Sono Mono Nochi ni Chapter 157

Dibaca 2091 orang
Font Size :
Table of Content
Dark Mode
Bagaimana menurutmu tentang situs ini? Berikan ulasanmu disini: Halaman Ulasan
Pengen novel yang kamu sukai disini diprioritaskan? beri komentarmu disini: Halaman Request

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

Uwahhh, aku minta maaf karena tidak bisa menjadi editor di chapter 157 ini jadi cuma bisa mengoreksi aja… karena aku sedang tidak enak badan dan kepalaku lagi pusing sekarang. Selamat membaca~

Penerjemah: Wumbo
Korektor: niznet


Chapter 157 – Kita Datang di Waktu yang Salah

Kami menaiki gunung sambil mempertahankan sihir penghalang. Di dalam cuaca buruk ini, kami terus diserang oleh monster tapi Kagane mengalahkan monster-monster itu dengan sihirnya, bahkan jika mereka mendekat, mereka tidak akan mampu menembus penghalang dan akan menjadi sasaran empuk untuk serangan kami. Gadis-gadis itu benar-benar menjadi kuat. Aku menyerahkan urusan monster pada mereka dan fokus dalam pelatihan Mao. Mao berasal dari keluarga yang memiliki kemampuan fisik yang tinggi, dan bahkan di dalam keluarganya sendiri, dialah yang memiliki kemampuan fisik paling tinggi, jadi kami berlatih demi mimpinya untuk dapat menggunakan pedang ganda.

Kami terus mendaki dan akhirnya sampai di puncak gunung. Sekarang kami berada di atas dan bisa melihat kastil Ragnil sudah tidak jauh dari sini. meskipun cuacanya sudah reda, namun anginnya masih sedikit kencang. Karena kita telah mendaki sampai puncak gunung, kami sudah tidak perlu khawatir tentang monster. di puncak gunung ini adalah tempat tinggal makhluk superior sehingga monster yang tinggal di bagian bawah takut untuk pergi kesini. Dan makhluk superior itu juga sudah kenal denganku. Bahkan jika mereka menyerang kita itu tidak akan menjadi masalah karena mereka semua tahu kekuatanku. Dari awal tidak ada yang perlu dikhawatirkan, para gadis juga sudah berada di dalam penghalang, bahkan jika ada makhluk superior yang datang, kami akan baik-baik saja. Tapi agar terbiasa dengan tempat ini, perlahan-lahan mereka akan menghilangkan sihir penghalang. Karena ini pertama kalinya para gadis datang ke sini, mereka terpesona oleh pemandangan di atas gunung. Walaupun Aku tidak merasa terlalu terkesan oleh pemandangan ini, karena aku sudah pernah kesini berkali-kali sampai aku lupa sejak kapan itu, mungkin pada saat aku masih berusaha mati-matian untuk bertahan hidup. Itu mengingatkan ku pada saat pertama kali kesini…

Saat ini kami bisa melihat sebuah kastil yang tampak seperti di sebuah dongeng. Itu adalah kastil yang tidak peduli bagaimana kamu melihatnya tidak dibangun untuk makhluk seukuran manusia, dan lebih seperti penjara bawah tanah tetapi sebenarnya itu adalah salah satu tempat suci yang digunakan sebagai tempat tinggal oleh raja naga selama beberapa generasi, itu yang dikatakan Ragnil padaku.

“Aku mengerti, jadi disini tempat tinggal Raja Naga dari legenda?”
“Dia pasti makhluk yang angkuh.”
“Kita serasa seperti berada di dongeng.”
“Raja Naga ya … dia pasti penguasa yang hebat.”
“… Ini adalah pertama kalinya aku bertemu naga dewasa, aku ingin melihatnya.”
“Ini dia!! Ketika kamu memikirkan dunia lain, itu seharusnya seperti ini!! ”
“Seberapa kuat dia … Aku ingin menguji seberapa kuat aku sekarang.”

Para gadis sangat bersemangat dan menantikan pertemuan mereka dengan Raja Naga Ragnil. Meru dan aku saja yang tahu seperti apa Ragnil, berdoa agar harapan mereka tidak dikhianati. Ketika kami sedang berdoa, aku melihat sikap Freud. Ketika ia melihat kastil ekspresinya seperti orang yang sedang nostalgia.

“Freud, jangan bilang kau pernah datang kesini?”
“Tentu saja tidak, aku hanya seorang butler … Jika aku harus mengatakannya itu akan menjadi ‘berkali-kali sebelumnya.'”

