GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path —

Dibaca 14 orang
Font Size :
Table of Content

— Different Path —

– Seberapa jauh dia akan menantang「akal sehat」kali ini –

Mata Akira tiba-tiba terfokus pada kalimat itu.

— Kau tahu, aku cukup menyukainya tahu, dunia ini….

Sudah hampir 2 tahun sejak Akihara Karasu meninggalkan dunia lamanya. Ada begitu banyak hal yang dia lalui di dunianya sekarang. Bertemu dengan teman-teman baru, berpetualang, membebaskan budak werebeast bersama Emilia Evelyn, Akira mengingat semua itu—bahkan, berbagai macam perpisahan dia anggap sebagai sesuatu yang berharga.

— Itulah kenapa…. aku lebih baik memperbaikinya, dunia ini tidak perlu berubah.

Ada sedikit hal yang memang harus berubah darinya. Tapi hanya sedikit, itu tidak banyak.

— Kalau saja kau tahu itu, Shion….

「Merubah dunia」—Akihara Karasu tidak benar-benar membenci cara ini. Tapi yang Shion pikirkan mungkin adalah sesuatu yang lebih tidak masuk akal dari itu. Sesuatu yang lebih besar. Itulah kenapa, Akihara Karasu menaruh kecurigaan.

Berkat Shion mereka berhasil membebaskan werebeast dari perbudakan—Akira tidak bisa menyangkal fakta ini. Tetapi Shion menyembunyikan terlalu banyak hal dalam rencananya, itulah yang tidak bisa Akihara Karasu mengerti. Sejauh yang dia pikirkan dia tidak menemukan alasan apa pun mengapa Shion perlu menyembunyikan banyak hal…. itulah sebabnya, kecurigaannya meningkat.

…………… Dan saat ini….. kecurigaannya dikonfirmasi dengan 9 halaman kertas.

“Akihara Karasu-samaaa!!”

“Ah, Assassin-chan. Kukira kau libur hari ini?”

“Assassin-chan?”

“Kenalanmu ya senpai?”

“Hahh…. hahh—! Namaku Yusagi, Ah…. itu… tidak penting lagi…. lihat ini!”

Akira mengambil sekumpulan kertas yang Yusagi berikan. Ruri, Tama dan Emi-V berkumpul di sampingnya. Akira membalik satu per satu halaman kertas, memproses isi setiap halaman dalam pikirannya. Satu per satu, dan—

“Emi-V, dari sini kau yang pegang.”

“Mana mana~ Hmm, kenapa cuma halaman ini yang baunya seperti kotoran burung—tidak tidak bekas putih ini memang kotoran burung—!!”

Saat Akira melihat ke arahnya, Yusagi mengalihkan matanya sambil bersiul. Tama mencium semacam bau di sekitar Yusagi, dia membuat gesture seperti mengendus-endus, dan—

“Ah~”

Emi-V memiringkan kepalanya karena reaksi Tama, sedangkan Ruri dan Akira menutup hidung.

“Menjauh dariku Bunny Maid. Baumu sangat mengganggu.”

“Assassin-chan, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu tapi menjauhlah dariku.”

“HIGYA—! Ma-maaf ya! Tapi itu karena aku buru-buru mencari kalian dan tidak sempat mencuci muka! Biar kukatakan kalau aku sampai memutari alun-alun 3 kali cuma untuk mencari kalian—lalu seorang bernama Shion itu bertanya dan bilang ‘Eh, dia sudah pulang dari tadi’. Aku tidak salah, jika bukan karena itu aku pasti sudah bersih dan berbau seperti bunga matahari. Aku tidak salah, aku tidak sala~~”

Yusagi menyembunyikan mukanya yang memerah di balik tangannya.

“Itu salahmu.”

“Maaf…”

“…… Daripada itu, kamu bertemu leader?”

“Ma-maafkan aku, itu tidak dapat dihindari—eh, daripada itu, kertasnya! Aku sudah membacanya dan, itu lalu…”

“Ya…” Akira membuat ekspresi intens. Lalu, dia melanjutkan dengan nada menekan.

