ‘kan? Slot peluru senjata ini cuma terbatas pada 6.”

4 peluru yang ditembakkan pertama ditebas dengan Ninjato, 1 menembak paha kiri Yusagi dan 1 lagi menembak paha kanan. Dengan begitu jumlah tepat semua peluru yang Akira tembakkan tidak lebih dan tidak kurang dari「enam」.

Yang berarti, revolver tanpa peluru saat ini tak lebih dari logam biasa.

“….. I-itu membuatku takut, senpai. Kau bilang akan mengakhiri ini jadi, kupikir a-akan ada…”
“Nah, aku memang bilang begitu—tapi bukankah kalian berdua salah paham?”

“Heh?”

“… Salah paham?”

Emi-V memiringkan kepala sementara mata Yusagi membesar saat melihat ke atas.

Mengatakan itu, S&W .357 Magnum menghilang dari tangan Akira.

“Aku juga bilang sebelumnya, kan?—”

—Dia mengulurkan tangannya.

Melihat tangan yang ia ulurkan, Yusagi tersentak, pikirannya berputar-putar pada kejadian yang tidak bisa ia mengerti.

Akhirnya, Akira melanjutkan.

“…Kalau aku akan mengakhiri penderitaanmu.”

Itu yang ia katakan.

Kalimat itu ditujukan pada kata-kata sebelumnya mengenai—‘bekerja dengan orang-orang di kasino pasti adalah sesuatu yang sulit’.
—-Em-V yang terkejut berseru dengan “E,eeeh-!” setelah memikirkan kembali apa yang dimaksud Akira.

Sementara di depan Akira, Yusagi tanpa sadar mengambil tangan itu, tangan yang beberapa saat lalu nyaris mengambil kehidupannya.

“Pertama, aku berjanji kalau aku tidak akan menyakitimu, aku tidak akan memperlakukanmu secara tidak adil dan tidak akan pernah mendiskriminasi karena ras-mu.”

Kata-kata yang paling ingin dia dengarkan.

— Tidak ada yang tersakiti, tidak akan memperlakukanku dengan tidak adil, dan tidak akan pernah melakukan diskriminasi karena aku adalah werebeast.

Perasaan aneh dalam diri Yusagi menguap dalam bentuk cairan hangat yang kemudian membasahi matanya, mengalir melalui pipinya dan mengubahnya dalam bentuk tetesan yang disebut dengan air mata.

Tapi, Yusagi sendiri tidak sadar mengapa ia menangis.

“–Apa ini…? Kenapa aku…?”

— Jika kata-kata itu benar, maka apakah—apakah aku tidak perlu menahan luka, takut, dan menderita kesakitan lagi?

Air mata jatuh dari gadis yang berlumuran darah, seakan ia memohon sebuah jawaban.

Melihat ke atas pada sosok yang mengatakan itu.

“—Ikutlah denganku. Karena aku sudah membunuh orang menyedihkan(Yusagi) beberapa saat lalu, mulai sekarang kau bukanlah Assassin-chan yang orang lain tahu. Dalam hal ini, Assassin-chan yang baru menjadi Assassin-chan pribadi milik Akihara Karasu—hahah, bagaimana menurutmu tentang itu? Bukan tawaran yang buruk, iya ‘kan?”

Itu membuat—kata-kata itu, Yusagi yang selama ini menderita tersenyum.

……….

—Meski begitu itu tidak seperti dia sadar akan takdir besar yang menunggunya di masa depan nan jauh, sangat jauh.

~**~

“—Itulah yang terjadi.”

Akira selesai menceritakan apa yang ia tahu.

“Itu menjelaskan kenapa Yusagi mati dan kenapa orang yang menyebut dirinya sebagai Yusagi ada di tempat ini, hanya saja—di sana tidak dikatakan kenapa Akira perlu melakukan semua ini. Dan juga–”

Menatap tajam mata Akira, Ruri melanjutkan.

“Alasan kenapa Akihara Karasu perlu menyembunyikan itu dari Shion, juga tidak ada di sana.”

