Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Chapter 1 Part 1 Bahasa Indonesia

Dibaca 447 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia

Penerjemah: R24
Penyunting: –
Korektor: Saito


Chapter 1 Part 1 – Pedang Iblis Putih

Di dunia ini, monster yang melampaui batas imajinasi manusia bebas hidup berkeliaran.

Dari kerangka-kerangka prajurit raksasa yang terselimuti api ke burung-burung yang luar biasa besarnya yang bersarang di atas awan petir sampai pada tentara Raja Iblis yang keji dan terkutuk.

Menghadapi musuh seperti itu, sudah hal yang wajar kalau manusia, yang kekurangan kemampuan individual akan giat berlatih, mengangkat senjata, dan membentuk kelompok untuk melawan balik.

Dan di kota benteng yang terisolasi, banyak jiwa-jiwa/sosok perintis tersebut berkumpul.(yg berinisiatif bikin kelompok bwt ngelawan balik) Pemukiman itu telah dipadati oleh para petualang muda yang ambisius, berharap untuk meningkatkan reputasi mereka, begitu juga dengan para pengrajin yang mencari keberuntungan dengan menjual senjata dan baju zirah ke mereka.

“Permisi? Saya datang untuk mendaftarkan diri sebagai Petualang.” (Kyle)

Seorang calon ksatria muda dari ksatria sihir masuk melalui pintu Guild Petualang, sebuah organisasi yang ditugaskan untuk mengurus kota terpencil ini dan daerah di sekitarnya.

Lelaki berambut coklat ini bernama Kyle. Demi membantu panti asuhan yang telah mengasuh dirinya sejak kecil, dia bertekad untuk mempelajari ilmu sihir dan seni berpedang. Satu-satunya persyaratan untuk bisa mendaftarkan diri sebagai petulang, pihak tersebut harus berumur dewasa… dan tepat hari ini ketika Kyle genap berumur 15 tahun, dia akhirnya memenuhi syarat.

“Baik, saya mengerti! Bolehkah saya meminta anda untuk menuliskan nama dan mengisi formulir pendaftaran?” (Resepsionis)

“Ba-baik!” (Kyle)

Menerima dokumen dari resepsionis, yang rambut kuning pucatnya diikat membentuk gumpalan di belakang kepalanya dan tersenyum ramah menjalankan tugasnya, dia mengisi berbagai bidang seperti nama, umur, pekerjaan, rekam jejak penyakit dan cidera, dan seterusnya.
“Selesai, saya akan mengembalikan formulirnya.” (Kyle)

“Sebuah lencana guild perunggu… bukan?” (Kyle)

Sebagai ganti dari dokumen tersebut, dia diberikan sebuah lencana perunggu berukirkan huruf “E” , nama dari cabang guild dia berada dan nomor serial sepuluh digit.
“Lencana ini merupakan bukti identitas anda sebagai Petualang Peringkat E. Tingkat E merupakan peringkat terendah dari petualang, yang ditujukan bagi para pemula dan mereka yang pertama kali melawan monster.” (Resepsionis)
Walaupun beberapa guild dengan pengoperasian berbeda mempunyai gaya dan kode mereka masing-masing, satu dari beberapa hal yang sama di antara mereka adalah sistem peringkat.
Peringkat tersebut dibagi menjadi 6 tingkatan yaitu peringkat S, A, B, C, D dan E. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan mengidentifikasi kemampuan dan skill dari seorang petualang secara sekilas.

“Meskipun anda akan diberitahukan mengenai hal ini jika anda telah mencapai peringkat tersebut, penting untuk dicatat bahwa petualang tingkat S yang membawa lencana emas dan petualang tingkat A yang membawa lencana perak diwajibkan untuk selalu menjawab permintaan darurat. Bisa dibilang, peringkat petualang tertinggi yang bebas sepenuhnya adalah mereka yang berperingkat B, yang membawa lencana tembaga.” (Resepsionis)

“Menarik… Saya selalu mengira bahwa para petualang hanya menerima permintaan secara sukarela, namun saya rasa itu tidak sepenuhnya benar, bukan?” (Kyle)

“Ya. Karena banyak monster yang menyebar luas di luar sana, mereka hanya akan membuat kerusakan tanpa henti jika mereka tidak ditangani oleh para petualang peringkat tinggi sebagai permintaan darurat.” (Resepsionis)

Resepsionis tersebut kemudian menoleh ke samping dan bergumam sesuatu dengan kecilnya.
“Ya… akhir-akhir ini telah ada beberapa petualang yang membuat kekacauan dengan mencoba mempermainkan sistem tersebut…” (Resepsionis bergumam kecil)

“Hmm? Apa kau mengatakan sesuatu?” (Kyle)

