My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Chapter 14

Dibaca 601 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia

Dipersembahkan oleh: Novel Otaku Indonesia Translation

Chapter 14 – ~Musuh Yang Kuat Muncul~

Kita bisa mundur dengan selamat dari pertempuran, tentu saja, para monster mengejar kami.

“Oh Tuhan, mohon lindungi kami…『Sanctuary』”

Ketika Komandan Saran menaruh tangannya kedepan, sebuah pembatas yang bercahaya muncul, menghalau lorong di dungeon, dan ketika para monster menyentuh pembatas tersebut, mereka hancur.

Nampaknya hanya eksistensi dari sihir pembatas tingkat atas yang merupakan bagian dari sistem sihir putih, yang dikenal dengan sihir suci, yang dapat menghancurkan para monster tingkat rendah.

 

Lebih tepatnya, bukankah keberadaan pahlawan tidak dibutuhkan?

Aku merasa pasukan prajurit… tidak, hanya orang ini saja dapat mengalahkan Raja Iblis. Mungkin dia menyadari apa yang ingin kukatakan ketika melihat pada mataku, karena Komandan Saran memberikanku senyuman pahit.

“Termasuk apa yang ingin kau tanyakan, aku akan menjelaskannya dengan detail nanti.”

Sudah kuduga, Komandan Saran adalah dukun.

Setelah berjalan beberapa saat, ada suara teriakan keras datang dari arah

depan kami, jika aku tidak salah ingat, suara ini milik Sano si maskot kelas.

Dia seperti hewan yang imut, aku tidak cocok dengan orang seperti itu.

…Kalau kupikir, mungkin tidak ada seorangpun yang cocok denganku didalam kelas.

“Aku akan pergi melihat situasi.”

 

Wakil Komandan Zeal berkata demikian dan berlari diatas tembok.

Komandan Saran adalah Komandan Saran, tetapi orang ini juga melakukan sesuka hatinya.

Tidak ada orang yang normal akan bisa berlari diatas tembok dengan baju zirah.

Ini adalah hasil dari Wakil Komandan Zeal menggunakan kecepatannya, kelincahannya, dan keseimbangannya.

Wajarnya, gerakan lincah semacam itu, merupakan kemampuan seorang Assassin.

Demikian pula, aku juga, kalau aku mau berlari di tembok, aku bisa.

Hanya saja, jika kau tanya apakah aku bisa melakukannya sambil menggunakan baju zirah, maka aku tidak yakin.

Karena itu, Wakil Komandan Zeal yang bisa melakukan hal itu dengan mudah sangat mengagumkan.

“Kya—————–!!!!”

Suara teriakan yang nyaring sekali lagi bergemuruh didalam dungeon.

Mungkin ini karena kita berlari lebih cepat, tetapi teriakannya terdengar lebih dekat daripada tadi.

Kali ini, ini bukan suara Sano.

Ini adalah suara dari gadis lain.

Kita menggunakan tenaga lebih, dan berlari dengan seluruh kekuatan, dan ketika kita sampai pada sumber teriakannya.

“…Apa itu.”

“…Itu adalah..”

Komandan, para prajurit, dan aku, semuanya kehilangan kata kata.

“GUOOOOOOOOOOO!!!”

“…Kuuu!”

“Ahli pelindung, lanjut memasang pembatas pelindung seperti ini! Orang yang dapat menyembuhkan, keluarkan sihir penyembuhan yang paling kuat padanya!”

Itu adalah monster yang sangat besar dimana seharusnya tidak ada dilantai atas dungeon.

 

Kepala kerbau dengan badan manusia…. itu adalah Minotaur.

“Mustahil! Itu adalah monster yang seharusnya ada dilantai 50 paling tidak, dan dibawahnya!!!”

“…Chi!”

Melirik kearah prajurit yang berkomat kamit, aku memelintirkan lidahku, dan mulai berlari kearah kaki Minotaur.

Komandan Saran telah mulai berlari kearah Wakil Komandan Zeal.

Aku melihat sekilas.

Didepan kawan sekelasku yang berlari mencoba untuk kabur, adalah sang Hero yang dengan ekspresi wajah pahit, bersiap bertarung.

Sano baru saja memasang pagar pelindung, dan Wakil Komandan Zeal telah memancing perhatian Minotaur, tetapi tidak aneh jika Minotaur itu berbalik kearah teman sekelasku kapanpun.

Dia memang tolol, dan sebuah beban, tapi bila dia terbunuh, aku tidak akan bisa tidur pada malam hari.

Apakah aku seorang tsundere?

…Sudahlah.

“….Cepat!”

Berlari di depan tembok seperti Wakil Komandan Zeal dan sampai di depan, aku pertama memberikan dia serangan, menusukkan sebuah pisau perak ke tenggorokan Minotaur.

“Tsk! Haa?”

Karena Minotaur punya kulit yang sangat tebal, pisauku pecah.

