Nobunaga’s Imouto is My Wife Chapter 7 Part 1 Bahasa Indonesia

Dibaca 561 orang
Font Size :
Table of Content

Penerjemah: AcunBJ
Penyunting: –
Korektor: –


Chapter 7 Part 1 – Pembersihan telinga dan kuda mewah

Naotsune dan Kazumasa mulai menangis lagi setelah menerima crepes yang aku buat dari tangan Oichi, lalu Sukechika datang ke kamarku untuk mendiskusikan antrean wawancara besok. Tidak ada orang lain untuk hari ini.

Itu yang diharapkan.

Para pengikut tidak bisa begitu saja mengunjungi kepala keluarga Azai Nagamas kecuali jika diundang, dan kunjungan darurat tidak sering terjadi di masa damai.

Meskipun demikian, aku harus melakukan wawancara sekarang.

tapi, karena situasi tak terduga terjadi di mana Naotsune dan Kazumasa datang pada saat yang sama, sekarang ada ruang kosong dalam jadwal yang sudah dibuat sebelumnya, jadi aku meletakkan kepalaku di pangkuan Oichi.

aku tidak begitu mengerti bagaimana hasilnya.

Ketika melihat sosok seiza-nya, aku terhisap ke celah lembut itu sebelum aku menyadarinya.

Awalnya Oichi terkejut, tapi dia segera mulai membelai kepalaku seolah-olah naluri keibuannya telah ditimbulkan. Haa … aku menjadi manja …

“Bagaimanapun juga, Nagamasa-sama … Nagamasa-sama, Anda benar-benar tahu banyak tentang masalah keluarga Oda, bukan …”

Ucap Oichi dengan senyum pahit di wajahnya. Aku yakin, maksudnya pasti apa yang aku katakan sebelumnya kepada Naotsune tentang Nobunaga “Dia akan memulai serangan ke utara Ise pada akhir Februari. ”

“Aku orang dari masa depan, jadi aku tahu semua yang mungkin terjadi,” meskipun itu tidak sepenuhnya benar, aku tidak bisa memberitahunya sesuatu seperti itu.

Aku membalikkan pangkuan Oichi dan menatap wajahnya. Dia memiliki fitur wajah yang indah, dan aku tidak bisa melihatnya secara lengkap akibat dari payudara besar ini.

Dia benar-benar cantik.

“Bagaimana menurutmu aku tahu semua itu?”

“Baik…”

Oichi menatapku ketika dia merenungkannya sedikit sambil membelai wajahku.

“Mungkin aniue-sama memberitahu anda tentang hal itu sebelum pernikahan kita …”

“Tidak, bukan itu. ”

“Oh, kalau begitu mungkin …”

“Mungkin anda menyembunyikan mata-mata di dekat aniue-sama?”

Oichi bertanya padaku dengan pandangan judes. aku merasakan perasaan menyenangkan yang tak terlukiskan dengan penampilan istriku. Dia juga bisa membuat wajah seperti itu huh … Yah, menjadi seorang wanita muda di periode Sengoku dan dibesarkan dengan Nobunaga memandanginya, tidak mungkin dia tidak terbiasa dengan sopan santun periode Sengoku. Aku mengambil sehelai rambut indah dan hitam yang menggantung di dada Oichi dan memainkannya dengan ujung jariku.

“Nobunaga-dono … Tidak, jika itu adalah ipar laki-lakiku dia pasti akan dengan cepat menemukan dan menyingkirkan mata-mata jika seseorang bercampur di antara para pengikutnya, kan?”

“… Betul . ”

Oichi berkata kepadaku dengan wajah tenang sambil membelai dadaku dengan jari telunjuknya.

“Lalu bagaimana Anda…”

“Kau memberitahuku, Oichi. ”

aku memanfaatkan sepenuhnya pengetahuan sejarahku dan memberinya jawaban dengan cara yang sangat alami sehingga dia tidak akan curiga.

