My Pet Is a Holy Maiden Chapter 32

Dibaca 827 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Chapter 32: Bayangan yang Mengejar

Penerjemah: niznet
Penyunting: niznet
Korektor: AutoCorrect

Dan seiring berjalannya kehidupan sehari-hari, musim juga mulai berubah. Ketika Tatsumi pertama kali dipanggil ke dunia ini, musim saat itu adalah musim laut, atau yang berarti musim semi. Tapi sekarang musim semi telah berlalu dan mulai memasuki musim bulan—atau musim dingin jika disebut di bumi.

Tempat tinggal yang umum di ibukota Levantes biasanya terbuat dari bata yang berwarna coklat muda. Itulah kenapa penampilan kota dari luar terlihat berwarna coklat muda sekali. Tapi setelah salju mulai turun, semuanya menjadi putih.

Dan tidak penampilan kota saja yang berubah.

Kehidupan sehari-hari Tatsumi juga mengalami perubahan besar.

 

Karena Tatsumi sudah resmi dinyatakan sebagai kesatria pendeta, pangkat pendetanya juga naik dari Junior ke Senior.

Sejak awal, sebagian besar para pendeta junior adalah murid pendeta, jadi bisa dibilang satu satunya cara Tatsumi bisa menjadi pendeta adalah dengan lewat jalur itu.

Seragam dan lambang Tatsumi tentunya juga berubah menjadi seragam pendeta senior. Tapi menyampingkan itu, sayangnya dia tidak punya kesempatan untuk bisa mengenakan seragamnya.

Karena sejak dia menjadi kesatria pendeta, sebagian besar waktunya di dalam bait suci, dia selalu mengenakan baju zirahnya.

Sebuah baju zirah berantai yang dilambangkan dengan lambang suci yang berarti kesatria pendeta. Hanya kapten yang diberi baju zirah besi, jadi seperti Tatsumi, sebagian besar kesatria pendeta baru mengenakan baju zirah berantai.

Lalu, pedang yang tergantung di pinggangnya juga membuat jelas jika dia adalah seorang kesatria pendeta.

Tentu, tak perlu dikatakan lagi bahwa ketika Calcedonia pertama kali melihat Tatsumi berpakaian baju zirah berantai dan berjambul dengan pedang yang tergantung di pinggangnya, dia benar-benar menjadi pucat dan terpesona layaknya gadis yang sedang jatuh cinta.

 

Semua kadet termasuk Tatsumi berhasil lulus dari ‘Tes Kelulusan’.

Selain Tatsumi, keempat lainnya masing-masing ditugaskan ke salah satu regu yang berbeda dari lima regu kesatria.

Alasan kenapa Tatsumi tidak ditugaskan ke regu normal seperti Verse dan lainnya, karena penugasannya sebagai seorang kesatria pendeta adalah seorang exorcist.

Itulah kenapa, dia harus mempelajari pengalaman tempur anti-iblis dengan bertarung bersama anti-personel.

Untuk mewujudkannya, Tatsumi mungkin akan ikut asosiasi monster hunter di kota untuk berperan serta dalam penaklukan monster seorang diri atau dengan membentuk kelompok kecil.
TL note: Saya menggunakan monster hunter daripada pemburu monster

Meski jalannya sangat berbeda dari teman-temannya, tidak ada pilihan lain karena dia bertujuan untuk menjadi exorcist.

Jadi sewaktu-waktu dia kadang berlatih fisik bersama teman-temannya, atau kadang berlatih sihir bersama Calcedonia dan Giuseppe.

Setiap hari ketika pulang ke rumah, dia disambut dengan senyuman manis Calcedonia. Kemudian makan malam buatan Calcedonia, mandi, dan pergi tidur bersamanya.

Dan entah kenapa, Tatsumi sadar kalau dia tidur sambil memeluk Calcedonia dari belakang, kebiasaan tidurnya tak akan agresif. Jadi karena itu dia membiasakan diri untuk memeluk calcedonia ketika tidur.

Terlebih lagi saat ini sedang musim dimana salju dan angin dingin berdansa di langit. Oleh karna’nya setiap hari tidur sambil berpelukan, merasakan kehangatan satu sama lain sangatlah nyaman.