“Aku bisa menebak 3 halaman sisanya kurang lebih. Katakan saja, aku sudah menebak sebagian rencana Shion dari awal, tapi ini, kali ini sudah melebihi perkiraanku.”

“Tunggu, aku tidak bisa mempercayainya sebelum membacanya sampai selesai!”

Ruri juga berbicara dengan serius. Hanya dengan 6 lembar kertas, mereka mengerti sesuatu yang tidak orang lain mengerti.

Melihat itu, Emi-V yang tidak mengerti apa pun menelan ludahnya, dia membaca halaman berikutnya yang diberikan Akira.

“ 「6. – Jika kau ingin –」….. 「3. – Menemukan kakakmu, maka –」……”

Sekali lagi, Emi-V menelan ludahnya.

“ 「2. – Ikutlah denganku –」Ini seperti angka dadu di Game tadi, mungkinkah Shion-san yang…”

Ruri terjatuh, dia melihat ke lantai seolah ada sesuatu di bawahnya, tapi yang tercermin dalam mata birunya adalah sepasang paha putih yang ditutupi dengan kain biru.

“……Echo… pesan ini, ditujukan kepada Echo.”

Ruri menjawab meskipun ada banyak hal di pikirannya yang tidak bisa dia percayai dan suaranya menjadi lemah. Dia bersikap seperti tidak biasanya.

“Sekitar satu minggu lalu, leader dan aku menemukan kebenaran di balik ‘ibukota di atas awan’.”

“…. Apa… yang kalian temukan?”

Akira merespon kalimat Ruri. Ada banyak lubang dalam hipotesis Akira tentang rencana Shion setelah ini, dia membutuhkan lebih banyak data. Lebih banyak pemikiran dan lebih banyak lagi logika.

“«Microlith of Life»—sumber kekuatan yang menopang kota ini—alasan kenapa Asterion dijuluki sebagai ‘ibukota di atas awan’.”

“—Aku tidak pernah mendengarnya tapi—maksudmu item itu adalah penyebab Kota Asterion melayang selama lebih dari 7000 tahun?”

Ruri tidak memberikan konfirmasi apapun atas pertanyaan Akira, dan kemudian, melanjutkan.

“Di bawah tanah, ada sebuah ruangan raksasa yang mengelilingi Kota Asterion. Dan… kami memastikannya sendiri kalau—ruangan itu, diisi penuh dengan gas helium.”

“…. Tunggu—jika itu ada di bawah tanah, bagaimana bisa kalian memastikannya?”

Manusia tidak bisa terbang—atau setidaknya kau dan Shion tidak bisa terbang, itulah yang ingin Akira katakan. Tapi, Ruri membalas dengan mengangkat topik baru.

“Kalian pernah mendengarnya kan, legenda tentang naga api dan naga es.”

—Dalam perjalanan menuju Kota Asterion, Shion dan Ruri secara tidak sengaja bertemu dengan naga api.

Gadis itu memiliki telinga dan ekor kucing, tapi dia bukanlah werebeast sama sekali. Naga api memiliki kemampuan yang baik dalam menyamar—dan dia menyamar sebagai salah satu petualang, menggunakan busur sebagai senjata utama meskipun itu tidak efektif melawan musuh. Postur dan gerakannya jauh dari seorang pemanah yang ideal, tapi statistik seperti kekuatan dan akurasinya berada jauh di atas rata-rata.

Ada banyak data yang dapat Ruri ambil dari pendengaran dan perhitungannya. Lalu, Shion menyimpulkan dari data-data Ruri bahwa gadis itu adalah naga api dalam legenda.

“Leader dan aku sekarang, menjadi masternya.”

Naga api dalam legenda menjadi pelayan dari dua orang manusia belaka. Kalimat itu cukup membuat Tama dan yang lain terkejut seolah atmosfer baru saja disengat listrik.

“Kami menyelidiki ruangan itu dengan skill naga api yang disebut «Inspect», dan mengambil kesimpulan bahwa; «Microlith of Life» mengubah udara biasa di dalamnya menjadi helium(he), itulah kekuatan besar yang menopang Asterion selama ini.”

Sama seperti balon, Kota Asterion melayang karena udara(helium) lebih ringan dibanding udara luar(langit).

