Sono Mono Nochi ni Chapter 158

Dibaca 2004 orang
Font Size :
Table of Content
Dark Mode
Bagaimana menurutmu tentang situs ini? Berikan ulasanmu disini: Halaman Ulasan
Pengen novel yang kamu sukai disini diprioritaskan? beri komentarmu disini: Halaman Request

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

Penerjemah: Wumbo
Penyunting: niznet

Chapter 158 – Martabat Sang Raja Naga

Aku memasuki Aula dengan tenang. Ragnil masih melakukan dogeza dan tidak memperhatikan kami, tapi, Ibu Meru, Meral sedang berbaring dengan anggun di lantai dan Nenek Meru, Megil yang sedang duduk di singgasana melihat kami. Mereka melihat kami tapi entah kenapa mereka tidak mengatakan apa-apa, kayaknya situasinya lagi buruk… haruskah aku pergi saja? Saat aku memikirkan itu Meru terbang dari kepalaku menuju ke ibunya. Aku mengikutinya dan perlahan mendekati Ragnil.

“Yo!”

Menanggapi ucapanku, Ragnil melompat dan dengan hati-hati mendongak.

“… Apa, jadi itu hanya kamu … apa yang kamu lakukan disini …?” (Ragnil)
“Siapa yang memberimu izin untuk mengangkat kepala?”(Megil)

Ragnil menutup mulutnya sekali lagi karena bentakan suara Megil yang keras dan mulai meneteskan keringat dingin saat menurunkan kepalanya ke lantai. Disaat seperti ini aku tidak mungkin bisa berbicara pada Ragnil dan memperkenalkannya pada para gadis. jadi aku ingin segera mengakhiri ini, aku kembali melihat ke Megil dan mulai mengambil nafas.

“Sudah lama, Wazu.” (Megil)
“Ya itu sudah lama, melihatmu sehat-sehat saja membuatku senang. Dan … Hmm untuk berapa lama ini akan berlanjut? ” (Wazu)

(Tl note : Lu nya seneng tapi si Ragnil pengen dia cepet mati XD)
“Sampai idiot ini mengatakan ‘Aku akan bertobat jadi tolong maafkan aku’ dan meminta dibebaskan, kalau tidak aku akan menguji berapa lama dia bisa menjaga postur itu sampai aku puas.” (Megil)
“Begitukah … maka kami akan kembali jika kami mengganggumu.” (Wazu)

Dan setelah aku mengatakan itu, aku bisa melihat mata Ragnil berkerut dengan air mata saat melihatku. Jangan lihat aku seperti itu. Ini masalah keluargamu, bukan? Atau lebih tepatnya, bukankah kau itu Raja Naga? meski aku tidak bisa merasakan keagungan apa pun darimu, tapi apakah itu baik baik saja untukmu? Bukankah Kau berada di puncak makhluk superior yang tinggal di puncak gunung ini? Haa~ …

“… Yah, sebenarnya …” (Wazu)

Karena aju tidak tahan lagi melihat Ragnil dalam situasi itu, aku memberi tahu mereka kalau dibelakang pintu Ruang Aula ada istri-istriku dan seorang butler, yang tidak ingin ku kenalkan.

“Ha ha ha!! Kamu memiliki tujuh istri! Kamu cukup mengesankan meskipun bertentangan dengan penampilanmu!!” (Meril)
“Yah … salah satunya sebenarnya adik perempuanku.” (Wazu)
“Wazu sangat populer. Meru jadi tidak bisa bermalas-malasan lagi. ” (Megil)

Ibu Meral menatapku dan tersenyum sementara dia menepuk kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.

“Kyui!! Kyui, kyuii!! ” (Meru) (Editor note: huh? Apa ada yang bisa jelasin saya tentang ini?)
“Ara ara! Kamu tidur bersamanya setiap malam dan dia selalu memelukmu? ” (Meral)

Meru-san, mari hentikan pembicaraan itu.

“Fumu … Bukankah Wazu yang harus bertanggung jawab? Tidak akan ada masalah selama kita mengajarkan sihir transformasi pada Meru. ”(Megil)

Megil, tolong kau juga berhentilah. Ragnil telah menatapku dengan niat membunuh tanpa alasan sambil menitikkan air mata darah. Eh? Haruskah kita meninggalkannya sendirian? Pendapat ayah tidak masuk hitungan, kan? Dia jelas menentangnya …

“Baiklah, mari kita tunda kesempatan ini di lain hari dan sekarang mari kita biarkan gadis-gadis itu masuk.”(Megil)

Setelah aku membawa gadis-gadis itu ke Aula, kami mendengar suara megah bergema dari singgasana.