Meski kehidupan sehari-harinya selalu sibuk, namun kedamaian kehidupannya terus berlanjut. Namun hari demi hari bayangan jahat yang ingin merusaknya muncul.

***

“Oi, kau yang disana! Kau orang yang bernama Tatsumi, kan?”

Itu terjadi ketika dia sedang pulang ke rumah setelah bekerja seharian di bait suci. Ia tiba-tiba dipanggil dari belakang, jadi secara naluri ia berbalik ke arah asal suara itu.

Apa yang dilihatnya adalah tiga penjahat besar atau preman laki-laki berdiri di sana.

Para penjahat itu mulai perlahan mendekati Tatsumi sambil memamerkan palu mereka seperti kepalan tangan dan panjang tangan masing-masing mereka sama seperti panjang batang pohon.

“Kami punya urusan untuk bicara denganmu, nak.”

“Bicara…? bicara tentang apa? Kalau tidak salah, kita baru pertama kali bertemu, kan?”

Saat Tatsumi melihat laki-laki itu dengan ragu, para lelaki itu mulai tersenyum sambil mengelilingi Tatsumi.

“Ya begitulah, tapi hei kita semua disini saudara, kan? Kami gak bakal menyita banyak waktumu… Tapi tidak enak kalau bicara disini.”

Mengatakan begitu sambil meletakkan lengannya di atas pundak Tatsumi layaknya dia adalah teman baiknya, laki-laki itu mulai menuntun Tatsumi pergi.

Tempat yang laki-laki itu tuju adalah gang gelap di samping jalan. Sepertinya ‘pembicaraan’ yang mereka inginkan dengannya tidak bisa di lakukan di tempat terbuka.

Di sisi lain, kejadian ini terlihat seperti pemuda normal yang terjerat dengan beberapa penjahat kasar atau pengganggu. Meski ada orang-orang di sekitarnya menatap mereka, tapi tatapan mereka dipenuhi dengan rasa cemas dan penasaran, tak ada seorangpun yang datang untuk menolong. Mereka bisa merasakan dengan jelas aura kejam dari ketiga laki-laki seperti gorila itu.

Kalau Tatsumi mengenakan baju zirah dan lambang kesatrianya, maka reaksi dari orang-orang dan para penjahat itu mungkin berbeda.

Tapi di musim dingin ini kalau dia tetap memakai baju zirahnya dia akan merasa kedinginan. Meski dia bisa mengenakan baju besinya diatas baju yang ia pakai, namun baju besi itu akan terasa sedingin es di musim ini. Jadi itu bukan ide yang bagus.

Itulah kenapa saat Tatsumi meninggalkan bait suci, dia melepaskan baju besinya dan mengenakan sweater hangat agar suhu tubuhnya tetap terjaga.

Sedang di dorong setengah paksa oleh laki-laki itu, Tatsumi hampir terseret masuk ke dalam. Tapi Tatsumi yang sekarang berbeda dengan dirinya di masa lalu saat pertama kali dipanggil ke dunia ini.

Sambil di dorong dari punggungnya, Tatsumi dengan tenang mengamati mereka. Sepertinya mereka berpikir Tatsumi ketakutan sehingga mereka menurunkan kewaspadaan mereka.

Tatsumi bertujuan untuk mencari celah yang tidak di awasi oleh para penjahat itu, dan dengan cepat menyelinap kabur dari mereka. Dan seolah ingin melarikan diri, dia malah berlari memasuki gang gelap itu.

“T-Tunggu, KAU BAJINGAN!!”

“Si idiot ini. Dia masuk gang sendirian!

Mereka bingung sesaat ketika Tatsumi menyelinap kabur, lalu melihatnya berlari ke gang itu atas kemauannya sendiri, para penjahat itu tersenyum keji dan mulai mengejar Tatsumi.

Dan kemudian, saat para penjahat itu melangkah masuk ke gang, Tatsumi tidak terlihat dimanapun.

“K-Kemana dia?”

Gang yang remang-remang itu hanya ada jalan lurus, dan tidak tempat untuk bersembunyi disini.

Kalau dia pergi masuk ke dalam gang. Maka mereka setidaknya masih bisa melihat punggungnya.

Tapi sayangnya tidak, mereka tidak melihat Tatsumi di gang.