“Tidak? Saya tidak mengatakan apapun.” (Resepsionis menjawab dengan muka kaget)

“Hal lain yang perlu diingat… Jika terjadi suatu hal buruk di luar sana, lencana idenitifikasimu mungkin hanyalah satu-satunya cara untuk dapat mengidentifikasi dirimu, jadi mohon jaga lencana tersebut dengan baik.” (Resepsionis)

“…Ah!” (Kyle)

Kyle terpaku mendengar perkataan tersebut. Dia tidak terlalu memikirkannya sebelumnya, namun lencana yang ia pegang merupakan pengingat keras akan seberapa rumit pekerjaan petualang dan bahaya mematikan yang menanti di depan. Pada akhirnya, menjadi petualang berarti kau akan menjalani kehidupan yang dibayang-bayangi oleh kematian.
“Hal tersebut mengakhiri pendaftaranmu. Saya mendoakan kesuksesanmu, dan tidak sabar untuk menanti kabar baik darimu secepatnya.” (Resepsionis)

“Te-terima kasih banyak!” (Kyle)
“Jika anda ingin menjalani permintaan, silahkan ambil permintaan di papan yang sesuai dengan kemampuanmu dan melapor kembali ke meja resepsionis.” (Resepsionis)

Di papan permintaan yang memakan tempat yang besar di dinding, misi dari berbagai tingkat kesulitan dan kepentingan telah terpasang.

Sebagai seorang pemula, Kyle mencari permintaan yang mudah untuk diselesaikan.

Permintaan tersebut beragam-ragam, mulai dari mengambil tanaman herbal di gunung sampai ke pembasmian kecoa raksasa di gorong-gorong. Bahkan ada juga yang tidak biasa, seperti meminta sukarelawan untuk bergabung ke kemah Pelatihan Petualang Pemula sebagai pendamping di tahun baru, jenis pekerjaan seperti inilah yang cocok bagi para petualang baru.

“Hey, kau. Kalau tidak salah kau adalah pendatang baru, bukan?”
Ketika dia sedang berpikir untuk memilih misi yang akan diambil, terdengar suara seseorang yang berbicara dengan blak-blakan di belakangnya.” (Pria bertombak)

Membalikkan dirinya ke belakang, dia melihat lelaki pengguna tombak yang umurnya kurang lebih sama sepertinya. Di sampingnya terdapat gadis dengan gaun pendeta dan gadis manusa-hewan dengan busur di punggungnya.

Lencana perunggu tergantung di leher mereka bertiga, dan kelihatannya tidak ada satupun dari mereka yang telah menjadi petualang untuk waktu yang lama.
“Kami semua juga pendatang baru, kenapa tidak bekerja sama saja dengan kami? Kami juga baru saja akan mengambil permintaan.” (Pria Bertombak)
“Eh!? I-Itu akan sangat menolong… Tapi, permintaan apa yang kalian ambil?” (Kyle)
“Membunuh goblin. Bukankah itu pekerjaan yang wajar bagi para pemula seperti kita?” (Pria Bertombak)
Goblin diketahui sebagai makhluk terlemah yang setingkat dengan slime. Mereka mempunyai kepintaran dan kekuatan setara dengan anak kecil.

Akan tetapi, mereka terkenal cukup licik. Meskipun beberapa kali mereka hanya membuat masalah kecil seperti mencuri koin emas yang menarik perhatian mereka atau mengambil hasil panen, terkadang mereka juga terkenal suka menculik gadis belia.
Permintaan membunuh goblin merupakan misi yang paling umum terpasang di papan, dan seolah tiada pernah ada habis-habisnya.

Sudah cerita yang umum untuk melihat petualang pemula berulang kali mengambil permintaan membunuh goblin demi meningkatkan kemampuan dan pengalaman.

Dan bagi Kyle, cerita seperti itu cukup menarik perhatiannya.

“Oke, aku rasa aku akan ikut bergabung dengan kalian semua. Semenjak ini adalah pertama kalinya aku bertualang, sudah sebaiknya bagiku untuk pergi berkelompok, bukan?” (Kyle)

“Baiklah! Jika kau sudah siap, mari pergi secepatnya!” (Pria Bertombak)

Dengan ini akhirnya, kelompok seimbang akan pendatang baru pun terbentuk. Pengguna tombak melindungi di garis depan, pemanah dan pendeta di belakang, dan ksatria pengguna sihir berjaga di tengah.

Seimbang baik di peran maupun jenis kelamin, kelompok tersebut merupakan kelompok yang ideal tanpa harus menambahkan lagi jumlah personilnya.

