Kusuriya no Hitorigoto Chapter 3

Dibaca 565 orang
Font Size :
Table of Content

Kami Resmi Tutup! Bagi yang ingin mengurus FT ini silahkan baca selengkapnya di postingan FacebookPengumuman Terakhir

Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia

Chapter 3: Jishin

Penerjemah: serpentes
Penyunting: AutoCorrect

“Ah, sepertinya kejadian lagi.”

Wajah tampan Jinshi menampakan kesedihannya. Wajahnya memiliki rupa bak perempuan, matanya berwarna coklat. Rambutnya ditutupi kain sutra sedang belakangnya dibiarkan jatuh kebawah.

Tidak pantas bagi bunga istana untuk membuat keributan di tempat seperti ini. Menertibkan mereka adalah salah satu pekerjaanya.

Saat dia di tengah-tengah kerumunan yang sedang bubar, hanya ada satu orang lewat pergi tanpa sadar keberadaanya.

Dia adalah seorang pelayan bertubuh pendek yang hidung hingga pipinya ditutupi jerawat. Tubuhnya yang kecil membekaskan kesan kalau dia sedang asik sendiri walaupun ada Jishi.

Jishi tidak mengira kalau dia bermaksud bersikap cuek.

Buah bibir tentang meninggalnya putra mahkota sudah beredar walau kejadiannya belum genap sebulan.

Permaisuri Rifa yang sekarang sedang menangis tampak lebih kurus dari beberapa hari yang lalu. Sudah tidak ada buah dada yang biasanya terlihat. Mungkinkah karena dia terjangkit penyakit yang sama dengan anaknya, atau apakah karena dia sakit keras?

Mungkin saja permaisuri Rifa sudah tidak dapat melahirkan keturunan lagi.

Kakak perempuan dari putra mahkota yang lain ibu, Princess Rinri kesehatannya agak mendingan setelah kritis selama satu jam. Bersama ibunya mereka mencoba menghibur kaisar yang baru saja kehilangan putra mahkota.

Dengan kunjungan kaisar yang makin sering, kelahiran anak berikutnya mungkin tidak akan lama lagi.

Princess dan putra mahkota menderita penyakit yang sama. Yang satu sembuh, satunya tidak.

Umur mereka memang berbeda, tetapi selisih tiga bulan seharusnya tidak terlalu berarti bagi anak-anak.

Akan tetapi, bagaimana dengan permaisuri Rifa?

Apabila princess bisa sembuh maka seharusnya permaisuri Rifa juga ikut sembuh, atau mungkin dia terkena shock atas kematian anaknya.

Saat Jinshi memeriksa dokumen dan distempel, pikirannya berputar keras, memikirkan hal-hal yang belakangan terjadi.

Apabila ada yang aneh, tentu yang aneh adalah permaisuri Gyokuyou.

“Aku pergi sebentar.”

Setelah selesai dengan dokumen terakhir, Jinshi meninggalkan ruangan.

Pipi princess seperti bakpau panas yang tersenyum polos layaknya seorang bayi. Tangannya yang kecil mengepalkan tangannya kemudian menggenggam jari telunjuk Jinshi.

There there, ayo kesini.”

Perempuan cantik berrambut merah dengan lembut menggendong bayinya dan menimangnya di dalam keranjang.

Sang bayi bergerak dalam selimut hangat dan menceloteh dengan bahagia saat melihat pengunjung yang datang.

“Apa ada sesuatu yang mau kamu katakan?”

Nampaknya permaisuri Gyokuyou sudah tahu maksud kedatangan Jinshi.

“Bagaimana princess bis sembuh?”

Sebuah pertanyaan yang mengejutkan, permaisuri Gyokuyou tertawa kecil, kemudian mengambil secarik kain dari dadanya.

Di secarik kain yang dirobek tanpa gunting permaisuri Gyokuyou menulis sesuatu. Tintanya terserap ke kain sehingga tulisannya terlihat agak blur dan tidak jelas.

“Bedak mukanya beracun. Jangan sampai tersentuh bayi.”

Apakah dia sengaja menulis berantakan seperti ini?

Jinshi mengangkat kepalanya.

“Jadi karena bedak?”

“Tepat sekali.”

Permaisuri Gyokuyou memindahkan gendongan princess kepada suster ASI dan mengambil sesuatu dari lemari.