Para penjahat mulai tidak sabaran mencari-cari Tatsumi, berkebalikan dengan sikap percaya diri mereka yang sebelumnya.

Mereka mencari dengan teliti di sekitarnya, tapi seperti yang diduga, Tatsumi tidak ada di sana.

“Asu!! Apa dia masuk lebih jauh kedalam?”

“Cuma itu satu-satunya tempat yang dia tuju, tolol”

“Sialan, sudah kubilang dia itu secepat tikus!”

Para penjahat itu terus memaki-maki keras saat mereka mengejar Tatsumi yang mereka pikir kalau dia masuk lebih jauh ke dalam gang.

“Apa-apaan tadi…?”

Sambil melihat para penjahat yang berlari dan memaki dari atas, Tatsumi mulai merenung.

Tatsumi saat ini sedang berada di atap salah satu bangunan yang ada di samping gang. Tubuhnya setengah terkubur salju karena berbaring di atas atap dan mengintip dari kepalanya ke para penjahat tadi.

Setelah berlari ke dalam gang, Tatsumi segera berpindah ke langit. Lalu saat ada atap yang bisa digunakan untuk bersembunyi, dia berpindah lagi ke atap itu. Kemudian dia membaur dengan salju dan mulai mengamati mereka.

Alasan kenapa dia berpindah dua kali karena di gang itu dia tidak bisa melihat bagian atas atap bangunan.

Tentu, Tatsumi tidak mau terlibat masalah dengan penjahat seperti mereka.

Jadi apa mereka mengincar Tatsumi hanya untuk memeras uang darinya?

Tidak, mereka bahkan tahu wajah dan namanya. Berarti mereka sengaja mengincarnya.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi sih, tapi, aku harus sedikit lebih berhati-hati untuk saat ini. Lebih baik aku memberitahu ini pada Chiiko sama Tuan Giuseppe juga.”

Tatsumi bersembunyi di atap selama beberapa menit untuk berjaga-jaga kalau siapa tau mereka kembali. Tapi pada akhirnya mereka tidak kembali.

“…Pulang aja ah. Dan di luar juga dingin banget…”

Sambil mengigil kedinginan sedikit, Tatsumi berdiri dan mengebaskan bajunya agar saljunya turun.

Menjadi lebih berhati-hati, Tatsumi mulai berjalan pulang dengan berpindah-pindah dari satu atap ke atap lainnya.

***

Di waktu yang sama, saat Tatsumi sedang melewati ini di tempat lain,

Uskup Agung dari bait suci Savaiv bertemu dengan seseorang.

“Sudah lama tidak berjumpa. Aku sudah dengar dari Calsey tentang kesehatanmu. Apa kamu baik-baik aja sekarang?”

Ruangan itu menjadi hangat ketika kayu bakar di perapian terbakar. Giuseppe datang ke sini untuk bertemu dengan seorang teman lama.

“Ya. Berkat sihir anak itu, aku jadi bisa melihat wajah tuamu sekali lagi.”

“Apa yang sebenarnya kau bicarakan? bukannya kita berdua sudah tua dan jompo?”

“Ufufu. Yah, kurasa itu benar.”

Meski mereka saling menghina satu sama lain, keduanya tampak bahagia.

Itu bukti seberapa dalam persahabatan antara mereka berdua, sampai-sampai mereka bisa dengan tentang saling mengejek seperti ini.

“Begitu ya? Lalu kenapa kamu kesini? Jangan bilang kalau kamu cuma datang untuk mengecek kesehatanku aja ya, kan?”

“Tentu Tidak, Eleesha. Aku datang hari ini karena mau menanyakan kamu sesuatu…. akhir akhir ini kau mengendus-endus di sekitar, kan?”

Mata Giuseppe yang tadinya tenang tiba-tiba menjadi serius. Sehingga membuat ekspresi Eleesha juga ikut berubah Seketika.

“Astaga, Kamu sangat cepat menyadarinya ya.”

“Yah, Aku punya beberapa orang yang menjadi mata dan telingaku juga. Nah, apa tujuanmu?”

“Bukannya sudah jelas? Bagiku, Calsey juga sama seperti cucuku. Dan aku cuma ingin mau tahu seperti apa orang yang menjadi pasangannya, itu saja… Akan aneh nanti kalau aku yang salah?”