Sekarang Ruri tahu kalau Akira tidak berbohong. Hanya saja dalam pernyataan Akira, ia juga tahu kalau tidak ada kebenaran.

Tergantung dari bagaimana seorang melihatnya, itu mungkin akan menjadi hal yang benar atau pun salah. Itulah kenapa apa yang Akira katakan tentang membunuh Yusagi adalah suatu pernyataan ambigu.

Shion yang tidak menyadari kalau itu ambigu cuma bisa mempercayai Akira di mana tak ada kebenaran dalam pernyataan itu.

—Ia mengatakan bahwa Ruri bukanlah Shion. Karena itu Ruri tidak tahu bahkan saat ia coba berpikir tentang hal-hal yang terlalu rumit seperti ini.

Disudutkan oleh Ruri, Akira tersenyum pahit.

Kata-kata yang keluar berikutnya membuat Ruri bertanya-tanya apakah itu berhubungan dengan apa yang ingin dia dengar.

Tapi, itu mungkin saja salah—itu adalah topik yang sama sekali berbeda.

“Dua tahun lalu, seorang Gamer tanpa nama membentuk kelompok misterius dengan tujuan untuk「Mengubah dunia」. Dan untuk suatu alasan yang tidak diketahui dia menggunakan kata ‘Humanless’ yang sama sekali tidak berhubungan sebagai nama dari kelompok barunya.”

—Ruri yang mendengarkan tidak menyadari kenapa Akira bercerita seolah ia bukanlah salah satu ‘karakter’ yang terlibat.

Seolah, ia hanyalah pendongeng dari ‘cerita ini’. Lalu seakan berbicara pada salah satu ‘tokoh’ dalam ‘cerita’nya, ia melanjutkan.

“Ruri, Shion, dan 7 anggota lain bergabung dengan kelompok yang「orang itu」bentuk—-Pertama, pertanyaan untukmu; untuk alasan apa kau bergabung dengan kelompok mereka?”

Lalu karakter dalam cerita itu berkata:
“… Aku tidak bisa menjawabnya. Itu sudah lama sejak aku bergabung jadi aku mungkin tanpa sadar—melupakannya, ‘kan?”

Konokoneko Ruri yang mampu mengingat dan menghitung setiap detik waktu dunia nyata melupakan sesuatu seperti alasannya bergabung dengan kelompok setidakbiasa «Humanless», huh?

Itu cukup membuat Akihara Karasu tertawa.

“Nah, oke, itu cukup menghibur, tapi kesampingkan soal itu. Apa yang sebenarnya ingin kutanyakan adalah—”

Senyum liar muncul saat Akira melanjutkan.

“—Alasan kenapa Shion bergabung dalam «Humanless».”

“Alasan leader… aku tidak pernah memikirkannya.”

Akira tertawa sekali lagi, ia menertawakan ketidaktahuan Ruri kali ini.

“Shion bergabung dengan kelompok yang「orang itu」bentuk karena「Mengubah dunia」adalah keinginan terbesar dalam hidupnya. Tercermin dalam mata Shion—sebuah ‘Dunia(permainan) sederhana’.”

Keberadaan dunia yang hanya diperbolehkan untuk dilihat oleh mata anak kecil. Tapi jika apa yang terlihat oleh orang itu merupakan kebenaran sebenarnya—‘sesuatu yang sederhana’ itu maka—

“Apakah kita yang membuatnya terlalu rumit?”

Dengan kata-kata yang jatuh bersama dengan menggembungkan pipinya, Ruri menuntut jawaban dari Akira.

Sedangkan, Akira tertawa setelah menggeleng.

“Tidak. Apa yang kukatakan hanya seperti apa yang orang itu harapkan dan inginkan, itu sesuatu yang sangat sederhana, sangat mudah, sesuatu yang diputuskan oleh orang terbodoh, dan sangat mudah dimengerti karena itu sederhana—… tapi sebenarnya ada satu lagi orang seperti itu, selain orang itu orang terbodoh yang memikirkan satu hal yang serupa….—orang terbodoh yang menetapkan tujuan bodoh itu pada kelompoknya—idiot yang memiliki pemikiran sama seperti Shion, siapa lagi kalau bukan dia-?”