“Iparku adalah jenderal instrumen pengontrol negara ini. Alasan jenderal itu memberiku adik perempuannya di tengah-tengah serangan Mino adalah, karena ada sumber daya yang terhubung dengan jatuhnya Mino, kan? Tidak ada keraguan kalau iparku sedang menuju ibukota. Dan untuk alasan itu ia ingin membuat aliansi dengan kami, Azai untuk membuka jalan menuju Omi. ”

Aku terus berbicara.

“Tetap saja, hanya keselamatan jalur di utara yang bisa diamankan dengan cara ini. Ise dan Iga berada di selatan. Kedua keluarga kuat Ise adalah bawahan keluarga Rokkaku, Iga adalah satu-satunya kekuatan yang tidak melekat pada Rokkaku atau keluarga Miyoshi. Untuk mengamankan keselamatan jalan menuju ibukota, tindakan paling alami adalah iparku menyerang Ise, yang merupakan lokasi terdekat secara geografis, bukan? Ini pasti terjadi ketika sumber daya dapat diamankan dengan menguasai Mino. ”

Tentara tidak bisa digerakkan semudah itu. Tidak mungkin mengumpulkan tentara, uang, dan perbekalan tanpa persiapan matang. Itulah sebabnya waktu paling masuk akal untuk memulai gerakan militer adalah satu bulan setelah aliansi dengan Azai dibentuk. Oichi kembali ke penampilan biasanya yang lembut karena dia benar-benar yakin.

Ya, bagaimanapun juga, lidahku bergerak cukup cepat. Mungkin aku cocok menjadi politisi. Tidak tunggu, seorang Daimyo sudah menjadi politisi sejak awal.

Terdiam beberapa saat setelah itu.

Ada banyak alam di Gunung Odani tempat kastil ini berada, meskipun di luar dingin, aku bisa mendengar suara nyanyian burung-burung. Aku bertanya-tanya seberapa kuat daya tahan hewan di alam liar. Sambil menikmati suara menyegarkan dari dedaunan pohon yang bergerak dan kicau burung, aku menyadari betapa indahnya menghabiskan waktu bersama pasangan selain melakukan seks.

“Ngomong-ngomong, itu menyenangkan, kan?”

“Apa itu …?”

“Saya berbicara tentang Endo Naotsune-dono dan Isono Kazumasa-dono. ”

Ucap Oichi sambil membelai wajahku dengan mata sayang.

“Jangankan Naotsune-dono, Kazumasa-dono adalah orang yang memegang posisi penting keluarga Azai yang terletak di selatan Omi, Kastil Sawayama. Aku pikir fakta bahwa Kazumasa-dono memahami sudut pandang Nagamasa-sama akan menjadi sangat penting nantinya. ”

“Kurasa itu …”

Aku mengangkat pundakku dan tanpa sadar tersenyum sambil bermain dengan poni Oichi dengan ujung jariku.

“Oh …!”

“Apakah ada yang salah?”

Oichi memberiku senyum yang indah.

Aku yakin itu adalah senyum paling indah, imut dan indah yang pernah aku lihat. Aku tidak berpikir kalau aku bisa melupakan wajah itu dalam hidupku.

“Nobunaga-sama … mengeluarkan senyum damai dan alami di depanku …!”

“Apakah begitu…?”

Jika dia mengatakannya seperti itu, mungkin memang begitu.

Tiba-tiba aku melakukan perjalanan ke periode Sengoku, ditarik ke dalam rapat dan menikahi Oichi. Dalam beberapa hari terakhir, aku memiliki banyak sekali pengalaman dalam waktu singkat, yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Itu sebabnya perasaanku tegang sejak aku datang ke sini.

Memancarkan suasana tertentu ketika aku tersenyum. Saat Oichi menunjukkan itu tadi, aku akhirnya sadar. Meskipun…

“Aku tidak berpikir bahwa aku tersenyum seperti itu ketika aku bersama denganmu di kamar tidur …”

“Na, Nagamasa-sama!”

Istri tercintaku memprotes dengan memukul perutku sementara wajahnya memerah.