“Fumu… begitu ya? di matamu, seperti apa menantu… seperti apa Tatsumi bagimu?”

“Yah… Menurut bawahan yang ku percayai, dia terlihat seperti orang yang tekun dan bisa kau percayai, tapi… Dia terlalu tekun. Jadi malah membuatku merasa sedikit curiga.”

Semua laporan yang didapatkan Eleesha terkait Tatsumi hanya berisi tentang Tatsumi yang berkarakter sopan dan jujur.

Dia pergi ke bait suci di pagi hari, dan setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia langsung pulang ke rumah.

Dia agak mudah dipercaya dan terlalu sopan sebagai laki-laki seusianya. Jadi keraguan Eleesha apakah semua ini benar atau salah.

Mendengar itu dari Eleesha, Giuseppe langsung tertawa terbahak-bahak seperti anak kecil yang mendengar lelucon paling lucu di dunia.

“Hohohohoho!! Apa yang kau khawatirkan soal itu!? Tidak tidak, kau rubah tua ga benar benar berpikiran seperti orang normal kan?”

“Astaga, sedangkan aku merasa aneh kenapa musang tua sepertimu tidak menganggap ini aneh?”

Dia bertanya begitu dengan ekspresi cemberut, mungkin karena dia merasa sedikit tersinggung setelah di tertawakan terang-terangan seperti itu.

“inilah apa yang mereka sebut kesenjangan dalam pikiran.”

“Kesenjangan dalam… pikiran?”

Giuseppe yang akhirnya berhenti tertawa, mengangguk sedikit.

“Ya begitu. Kau tahu asal Tatsumi kan? Calsey seharusnya sudah memberitahumu.”

Eleesha mengangguk saat ditanyai oleh Giuseppe. Dia tahu kalau Tatsumi dipanggil dari dunia lain.

“Dunia Tatsumi terdahulu… Nihon kan? Tatsumi disana masih dianggap sebagai anak muda, bukan orang dewasa.”

“Tunggu. T-Tunggu sebentar! Kalau tidak salah, bukannya anak yang disebut Tatsumi sudah 16 tahun usianya? Dan kau bilang masih belum dewasa…?”

“Itulah kenapa sebelumnya aku bilang, Kesenjangan dalam pikiran.”

“Jadi maksudmu adalah meski kita berpikir kalau Tatsumi itu sudah dewasa, tapi dia sendiri masih menganggap dirinya masih anak muda?”

“… … Sebaliknya, dia masih tidak bisa melepaskan adatnya dari dunia asalnya. Dari apa yang sudah kudengar darinya, di negara asal Tatsumi, barang seperti anggur, rokok, judi, dan sejenisnya dilarang oleh hukum negara jika masih dibawah umur. Tentu, ada beberapa anak muda yang masih dibawah umur yang nekat melanggar peraturan ini, tapi jumlah mereka sangat kecil. Jadi kebanyakan orang yang seumuran dengan tatsumi menjalani rutinitas nya dengan normal sama sepertinya.”

“… Jadi apa yang kita lihat adalah gaya hidupnya yang terlalu giat, karena dia hanya menghabiskan waktunya dengan rutinitas yang normal…?”

“Setiap negara mempunyai gaya hidup yang berbeda. Dan apalagi ini dunia yang berbeda. Jadi wajar saja jika tak perlu terlalu di pikirkan.”

Eleesha menutup matanya sejenak, seolah mencoba memahami apa yang dikatakan Giuseppe, dan membuka matanya lagi.

“… … Maksudmu aku terlalu berlebihan memikirkannya…?”

Eleesha berkata perlahan, kata demi kata. Mendengar itu, Giuseppe tersenyum puas.

“Aku senang kau peduli dengan Calsey. Tapi kenapa tidak kali ini mencoba mempercayai gadis itu? Dan jika masih tidak bisa mempercayai Tatsumi, kenapa tidak mencoba untuk bertemu dengannya langsung? Aku yakin nanti kau akan bisa memahami anak macam apa dia.”

“Ya… Sejak awal sepertinya aku masih punya kebiasaan melihat sesuatu dari keburukan…”

Eleesha berkata dengan senyum kecut, sedangkan Giuseppe tertawa terbahak-bahak.