“Jadi soal pesan…”
“Itu ditujukan untuk Echo… nama naga api itu, adalah Echo.”

Ruri masih terduduk lemah karena ada banyak hal yang memaksanya percaya pada kemungkinan yang tidak ingin dia percayai sedangkan Akira menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya. Ada keheningan yang menyelimuti mereka.

Selusin detik berikutnya, seolah mengingat sesuatu Tama mengeluarkan sebuah item dari tas kecilnya.

“Tama-chan, itu.”

“Emi-sama tahu ini? Aku ingin menanyakan soal ini tapi Shion-sama mungkin tidak akan kembali, jadi…. um, aku menemukan ini di bawah kasurnya.”

Sebuah perangkat metalik yang hampir seluruhnya terbuat dari susunan metal dan plastic silver. Salah satu dari daftar item Akihara Karasu, sebuah perangkat penerima, dengan kode nama—«Receiver».

“Leader meninggalkan ini, yang berarti—”

“Yah itu, dia pernah meminta satu set «Tranmitter-Receiver» dariku sebelumnya. Jadi—suatu saat dia pasti akan memakai «Tranmitter» untuk terhubung dengan «Receiver» ini.”

—Kemudian, bunyi yang muncul beberapa saat setelahnya dari arah lain membuat mereka berpaling.

Akira melebarkan matanya.

——Ia melihat—dalam sudut matanya, sebuah pilar hitam mencapai langit. Itu menembus awan—bukan, bahkan atmosfer. Itu cukup kuat sampai awan-awan gelap mulai berkumpul di sekitarnya.

“Sial!”

Storage dibuka, Akira berlari mematerialkan CheyTac M200 Intervention di tangannya.

— Zarius…

Itu bukan pertama kali dalam hidupnya bahwa Akihara Karasu melihat aura semacam itu, tekanan semacam itu. Dia pernah melihatnya sekitar satu tahun yang lalu, Akira tidak yakin, tapi, dia mungkin melihat—–«Scared Ability» Zarius.

~**~

Atmosfer, awan-awan, bumi berderit. Perwujudan konsep yang mengisi dunia—sumber kekuatan ‘badai’—menekan bentuk kehidupan di sekitarnya. Sebuah cheat yang Zarius pendam dalam dirinya saat hari masa mudanya—«Scared Ability».

“Darimana kau tahu—tentang ‘itu’?”

«Microlith of Life»—mengambilnya berarti membiarkan Kota Asterion terjatuh dari langit, ribuan orang akan mati sekaligus mengakhiri legenda dari kota ini.

Di tengah pusaran hitam yang bahkan Zadkiel menahan napasnya, seorang berambut putih dan mata emas, dengan «Atavism’s Characteristic» tersenyum liar.

“Naah~ darimana ya~? Aku tidak berkewajiban untuk menjawabnya. Tapi…”

Seolah tidak tertekan—tidak, justru seolah dialah yang ‘menekan’, ‘manusia biasa’ melanjutkan.

“«Betting Game» bersifat mutlak. Jadi, biar kukatakan lagi—berikan «Microlith of Life» yang kalian simpan.”

Sebagaimana sifat ‘mutlak’ dalam «Betting Game» berlaku, segala perasaan yang mencegah Shion mengambil «Microlith of Life» menghilang dalam diri Zarius. Keinginan untuk membunuh, untuk menyangkal, dan untuk melukai menghilang dalam dirinya. Keinginan baru muncul untuk membiarkan dia(Shion) memiliki artefak itu—«Microlith of Life» yang mungkin akan membawa kehancuran bagi Asterion.

Namun ada satu keinginan dalam diri Zarius yang tidak hilang bahkan setelah «Betting Game» selesai. Keinginan untuk melindungi kota dan rakyatnya, keinginan seorang raja—meluap dalam tekanan dahsyat yang bahkan udara sendiri bergetar karenanya.

“Aku bisa membiarkanmu mengambilnya….. tapi—”

Bibir Zarius gemetaran dan giginya menggeretak dengan intens saat dia mengepalkan tangannya sementara kata-kata dipaksa keluar dari mulutnya.