“Bukan itu! Saya tidak mengatakannya dengan makna itu! Nagamasa-sama akhirnya menunjukkan senyumnya yang alami di hadapan saya, dan saya hanya memikirkan betapa menyenangkannya itu!

Pertama, Nagamasa-sama terlalu banyak menggoda saya di kamar!

melakukan, melakukan hal tidak senonoh kepada saya … ”

 

Ya ya, imut, sangat imut. Sambil merasakan kehangatanku secara bertahap, aku mengarahkan wajahku ke perut Oichi.

Kepada para pria yang mengatakan : “Aku akan senang hanya main mata tanpa berhubungan seks” atau sesuatu yang seperti itu, aku akan dengan serius menjawab : “Apa yang dikatakan orang ini?” jadi aku pikir, … ini tidak terduga. Tidak, aku agak senang sebenarnya.

Dengan menatap perutnya untuk waktu yang lama, aku entah bagaimana mulai mencium aroma yang enak ketika aku terus mengubur wajahku di dalam kimono tebal. Aku kehilangan orang tua pada usia dini dan dibesarkan di lembaga kesejahteraan (panti asuhan), jadi sepertinya aku secara tidak sadar haus kasih sayang seorang ibu.

Aku mendorong wajahku semakin dekat ketika aroma yang sedikit berbau seperti susu manis yang berasal dari perut halus Oichi membuatku hangat.

Kemudian Oichi berhenti memukul perutku dan mulai perlahan membelai wajah dan pundakku. Aku tidak tahu apakah dia bisa merasakannya, tapi wajah itu pasti penuh kasih sayang dengan ekspresi wajah seperti seorang ibu.

Mungkin alasanku sangat tertarik pada Oichi pada awalnya adalah karena aku merasakan keibuan yang kuat darinya sejak awal.

Tetapi, jika kau mengupas tampilan keibuannya, ia dipenuhi dengan sifat seksual yang cabul. Aku benar-benar tidak bisa mendapatkan cukup. Aku pikir dia adalah wanita yang ideal.

“Baiklah kalau begitu … Nagamasa-sama, tolong tetap seperti itu sebentar. ”

Kemudian Oichi mencondongkan tubuh bagian atas ke depan dan mendorong payudaranya ke wajahku. Aku bisa merasakan napasnya tepat di sebelah telingaku. Ada apa dengan sandwich tubuh ini? Di bawahku ada pahanya, di depanku ada perutnya, dan di atasku ada payudaranya. Terasa lembut di sekitarku.

“Nagamasa-sama, tolong tunggu sebentar … Kaede! Apakah kamu disana?”

Aku merasa kalau pelayan datang lebih dekat kalau dirasakan dari hawanya. Tunggu? Ini? Ini seperti martabat kepala keluarga Azai tidak ada. Kepalaku terlihat tertanam dan diapit dalam tubuh istriku yang imut … Daimyo yang terkubur di bawah tanah pasti terkejut, sangat terkejut.

“Tolong bawakan aku sendoknya. ”

“Dimengerti. ”

Dan kemudian aku benar-benar dimanjakan oleh Oichi untuk sementara waktu. Meskipun itu berakhir saat pelayan itu kembali.

“Nagamasa-sama. ”

Dia memanggil namaku, jadi aku melihat ke atas. Ah … tidak bisa melihat wajah bahagianya karena payudara itu.

“Saya akan membersihkan telinga Nagamasa-sama sekarang. Maaf, tapi itu kelihatannya sangat kotor … ”

“Oh, oh!”

Tanpa sadar aku bersemangat membuat tubuhku bergetar. Sudah lama sejak telingaku dibersihkan oleh orang lain.

Aku biasa mendorong kapas ke telingaku sendiri, jadi permintaan Oichi memenuhi harapanku dan membuat aku sangat bersemangat.

“Kalau begitu Nagamasa-sama, tolong berpalinglah. ”

Setelah dia memberitahuku, aku berbalik dan menghadap ke telinga kiriku ke atas.

Kemudian ujung jari lembut Oichi meraih daun telingaku dan payudara besarnya yang lembut dan indah itu menempel di belakang kepalaku melalui kimono.

