Rakudai Kishi no Eiyuutan Volume 1 Chapter 1 Part 4 Bahasa Indonesia

Dibaca 566 orang
Font Size :
Table of Content
Dark Mode
Bagaimana menurutmu tentang situs ini? Berikan ulasanmu disini: Halaman Ulasan

Rakudai Kishi no Chivalry Bahasa Indonesia

Penerjemah: Martin
Penyunting: Kezia
Korektor: –


Volume 1 – Chapter 1 Part 4 – Ksatria Jenius dan Ksatria Gagal

Pertandingan dimulai, Stella langsung berlari ke arah Ikki, mengayunkan pedangnya yang sudah dibalut api merah.
Ayunan itu mungkin tampak mentah bagi para penonton yang tidak terpelajar, tetapi itu adalah serangan yang tepat dan kuat.

Namun ayunan lebar tetaplah ayunan lebar. Ikki melihat gerakannya dan mengangkat Intetsu untuk menerimanya- tapi ia segera membatalkan tindakan itu dan
mengambil langkah mundur mendadak. Sesaat kemudian, Lævateinn mengenai lantai arena dengan keras dan seluruh tempat itu bergetar seperti gempa bumi.

“Pilihan bijak. Kalau kau menerima serangan itu, itu tidak akan berakhir hanya dengan beberapa goresan.”

“Benar-benar serangan yang keterlalulan. Jadi kau tadi tidak serius di kantor direktur?”

“Itu benar. Jika aku serius di tempat seperti itu, seluruh gedung sekolah akan hancur.”

Sambil menyeringai lebar, Stella langsung mengejar, dan Ikki mundur selangkah lagi untuk memperluas jarak.
Jika ia mencoba menghentikan ayunan seperti itu, lengannya pasti akan hancur. Senjata Stella adalah pedang panjang dan berat, dan itu termasuk akal sehat kalau ia memiliki keuntungan untuk mundur dengan cepat saat menghadapi senjata berat seperti itu. Tapi akal sehat tidak berlaku untuk lawan yang mengerikan seperti Stella.

“Lambat. Terlalu lambat!”

“Wha?”

*Whoosh!* Angin menderu, dan Stella langsung menyusulnya.

“Apa kau pikir kau bisa mengalahkanku dalam hal kecepatan? Sayang sekali, tapi sihir tidak hanya terbatas untuk menyerang. Aku dapat meningkatkan mobilitasku beberapa kali dengan memusatkan sihir di bagian bawah kaki dan melepaskannya dalam bentuk ledakan.
Dan kapasitas auraku yang tiga puluh kali lebih besar dari Blazer biasa, jadi tidak akan lama untuk menghadapi orang-orang sepertimu. Dengan kata lain, kau tidak bisa mengalahkanku dalam hal kekuatan ataupun kecepatan! ”

Jika Ikki membandingkannya dengan sesuatu, maka “tank berat bermobilitas sangat tinggi dengan bahan bakar yang tak terbatas” akan sesuai. Ikki tertawa pahit pada kemampuan tidak adil semacam itu, yang pemiliknya sekarang sedang menyerangnya.

Jadi ini adalah Rank A, ya?

Bahkan generasi pemenang Festival Seni Pedang, Seven Stars Sword Kings, kebanyakan Rank B atau Rank C. Mereka adalah ideal yang Ikki ingin capai, tetapi Rank A tidak bisa cuma sebatas cita-cita seorang siswa ksatria. Ksatria Rank A yang melalui masa modern memiliki semuanya, tanpa terkecuali, pahlawan hebat yang mengukir nama mereka ke dalam sejarah.

Bakat luar biasa yang hanya muncul sekali dalam satu dekade? Pandangan publik sepenuhnya akurat. Ke arah Ikki, yang baru saja menyadari fakta itu, Putri Crimson mengayunkan pedangnya yang menyala-nyala dan mengayunkannya sebagai serangan tak terhindarkan yang bahkan bisa membelah tanah itu.

Dikarenakan sekarang ia tidak bisa lagi menghindari serangannya, Ikki juga menerimanya dengan senjatanya. Adu pedang telah dimulai, dan suara jelas dari benturan logam terdengar seperti musik di telinga penonton arena.

? Oooooh … !?

Sorak-sorai mereka bangkit saat mereka menyaksikan sosok yang menciptakan busur api Lævateinn.