“Meski begitu, aku tidak bisa memberitahumu di mana tempat ‘itu’ disimpan.”
…. Di bawah sudut matanya, Shion tersenyum liar, saat mata emasnya beralih pada seseorang di samping Zarius, kemudian nadanya mulai muncul dengan senang.

“Nah Stella, di mana tempat «Microlith of Life» disimpan?”

“Ruangan rahasia di kamar Altina.”

Stella menjawab spontan.

Matanya melebar sesaat setelah kalimat pendek tanpa sadar keluar dari mulutnya.

Bukan cuma Stella, tapi juga Zarius, Altina dan Zadkiel tidak bisa menahan keterkejutan.

— Kenapa aku menjawab—?
Stella berpikir. Matanya melihat Shion seolah menuntut sebuah jawaban. Tapi, meninggalkan senyuman licik dan sebuah kata terima kasih, dia mengabaikannya dan berjalan pergi.

Pembentukan «Game Contract»『Snake and Ladder』—tidak, sebelumnya… Shion mengalahkan Stella dalam sebuah Game kartu sederhana, dengan pertaruhan ‘menjawab satu pertanyaan dari pemenang’.

Tanpa Zarius dan yang lain ketahui, dia telah mengambil 2 keuntungan dari Game ini.

– Memancing Stella mengubah permintaan—memberikan Shion kesempatan menarik dua hadiah kemenangan. Dan—

– Memberikan Shion hak untuk mengambil satu jawaban dari Stella.

Putri kedua, Stella bertanya sebelum permainan dimulai: “Ngomong-ngomong apa yang akan Shion tanyakan padaku?”

Shion menjawab—bukan, lebih tepatnya dia bertanya: “… Entahlah, mungkin sesuatu seperti three size?” Dia tidak menjawab pertanyaan Stella, artinya ‘hadiah kemenangan’ Shion adalah ‘belum ditentukan’.

Shion tidak menanyakan apa pun setelah Game kartu selesai—dia menggunakannya, untuk saat-saat seperti ini—–「Hak mengambil satu jawaban dari musuh」.

— ‘Ending dari permainan sudah terlihat sebelum Game itu dimulai’, peraturan itu sekarang berlaku.

Saat semua orang menjadi boneka(NPC)—bukan, semua orang dari awal memanglah boneka(NPC). Di tangannya, Shion bermain-main sambil menggerakkan boneka(NPC), mereka sendiri. Seorang manusia belaka(prayer) tak tahu diri menggantikan posisi dewa(player) untuk melakukan playing.

“Echo.”

Topan kemerahan tercipta di sampingnya. Sebuah bayangan terlihat di dalam topan, dan lalu, menjawab:

“Aku di sini, master.”

“Kastil kerajaan, kamar Altina.”

“Yes, master.”

Di balik pusaran api, seorang gadis menjawab.

Tubuh mereka ditutupi dengan api merah yang berputar-putar, menyelimuti mereka satu, dua detik, kemudian menghilang.

~**~

– Tidak bisa menggunakan sihir –

Echo pernah satu kali mengatakan itu.

Menilai dari detak jantung dan faktor psikologis lainnya, Shion memutuskan bahwa kalimat itu bukanlah kebohongan belaka. Dengan kata lain, ‘kenapa ada bekas pembakaran di bawah pijakan Echo?’ Pertanyaan itu membawa Shion pada ketertarikan.

Ruri memastikan bahwa percikan api memang muncul sesaat ketika Echo akan pergi, sebelum dia berhenti karena kata-kata Shion waktu itu—‘Nah, mari kita mulai pertunjukannya’. Kemudian, Shion memastikan hipotesisnya dengan sebuah kalimat pendek: “Kau dengar itu… naga api?”

Dengan mudah, kecurigaannya dikonfirmasi.

Lalu……..

“Master tau di mana… ruangan rahasianya?”

Mereka menjadi master dan pelayan.

Kerajaan Rinea – Kamar Altina Gran Rinea.

Di dekat patung kecil yang seperti timbangan, dua bayangan terlihat.

“Hmm, mungkin ini.”

*Dadadadada~

Seketika, pintu rahasia terbuka menggantikan lantai putih yang terbuat dari marmer. Anak tangga spiral menghubungkan antara kamar Altina dan ruangan lain di bawahnya.

