Kusuriya no Hitorigoto Chapter 2

Dibaca 606 orang
Font Size :
Table of Content

Kami Resmi Tutup! Bagi yang ingin mengurus FT ini silahkan baca selengkapnya di postingan FacebookPengumuman Terakhir

Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia

Chapter 2: Dua Permaisuri

Penerjemah: serpentes
Penyunting: AutoCorrect

“Ahh, jadi begitu toh.”

“Ya, itu kata dokter yang masuk tadi.”

Maomao mengangkat kupingnya saat menyeruput sup yang sedang dia makan. Beberapa ratus pelayan yang sedang sarapan di ruang makan yang luas ini. Menu mereka adalah sup dan bubur sereal.

Para pelayan duduk di sebrang sampingnya sedang menggosip. Raut wajahnya memelas, tetapi matanya penuh rasa penasaran.

“Jadi Gyokuyou-sama dan Rifa-sama juga begitu.”

“Wah, jadi mereka juga. Tetapi tetap saja, mereka baru bekerja setahun tiga bulan kan?”

“Yap tepat sekali, pasti ini gara-gara kutukan.”

Nama yang baru saja mereka sebut adalah permaisuri kesukaan kaisar. Setahun tiga bulan adalah waltu saat mereka berdua melahirkan bayi hasil hubungan mereka dengan kaisar.

Banyak rumor yang bermunculan dari dalam istana. Yang jadi korban adalah para perempuan istana yang menjadi permaisuri kaisar dan keturunannya karena reputasi mereka buruk akibat prasagka buruk kepada mereka, bahkan banyak dari isu tersebut yang sebetulnya hanya omong kosong semata.

“Kupikir begitu. Jika tidak, maka tidak ada alasan lain bagaimana mereka bertiga juga ikut wafat.”

Yang baru saja wafat adalah anak-anak yang dilahirkan para permaisuri; kalau boleh dibilang me     reka tidak diakui dan terhitung anak haram yang tidak akan menjadi penerus tahta. Ada pula anak kaisar yang wafat saat kaisar masih menjadi putra mahkota, dan ditambah baru-baru ini menjadi ada lagi, sehingga sudah dua anak kaisar yang wafat. Semuanya wafat saat masih bayi, walaupun wajar angka kematian bayi itu besar, tetapi apabila dikaitkan fakta bahwa ketiganya adalah anak dari seorang yang penting di kerajaan maka agak aneh kalau dipikir-pikir.

Sekarang ini hanya anak dari pelayang bernama Gyokuyou dan Rifa yang masih hidup.

(Mungkinkah mereka mati karena diracun?)

Maomao menarik kesimpulan yang berbeda dari pelayan lain, sembari dia memegang segelas air panas.

Dua diantarnya adalah putri kaisar. Kalau hanya anak laki-laki yang punya hak meneruskan tahta maka tidak ada alasan bagi seseorang yang jahat untuk membunuh seorang putri.

Dua pelayan yang duduk di sebrang Maomao tetap melanjutkan percakapan mengenai kutukan dan malapetakan tanpa memperhatikan apa yang Maomao katakan.

(Kutukan itu tidak ada.)

Absurd, begitulah yang dipikirkan Maomao. Menurut Maomao cara menghabisi keluarga kerajaan dengan kutukan adalah hal bodoh, tentu ada dasar mengapa Maomao berpikir demikian.

(Penyakit apa yang menyerang mereka? Mungkinkah karena genetik? Bagaimana mereka wafat?)

Pelayan pendiam ini akhirnya mulai mencoba bicara dengan mereka yang lebih pandai bersilat lidah.

Kemudian Maomao pun menyesal karena harus ikut berpikir keras karena rasa penasarannya.

“Aku kurang tahu rincinya, tetapi katanya kesehatan mereka melemah secara perlahan.”

Pelayan yang senang berbicara, Shaoran yang baru saja berbicara kepada Maomao mulai tertarik dengan yang Maomao paparkan. Setelah itu melanjutkan tentang rumor lain yang beredar.

“Aku yakin kondisi yang diderita anak Rifa-sama lebih parah karena dokter lebih sering mengunjungi kamarnya.”

Dia melanjutkan percakapan sambil membersihkan kusen jendela dengan kain lap.

“Bagaimana dengan Rifa-sama sendiri?”

“Ya, ibu dan anaknya sama-sama parah.”

Fakta bahwa Permaisuri Rifa lebih sering di kunjungi Dokter menandakan bahwa putra mahkota memiliki penyakit yang lebih parah, sedangkan anak permaisuri Gyokuyou adalah seorang putri.

Perasaan kaisar lebih dalam untuk permaisuri Gyokuyou, tetapi jelas anak mana yang lebih penting untuk kaisar.

“Walau aku sendiri kurang tau jelas gejalanya, tapi kudengar gejalanya seperti sakit kepala, sakit perut dan mual.”

Shaoran kemudian melanjutkan pekerjaanya, nampaknya bersemangat sambil membeberkan segala yang ia ketahui.

Maomao memberinya teh dengan kayu manis sebagai tada terimakasih. Kayu manis tersebut diambil dari tanamanan yang ditumbuhkan di pojok halaman istana. Selain berkhasiat dalam kesehatan kayu manis juga memiliki rasa yang sangat manis. Pelayan yang jarang diberikan makanan manis tentu senang dengan sajian ini.

(Sakit kepala, sakit perut dan mual…)

Sambil mengingat-ingat gejalanya, dia tidak bisa menarik kesimpulan apapun.

Kamu tidak bisa menarik kesimpulan hanya dari spekulasi semata, begitu kata-kata dari ayahnya.

(Aku akan coba melihat-lihat kesana)

Maomao menyelesaikan pekerjaanya dengan cepat.

