Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia

Dibaca 86 orang
Font Size :
Table of Content

Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia

Penerjemah : Anthony
Penyunting : Anthony
Korektor :-


Chapter 4 – Keluarga Bangsawan Yang Paling Miskin Di Perbatasan Paling Selatan

 

“(……)”

 

Setelah mengambil ingatan Wendelin sebelumnya dari mimpi itu, aku bangun bersama saudara-saudaraku yang baru untuk pergi sarapan di ruang makan mansion.

 

Meskipun kukatakan mansion, itu hanya mansion bangsawan berperingkat rendah.

(TL: mansion = rumah besar)

 

Karena jumlah ruangan yang ada terbatas, ruangan tersebut dibagi sesuai dengan fungsinya.

 

Ada ruangan penelitian; gudang untuk makanan, uang, barang dan perlengkapan; dan sebagainya … Menurutku, mansion ini lebih mirip rumah petani kaya.

 

Mereka yang memiliki kamar pribadi sendiri adalah kepala keluarga saat ini, Artur (45 tahun), dan istri sahnya, Johanna (44). Dan yang lainnya, Kurt (25, putra tertua) dan Hermann (23, putra ke-2).

 

Keempat saudara yang lain dari istri sah telah digabungkan ke satu ruangan.

 

Selain diriku, mereka adalah Paul (19, putra ke-3), Helmut (17, putra ke-4), dan Erich (16, putra ke-5).

 

Ini adalah pemandangan menyedihkan dari sebuah rumah yang penuh sesak, meskipun ini adalah tempat yang bagus untuk sebuah novel lama.

 

Perlu dicatat bahwa nyonya. Leila (31). Berada di rumah orang tuanya, tepatnya di vila kepala desa.

 

Dan yang tinggal bersamanya adalah anak-anaknya, Walter (14, putra ke-6), Karl (13, putra ke-7), Agnes (11, putri tertua), dan Karina (10, putri ke-2).

 

Meskipun nama mereka mirip nama bangsawan Jerman yang baik, faktanya sama di kedua dunia.

 

Dari informasi dalam mimpi kemarin, rupanya tidak banyak ruangan bagi semua orang untuk tinggal di mansion.

 

Karena tidak terlalu penting bagi anak istri kedua untuk menerima pendidikan bangsawan, mereka tidak perlu tinggal di mansion, atau berkomunikasi dengan mereka.

 

Padahal, Wendelin sebelumnya telah bertemu mereka beberapa kali menurut ingatannya.

 

Selain mereka, yang tinggal di sana adalah pewaris kepala desa dan istrinya, yang kebetulan adalah orang yang memiliki pengaruh di wilayah itu, tapi bagiku, politik itu tidak akan berguna.

 

Balik lagi di mansion, ada pelaya yang bisa terlihat menjaga rumah. Abel (71) adalah kepala pelayan yang telah melayani keluarga sejak kepala keluarga sebelumnya. Ada empat pelayan yang lain, tapi mereka semua adalah nenek-nenek dari desa, karena ada kemungkinan bahwa Artur, tanpa rencana keluarga dan nilai-nilai, akan menghamili mereka.

( TL: Fix, Emilia versi babu  ─‿‿ )

 

Ada juga pengikut yang memimpin pasukan di masa perang, tapi mereka sebenarnya adalah petani biasa, pengrajin, pemburu, atau pandai besi dari desa. Karena mereka tidak tinggal di mansion, mereka semua pergi bekerja di rumah keluarga mereka, di desa.

 

Di desa-desa miskin dekat perbatasan seperti ini, tidak ada perbedaan antara prajurit dan petani.

 

Dalam kasus darurat, bangsawan yang memerintah mereka dapat memobilisasi mereka sesuka hati.

 

Walau begitu, belum pernah ada konflik di wilayah kecil seperti ini, selama 200 tahun terakhir belum pernah ada konflik di wilayah kecil seperti ini.

 

Pertama-tama, wilayah Baumeister saat ini berada di ujung selatan Kerajaan Helmut di benua Lingaia, dan kepala keluarga saat ini yaitu Artur von Benno Baumeister.

 

Satu-satunya musuh besar bagi Kerajaan Helmut adalah Kerajaan Suci Urquhart yang terletak di benua utara. Namun, kedua negara ini dibatasi oleh hutan belantara yang luas.

 

Kerajaan Suci Urquhart telah membuat kemajuan dengan menyumbang uang dan tenaga untuk pengembangan daerah ini, tetapi belum mendapatkan pendekatan yang aman bagi Kerajaan Helmut yang terletak di selatan.

 

Dengan kata lain, kedua belah pihak tidak mampu membayar perang karena biaya logistik.

 

Meski begitu, sekitar 200 tahun yang lalu, kedua negara telah berulang kali memanggil tentara sebagai langkah peringatan.

 

Mereka kemudian menandatangani perjanjian gencatan senjata, karena latihan itu hanya membuang-buang makanan dan sumber daya. Dengan demikian, batas damai didirikan.

 

Selain itu, sejak perdagangan antara kedua negara dibuka, dan tidak termasuk beberapa hal-hal yang rahasia, bias dibilang kalau api perang telah padam.