“Akira, itu—”

— Kau sendiri.

Dalam alam bawah sadarnya, Ruri berpikir.

— Akihara Karasu, Shion—dua orang yang menjadi puncak dalam dunia permainan, selama ini berpikir tentang hal semacam itu?

“Tapi…”

Akira membuka mulutnya sekali lagi.

“—‘Dunia sederhana’ itu tidak pernah sekali pun berubah. Dunia yang tidak berubah sama sekali, itulah kenapa Shion dan「orang itu」berusaha untuk mengubahnya.”

Bagi seorang Gamer yang diasingkan oleh kehidupan sosial, ‘mengubah dunia’ memiliki arti mendalam dan tak bisa dimengerti oleh orang lain.

Bahkan jika itu berarti mereka akan mengubah dunia yang terlalu sederhana, terlalu mudah, dan tidak pernah sekali pun berubah itu.

Yang seharusnya mustahil untuk dilakukan—itu hanyalah impian yang cuma seorang anak kecil diperbolehkan melihatnya—sebuah pemikiran terkonyol dan terbodoh yang pernah ada itu, karena–

「Akal sehat」itu sendiri—tidak bisa dijatuhkan.

“Tapi mereka berpikir kalau mereka punya kualifikasi untuk merubahnya. Mereka berpikir akan ada saat di mana mereka bisa menjatuhkan keadilan mutlak yang dikenal sebagai「akal sehat」—mereka berkata sambil melihat mimpi tak masuk akal dan berharap akan tiba saatnya mereka bisa mematahkan「akal sehat」dunia ini.”

Ruri memegang dagunya seolah berpikir, melihat ke bawah pada pasir pantai seolah ada sesuatu di bawah kakinya—namun apa yang ia lihat hanyalah fakta menggelikan tentang masa lalu.

“Itulah alasan kenapa「Mengubah dunia」adalah tujuan «Humanless». Jadi untuk memberikannya nama yang sama pada «Alliance»—Itu karena leader ingin mengubah dunia yang sekarang, kan? Apa yang salah?”

Akira menggaruk rambut belakangnya sementara Ruri menatap seolah menunggu sebuah jawaban.

Tentang tujuan seorang yang ia panggil leader dan tentang seberapa jauh Shion menantang「akal sehat」kali ini.

“Ah~ itu agak keliru. Aku sadar kalau dia menginginkan sesuatu yang lebih besar—sesuatu yang lebih dari sekedar「Mengubah dunia」. Assassin-chan, laporanmu.”

“Anu, namaku Yusagi. Jadi, aku berhasil mengikuti target hari ini, dan—”

“Tunggu sebentar, target? Aku tidak percaya Akira menyuruh Bunny Maid mengikuti leader.”

“Semuanya, namaku Yusagi.”

Mengabaikan Yusagi yang menunduk dengan sopan, Akira melihat ke atas seolah mengingat sesuatu.

“Benar juga, aku belum memberitahumu alasan kenapa aku merekrut Assassin-chan. Seperti yang kau tahu cukup aneh merekrutnya karena dia tidak terlalu bagus dalam segi mana pun. Um, katakan saja itu karena ada hal yang hanya bisa Assassin-chan lakukan.”

“…. Aku tidak mengerti.”

“Bahkan Shion sekali pun tidak akan memasukkan Assassin-chan yang sudah mati dalam pertimbangannya, karena tak ada alasan untuk memikirkan seseorang yang tidak ada. Dan karena Shion tidak mempertimbangkan Assassin-chan, Assassin-chan punya kualifikasi sebagai pengintai.”

“Lalu, alasan kenapa Akira menyuruh Bunny Maid mengikuti leader—”

“—Itu karena, Ruri, kau mungkin tidak tahu, tapi Shion telah berubah. Seperti yang kubilang Shion tidak ingin sekedar「Mengubah dunia」ini, tapi lebih dari itu, dia mungkin menetapkan tujuannya untuk「Menguasai dunia baru」.”