“Fumu, Apakah kalian istri dari sahabatku Wazu? Kalian akan disambut dengan baik disini. “(Ragnil)

Itu Ragnil. Kami harus menunda hukuman dogezanya dan dia juga harus duduk di tahta. Yah … kakinya gemetar ketika dia mendekati tahta sehingga tidak ada perasaan kekhusyukan darinya. Di sekelilingnya juga ada Megil dan Meral yang sedang memeluk, Meru.

“Halo, senang bertemu dengan kalian, aku ibu Meru, Meral.” (Meral)
“Aku Nenek Meru, Megil.” (Megil)

Setelah itu, gadis-gadis itu mulai membungkuk dan memperkenalkan diri.

“Aku Sarona,istrinya yang ingin Wazu-san segera meletakkan tangannya padaku.”
“Aku Tata,istrinya yang sangat ingin dimanja oleh wazu-san.”
“Aku  Naminissa,istrinya yang ingin bangun bersama Wazu-sama setiap hari.”
“Aku Narelina,istrinya yang ingin berlatih dengan Wazu-sama di malam hari.”
“… Aku Haosui,istrinya yang ingin selalu bersamanya. ”
“Aku Kagane,istrinya yang ingin dibuat tidak berdaya oleh Wazu-oniichan.”
“Aku Maorin,istrinya yang ingin dipeluk Wazu-san seperti binatang.”

Eh? Apakah mereka secara tidak langsung membuat keluhan padaku? Atau lebih tepatnya, apakah ini tempat untuk mengatakan itu? Aku merasa mereka terlalu terburu-buru. Dan juga, kapan Kagane dan Maorin menjadi istriku? Aku masih belum menerimanya. Mungkinkah mereka mencoba memaksa ku untuk menerima mereka sebagai istriku?

“… Fumu … aku adalah kepala pelayan dan teman Wazu-sama. Namaku Freud. ”(Freud)

Freuuuuuuud !! Ada apa denganmu ?! Kenapa kau sangat sopan saat ini ?! Ini adalah situasi di mana kau harus memecahkannya dengan leluconmu, mengapa kau memperkenalkan diri dengan normal?! Maksudku begitulah seharusnya tapi, ini salah !! Mengapa kau memperkenalkan dirimu sebagai kepala pelayanku tanpa ragu-ragu? Terus ada apa dengan wajahmu yang seperti mengatakan ‘bagaimana dengan itu!’ ?! Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan!! Aku tidak akan mengakuimu sebagai butlerkuu !!

“Umu, istri dan kepala pelayan Wazu, aku akan mengingat nama dan wajah kalian. Wazu juga sudah memberitahuku, untuk sementara kalian dapat tinggal di sini, anggap tempat ini sebagai rumah kalian! ” (Ragnil)

Ragnil mengatakan dengan nada selayaknya Raja Naga tapi dari matanya yang menatapku aku dapat dengan jelas memikirkan apa yang dipikirkannya ‘Kau memiliki semua istri ini tapi masih ingin Meru-ku yang imut menjadi istrimu ?! Kau bajingan! Aku akan menemuimu nanti di luar !! ‘”

“Kyui, kyui, kyui !!” (Meru)
“Ara ara, Meru meminta untuk diterima sebagai salah satu istri Wazu.” (Meril)

Dan setelah mendengar kata-kata istri dan anaknya, wajah putus asa mulai muncul. Topengmu, Topengmu! Topeng ‘Raja Naga’mu mulai rusak!
Selagi aku memikirkan itu, para gadis ditanya apa yang mereka pikirkan tentang kata-kata Meru, gadis-gadis itu berkata, “Eh? Aku pikir dari awal bukankah mereka sudah begitu. ”Apa? Kalian sudah memikirkan sejauh itu tentang Meru? Yah, tidak apa-apa. Saat ini aku tidak berencana untuk melepaskan Meru dan jika beberapa bajingan mencoba untuk menyakitinya, aku akan mengubahnya menjadi daging cincang.

Setelah itu kami dengan enteng membicarakan tentang perjalanan kami sampai di sini, lalu makan bersama dan kemudian dipandu oleh Meru dan Meral ke kamar kami untuk beristirahat.

Meskipun aku mendapat kesan bahwa aku akan melakukan percakapan “fisik” dengan Ragnil nanti… haa…

tags: baca novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, web novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, light novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, baca Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 158, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 158 manga, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 158 online, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 158 bab, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 158 chapter, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 158 high quality, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 158 manga scan, ,
Table of Content

2
Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
2 Komentar Chapter
0 Balasan Chapter
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
atmaSilent Kurumi Recent comment authors
  Ikuti  
terbaru terlama top voting
Notify of
Silent Kurumi
Guest
Silent Kurumi

Thanks for the chapter!! :)) jaga kesehatan dan tetep semangat update min :))

atma
Guest
atma

Raja ga punya harga diri