“Uhh~, meskipun itu hanyalah goblin, pada akhirnya aku tetap saja merasa gugup.” (Pendeta)
“Tidak perlu khawatir, mereka hanyalah goblin. Aku bahkan pernah mengusir satu ketika aku masih kecil.” (Pemanah)
Meskipun si gadis pendeta terlihat sedikit cemas, si pemanah dan pengguna tombak terlihat bersemangat dan percaya diri.

Ya, mereka hanyalah monster lemah yang bahkan anak kecil dapat mengusirnya menggunakan ranting. Tanpa sedikitpun keraguan, mereka akhirnya berjalan menuju hutan dimana monster tersebut telah terlihat.

Goblin biasanya membangun markas mereka di reruntuhan atau goa, namun permintaan kali ini sepertinya menandakan bahwa para goblin telah tinggal di bekas benteng yang dulu pernah digunakan saat perang.

Membasmi Goblin di Bekas Benteng. Permintaan seperti ini benar-benar membeikan kesan seakan menjadi seorang petualang sejati. Namun kesan tersebut sirna di saat mereka mulai memasuki benteng.

“GAH!?” (Goblin)

Dengan suara benda tumpul, sesuatu menghantam kepala dari pemanah manusia-hewan, membuatnya jatuh bertekuk lutut.

“A-apa kau baik-baik saja!?” (Kyle)

“Dari mana serangan sialan itu berasal?” (Pria Bertobak)

Gadis yang berlutut tersebut pingsan dan terkapar ke tanah.
Kejadian tersebut terjadi begitu cepat. Sebuah penyergapan dari belakang. Seekor goblin di belakang gadis yang tak sadarkan diri itu tersenyum dengan jeleknya dan tertawa, megayunkan ketapel yang ia gunakan untuk menjatuhkan gadis itu dengan batu.

“G-Goblin!? Bagaimana bisa mereka di belakang kita!?” ( Pria Bertombak dengan muka kaget)

Seketika, Kyle berlari ke arah goblin tersebut dan menebas perutnya tak terjaga. Dengan isi perut dan tulangnya yang terlihat, akhirnya monster kecil itu tak bernyawa.

“Gya gya gya gya gya gyaaaa!” (Goblin)

“Góbút! Gooooooh!” (Goblin)

Sekumpulan goblin bermunculan dari segalah arah dan perlahan mengepung mereka. Pentungan, kapak batu, pedang berkarat, dan tombak usang. Memegang berbagai jenis senjata, mereka menyerang sekumpulan petualang itu.
“Sialan! Beraninya kau!!” (Pria Bertombak)
Yang pertama kali kehilangan kesabaran adalah si pengguna tombak, yang mengamuk melihat teman semasa kecilnya terluka.

Termakan amarahnya, dia berlari ke arah goblin, mengayunkan tombaknya dari satu sisi ke sisi lainnya untuk menikam perut mereka. Untungnya, tidak banyak puing di benteng tersebut dan ruangannya cukup luas sehingga ia bisa memutarkan tombaknya tanpa harus mengenai dinding ataupun langit-langit.

Kyle melindungi sisi belakang pengguna tombak, menebas goblin manapun yang mencoba menyelinap menyerangnya dan menggunakan sihir api untuk mengatasi goblin di kejauhan.
“Bertahanlah…! Aku akan segera memulihkanmu sekarang!” (Pendeta)

Dilindungi oleh mereka berdua, si pendeta membopong kepala si pemanah dan mulai menggunakan sihir penyembuhan. Meskipun dia masih belum sadarkan diri, Kyle tersenyum lega ketika melihat luka di kepalanya mulai pulih.
Lagipula, mereka hanyalah goblin. Sekali si manusia-hewan pemanah sadarkan diri, dia dan si gadis pendeta akan dapat membantu mereka dari belakang.

Dengan begitu, mereka seharusnya tidak kesulitan untuk menghabisi goblin yang tersisa. Kejadian yang tak terduga tersebut hanya akan jadi kenangan yang tidak menyenangkan, dan mereka akan melaporkan keberhasilan misi mereka ke guild.

Jika dia tidak salah menghitungnya, dia telah membunuh sepuluh goblin sendirian.

“GUOOOOOOOOOOOOOH!!”

“Apa-apaan-!?” (Semua)

Di antara ramainya pertarungan, terdengar sebuah auman keras yang tidak berasal dari goblin. Si pengguna tombakpun berteriak ketika suara layaknya pohon menghantam tanah berbunyi.

Di sana muncul seekor monster yang lebih besar dari banteng, dengan sisik yang meneylimuti dari ujung kepala ke ujung kaki dan taring yang besar. Monster tersebut hampir menyerupai buaya tanpa kaki belakang.
“Ke-kenapa…!? Bukankah seharusnya hanya ada goblin di sini!? Ke-kenapa bisa ada Naga di tempat seperti ini… KENAPA!?” (Pendeta)
Seekor naga. Monster yang terkenal dengan mitos dan legenda yang tak terhitung jumlahnya. Jenis naga di depan mereka merupakan jenis naga yang membuat sarang di bawah tanah.
Meskipun masih kecil, tetap saja itu merupakan anak dari monster tingkat tinggi. Petualang tingkat E seperti mereka tidak akan bisa melawannya.