Luas dalam istana, kalau digabungkan dengan bangunan-bangunannya amatlah besar. Biasanya ada sekitar dua ribu perempuan istana dan lima ratus kasim yang tinggal disana.

Pelayan seperti Maomao hanya diberi ruang besar yang harus ditempati sepuluh orang, permaisuri tingkat rendah pun diberikan kamarnya masing masing, permaisuri tingkat menengah  mendapatkan bangunan khusus dan permaisuri tingkat tinggi diberikan istana yang ukurannya lebih luas dari kampung lengkap dengan ruang makan dan taman yang luas.

Maomao tidak diperbolehkan meninggalkan kamarnya yang berada di sisi timur istana. Dia tidak diberikan waktu luang dan hanya boleh keluar dari kamarnya saat diperintahkan bekerja.

(Kalau aku tidak diberikan tugas, aku akan coba mencari kesibukan lain.)

Maomao berbicara kepada perempuan istana yang sedang memegang keranjang. Isi dari keranjangnya adalah sutra berkualitas tinggi yang harus dibasuh di dalam kolam di sisi barat istana. Bila tidak, maka sutranya dapat rusak karena buruknya kualitas air di sisi barat atau ketidakmampuan orang yang mencuci.

Walaupun Maomao tahu apabila sutra dijemur di tempat teduh dapat merusak kain sutra, dia pikir tidak perlu ia beritahu.

“Aku ingin melihat kasim yang sangat tampan di sisi tengah istana.”

Setelah tidak sengaja mendengar apa yang baru saja diucapkan Shaoran, Maomao bergegas menutup perbincangan dengan bahasan lain.

Disini saat hasrat romansa sangat langka, nampaknya bahkan kasim istana dapat dijadikan penyemangat. Saat perempuan istana mengundurkan diri, kadang kala ada dari mereka yang menjadi istri kasim. Apakah para kasim terseut masih memiliki hasrat terpendam terhadap wanita masih sesuatu yang masih menimbulkan tanda tanya.

(Bagaimana kalau aku juga seperti itu nantinya?)

Maomao mengerang dan menekuk lengannya saat bertanya hal tersebut.

Setelah dengan cepat mengantarkan keranjang cucian, dia melihat ke bangunan merah di tengah istana. Tempat yang megah, lebih indah dari bangunan di timur.

Untuk sekarang ini, ibunda putra mahkota, permaisuri Rifa, tinggal di ruangan terbesar di dalam istana. Walaupun kaisar saat ini tidak memiliki istri, dapat dibilang karena Permaisuri Rifa memiliki seorang anak laki-laki pewaris tahta maka dapat dikatakan dialah orang yang memiliki pengaruh kuat di istana.

Didalam tempat seperti ini, baru saja dia melihat pemandangan baknya pemandangan di kota.

Ada perempuan yang sedang marah-marah, ada perempuan yang sedang menundukan kepalanya karena malu, ada pula lelaki yang menjadi penengah.

(Tidak jauh berbeda dari hotel melati .)

Maomao ikut menyaksikan bersama para penonton lain tanpa berpikir macam-macam.

Perempuan yang sedang marah-marah adalah wanita yang paling berperngaruh dalam istana. Yang sedang menunduk adalah yang paling berpengaruh kedua. Yang sedang bingung adalah pelayan mereka. Dan yang lelaki menenangkan mereka adalah dokter yang juga sudah dikebiri. Itu yang Maomao dengar dari bisikan di sekitarnya.

“Ini pasti perbuatanmu. Hanya karena anakmu seorang perempuan kamu mengutuk anak laki-lakiku supaya mati, iya kan!”

Parasnya yang canting tertutup sesuatu yang menakutkan. Pandangannya yang marah seperti iblis, dan kulitnya yang putih, membuatnya nampak seperti hantu, didepannya wanita cantik yang wajahnya ditutupi oleh tangannya.

“Kau tahu kan, itu mustahil. Shaorin juga sakit seperti itu,”

Wanita berambut merah bermata hijau jade membalas dengan pandangan yang dingin. Permaisuri Gyoukuyou dengan wajahnya yang seperti orang eropa melihat kearah dokter.

“Seperti yang kamu katakan, kalau begitu aku juga ingin melihat kondisi kesehatan putrimu.”

Walaupun dokter berperan sebagai penengah, nampaknya akar amarahnya adalah dia sendiri.

Dokter baru saja melihat putra mahkota; nampaknya dia diprotes oleh permaisuri Gyoukuyou karena dokter kurang memperhatikan kesehatan putrinya dibandingkan putra mahkota.

Maomao tidak mengerti jalan pikiran seorang ibu, tetapi jelas anak laki-laki lebih didahulukan kepentingannya di dalam istana.

Mempertimbangkan apa yang dikatakan dokter barusan, dia melihat  wajah yang dokter yang sebeneranya ingin mengatakan menganggap putrinya tidak penting.

(Bodoh sekali dia, dasar dukun.)

Karena dia tidak sadar bahwa yang dia rawat adalah anak permaisuri kaisar. Tidak, sepertinya dari awal memang dia begitu peduli?

Kematian bayi. Sakit kepala. Sakit perut. Mual. Dan putihnya kulit permaisuri Rifa yang sedang marah-marah.

Maomao meninggalkan tempat yang rusuh itu sambil bergumam.

Sambil berpikir.

(Apa yang bisa kugunakan untuk menulis?)

Pada akhirnya dia tidak sadar ada seseorang yang baru saja melewatinya.

Tempat orang menyewa PSK

tags: baca novel Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia, web novel Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia, light novel Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia, novel Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia, baca Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 2, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 2 manga, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 2 online, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 2 bab, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 2 chapter, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 2 high quality, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 2 manga scan, ,
Table of Content

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of