Ini adalah seorang ksatria yang memoles teknik pedangnya. Hanya sedikit ksatria-penyihir yang unggul dalam seni bela diri atau pedang, karena mereka bisa menjadi jauh lebih kuat dengan melatih kemampuan Blazer daripada keterampilan fisik. Keyakinan itu dipegang kuat oleh para pendidik dan masyarakat, jadi keterampilan seperti itu tidak termasuk evaluasi ksatria, dan meskipun hanya ksatria-penyihir biasa yang berpikiran seperti itu, ksatria biasa adalah yang mayoritas.

Minoritas, ksatria yang benar-benar kuat, akan menguasai keterampilan fisik disamping kemampuan Blazer, karena mereka memiliki kemauan Yang tak kunjung padam untuk meningkatkan diri.
Mereka akan menyerap setiap taktik yang dapat memberdayakan mereka, mengembangkan kekuatan mereka, dan meraih puncak yang lebih tinggi.

Stella Vermillion adalah salah satu di antara minoritas itu. Ia, yang memenangkan turnamen pedang Kekaisaran Vermillion, menggunakan Seni Kekaisaran seolah-olah ia sedang menari,
tapi dengan kekuatan yang cukup untuk mendesak Ikki. Itu mengguras Ikki, yang masih mencoba membuka celah di antara mereka, segalanya hanya untuk bertahan melawan serangan itu. Ia terus mundur ke belakang lagi dan lagi.

Tentu saja akan menjadi seperti ini. Sang pengulang, ia benar-benar dikuasai.

“Ya, rasanya seperti semua yang ia lakukan hanya melarikan diri.”

“Sekarang hanya masalah waktu saja, huh?”

Pada hasil yang tidak mengejutkan ini, suasana hati para penonton menjadi dingin. Tapi?

A-Apa ini?

Stella Vermillion merasakan sesuatu yang sangat ganjil tentang situasi ini. Pedangnya menghasilkan serangan yang bisa menghasilkan gempa bumi, bisa menghancurkan musuh dalam satu serangan tanpa gagal. Mengenai musuh tanpa menghancurkannya seharusnya tidak mungkin, karena serangannya tidak dapat diblokir begitu saja.
Tapi, apa yang terjadi dalam duel ini? Seharusnya Stella yang menghajar musuhnya tanpa ampun, tapi malah dia yang berkeringat.

Berakhir seperti ini? Melarikan diri? Hanya masalah waktu? Anggapan-anggapan itu salah besar. Stella sendiri menyadari hal itu.

Aku sedang… dijebak!

“Haaa!”

Stella menghantam Lævateinn ke arah musuh di depannya. Ikki menerima serangan itu dengan Intetsu-nya, tetapi tidak terhenti di sana, ia memanfaatkan gaya lontar itu dan dengan cepat melompat ke belakang, memperlebar jarak di antara mereka sekali lagi.

…Lagi!

Dari jauh, tentu saja seakan-akan serangan Stella lah yang mendorong Ikki kebelakang, tetapi kenyataannya berbeda. Dihadapan taktiknya, serangan Stella sepenuhnya digagalkan. Menggunakan pertahanan lunak yang perlahan menguras tenaga- itu mungkin terdengar mudah, tapi melakukannya cukuplah sulit. Jika kekuatan memblokirnya sedikit saja terlalu tinggi maka lengannya akan terlumatkan, dan jika itu sedikit saja terlalu rendah maka itu akan putus.
Perhitungan daya, sudut, maupun tempo- Jika salah satu saja dari faktor-faktor ini tidak tepat, maka akan langsung menghasilkan kegagalan,
Namun, lawan Stella menangani semua itu tanpa banyak keringat. Saat menyadari ini, Stella merasakan kegelisahan yang tak terlukiskan.
Itu adalah bunyi alarm, indra keenamnya memperingatkan bahwa musuh di depannya ini sangat berbahaya!

“Apakah kau hanya pandai dalam melarikan diri !?”

Seolah mencoba untuk menghilangkan perasaan itu, Stella terus menebas ke arah Ikki.

Tapi ia tidak menjawab. Senyum penuh kesukaran tapi hangat yang ia tunjukkan beberapa saat lalu telah menghilang. Sekarang ia memakai ekspresi begitu serius yang terlihat menakutkan, dan ia dengan tenang mengawasi setiap gerakan yang dilakukan Stella.

Benar-benar mata yang menjengkelkan!

