Sono Mono Nochi ni Chapter 155

Dibaca 1814 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

Chapter 155- Pertemuan ketiga

Penerjemah: Wumbo
Penyunting: niznet

Pada hari keempat, kami masuk ke hutan lebat yang berada di sekitar gunung. Karena bentar lagi mau malam, kami mulai mencari tempat untuk bermalam dan menemukan pohon besar. Tempat ini nyaman dan mudah untuk mengawasi sekitarnya sehingga kami memutuskan untuk bermalam di sini. Tidak mungkin bagi mereka untuk terus berjalan tanpa beristirahat dan bepergian di malam hari sangatlah berbahaya.

Jadi kami mengambil bahan makanan dari sihir ruang-waktu Meru. Tata dan Mao mulai memasak dengan beberapa rumput liar yang Freud bawa. Kami memutuskan untuk bergantian memasak setiap hari, yang berarti tentu aku juga akan membuat makanan untuk mereka. Tampaknya hari ini, juru masak terbaik dikelompok kami, Tata akan mengajari Mao saat memasak.

Tampaknya Mao sangat bersungguh- sungguh sampai aku bisa merasakan semangatnya.

Setiap hari ada dua orang yang dipasangkan untuk memasak, tapi ada masalah jika Haosui dan Kagane di pasangkan. Ketika kedua orang ini dipasangkan untuk suatu alasan masakan mereka menjadi agak kreatif, atau haruskah aku katakan aneh? Kebiasaan aneh mereka muncul saat memasak bersama-sama.

Biasanya mereka bisa memasak makanan yang lezat tapi ketika keduanya dipasangkan, akan menjadi ajang kompetisi satu sama lain, meskipun makanan mereka tidak benar- benar lezat jika mereka begini, dan mereka selalu menyuruhku memakannya sampai aku tidak kuat makan lagi dan bertanya masakan siapa yang lebih enak.

Tingkat DEX keduanya tinggi jadi kenapa hanya aku yang berpikiran jika masakan mereka “SAMA”? Setelah mengumpulkan keberanian aku meminta mereka untuk membuat sesuatu yang normal tetapi keduanya menjawab

“Memasak adalah Cinta!! Dan yang masakannya lebih enak akan menjadi istri terbaik!! ”

jadi aku berhenti bertanya lagi … Aku rasa aku hanya bisa bersyukur bahwa mereka memasak untuk ku dan aku juga gak peduli makanan mewah seperti ‘rasa’…

Selagi aku berpikir bahwa semua orang sedang menyiapkan peralatan makan, gadis-gadis itu muncul sekali lagi.

“Kami adalah bandit ~ … eh ?!”
“Oh! Itu kamu kan? kita bertemu lagi! ”

Ini sudah ketiga kalinya aku mendengar suara Ungu-san dan Blonde-san. Aku menjawab mereka sambil menggaruk kepala.

“… halo.”
“Ah! Iya !! Selamat sore!! mh?Atau harus nya selamat malam? ”
“Halo-halo ~ Sudah lama!”

Purple-san memberiku salam hormat sedangkan Blonde-san mengangkat tangannya sambil menyapaku. Rasanya seperti teman yg udah lama gk bertemu, tapi mereka itu bandit.

“Dan? Apakah kamu masih melakukan itu? Ujian untuk menjadi Bandit? ”

“Iya! Aku akan melakukan yang terbaik! ”

“Kami sudah sampai di level 3.”

Ya, sepertinya mereka meningkat.

“Sepertinya kamu sudah naik lagi.”

“Ehehe …” (Purple-san)

“Bagus juga bagiku gadis ini sudah mulai mendapatkan penghasilan.”(Blonde-san)
(Tl note : BANDIT MACAM APA INII !! Semua bandit di cerita ini pada kgk jelas)

Saat memuji levelnya yg meningkat, Purple-san memberikan senyum lebar bahagia sedangkan Blonde-san mulai menepuk kepala Purple-san seolah-olah Purple-san itu adik perempuannya. Nah, jika Kamu melihat itu,Kamu akan berpikir itu adalah adegan yang benar-benar mengharukan tapi, masalahnya adalah Mereka itu bandit. Daripada itu, apa yang menggangguku adalah sesuatu yg lain.

“Bolehkah aku bertanya sebentar, Siapa 3 orang yg dibelakang kalian? Temanmu?”

Aku menunjuk ke belakang Purple-san dan Blonde-san menuju tiga orang yang tersembunyi di balik pepohonan.

Kulit dan usia yang berbeda-beda. Seorang pria gendut berusia tiga puluhan, seorang pria kurus berusia empat puluhan dan seorang pria bertubuh sedang di usia remajanya. Entah kenapa ketiganya mengenakan pakaian dengan warna ungu sebagai warna dasarnya dan memakai bandana di kepala mereka yang sama-sama berwarna ungu. Tangan mereka dicat warna ungu yang panjangnya sekitar 10 cm… untuk apa mereka melakukannya? Untuk bertarung?

“Mereka adalah orang baik yang mendukungku dari bayang-bayang!”

“Mereka awalnya orang yang dipilih untuk Ujiannya dia, tapi untuk suatu alasan setelah menghadapi mereka, kami mulai melihat mereka dari waktu ke waktu … dan ketika aku berpikir bahwa mereka sudah pergi, mereka akan muncul entah dari mana …”

Eh? Apa itu? itu sedikit menakutkan … apa kalian tidak sadar akan apa yang kamu katakan? Tiba-tiba mereka mulai melambai-lambaikan tongkat ungu mereka dan bersorak untuk Purple-san dengan suara keras. Tidak, serius … untuk apa tongkat ungu itu? Aku mulai merasakan sesuatu yang menakutkan yang tidak bisa kupahami dari ketiganya. Blonde-san melanjutkan penjelasannya.

