Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 – Chapter 59

Dibaca 558 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

ARC 4 – PERJANJIAN KONTRAK YANG ABADI

Chapter 59 – [Biskuit Manis dan Cerita Pahit]

[Frederica:….. Ternyata kau kembali lebih cepat dari yang ku kira]

Berdiri di depan pintu yang terbuka dengan tatapan yang tajam dan mata yang membelalak, pembantu bertubuh tinggi tersebut menyambut kepulangan Subaru dengan bisikan yang lembut.

[Subaru: Ya, kami menghadapi suatu masalah sehingga akhirnya aku harus kembali. Kami telah pergi selama dua… tidak, tiga hari bukan? Maaf aku tidak segera memberi kabar kepulanganku. Jadi, bolehkah aku masuk sekarang?]

Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia Ilustrasi Arc 4
Sambil berada di punggung Patrasche, Subaru menjawab dengan nafas yang terengah-engah akibat kelelahan setelah selama setengah hari berjalan menungganginya. Melihat Subaru masih dapat bercanda dengan penampilannya yang tidak karuan, si pembantu – Frederica meletakkan tangan di depan mulutnya untuk menutupi taringnya yang keluar dari senyumannya,

[Frederica: Tentu saja. Merupakan sebuah penghinaan atas tugasku sebagai pelayan Master, jika aku gagal memberikan pelayanan yang terbaik kepada tamu. Aku akan membawa naga darat tersebut ke kandang. Subaru-sama silahkan untuk masuk duluan! Petra akan menyiapkan segala kebutuhan anda.]

[Subaru: Kau tidak perlu repot-repot untuk…. maksudku, terima kasih banyak]

Melompat turun dari Patrasche,  lututnya bergoyang saat mendarat.  Meskipun ia berhasil mencegah dirinya terjatuh dengan berpegangan ke tali alur, sepertinya dirinya jauh kelelahan dari yang ia kira. Hal itu sangat wajar, mengingat dirinya dengan terburu-buru pergi sepanjang jalan dari Sanctuary tanpa istirahat sedikitpun, bahkan setelah dirinya terjaga semalaman. Meskipun memiliki Divine Protection of Wind Evasion (gw gk tw di cerita sebelumnya di artiin jadi ap) dan Patrasche sudah berhati-hati untuk tidak memberikan beban kepada pengendaranya, perjalanan selama enam jam tersebut telah memberikan dampak ke tubuh Subaru.

Menyadari tubuhnya sudah menahan lebih dari yang ia kira, Subaru dengan cepatnya menerima penawaran Frederica. Sambil memberikan tali alur ke Frederica, dia menepuk-nepuk punggung Patrasche yang sedang khawatir,

[Subaru: Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Kau lah yang seharusnya ku ucapkan terima kasih karena telah membawa ku sampai sejauh ini. Sekarang saatnya bagimu untuk pergi ke kandang dan mendapati dirimu disikat dengan baik, ok?]

Tidak seperti kuda, tubuh naga darat tidak diselimuti oleh bulu, tetapi mereka masih menikmati saat sisik keras mereka dibersihkan dengan sikat, begitu juga dengan Patrasche. Dia dengan girangnya mennghendus Subaru dengan moncongnya, saat mendengar perkataannya. Diperlakukan dengan frontal seperti itu, Subaru akhirnya berteriak [Uwa!] dan perlahan mundur kebelakang.

[Frederica: Ya ampun, kau sepertinya sungguh bersemangat akan hal ini. Mari ikut denganku, Patrasche-chan! Akan ku buatkan ranjang baru dari jerami untukmu.]

[Subaru: Kalau begitu aku akan menitipkannya padamu. –Hey, Frederica]

[Frederica: Ya?]

Sambil membimbing Patrasche menggunakan tali alur, dia sedang membawanya ke kandang saat Subaru memanggilnya dari belakang.  Menghentikan langkahnya, Frederica pun menoleh kebelakang. Meskipun wajahnya terlihat sedikit menakutkan, namun rambut panjangnya yang berwarna keemaasan yang berayun terlihat sangat halus. Subaru pun membunyikan lehernya dan,

[Subaru:–Apa kau ada rencana untuk pergi ke kandang yang ada di gunung hari ini?]