“Hebat… bagaimana master tahu?”

“Coba pikirkan lagi, Echo. ‘Ruangan rahasia di kamar Altina’—yang berarti itu ada di ‘dalam’, bukan di kanan atau kirinya. Sisanya tinggal sedikit otak-atik dan—ruangan rahasia ditemukan~!”

“Master, mengagumkan~!”

“Sudah sudah, aku tidak butuh pujian untuk sesuatu yang mudah.”

Di dalamnya tidak ada lampu, gelap, dan tidak ada sumber cahaya. Semuanya hanyalah ‘hitam’ sampai, mereka turun di tempat paling dalam, melihat—

“Master, it…itu…”
Sementara Echo ditelan oleh ketakjuban—sesuatu yang di luar nalar ‘itu’, dia melihat—

Sebuah polyhedron yang menunjukan heksagram, dedocahedral yang berbentuk bintang, seperti cahaya, dengan pola samar dan huruf-huruf kuno—sebuah kerumitan yang ada di luar akal sehat kehidupan. Dengan nama lain…

—«Microlith of Life», artefak yang manusia itu cari benar-benar ada di sana.

Sang manusia perlahan mengulurkan tangannya. Dan lalu——«Microlith of Life» melayang, menyinari pakaian merah di dadanya. Manusia—bukan, di bawah senyumannya, dia sekarang menjadi «Humanless»; membawa item itu berarti sosoknya telah meninggalkan kemanusiaan…

Dan maka—benar.

Dia tidak bisa berhenti tertawa karena memikirkan ini.

“Heheh~ahahahahahahahah!!”

Dia tidak berhenti, sebelum kemudian segaris kalimat memasuki pendengarannya.

“Aku mengerti sekarang, seperti ini, aku tidak bisa meraihnya dengan benar… kurang lebih karena—aku sendiri bukalah ‘pemenang’.”

“Master!”

Echo berbalik, dan seketika, matanya mencerminkan sosok perempuan yang mengatakan itu.

“Selanjutnya akan kucoba, mengamatinya, jika itu sang ‘pemenang’ maka——-”

“ ‘Pemenang, yah. Nah, siapa yang kau maksud?”

Mempertahankan senyum liarnya, Shion tidak berbalik saat bertanya. Tapi, dia dengan jelas merasakan ‘eksistensi’ di belakangnya.

Di ruangan rahasia ini yang seharusnya hanya diketahui oleh keluarga kerajaan, perempuan itu tersenyum seperti Shion.

Dan seolah kehadirannya bukanlah sesuatu yang aneh, Shion meneruskan.

“Jadi apa yang kau butuhkan dariku, kau yang bukanlah ‘pemenang’?”

“Sebut aku Sendai. Aku minta maaf jika tindakan kakakku telah membawamu ke dalam masalah, tapi seperti yang aku lihat kamu cukup senang, sepertinya.”

“Aku tidak tahu siapa kakakmu, tapi jika yang kau maksud adalah creator itu maka aku justru akan menyampaikan terima kasih tulusku padanya. Juga, nama XeeX dan Sendai itu cukup aneh.”

“Bukan bukan, itu bukan nama asli. Kau tahu? Kami tidak menganggap sebuah nama itu terlalu penting.”

—–XeeX, seorang Creator misterius yang membawa Shion dan Ruri ke dalam dunia dengan pedang dan sihir bernama Verdernia ini. Awalnya Shion hanya bertaruh pada tebakannya tapi, siapa sangka seorang Creator seperti XeeX memang punya sesuatu seperti adik perempuan.

Shion membuat ratusan hipotesis baru di otaknya, kebanyakan dari itu memang berkemungkinan rendah dan bahkan sulit dipercaya, tapi, ada beberapa kebenaran yang telah dia pastikan hanya dengan beberapa data ini.

Saat Shion masih menyusun pertanyaan-pertanyaan lain, perempuan itu, Sendai, berkata:
“Apa salahnya menggunakan nama palsu, iya kan, Shion?”