Setelah mengatakan itu dia mulai tersenyum biasa seolah-olah ia berkata ‘Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi’. Senyumnya mungkin caranya mengatakan jika kamu bertanya lagi, aku tidak akan bicara, jadi aku hanya menjawab ‘begitu ya.’ Nah, jika dia ingin memberitahuku, dia akan melakukannya tanpa harus kutanyakan dan itu benar-benar sedikit menakutkan karena aku cuma bisa mengabaikannya sambil berpikir itulah Freud.

kami tiba di depan kastil tanpa masalah. Gadis-gadis itu terpesona oleh keagungan kastil, tapi karena aku sudah berkali-kali datang kesini, aku hanya bertingkah biasa dan membuka gerbang tanpa berpikir.

“Ayo, masuk!!”

Aku dengan tidak sopan memasuki kastil diikuti gadis-gadis yang masuk sambil meningkatkan kewaspadaan mereka. Huft~ Seharusnya kalian tidak perlu terlalu berhati-hati, kalian tahu Ragnil dan keluarganya adalah naga yang baik dan tidak ada perangkap di sini. Aku mulai berjalan di depan para gadis sambil menunjukkan tempat-tempat di sekitar kastil seperti taman atau ruang makan.

Sekarang, di mana Ragnil dan yang lainnya? Ketika kami berjalan, aku mulai mencari kehadiran mereka dan menemukan ruangan yang didalamnya ada tiga orang. Sepertinya mereka semua berada di aula, itu cocok untuk seorang raja. Mh? Tiga kehadiran, apakah Megil, nenek Meru, masih di sini? Sementara aku memikirkan itu, kami mencapai pintu raksasa dari Aula yang didekorasi cantik dengan permata. Yup, dari dalam aku merasakan tiga kehadiran. Karena pintu yang biasanya terbuka sekarang tertutup, aku yakin mereka mungkin sedang melakukan percakapan penting, aku hanya diam-diam membuka pintu sehingga aku tidak mengganggu mereka dan melihat situasi di dalam.

Raja Naga Ragnil sedang melakukan dogeza[1].

Aku perlahan menutup pintu.

“Mengapa kamu menutup pintu? Apakah tidak ada orang di dalam? ”

Sarona bertanya padaku dari belakang tapi aku tidak memperdulikannya.

Oi, oi. Lagi? Sungguh, lagi? Apa itu? Ini berubah menjadi Raja Naga yang sedang melakukan dogeza tapi, ada apa ini? Atau lebih tepatnya Ragnil, bukankah kamu seorang Raja Naga? Ini memberi kesan, apa yang kamu lakukan cuma dogeza. Apa itu yang Raja Naga lakukan? Lagipula, jika aku membiarkannya seperti itu para gadis akan melihatnya, kan? Apa itu tidak apa apa ? Sebagai laki-laki, aku tidak ingin melakukannya. Ini benar-benar mustahil. Apa yang harus aku lakukan?

Ketika aku mengusap keringatku, aku menyadari bahwa tidak peduli seberapa keras aku berpikir aku tidak bisa memikirkan jawabannya, karena itu aku diam-diam membuka pintu sekali lagi dan melihat ke dalam.

… Ya, dia masih melakukan dogeza …

Aku sekali lagi perlahan menutup pintu, menghela nafas dan berbalik pada gadis-gadis itu.

“… Sepertinya mereka mendiskusikan masalah mendesak jadi aku akan masuk ke dalam untuk memeriksa, apakah semuanya baik-baik saja … kalau hanya Meru dan aku yang …”

Setelah mengatakan itu semua orang mengangguk dan meningkatkan kewaspadaan mereka … Aku senang mereka tidak bertanya  … Aku menarik nafas untuk menenangkan diri dan memasuki Aula bersama Meru.


[1] Dogeza adalah,

Sono Mono Nochi ni Chapter 157

tags: baca novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, web novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, light novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, baca Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 157, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 157 manga, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 157 online, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 157 bab, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 157 chapter, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 157 high quality, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 157 manga scan, ,
Table of Content

3
Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
2 Komentar Chapter
1 Balasan Chapter
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
Silent KuruminiznetGab-Chan Recent comment authors
  Ikuti  
terbaru terlama top voting
Notify of
Gab-Chan
Guest
Gab-Chan

Min. Tolong Nama charanya saat dia ngomong ya. saya gak tau siapa yang ngomong tuh dialog :v

niznet
Guest

Di beberapa chapter berikutnya, dikasih tau kok.

Silent Kurumi
Guest
Silent Kurumi

Thanks for the chapter!! :)) jaga kesehatan dan tetep semangat update min :))