[Frederica: ……? Tidak, tidak ada, apakah ada masalah?]

Mendengar pertanyaan Subaru yang pelan, Frederica membalas dengan nada yang terdengar enggan. Melihat cara dia menjawab, dari ekpresi dan tatapannya, Subaru menggelengkan kepalanya untuk menyatakan [Tidak],

[Subaru: Kalau tidak, lupakan saja. Lalu, maaf untuk menanyakan hal ini, tapi, setelah kau selesai dengan Patrasche, bisakah kau kembali ke dalam sesegera mungkin? Ada beberapa hal tentang Sanctuary yang ingin ku bicarakan denganmu.]

[Frederica: Aku mengerti. Aku akan segera kembali.]

Sambil berjalan setelah membungkuk memberi hormat, Frederica membawa Patrasche pergi. Melihatnya dari tangga Mansion, Subaru meregangkan badannya di tempat dan mengakat pandangannya ke – arah Mansion yang kemegahannya tidak berubah. Entah suatu saat nanti, pedang yang melambangkan kiamat akan datang. Tetapi sebelum itu—

[Subaru: Sebelum kiamat itu datang, aku harus menemukan cara untuk menghentikannya]

Sudah terlalu banyak pengorbanan yang terjadi dalam lingkaran ini.

Namun, meskipun dia turut berduka kan dunia yang akan lenyap, Subaru harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang setimpal sebagai balasannya.

Demi tangisan Garfiel, dan demi kesedihan yang akan di alami Emilia.

Natsuki Subaru telah diberikan tekad untuk menyelesaikan pertarungan, dan mengalihkan pandangannya dari rasa sakit.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Petra: Waa! Kau kembali terlalu awal.]

Perkataan yang pertama kali menyambutnya ketika ia memasuki Mansion adalah salam dari Petra yang sangat menggemaskan. Meskipun maksud dari perktaanya kurang lebih sama seperti Frederica, namun perasaan yang terkandung di dalamnya berada di tingkat yang sangat berbeda.

[Petra: Kau terlihat lelah, apa kau baik-baik saja? Maksudku, apakah anda merasa baik-baik saja? Saya bisa segera mempersiapkan kamar mandi, jika anda merasa ingin…. Apa ada yang salah?]

[Subaru: Tidak, tidak, aku hanya merasa segar kembali ketika aku melihat Petra. Jika dipikirkan kembali, hanya kau satu-satunya orang yang aku bisa bebas mengatakan apapun yang ada dipikiranku tanpa harus mengkhawatirkan perkataanku]

Mendapati pola perkataannya yang sopan dan santai bercampur aduk, Petra dengan girangnya mengitari Subaru. Subaru mengulurkan tangannya dan mengelus rambut Petra yang berwarna coklat kenari, dan dia tertawa dengan ekpresi yang sangat menggemaskan. Tentu saja, ‘menyegarkan’ merupakan kata yang sangat tepat.

Namun, hampir di saat yang bersamaan, kejadian saat dia terakhir kalinya mengunjungi Mansion bermunculan di pikirannya, beserta dengan takdir mengerikan yang akan menimpa Petra.

[Subaru: Petra, mungkin ini sedikit mendadak, tetapi….. bisakah kau mendengarkan permintaanku ini?]

[Petra: ……? Mmm. Baiklah. Aku akan melakukan apapun yang Subaru-sama minta, tidak peduli apapun itu]

[Subaru: A’hahaha, aku lega mendengarnya. Baiklah. Ini tentang hal yang penting. Frederica juga akan segera kembali, jadi mari kita bicarakan nanti di ruang tamu. Bisakah kau mempersiapkan beberapa teh nanti?]

[Petra: Frederica onee-chan juga akan di sana?]