“Mengesampingkan itu. Bangsawan adalah orang-orang yang suka menggunakan bawahannya terlebih dahulu, mengambil tindakan sendiri jika situasinya menjadi buruk. Dan selain itu, Kau juga terbiasa berurusan dengan bangsawan licik lainnya. Jadi wajar saja jika sudut pandangmu menjadi seperti itu.”

“Yah benar, caraku menilai seseorang tergantung pada perilakunya, bagiku hal ini telah berlangsung lama. Kurasa aku sudah menjadi tua dan jompo.”

“Apa? Tidak usah merasa begitu sedih. Ketika sedang berlawanan dengan orang-orang yang berkarakter buruk, kalau kau tidak berhati-hati maka pada saat-saat terakhir kau tidak akan bisa menyadari apa pun, kan?”

Seolah terpikat oleh senyum bahagia Giuseppe, Eleesha juga ikut tersenyum gembira.

Tapi tak lama setelah itu, ekspresinya berubah menjadi serius lagi.

“Berbicara tentang orang-orang yang berkarakter buruk… Sepertinya ada orang lain yang mengintai anak itu akhir-akhir ini.”

“Oh? Aku belum mendengarnya, siapa itu?”

“Pewaris Keluarga Gargadon… kau pasti mengerti kan?”

“Ah, bocah bodoh yang tidak ingin ada garis keturunan selain dirinya ya? Dia masih mengejar Calsey rupanya…”

Giuseppe sendiri baru sadar yang disebut Lalaic Gargadon, jadi dia memasang wajah puas.

“Aku kenal baik dirimu, kalau kau sudah pernah melakukan sesuatu, kan?”

“Ya, Aku mencari tahu tentang anak yang bernama Tatsumi itu, apa dia memang benar-benar tipe orang yang Calsey katakan padanya… Aku sedang berpikir untuk menggunakan Lalaic untuk mencari tahu itu.”

“Umu. Kalau begini, maka sepertinya aku harus menghukum serigara serakah yang bodoh ini. Aku merasa tidak enak membohongi menantu, tapi kalau itu untuk menghentikan hal-hal yang membuat Calsey tidak bahagia, ku yakin dia juga akan setuju. Fumu, aku akan ikut serta dalam sandiwara ini juga, ok?”

Melihat Giuseppe yang sedang tersenyum seperti anak kecil yang persediaan lelucunnya naik sebesar 1, Eleesha sendiri juga ikut tersenyum dengan tatapan yang penuh arti.

***

Setelah berpindah-pindah untuk beberapa saat, Tatsumi akhirnya sampai di rumahnya.

Setelah membuka kunci pintu dengan Magic Key dan kata sandi, dia masuk ke dalam rumah.

Ada api yang terbakar di perapian membuat rumah itu menjadi hangat.

Sambil menghirup udara yang hangan dan nyaman, Tatsumi melepas pakaian luarnya dan memasuki ruang tamu. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang menyerangnya dari belakang.

—Apa ini Penyergapan!?

Sambil memikirkan para laki-laki sebelumnya, wajah Tatsumi menjadi serius saat dia segera melihat ke belakang di atas pundaknya.

Tapi apa yang dilihatnya adalah rambut perak yang tak asing dan ahoge yang bergoyang kiri dan kanan.

“Eh… Chiiko…?”

“Ya, ini aku! Ufufufu, apa kamu terkejut?”

Memeluk Tatsumi dari belakang, Calcedonia tersenyum manis.

Sepertinya dia ingin mengejutkan Tatsumi, jadi setelah ia masuk ke ruangan, lalu melompat keluar dari belakang pintu dan memeluknya.  Dia pastinya sudah merasakan fluktuasi sihir saat Tatsumi berpindah di luar rumah.

“…? Apa ada masalah?”

Tapi saat melihat ekspresi Tatsumi, dia memiringkan kepalanya karena bingung.

Berpikir dengan tenang, hampir tidak mungkin bagi seseorang untuk melakukan penyergapan di sini pada Tatsumi selain Calcedonia.

Semua kunci pintu rumah ini adalah Magic Lock, dan mereka punya kata sandi untuk membukanya. Pencuri biasa tidak akan bisa membukanya. Dan kata sandinya sendiri juga bahasa Jepang, jadi selain Tatsumi dan Calcedonia yang bisa berbahasa jepang, tidak mungkin orang yang tidak tahu bahasa jepang bisa membuka kuncinya.