Batangan keras seperti sendok… ibarat tongkat pemukul akan mengenai tulang rawan telingaku. Aku tidak bisa merasa cukup dengan perasaan ‘saya akan mulai’ ini.

“Kalau begitu … saya akan mulai sekarang.

Nafas Oichi tertiup ke telingaku. Ya aku sudah tamat. Itu semua dariku.

Percuma saja; hampir seperti tubuhku kehilangan semua kekuatannya.

“Nagamasa-sama … tolong jangan bergerak …”

Aku merasakan tongkat pemukul telinga digerakkan oleh ujung jari Oichi yang lentur masuk ke saluran telinga luar.

Tubuhku hanya gemetar pada saat-saat seperti ini. Mungkin ada yang akan gemetar dalam situasi seperti itu.

“Pertama … saya akan mulai dari tempat-tempat yang dangkal, oke?”

Tongkat itu menyentuh sisi saluran telinga luarku dan terus menggaruk ke atas. Suara kering bergema di gendang telingaku diikuti oleh perasaan tidak nyaman dan perasaan terbebaskan ketika dia selesai mengambilnya …

Tanpa sadar aku mengerang. Rasanya enak; rasanya begitu enak sehingga tidak bisa ditahan.

“Nagamasa-sama, anda sepertinya tidak sering membersihkan telinga anda …”

Rangsangan ke saluran telinga luarku berlanjut dengan bagian sendok dari tongkat itu ketika kotoran telinga terus terkikis. Suara sesuatu yang hancur di telingaku dapat terdengar saat sedang dikikis, sementara tekanan pada saluran telinga luarku berlanjut. Kemudian dia meringkuk di tempat yang sama yang baru saja dirangsang dengan sendok dan memijatku.

Tidak ada keraguan bahwa ini adalah surga! Aku merasakannya sambil menggeliat dalam kenikmatan tertinggi ini dan pada saat yang sama, tanpa sadar aku menahan napas. Tongkat pemukul telinga menari-nari melingkari dengan ujung jari Oichi saat dia menghilangkan kotoran telingaku.

“Nagamasa-sama, sekarang saya akan melakukan di tempat yang lebih dalam … tolong katakan pada saya kalau itu menyakitkan, oke?”

Setelah meniup nafasnya di telinga kiriku, Oichi perlahan-lahan menurunkan tongkat pemukul telinga di sepanjang saluran telinga luar. Terdengar suara meraung yang teredam. Tampaknya ada banyak yang menumpuk. Tidak hanya ada suara ringan dan renyah, tetapi ada juga perasaan kaku yang ditransmisikan ke gendang telinga setiap saat.

“Hmm …”

Oichi menghela nafas sedikit cabul sambil terus menyendok di tempat terdalam dengan sendok. Untuk sementara, aku hanya mendengar suara menggelegar dan menggaruk.

“Ah … aku mengeluarkannya …!”

Oichi mengangkat suara senang.

Tampaknya dia berhasil menangkap kotoran telinga yang menempel di telingaku.

“Ahh … Ini sangat besar …”

Ucapan Oichi tidak lepas dari telingaku saat dia bergumam heran. Jika dia mengatakan sesuatu seperti itu, mau tak mau aku bertanya-tanya seperti apa partikel yang dikeluarkan tapi rasa penasaran itu benar-benar terhapus oleh perasaan harus meninggalkan tempat peristirahatan ini yang merupakan pangkuan Oichi.

Masalah mendasarnya adalah bahwa tidak mungkin aku dapat melarikan diri dari surga ini yang merupakan paha montok seorang gadis cantik di zaman ini. Tingkat kesulitan itu sama dengan keberhasilan melarikan diri dari Sue Harukata, direkrut oleh kastil Miyao yang menghabisi pengejaran tentara Toshimizu dan Murakami. Aku pikir aku tidak ingin kalah dari siapa pun, tetapi aku tidak bisa menang melawan paha Oichi.

“Saya melepas sebagian kotoran telinga.