Seolah-olah pakaian, kulit, dan ototnya dibaca serat demi serat, setiap tindakan kecilnya sedang dipelajari. Dan dari tatapan itu, ia menyadari bahwa Ikki berusaha memahami Seni Kekaisaran dari gerakan-gerakannya.

“Gaya berpedangku tidak sesederhana itu sehingga kau bisa memahaminya dengan mudah!”

“…Tidak, aku sudah memahaminya.”

Dalam sekejap, aliran pertarungan berubah. Hanya lima menit berlalu sejak awal pertandingan saat Ikki Kurogane mulai menyerang untuk pertama kalinya.

Itu mungkin tampak seperti aksi bunuh diri pada pandangan pertama. Dalam bentrokan antara pengguna pedang, apa yang bisa ia perbuat hanya dengan teknik yang diasah melawan lawan dengan kekuatan ofensif sebesar itu? Ia hanya bisa tumbang dihadapan senjata yang sangat panas itu.
Seharusnya itu tidak terhindarkan, tapi?

“Kuh!”

Tapi Stella yang dibuat mundur. Ikki mendorong Stella mundur dengan senjatanya. Bagaimana bisa? Caranya terletak pada orbit mirip matahari yang dilacak Intetsu.
Sebenarnya itulah Seni Kekaisaran Stella.

“Tidak mungkin…! Bagaimana bisa kau menggunakannya?”

Saat ia bertanya, sesuatu melintas di benak Stella.

“Maksudmu, kau meniru gayaku selama kita bertukar serangan tadi!?”

“Bisa dibilang begitu. Aku sudah dipandang rendah sejak aku masih kecil, jadi tidak ada yang pernah mau mengajariku, dan yang bisa kulakukan hanyalah memperhatikan orang lain dan mencuri gaya mereka. Itu sebabnya aku cukup ahli soal taktik semacam ini. Aku bisa memahami sebagian besar teknik pedang musuh hanya lewat satu menit bertukar serangan.”

Ilmu pedang menjelaskan pengetahuannya sendiri, gaya menggambarkan sejarahnya sendiri, dan bernapas menggambarkan asasnya sendiri. Jika seseorang mengikuti cabang dan daun dari gaya pedang dan sampai ke akarnya, maka tidak akan sulit untuk memahami teknik dan kombinasi gaya itu ataupun pergerakannya dalam menghadapi macam-macam situasi. Inilah yang Ikki maksud.

“Dan jika aku bisa memahami sebuah gaya sampai sejauh itu, aku juga bisa menciptakan teknik yang mengungguli lawanku.”

Apa cara terbaik untuk melampaui gaya pedang lawan? Cukup dengan memperbaiki semua kekurangan gaya itu untuk menciptakan yang lebih sempurna,
dan jelas akan lebih unggul dari yang lama. Gaya baru akan memperhitungkan semua kesalahan gaya lama, dan bahkan menutup kelemahan-kelemahannya.
Itu akan menjadi gerhana bagi pendahulunya dalam setiap situasi ofensif maupun defensif.

“Menciptakan gaya pedang seperti itu di tengah pertempuran adalah teknikku, Blade Steal. Karena teknik Stella-san amat berdarah daging, aku memakan waktu dua menit untuk mencurinya dan tiga puluh detik untuk mengunggulinya. Karena sekarang aku sudah paham betul, maka aku juga akan menyerang mulai dari sekarang. ”

H-Hei. Bukankah sang putri terlihat seperti didorong kebelakang!

Stella jatuh ke belakang dengan jelas. Penonton mulai gempar pada perkembangan yang tak terduga ini, tetapi yang paling terkejut adalah Stella sendiri,
dan bukan hanya karena ia kalah dalam keterampilan pedang. Ia terkejut karena gayanya yang berharga telah ditiru, dan terlebih lagi, Ikki telah menyempurnakan gaya yang cukup untuk mengunggulinya. Hanya dengan melihat pedangnya berayun, ia dapat memahami kebijaksanaan dari teknik itu, membaca sejarahnya, dan temukan rahasianya. Itu wawasan yang kejam, bahkan bisa disebut cermin ajaib yang reflektif. Dan di atas semua itu,
ia telah melakukan semua ini tanpa menggunakan sihir sedikitpun.

Bagi laki-laki ini, menerima serangan sengit dari Stella Vermillion dan melampaui Gaya Imperialnya itu tidak lebih dari kemampuan pedang pada umumnya.
Berapa banyak pelatihan yang harus ia lalui untuk mendapatkan keahlian seperti itu?

Tangguh…!