Mengingat itu, Tatsumi menjadi lega.

Dan melihat Calcedonia yang memandangnya karena bingung, dia lalu menceritakan tentang apa yang terjadi saat perjalanan pulang.

“… Astaga! Jadi ada orang yang menargetkan master…?”

“… Kupikir gitu, tapi aku tidak pernah melakukan sesuatu yang bikin aku dijadiin target sama orang lain…”

Tatsumi memang punya teman dan kenalan di dunia ini tapi jumlahnya sangat sedikit dan apalagi ia tidak ingat melakukan sesuatu yang membuat orang lain dendam padanya.

Tidak tunggu, kalau ada… maka hanya ada satu kemungkinan.

“… … Apa mungkin orang-orang itu penggemarnya Chiiko?”

Bukan rahasia lagi kalau Tatsumi tinggal bersama dengan Calcedonia.
TL Note: Ingat rumornya di chapter sebelumnya ok?

Kalau begitu, jadi para preman yang mencegatnya hari ini sebenarnya adalah penggemarnya <<Holy Maiden>> maka tidak aneh kalau mereka ingin menghajarnya.

“Yah… Tapi kalau itu masalahnya, lalu apa yang harus aku lakukan mulai sekarang…? Yah, kalau ini masih terjadi terus-menerus bisa membuatku kehilangan keyakinan.”

Karena atribut sihir yang dipunyai Tatsumi, sangat sulit untuk menahan atau menangkapnya. Yah, kalau ada yang bisa memaksa Tatsumi ke suatu area yang tidak mempunyai mana, dan menempatkan dia ke dalam ruangan yang sangat kokoh serta tanpa pintu dan jendela maka itu mungkin berhasil.

“Aku akan memberi tahu kakek tentang ini besok. Bukan—”

Calcedonia menggengam tangan Tatsumi dan menariknya ke dekat perapian.

“Tubuh Master sangat dingin.”

“Yah… Aku tadi berbaring di salju sebentar.”

“Kamu nanti masuk angin, tau, kalau tidak segera menghangatkan tubuhmu! … Eii!!!”

“Whoa!?”

Calcedonia memeluk Tatsumi lagi dari belakang saat dia sedang duduk menghangatkan tubuhnya di depan perapian.

“… Jadi… Apa aku sangat hangat…?”

“I-Iya… itu hangat… Makasih Chiiko.”

Muka Tatsumi memerah dan matanya berpaling ke arah berlawanan karena salah tingkah. Tapi Calcedonia hanya tertawa kecil sambil memeluknya dari belakang. Selagi tertawa kecil, dia mendekatkan wajahnya ke pundak Tatsumi dan mulai mengusap pipinya yang hangat ke pipi Tatsumi yang dingin.

Jadi untuk sementara melupakan sejenak tentang bayangan yang mengejar menuju mereka, yang artinya keduanya kembali ke interaksi bahagia sehari-hari mereka.


*Nihon: Jepang, pasti tau kan ya wkwkwk.
*Magic Key dan Magic Lock sengaja saya buat inggris karena artinya sama dan belum menentukan arti yang pas untuk keduanya.
*Kalau ada arti yang belum pas bagi kamu, boleh aja kok untuk kasih saran di komentar.

*Yang dimaksud Ahoge adalah:

tags: baca novel My Pet Is a Holy Maiden Bahasa Indonesia, web novel My Pet Is a Holy Maiden Bahasa Indonesia, light novel My Pet Is a Holy Maiden Bahasa Indonesia, novel My Pet Is a Holy Maiden Bahasa Indonesia, baca My Pet Is a Holy Maiden Bahasa Indonesia 32, My Pet Is a Holy Maiden Bahasa Indonesia 32 manga, My Pet Is a Holy Maiden Bahasa Indonesia 32 online, My Pet Is a Holy Maiden Bahasa Indonesia 32 bab, My Pet Is a Holy Maiden Bahasa Indonesia 32 chapter, My Pet Is a Holy Maiden Bahasa Indonesia 32 high quality, My Pet Is a Holy Maiden Bahasa Indonesia 32 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!