Aneh Sekali.

Kerasnya itu jelas melawan logika.

Aku membuang gagang pisaunya, dan mendarat didekat Hero.

“…Akira, hah?”

“Ou… Apa situasinya sekarang?”

Sementara memegang pedang yang telah patah setengah, dengan cahaya pucat dari sihir penyembuhan membungkus sang Hero, dia mulai berbicara sedikit demi sedikit.

 

Tsukasa POV

────

 

Setelah anggota grup kami, ahli bela diri Watabe Katsumi, mengaktifkan jebakan, kita meninggalkan para monster pada prajurit dan Akira, lalu mundur dari garis depan.

Tidak mungkin para prajurit akan mengalami kesulitan melawan monster tingkat rendah tersebut, tetapi Akira yang kukhawatirkan.

 

Ketika aku melirik sebentar kearah dia, aku mengerti kalau dia, entah bagaimana caranya, lebih hebat dan kuat daripada kami, tapi aku tidak tau seberapa kuat dia dibandingkan kita.

Lagipula, karena dia adalah Assassin, dia seharusnya akan kesulitan ketika melawan musuh yang berjumlah banyak.

Kalau, sesuatu terjadi pada Akira, itu pastinya karena aku sebagai seorang pemimpin grup dan Watabe Kasumi.

Tentu saja, ini berlaku untuk kawan sekelas lainnya.

Sementara itu memang benar, kalau kita masih di lantai bagian atas, kita tidak seharusnya ceroboh.

Aku benar benar paham, karena jebakan yang tadi.

Bahkan ketika kita melarikan diri, monster di dungeon, tentu saja, menyerang kita.

Ada satu atau dua dari mereka, tetapi untuk kita yang sedang terburu buru, hanya keberadaan mereka saja sudah menjadi masalah.

Cepat, cepat, sementara kita buru buru, seseorang kawan sekelas menggumamkan sesuatu.

I heard that, and I suddenly remembered it.

“Kalau dipikir, bukankah kita diberikan bom asap yang bisa menolak para monster?”

Aku dengar hal itu, dan aku tiba tiba jadi ingat.

Kalau kuingat, sebelum kita pergi ke dungeon, tuan putri secara pribadi memberikan bom asap itu padaku.

Jika aku ingat, pada saat itu, karena para prajurit dan Akira tidak ada disana, aku benar benar lupa jadinya.

“Aku akan memberikanmu ini untuk berjaga. Tolong berhati hati,” Tuan putri memberikan aku 27 bom asap.

 

Dia mengatakan itu dan tersenyum manis.

Itu adalah senyum yang menggoda.

Aku hampir terpana olehnya.

“Baiklah, ya, aku tidak tau seberapa efektifnya bom ini, jadi coba kita menggunakannya, 1 grup secara berkala.”

Grup Sano mulai duluan dan melemparkan bom asap ke tanah, setelah beberapa detik, efeknya terlihat, tidak ada monster datang mendekat.

Mereka sekali kali akan datang kesini, tapi setelahnya, mereka akan menjadi panik dan melarikan diri.

Aku tidak tau apa efeknya pada orang ini dan pada tanah, tapi beberapa menit kemudian, grup Akira melemparkan bom asap kali ini.

Setelah beberapa saat, tiba saatnya untuk grup terakhir untuk melempar, kita akhirnya menemukan tangga untuk ke lantai atas.

Mungkin efek dari bom asap itu telah hilang saat itu, tetapi belasan monster menyerang kami.

“Sekarang!”

Untuk mengusir mereka pergi, grupku juga melemparkan bom asap terakhir.

..Aku merasa kalau warna dari bola asapku berbeda dari yang lain, tapi mungkin hanya imajinasiku saja.

Seperti yang direncanakan, monster rendah semuanya pergi.

Akan tetapi.」

“Kyaaaaa!!”

Orang yang pertama menyadari itu adalah Sano

Dia menunjuk kearah tembok didepan kami dan berteriak.

Melihat kesana aku kehilangan kata kata.

Seekor monster raksasa keluar dari dalam tembok.

Hal yang sangat jelas kalau monster ini tidak seharusnya berada di lantai ini.

Akan tetapi, aku tau tentang ini, Monster ini berasal dari mitos yunani.

“…Minotaur…”

 

Ketika aku bergumam, Monster itu mengangkat pemukul yang dipegang ditangannya keatas kepala.

Dan, sebelum dia mengayunkan kebawah, kearah Sano.

Aku bergerak tanpa pikir panjang.

Aku mendorong Sano, dan dengan bagian ujung pedang, aku menepis pemukul raksasa yang dihujamkan dari atas ke tanah

Ini adalah teknik yang kupelajari dari Komandan Prajurit saat latihan.

Aku dengar disana ada musuh yang memiliki teknik untuk membatalkan kemampuan. jadi aku ingin tau, seberapa jauh aku bisa melangkah dengan ilmu pedang.