Ruri mengambil stik ikan di atas balok kayu. Lalu seolah melihat sesuatu dari stik, ia berputar-putar di atas pasir.

Menunjukan stik vertikal yang berdiri—seakan ia menarik esensi dari sebuah stik, Ruri menjelaskan.

“–Kamu melewatkan satu hal, Akira. Aku sudah bilang kalau aku percaya pada leader.”

Sayangnya, satu hal yang ia(Akira) lewatkan tidak membuatnya terganggu sama sekali. Sebaliknya, dia berpikir bahwa itu adalah pemikiran yang salah.
“… Apa Shion yang Ruri percayai memberitahu alasan kenapa dia pergi? Alasan kenapa dia tetap ke kasino meskipun itu akan membahayakan nyawamu bahkan nyawanya sendiri—dan alasan kenapa dia menyuruh kita menjual aksesoris bertema werebeast di tempat ini? Atau setidaknya apa dia menjelaskan kenapa dia menyembunyikan semuanya dari kita—kenapa dia tidak mengatakan apa pun padamu, Ruri?”

“… Itu karena… —tidak, meski begitu aku percaya pada leader.”
“Yang aku tahu dia ingin masyarakat menerima werebeast dengan baik. Menjual lebih dari 500 unit untuk setiap daftar penjualan berarti banyak orang akan mulai menaruh simpati pada werebeast… tapi itu tidak cukup untuk menyelamatkan mereka. Ada sesuatu yang janggal—aku sadar kalau ada hal yang janggal dalam teoriku…. Alasan kenapa Shion pergi ke kasino… Mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi aku terus memikirkannya selama ini, berharap itu akan menjadi kepingan terakhir dalam teori tidak sempurnaku.”

“Kalau aku, aku tidak pernah memikirkannya. Mungkin itu sesekali terlintas di pikiranku tapi aku tidak memikirkannya lebih dalam. Aku bilang kalau aku percaya pada leader, itu sudah cukup. Bagi leader—tidak, tapi bagi Akira dan diriku sendiri juga, kita selalu melihat kehidupan seperti sebuah Game, kupikir itu tidak berubah sampai sekarang. Jadi jika ada alasan kenapa dia tidak memberitahu kita itu pasti karena kita tidak perlu tahu tentang itu.”

Dalam sebuah pola rumit yang tidak bisa dijelaskan, ada hal di dunia ini yang hanya akan terjadi apabila kita mengetahuinya, dan sebaliknya, ada juga hal yang hanya akan terjadi saat kita tidak mengetahuinya.

Untuk melakukan hal bodoh seperti menantang「akal sehat」, sebuah pola rumit seperti itu dibutuhkan.

“Karena itulah Bunny Maid, kamu bisa membuang semua laporanmu. Akira juga, aku akan memberitahu ini pada leader.”

“Ah~ tunggu Ruri. Aku akan mengurus ini sendiri. Biarkan aku bicara pada Shion saat waktunya tepat.”

Meski begitu, Akira tidak menunjukan penyesalan apa pun. Sebaliknya, ia tersenyum puas.

— Apakah itu rasa tidak besalah atau kepercayaan diri.

Ruri mungkin masih belum menyadarinya.

Menyadari kenapa「orang itu」berbeda dengan Akihara Karasu.

Menyadari kenapa Akihara karasu yang ia kenal—sudah berubah. Dan—

Menyadari kenapa Akihara Karasu yang sekarang tidak serta merta berjalan pada jalan yang sama dengan「orang itu(Akihara Karasu) 」di masa lalu.

Itu karena—–

— Aku cukup menyukainya, Ruri—Dunia ini.

— Memang ada beberapa hal kecil yang perlu berubah dari dunia ini, tapi itu bukan alasan untuk menolak dunia yang sekarang.

tags: baca novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6, web novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6, light novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6, novel GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6, baca GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6 , GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6 manga, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6 online, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6 bab, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6 chapter, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6 high quality, GAME  LOGIC – Chapter 3: x * 2y = 『 Initial Step 』 Part 6 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of