“Ti-tidaaak! Mundur!!” (Pria Bertombak dengan suara panik)

Dan, teralihkan oleh naga tersebut, kedua petualang di depan itu akhirnya membuat celah mematikan dari formasi mereka.

Sekumpulan goblin berlari melewati mereka untuk menyerang kedua gadis di belakang. Kyle mulai mengucapkan mantra, namun ketika dia berpikir, ‘aku harus melindungi mereka yang di belakang, atau pengguna tombak yang di depan?’, dia akhirnya terdiam di tempat.

Dia merupakan seorang ksatria sihir yang harus selalu siaga di tengah. Itu merupakan profesi yang rumit dimana dia harus menjaga keseimbangan antara bertarung jarak dekat di depan dan melindungi yang di belakang dengan serangan sihir jarak jauh.

Jadi, ketika menghadapi situasi seperti sekarang, dia tidak dapat memutuskan apa yang harus dilakukan. Antara menolong pengguna tombak melawan naga tanah yang akan menghabisinya atau kedua gadis yang akan dikerumuni oleh goblin, keraguannya akan menjadi penyesalan yang menghantuinya seumur hidup.

“Gy… Gyaaaaah…!” (Goblin)
“Gah…! Berani-beraninya kau…! Ah…!?” (Pria Bertombak)
Dia seharusnya bisa menolong salah satu dari mereka. Namun kesempatan tersebut telah hilang. Leher si pengguna tombak sekarang berada di antara taring sang naga, dan si pendeta dan pemanah telah dihujani oleh senjata para goblin.

“Ah…”

Dilahap kekacauan. Begitulah para petualang menyebutnya.

Ketika menghadapi stiuasi keji yang jauh melampaui batas nalar manusia, orang-orang akan terselimuti oleh rasa takut yang mendalam dan tidak dapat menggerakan tubuhnya.
Hal tersebut terjadi pada hampir semua orang yang belam pernah melihat kematian atau pembunuhan di depan matanya. Sudah hal yang umum bagi para petualang baru seperti itu akan menjadi tidak berdaya di situasi seperti ini. Tak bergerak dan tanpa perlawnan, mereka akhirnya menjadi santapan gratis bagi para monster.
Kelompoknya telah terbantai, hanya dirinya yang tersisa. Melawan sekumpulan goblin yang sebelumnya telah dia remehkan lebih lemah dari anak kecil, dan seekor naga tanah yang kekuatannya jauh melampaui dirinya.

Sungguh situasi yang sangat menyedihkan. Kyle yang terpaku di tempat terlihat sangat menyedihkan, dengan air mata dan ingus yang mengalir di wajahnya, dan genangan air seni di kakinya.

Seperti inikah dirinya akan menemui ajalnya?

Mengapa para goblin dan naga tidak saling melawan satu sama lain?

Bagaimana bisa keadaannya menjadi seperti ini?

Mereka semua datang kemari hanya untuk menghabisi beberapa goblin lemah.

Tanpa berpikir untuk mencari jalan keluar dari situasi seperti ini, pikirannya akhirnya tertuju ke hal yang tidak jelas. Ketika para goblin yang terkekeh mendekati pemuda yang gemetar ketakutan itu…
“Gághá?” (Monster)

“Apa…?”(Kyle)

Terdengar suara nyaring dari langkah kaki yang menapak lantai batu menggema dari tengah-tengah benteng.

Para monster berbalik untuk mencari sumber dari suara tersebut.

“Eh…? Ah…” (Kyle)

Kyle pun lupa akan rasa takutnya.

Semua makhluk di tempat itu, tidak peduli jenis rasnya, terpikat oleh pancaran itu.

Dia layaknya benda/makhluk yang melayang, terlepas seutuhnya dari taman yang bermandikan darah itu.

Seorang wanita yang luar biasa cantiknya yang tidak ia kenal, dengan rambut putih yang tergerai.

tags: baca novel Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia, web novel Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia, light novel Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia, novel Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia, baca Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia 1 Part 1, Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia 1 Part 1 manga, Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia 1 Part 1 online, Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia 1 Part 1 bab, Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia 1 Part 1 chapter, Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia 1 Part 1 high quality, Even Though I’m a Former Noble and a Single Mother, My Daughters Are Too Cute and Working as an Adventurer Isn’t Too Much of a Hassle Bahasa Indonesia 1 Part 1 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!