Saat itu, Komandan berkata seperti ini.

‘ketika kau bertarung dengan seseorang yang punya kekuatan lebih tinggi daripadamu, kau jangan berpikir untuk menghentikan dia, tapi bagimana untuk menepisnya.’

Dibandingkan dengan seseorang yang menggunakan otot saja, bahkan jika kekuatan kita seimbang, hasilnya sudah jelas.

Akan tetapi, kita hanya bisa bertahan, kita tidak bisa melakukan serang balik.

Karena itu, aku menepis itu.

In actuality, the sword that was swung down with brute strength took a hit and shattered, pieces flying everywhere.

I had a go at the obviously mighty Minotaur despite being unrefined, but the result was terrible.

Tentu saja, pedang yang digunakan untuk menepis, terkena serangan dan pecah, beberapa serpihan terbang kemana mana.

Aku harus melawan Minotaur yang sudah jelas lebih kuat walaupun masih belum terasah, tapi hasilnya buruk

“….kuuuu!”

“Tsukasa!!!”

Tanganku mati rasa.

 

Kedua tanganku patah.

Pedangnya juga sudah mau rusak, tetapi selain sudah terbelah menjadi dua, aku akan mati jika monster itu menyerang kembali.

Ketika aku berpikir seperti itu, Minotaur tersebut menarik pemukulnya yang nyungsep di tanah, dan sekali lagi, mengangkatnya kembali untuk menghabisi nyawaku selama lamanya kali ini.

Dibelakangku, ada seseorang, bukan Sano yang berteriak.

Jika kau ada waktu untuk berteriak, akan lebih bagus kalau kau bisa sembuhkan aku, walau hanya sekali.

Lalu, saat baru akan mengayunkan kebawah, sesuatu menyerang tongkat pemukul itu.

“…Hampir saja telat.”

Dengan napas ngos ngosan orang yang berkata seperti itu adalah “Wakil Komandan Zeal sementara ia berdiri didekatku.

Komandan Saran akan datang kesini sebentar lagi. Sampai saat itu tiba, aku akan memancing perhatian dia, mundur kebelakang!”

“Ya, terimakasih banyak.”

“…Kau melakukannya dengan baik.”

Aku, yang kedua tangannya patah, adalah beban.

Kepadaku yang menundukan kepalaku, Wakil Komandan berkata seperti itu dan mengelus kepalaku.

Walaupun aku hampir menangis, aku memegang pedangku dan berjalan kearah kawan sekelasku berada.

“Tsukasa, tanganmu…”

“Oh Holy Shield, lindungi kami dan selamatkan kami. Dengan sihirku sebagai persembahan, pembatas yang melindungi kami… 『Shield』”

“…ini.”

“Mungkin ini tidak akan kuat menahan, bahkan untuk satu serangan, tetapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali.”

Sebuah pagar pertahanan yang tipis muncul didepanku.

Tentu saja, ini adalah pagar pelindung dari ahli pelindung Sano.

Ini mungkin pembatas terkuat yang bisa dia buat saat ini, tetapi jika dibandingkan pembatas buatan Komandan Saran tadi, seperti orang dewasa dan bayi.

Aku mengubah ekspresi di wajahku yang kesakitan dengan senyum, dan berterimakasih pada Sano.

Ketika aku melihat kearah Wakil Komandan Zeal, dia dengan bebas berganti dari sihir dengan pedang dan bertarung melawan Minotaur dengan kesusahan, tetapi tidak ada serangan yang mengenainya.

“Ahli pelindung, terus gunakan pembatas pembatas pelindung seperti ini! Orang yang bisa menyembuhkan, gunakan sihir penyembuhan paling kuat pada Tsukasa!”

Melirik kesini, Wakil Komandan Zeal, memberikan instruksi ketika dia melihat wajahku yang pucat.

Aku terbungkus dalam cahaya lembut, dan rasa sakitnya mulai hilang.

Kalau telat sedikit lagi saja, aku mungkin akan pingsan.

“Komandan!”

Akhirnya, Komandan Saran sepertinya bergerak menuju ke posisi Wakil Komandan Zeal untuk membantunya.

Sunggu sesuatu yang bagus, dia sampai tepat waktu.

Setelah itu, segera sesudahnya, sebuah keberadaan yang aku bahkan tidak kaget lagi, tiba tiba muncul didepanku.

“Akira….huh?”

Sejujurnya, aku lega dia datang dekat dengaku

Tapi aku pastinya tidak akan bilang begitu kepada dia.

tags: baca novel My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia, web novel My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia, light novel My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia, novel My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia, baca My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia 14, My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia 14 manga, My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia 14 online, My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia 14 bab, My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia 14 chapter, My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia 14 high quality, My Status as an Assassin Obviously Exceeds the Hero’s Bahasa Indonesia 14 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!