Sekarang saya harus menerobos dan terus menangkapnya … ”

Tongkat pemukul telinga Oichi menari-nari berputar-putar di liang telinga luarku, sendok itu mengorek sisi dinding tanpa meninggalkan bekas kotoran telinga sambil terus mengeluarkannya. Saat Oichi dengan terampil mengorek kotoran telinga, pundakku terus gemetar oleh perasaan menggembirakan ini.

“Baiklah kalau begitu, untuk sentuhan akhir saya akan menggunakan Bonten* …”

* Alat pembersih telinga Jepang*

Bonten putih dimasukkan di telingaku, dan sisa yang terjerat oleh rambut dan dihapus pada akhirnya.

“Lembut, lancar, lembut, lancar”

Ketika bonten yang empuk dikeluarkan dari telingaku, Oichi perlahan-lahan mendekatkan bibirnya ke telingaku yang sensitif …

“Fuu ~”

Dia meniup nafas lembut ke arah saluran telinga luarku. Ah, apakah ini akan berakhir dengan ini … Aku memegang rasa kesepian saat Oichi bermain dengan telingaku dengan ujung jarinya yang berputar-putar.

“Kalau begitu, Nagamasa-sama … tolong balik ke sisi lain. ”

Tiba-tiba kesadaranku dipenuhi dengan sukacita. Kanan, bahkan jika sisi kiri selesai, masih ada sisi kanan-kiri. Aku memutar kepalaku seperti yang dikatakan Oichi dan membenamkan kepalaku di pahanya, perutnya, dan payudaranya.

Ah, ini yang terbaik. Aku menemukan surga. Aku berpikir kalau Arcadia ada di tempat yang begitu biasa dan akrab.

“Kalau begitu, sekarang saya akan membersihkan sisi ini juga … Nagamasa-sama. ”

Sementara dikendalikan oleh suara pembunuh-pria yang manis … Aku mulai merasa mengantuk meskipun tengah hari.

Baiklah kalau begitu, aku menerima kekalahanku … Tapi, aku bertekad saat dimanjakan oleh Oichi. Sekarang … Aku akan mengakui kemenanganmu pagi ini. Tapi aku pasti tidak akan kalah malam ini.

“Nagamasa-sama …? Ahm, tolong jangan bergerak oke? Saya baru saja akan mengambil yang besar; itu akan berakhir jadi … tolong? ”

“Baik…”

Kemudian, dia memberi tahu aku kalau dia belajar teknik membersihkan telinga dari ibunya, sebelum menikah, dia membersihkan telinga adik perempuannya dan Oinu, jadi dia meningkatkan kemampuannya. Apa yang disebut teknik pembersihan telinga rahasia keluarga Oda.

Aku tidak terbiasa dengan telingaku dibersihkan oleh orang lain, jadi aku tidak memiliki siapa pun untuk membandingkannya sejak awal. Tapi aku benar-benar tidak bisa menghitung. Aku akhirnya dikalahkan dalam perang kenikmatan telinga yang ditetapkan oleh Oichi; Aku dibiarkan menghabiskan sisa waktu dengan beberapa kesulitan.

tags: baca novel Nobunaga’s Imouto is My Wife Bahasa Indonesia, web novel Nobunaga’s Imouto is My Wife Bahasa Indonesia, light novel Nobunaga’s Imouto is My Wife Bahasa Indonesia, novel Nobunaga’s Imouto is My Wife Bahasa Indonesia, baca Nobunaga’s Imouto is My Wife Bahasa Indonesia 7 Part 1, Nobunaga’s Imouto is My Wife Bahasa Indonesia 7 Part 1 manga, Nobunaga’s Imouto is My Wife Bahasa Indonesia 7 Part 1 online, Nobunaga’s Imouto is My Wife Bahasa Indonesia 7 Part 1 bab, Nobunaga’s Imouto is My Wife Bahasa Indonesia 7 Part 1 chapter, Nobunaga’s Imouto is My Wife Bahasa Indonesia 7 Part 1 high quality, Nobunaga’s Imouto is My Wife Bahasa Indonesia 7 Part 1 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of