“Terlebih lagi, saat mereka kembali, mereka akan memberikan sejumlah besar uang untuk dia … dan mereka tidak mencoba untuk datang lebih dekat dari jarak tertentu. Yah, mereka tidak berbahaya dan mereka sering membantu kami jadi aku tidak bisa memaksa mereka untuk pergi… ”

“Mereka semua adalah orang baik!! Kamu terlalu meragukan mereka!! ”

“Dan gadis ini selalu mengatakan ini terus, jadi aku tidak bisa tenang…”

Blonde-san membuat wajah yang agak kelelahan dan menghela nafas panjang. Aku berfikir bahwa dia adalah tipe orang yang khawatiran. Aku yakin terakhir kali kita bertemu dia berbicara tentang bosnya yang mengganggunya, dan Purple-san juga mengatakan kata-kata dan tindakannya sedikit keluar dari batas … Ini lama-lama menjadi sedikit sulit… Tapi Aku tetap tidak akan memberi mereka uang.

“Lalu, apa kali ini juga kalian ingin meminta uang?”
“Sebenarnya … aku berharap kamu bisa memberi kami beberapa makanan.”

Ha? Saat aku bingung oleh apa yang baru saja dikatakan Purple-san, perut Purple-san dan blonde-san mengeluarkan suara ‘guuu ~’.

“…Makanan ya?”
“Aku minta maaf… Sejujurnya, kami sudah berada di hutan ini selama beberapa hari dan kami tidak punya makanan yang layak untuk dimakan. Jika kamu dapat memberi sedikit untuk kami, kami akan menghilang dalam waktu singkat. ”

Blonde-san malu-malu, memberitahuku tentang keadaan mereka. Makanan … setidaknya aku bisa melakukan itu. Dan ketika aku memikirkan itu, aku mengalihkan pandanganku ke para gadis.

Entah kenapa aku bisa merasakan niat membunuh yang meluap-luap dari mereka. Apa itu cuma perasaanku saja ?

Aku memberi sinyal dengan tanganku untuk Purple-san dan Blonde-san supaya menunggu dan berhati-hati untuk tidak mendekati ke tempat gadis-gadis.

“Uhm … wajahmu sedikit menakutkan …”
“…”

Kenapa kamu tidak menjawabku …? Eh? Apa yang harus aku lakukan? Sementara aku tersesat pada apa yang harus dilakukan atau dikatakan, Freud mendekatiku dengan senyuman feminin.

“Wazu-sama, sepertinya kamu tidak menyadari apa yang terjadi di sini jadi aku akan memberitahumu. Para gadis merasa cemburu. ”

“Cemburu?”

“Iya. Jika kamu memperhatikan dengan seksama, sepertinya Wazu-sama sedang melakukan percakapan yang ramah dengan para bandit wanita itu. ”

Ehhh ~ … Ini bukan seperti aku ramah pada mereka, tapi lebih seperti aku hanya mengenal mereka. Apa kamu berkata ini itu seperti apa yang dipikirkan para gadis?

Aku menarik napas panjang da berjalan ke para gadis.

“Biar aku jelaskan. Aku hanya pernah bertemu gadis-gadis ini sebelumnya dan tidak lebih dari itu saja. Dan kali ini aku hanya berpikir bahwa aku dapat membantu orang-orang dalam kesulitan. Aku berpikir untuk memberi mereka makanan dan tidak ada yang lain. Apa itu tidak boleh? ”

“Haa ~ …”

Aku baru saja mengatakan kepada mereka apa yang aku pikirkan, tapi entah kenapa para gadis hanya mendesah.

“Yah, mereka mengatakan kebaikan tetaplah kebaikan.”

“Kebaikannya juga merupakan salah satu keistimewaannya Wazu-san.”

“Kali ini saja, oke?”

“Tidak ada lagi setelah ini, oke?”

“… jangan curang!”

“Jika itu Onii-chan maka tidak ada pilihan lain.”

“Kurasa membantu yang lemah adalah tugas orang yang kuat jadi …”

“Terima kasih.”

Aku mengucapkan terima kasih kepada para gadis dan berpikir bahwa hubungan ini akan terus berlanjut di masa depan…

Aku menggelengkan kepalaku untuk membuat pikiran itu pergi dan mengambil makanan dari para gadis untuk memberikannya pada Purple-san dan Blonde-san, dan mereka mulai menangis sambil berterima kasih padaku.

“Terima kasih!! Terima kasih!!”

“Aku pikir jika kalian pergi ke arah itu kalian akan mencapai kota.”

Aku mengarahkan mereka ke jalan utama yang akan membawa mereka ke kota terdekat. Mereka berdua sekali lagi memberiku terima kasih dan menghilang ke arah yang aku tunjukkan. Tentu saja setelah mereka pergi si trio juga pergi. Saat kami melihat itu, aku bisa mendengar Kagane mengatakan sesuatu.

“*Natural dan idol… jika kita ceroboh …”

Idol? Apa itu sebuah kata dari dunia Kagane sebelumnya? Aku benar-benar tidak tahu apa artinya dan tidak peduli juga sih, jadi aku kembali ke tempat para gadis untuk membantu membuat makan malam.


*Maksud dari natural itu si purple san tu kayak cewek yang perlu dilindungi
*Jika ada kesalahan atau masukan silahkan comment saya masih baru

tags: baca novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, web novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, light novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, baca Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 155, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 155 manga, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 155 online, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 155 bab, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 155 chapter, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 155 high quality, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 155 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!