 

Makanya, aku bisa santai karena tidak pernah mengalami perang.

 

Bisa dibilang aku dalam kondisi beruntung.

(TL: Lucky)

 

“Sayang, ada apa?” (Johanna)

 

Aku mengalihkan pandanganku ke makanan yang berada di depanku. Roti coklat disajikan dengan sedikit daging dan sayuran. Dan semangkuk sup yang dibumbui hanya dengan garam.

 

Makananan ini sangat hambar, sepertinya memakan daging di pagi hari adalah kebiasaan dari kaum bangsawan.

 

Bangsawan makan tiga kali sehari sedangkan petani hanya makan dua.

 

Karena kedua menu adalah roti dan sup, perbedaan sosial tampaknya tidak terlalu berbeda.

 

Roti cokelat itu keras dan hambar, kalau saja ada roti putih lembut, selai, mentega, keju dan teh atau yang lain. Dengan begitu, tampilan buruk akan menjadi lebih cantik.

(TL: Jiwa missquinku menggelora)

 

Kudengar banyak perbedaan besar antara menu di daerah pedesaan, perkotaan, dan lainnya.

 

Beneran? Aku tidak akan tahu sampai aku pergi ke daerah lainnya.

 

Kalau itu benar, maka aku punya berita buruk: wilayah Baumeister kami tampaknya sangat miskin.

 

“Masalah mendirikan guild adventurer telah ditolak.” (Artur)

 

“Mereka mungkin sibuk dengan pekerjaan.” (Johanna)

 

“Membersihkan lebih banyak dirute transportasi atau sejenisnya gak masalah juga.” (Artur)

(TL: Membersihkan yang dimaksud diatas adalah membasmi monster)

 

Ayah baruku, Artur, memiliki pandangan masam di depan sisa hidangan supnya.

 

Telah dikonfirmasi sebelumnya, kalau sihir ada di dunia baru ini, serta guild adventurer yang terkenal.

Sihir dan makhluk seperti monster juga ada, jadi pasti ada petualang yang memburunya untuk mencari nafkah.

 

“Karena monster di wilayah kita cukup kuat …” (Artur)

 

“Ayah, kenapa ayah tidak memanggil tentara untuk memburu mereka dalam satu serangan?” (Kurt)

 

“Kurt, itu tidak mungkin. Kita tidak bisa mengulangi kesalahan yang sama dengan Breithilde margrave-dono yang terlambat. ”(Artur)

 

Ahli waris dan putra tertua, Kurt nii-san, menyarankan untuk membentuk pasukan tetapi segera ditolak oleh Artur.

 

“Bisakah aku mengatakan sesuatu … Ayah?” (Wendelin)

 

“Ada apa, Wendelin? Oh ya, tidak ada lagi sup untukmu. ”(Artur)

( TL: Penasaran supnya bagaimana? Silahkan membayangkan sup yang dimakan tentara NAZI selama perang dunia)

 

Dari mimpi kemarin, aku, sebagai putra kedelapan, berumur 6 tahun jika dihitung dari tahun baru. Aku bahkan tujuh tahun lebih muda dari putra ketujuh.

 

Makanya, kursiku berada diujung meja makan, bahkan paling sudut.

 

Aku hanya mau bertanya, tapi malah dikira mau nambah makanan. Bisa dibilang sebagai bukti lain kalau keluarga ini miskin.

 

“Tidak, aku tidak meminta sup lagi. Aku ingin bertanya tentang Breithilde margrave-sama yang mencoba memburu monster. ”(Wendelin)

 

“Tentang itu ya, kami diminta untuk membantu dengan penaklukan monster di wilayah Baumeister kita beberapa tahun yang lalu …” (Artur)

 

Dilihat dari persyaratan permintaan, mereka tampaknya percaya diri dalam upaya itu, tetapi setelah memprovokasi monster di wilayah mereka sendiri tanpa tujuan, pasukan margrave yang berjumlah 2.000 kalah telak, sangat menyedihkan.

 

Tepat setelah kepala baru Breithilde margraviate mengambil alih, pekerjaan pertamanya adalah membangun kembali pasukan yang hancur.

 

“Breithilde margrave-dono yang baru mengatakan bahwa sebagai seorang bangsawan, dia tidak memiliki hak atas wilayah yang saat ini ditempati oleh monster. Dengan kata lain, itu berarti dia tidak akan pernah lagi melibatkan monster di wilayah Baumeister kita. ”(Artur)

 

Jadi, aku harus menghabiskan hidupku ditempat yang sangat tidak menyenangkan sampai aku dewasa.

 

Ketika aku berpikir begitu, sup yang kumakan terasa hambar.

 

Awalnya tidak enak, karena hanya dibumbui dengan sedikit garam.

 

tags: baca novel Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia, web novel Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia, light novel Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia, novel Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia, baca Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia , Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia manga, Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia online, Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia bab, Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia chapter, Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia high quality, Hachinan tte, Sore wa Nai Deshou! Chapter 3 Bahasa Indonesia manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of