Dia mengatakan itu saat berjalan mendekati Shion. Lalu, dengan senyum nakal, satu kalimat yang keluar berikutnya menghentikan otak Shion untuk berpikir.

“Atau Shion, kamu lebih suka aku memanggilmu「——-」?”

Tidak peduli apakah otaknya mungkin akan rusak atau pun terbakar, Shion memutar kembali pikirannya dengan intens, untuk—mencari jawaban dari sebuah pertanyaan.

— Bagaimana.bisa—-dia, nama i, tu—?

~**~

Akira mengerti setelah membaca pesan yang Shion tinggalkan untuk Echo. Mengerti, bahwa—teman baiknya yang telah sangat dia kenal akan menantang akal sehat terlalu jauh.

Setelah membuktikan kemampuannya dalam Game yang tidak mungkin dia menangkan, Shion membuang kehormatannya sebagai ‘pahlawan yang membebaskan werebeast’, dan dengan keangkuhannya berubah menjadi sosok yang paling ditakuti—menjadi ‘iblis’ dan—

Dengan kedua tangannya dia akan membunuh ribuan nyawa yang hidup di atas kota ini. Dengan tangannya, Shion menghianati harapan semua orang yang percaya padanya; penduduk Rinea, Akira, Tama, Emi-V…. dan seorang gadis yang selalu——–mempercayainya.

– Dia benar-benar—bodoh, tolol, dan seenaknya sendiri.

Akira mengulangi kalimat itu sekali lagi di hatinya.

“Yo, Shion. Jadi menurutmu menguasai dunia benar-benar semenyenangkan itu? Biar kuberitahu kalau itu tidak menyenangkan sama sekali, bahkan tidak bisa disebut sebagai hiburan untuk mengisi waktu. Orang-orang akan memaksamu membawa dunia pada arah yang lebih baik, pekerjaan yang tak ada habisnya, sungguh, belum lagi sejumlah kelompok akan memberontak atas nama kebebasan. ‘Menguasai dunia’—bukanlah apa-apa selain pekerjaan yang merepotkan.”

Melalui Scope yang terpasang di atas Intervention, titik merah dihubungkan dengan garis vertikal dan horizontal—mata hitam Akira menyaksikan melewati titik itu adalah punggung merah dan rambut putih dari entitas yang telah ia kenal dengan baik.

Rumput hijau membentang di sekitar mereka bersama angin dingin yang menghilang di langit biru. Dalam sudut matanya, langit tak berujung membentang dengan awan-awan kecil.

Berdiri agak jauh dari pintu masuk utama Kota Asterion bersama seorang naga kecil bernama Echo, pria yang dipanggil Shion memandang ke atas di tepi ‘langit tak berujung’ itu.

Naga kecil di sampingnya yang melihat secara langsung wajah Akira yang tengah mengarahkan Intervention pada masternya mengernyit sedih. Menyakitkan, pikirnya, mata itu seperti menahan rasa sakit yang tidak bisa sang naga mengerti. Orang itu yang ia lihat berdiri dengan senyuman pahit di bawah rambut hitamnya yang disapu dengan angin dingin.

“Akira!”

“Akihara Karasu-sama!”

“Senpai!”
“Akira-sama!”

Ruri yang masih tidak mengerti dan ingin memastikan kebenaran dengan matanya sendiri, Yusagi yang menaruh kepedulian terhadap penduduk Kota Asterion, Emi-V dan Tama yang mengkhawatirkan mereka berdua tiba dari arah kota dengan berlari.

“……Semuanya ada di sini. Informasi beredar terlalu cepat jadi… apa yang kalian butuhkan?”
“Itu sudah jelas, kan!” Tanpa memberi jeda, gadis berambut emas dan iris biru berteriak dengan mata yang basah. “Aku ingin… menghentikan leader!”

Dia menggeleng dan…. menahan perasaannya, bibir merah di bawah mata birunya membuka dan menutup beberapa kali meskipun kata-kata yang keluar darinya seakan tertelan kembali ke dalam dada(hati)nya.

“Aku….!”
Ruri mengulurkan tangannya seolah meraih sesuatu, tapi tanpa meraih apa pun dia menungkupkan kembali genggamannya.

“Leader kumohon…!”