Sebuah wadah keramik yang ditutupi kain. Saat dia membuka tutupnya serbuk putih berterbangan.

“Ini bedaknya?”

“Iya, ini bedaknya.”

Jinshi menjepitkan tangannya ke serbuk putih tersebut sambil membayangkan apa isinya. Kalau dipikir-pikir permaisuri Gyokuyou yang wajahnya sudah cantik tidak menggunakan bedak tersebut. Sedangkan permaisuri Rifa memakai bedak dengan tebal untuk menutupi keriputnya.

Princess itu rakus orangnya. Meminum susuku saja tidak cukup membuat dia kenyang. Maka aku juga memberikan susu dari suster ASI apabila punyaku tidak cukup.”

Permaisuri Gyokuyou mempekerjakan suster ASI yang kehilangan bayinya saat lahir.

“Ini yang digunakan oleh suster ASI, dia suka karena warnanya lebih putih dari bedak yang lain.”

“Bagaimana keadaan susternya?”

“Dia libur sementar karena sakit. Aku berencana memberikan uang pensiun yang cukup.”

Kata-kata itu diucapkan oleh permaisuri yang cerdas dan sangat baik.

Bagaimana kalau ada racun di dalam bedaknya?

Apabila dipakai oleh ibu hamil, anaknya juga bisa ikut terkena racun. Bahkan saat lahir sang bayi juga bisa terkena saat menyusu.

Jishi dan permaisuri Gyokuyou tidak tahu racun apa itu. Yang mereka tahu bahwa racun ini telah membunuh putra mahkota.

“Kebodohan adalah dosa. Kita harus lebih berhati-hati atas apa yang masuk ke mulut anak-anak.”

“Aku setuju dengan itu.”

Hasilnya empat anak kaisar telah mati. Apabila dihitung dengan yang terkena saat masih di kandungan maka lebih banyak lagi korbannya.

“Aku mau memberitahukan ini ke permaisuri Riga juga, tapi kupikir apapun yang kukatan dapat menjadi bumerang bagi diriku sendiri.”

Permaisuri Rifa memoles keriput di wajahnya dengan bedak sampai sekarang. Tanpa tahu bawa itu sebenarnya racun.

Jinshi melihat secarik kain yang kotor belum dibersihkan. Dia merasa pernah melihat benda ini sebelumnya.

Disitu juga tertulis tulisan tidak jelas yang sepertinya sengaja untuk menyembunyikan tulisan aslinya. Tetapi, siapa yang menulis ini?

“Siapa yang menulis ini?”

“Itu kutemukan saat dokter memeriksa anakku. Lagipula ini kutemukan di jendela setelah kejadian ribut-ribut itu, sebelumnya terikat di ranting semak azalea.”

Jadi, apakah mereka sadar akan hal ini setelah keributan itu dan mau meninggalkan beberapa saran peringatan?

Sebenarnya siapa sih pelakunya?

“Dokter istana tidak akan melakukan hal semenyimpang itu.”

“Benar sekali, sepetinya dokter itu tidak tahu bagaimana cara merawat putra mahkota.”

Keributan saat itu.

Dia mengingat ada pelayan yang cuek dari kerumunan penonton.

Apa yang sebenarnya dia bergumam tentang apa?

Apa yang dia katakan?

‘Apa yang bisa kutulis?’

Tiba-tiba Jishin mulai tersadar apa yang sebenarnya terjadi.

Dia kemudian tersenyum sangat lebar dengan dengan kikihan jahat.

“Permaisuri Gyokuyou. Apabila kita menemukan siapa yang menulis itu, apa yang akan kita lakukan?”

“Tentu saja aku akan berterima kasih karena telah berbaik hati.”

“Aku mengerti, tolong tunggu sebentar.”

“Aku menunggu kabar baik darimu.”

Jinshi mengingat-mengingat secari kertas yang ditulis dengan perasaan.

“Kalau itu yang diinginkan permaisuri favorit kaisar, aku pasti akan menmukannya.”

Senyuman itu kemudian dihiasi dengan semangat perburuan harta karun.

tags: baca novel Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia, web novel Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia, light novel Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia, novel Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia, baca Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 3, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 3 manga, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 3 online, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 3 bab, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 3 chapter, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 3 high quality, Kusuriya no Hitorigoto Bahasa Indonesia 3 manga scan, ,
Table of Content

Leave a Reply

  Subscribe  
Notify of