Ia tidak bisa lagi menyangkalnya. Hanya dengan membandingkan keterampilan pedang mereka, laki-laki ini sudah beberapa tingkat di atasnya.
Jika duel itu hanya sebatas senjata saja, itu bukanlah pertarungan yang adil.

Stella mengerti itu. Itu adalah salah satu kekuatannya untuk mengakui hal tersebut. Tapi itu juga kekuatan ksatria Rank A Stella Vermillion,Putri Crimson, bahwa ia harus terus berusaha melawan lawan yang lebih kuat darinya.

Jika gaya pedangnya sudah dipahami, maka ia bisa memanfaatkan fakta itu. Stella mengambil posisi untuk mengayunkan Lævateinn ke bawah.
Ikki mengayunkan Intetsu ke atas menyambutnya. Ia mengirimkan busur ke bawah untuk menghancurkan pertahanannya, dan Ikki sudah memahami kecepatan dan kekuatan serangannya sejak ia memasang kuda-kuda awal, jadi sambutannya adalah hal yang pasti.
Tapi itu sendiri adalah perangkap Stella!

Itu bekerja!

Stella mengabaikan ayunannya dan melompat mundur sambil tersenyum. Jika Ikki telah memahami gayanya, maka ia sudah pasti tertangkap basah, karena Stella, yang hanya menyerang sejauh ini, sedang mundur untuk pertama kalinya.

Ikki mengambil inisiatif setelah memahami gayanya, dan ia langsung jatuh pada tipuan itu. Tebasannya meleset dengan margin yang lebar. Sudah mengincar momen itu sejak awal, Stella memukulkan Lævateinn-nya ke sisi terbuka Ikki. Itu adalah variasi taktik tiba-tiba dari Stella,
yang selama ini hanya menyerang terus terang sampai sekarang.

Pisau hitam Intetsu, yang menebas ruang kosong, tidak bisa merespon perubahan tiba-tiba ini. Bilah pedang Lævateinn dengan mulus menyabit ke arah tubuh Ikki yang tidak terjaga.

Itu harusnya bekerja, tapi?

“Pedangmu setengah tertidur, tahu.”

?Bilah pedang Lævateinn tidak pernah menjangkau sisi Ikki. Itu telah diblokir.

T-Tidak mungkin!?

Ia telah mengubah ritmenya, menghentikan pendekatannya, dan bahkan memasuki titik butanya.
Pedang Intetsu seharusnya terlalu jauh untuk bereaksi terhadap tebasannya, tapi tebasannya tetap terblokir!

Bagaimana!? Jawaban dari pertanyaan itu adalah? gagangnya. Ikki memblokir serangan tipuan Stella dengan gagang Intetsu, menggunakan celah kecil di antara kedua tangannya saat ia menggengam pegangannya.

Persepsi gerak seperti apa yang dimiliki orang ini!?

“Mengincar kemenangan dengan sembarangan setelah merasa tertekan? Menebas sambil mundur itu bukan gayamu. Bahkan orang sepertiku bisa menghentikan serangan lemah seperti itu. Gerakan itu adalah kehancuranmu.”

Sambil mengatakan itu, Ikki mendorong jauh Lævateinn, menciptakan celah besar di pertahanannya.

“Haaaaa!”

Dan dengan pedang Intetsu, ia menebas tubuh Stella yang tak berdaya.

tags: baca novel Rakudai Kishi no Eiyuutan Bahasa Indonesia, web novel Rakudai Kishi no Eiyuutan Bahasa Indonesia, light novel Rakudai Kishi no Eiyuutan Bahasa Indonesia, novel Rakudai Kishi no Eiyuutan Bahasa Indonesia, baca Rakudai Kishi no Eiyuutan Bahasa Indonesia V1: Chapter 1 Part 4, Rakudai Kishi no Eiyuutan Bahasa Indonesia V1: Chapter 1 Part 4 manga, Rakudai Kishi no Eiyuutan Bahasa Indonesia V1: Chapter 1 Part 4 online, Rakudai Kishi no Eiyuutan Bahasa Indonesia V1: Chapter 1 Part 4 bab, Rakudai Kishi no Eiyuutan Bahasa Indonesia V1: Chapter 1 Part 4 chapter, Rakudai Kishi no Eiyuutan Bahasa Indonesia V1: Chapter 1 Part 4 high quality, Rakudai Kishi no Eiyuutan Bahasa Indonesia V1: Chapter 1 Part 4 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of