Apa yang ingin ia katakan? Dia mengerti dengan baik apa yang sangat ingin dia katakan pada Shion, pada seorang berambut putih di hadapannya. Hanya saja, sangat sulit untuk mengatakan apa pun. Sang gadis mengambil kembali tangannya, menaruh itu di depan dadanya dan memeluknya dengan tangan satunya.

Ia tahu apa yang ingin dikatakannya, tetapi, menarik kembali susunan kata itu dan berpikir apa yang mungkin akan berubah… ia melihat rambutnya dengan mata basah. Meski dia berhasil mengatakan itu dan kata-kata telah keluar dari mulutnya, apa yang mungkin akan berubah? Tidak ada. Sang gadis mengerti dengan baik jawabannya.

Tapi—maka, sama seperti meskipun dia tidak mengatakan apa pun, takkan ada yang berubah.

“Karena aku, aku ingin…!”

Ruri mencoba, sekali lagi.

“…. Ingin agar leader tetap di sisiku!”

“Kenapa?”

Suara yang datang sebagai balasan darinya terasa seperti sekejap mata, tidak ada penghormatan atau pun menghargai, hanya rasa senang seakan pemuda itu tidak menganggap kata-kata yang ia dengar sebagai ‘berarti’, bahkan tidak sama sekali penting, baginya, sama sekali tidak berharga.

“Itu karena…”

…..

Dengan momentum ringan, gadis bermata biru mengambil satu langkah ke depan. Ada hal yang ingin dan harus dia sampaikan padanya. Dan karena itu adalah harapan dan juga keharusannya, ia menggerakkan bibirnya sekali lagi.

“Aku merasa seperti, seperti leader akan pergi jauh dariku. Aku tidak mau, membayangkannya membuatku sesak maka….”
— Berikan aku kesempatan untuk sekali lagi—!

“Maaf maaf, sepertinya kalian salah paham. Aku tidak pergi untuk ‘menguasai dunia’. Lebih tepatnya kukatakan….”

Entitas yang sejak awal tidak menunjukan dirinya berbalik.

Ketika berbalik, ada seorang gadis yang berasal dari dunia nyata dengan pakaian berwarna biru, rambut emas dan mata berkaca-kaca. Akira yang berdiri memegang gagang Intervention, Emi-V, Tama, dan seorang werebeast yang tidak dia kenal.

Mata emasnya mencerminkan lima orang. Di belakang mereka, pemandangan Kota Asterion tercermin dari sebuah sudut kecil.

Dan entitas itu yang mereka lihat memberikan senyuman hangat dan tulus.

Dalam alam bawah sadarnya sambil mengamati rivalnya—Shion, Akira berpikir jika—

— Mungkinkah seorang iblis akan tersenyum seperti itu?

“Aku tidak akan menguasai dunia mana pun, kalian tahu?”

— Benarkah?

“Siapa juga yang mau direpotkan oleh pekerjaan melelahkan seperti memastikan dunia tidak hancur saat kau akan duduk di atasnya, itu pasti cuma orang tolol, Emi-V mungkin akan melakukannya.”

— Benar.

“A-a, pa–!?”

“Tapi, seperti yang kubilang…”

Kalimatnya masih berlanjut. Bibirnya masih bergerak dan kata-katanya diteruskan.

“Aku tidak mau menguasai dunia, lebih tepatnya kukatakan—”

— Apa?

“…. Menghancurkan dan membangun ulang dunia yang baru. Itulah—‘menyusun ulang’ dunia ini. Itulah yang kulakukan.”

Bersama naga api Echo, Shion berbalik sekali lagi.

“Jadi untuk selanjutnya, yah, kita akan bertemu lagi… mungkin,——hari dari sekarang.”

Membuat ancang-ancang, mereka berlari…

“Ayo——-Echo.”

Ke arah horizon, melompat ke dalam langit biru tak berujung.

tags: baca novel GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path —, web novel GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path —, light novel GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path —, novel GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path —, baca GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path — , GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path — manga, GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path — online, GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path — bab, GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path — chapter, GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path — high quality, GAME  LOGIC – Epilogue : 『 Game Ending 』 — Different Path — manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of