[Subaru: Ya. Ini untuk menentukan apa yang akan terjadi saat ini dan kedepannya, dan ini juga berkaitan dengan Petra. Jadi aku ingin kau juga berada di sana.]

[Petra: Berkaitan, denganku…..?]

Sembari menutupi bibirnya, Petra terlihat sedang tenggelam dalam pikirannya. Kemudian, seakan-akan dirinya secara mendadak menyadari sesuatu, dia mendekatkan wajahnya yang merah tersipu malu.

[Petra: Jadi, ini tentang hal yang super penting mengenai diriku dan Subaru-sama?]

[Subaru: Ummmm, kurasa  bisa dibilang seperti itu? Ini tentu saja merupakan hal yang penting bagi Petra dan bagiku. Akan tetapi, ini bukan sesuatu yang bisa kita putuskan hanya diantara kita berdua]

[Petra: Namun, perasaan orang yang berkaitan juga penting, bukan?]

[Subaru: Perasaan? Tentang perasaan? Perasaan ya….. mungkin, juga penting? Memang benar kalau ini semua tidak akan berjalan kalu setiap orang memiliki perasaan yang berbeda, jadi…. Ya itu juga penting, kurasa?]

Melihat Subaru mengangguk atas pernyataannya, wajah Petra terlihat berseri sembari dirinya berputar di tempat. Kemudian dia hampir menari sambil berlari ke dalam Mansion.

[Petra: Tunggu aku! Aku akan segera kembali! Jangan kemana-mana!]

[Subaru: Aku tidak akan kemana-mana….. Petra, jika kau berlari terlalu cepat kau bisa terjatuh]

Melihat Petra dengan cepatnya menaiki tangga menuju ke kamar pelayan, Subaru tiba-tiba mengingat sesuatu dan memanggilnya dari belakang, [Petra!],

[Subaru: Petra, terima kasih atas sapu tangannya. Meskipun mungkin ini tidak berfungsi sesuai dengan keinginanmu, namun, ini sungguh sangat membantu]

[Petra: Benarkah? Aku membantu Subaru-sama?]

[Subaru: Ya, menyelamatkan nyawaku….. ya, tidak persis, namun kurang lebih terasa seperti itu}

Subaru mengeluarkan sapu tangan putih yang Petra berikan sebagai hadiah. Itu merupakan senjata yang dia gunakan untuk membunuh dirinya sendiri di lingkaran sebelumnya saat pertemuan terakhirnya dengan Witch of Envy, sesaat sebelum dirinya ditelan. Fungsi tersebut tidak diragukan lagi merupakan perbuatan dari Echidna, namun tetap saja semua itu dimulai dari perasaan Petra terhadapnya.

Bila dipikirkan kembali, jika efek dari kehendak Echidna tidak hilang, sapu tngan itu mungkin masih bisa digunakan sebagai senjata saat ini. Mungkin efek itu akan aktif saat kondisi yang sama terpenuhi, ketika nyawa Subaru dalam bahaya, atau ketika beberapa mantra sihir menyuntikannya dengan mana. Dia pun merasa bersyukur, karena syarat yang terakhir akan terasa sedikit sulit bagi Subaru.

[Subaru: Tentu saja, ini semua berkatmu. Setidaknya aku harus membalasmu atas hadiah ini.]

[Petra: Kalau begitu, kencyan! Sebuah kencyan!]

[Subaru: Um, apa kau mendengarnya dari Emilia?]

Kencan pertama dengan Emilia di desa Arlam merupakan hadiah dari Subaru karena telah mengusir/membantai para Wolgram di hutan. Di saat itu, para penduduk desa dan anak-anak memutuskan untuk membiarkan Subaru dan Emilia berduaan, dan sepertinya Petra masih mengingatnya.

[Subaru: Aku mengerti. Kalau begitu izinkan aku untuk menjadi pengawalmu Merupakan suatu kehormatan dan kebanggan bagiku untuk bisa menjadi pasangan dari kencan pertama Petra]

[Petra: Berjanjilah!]

[Subaru: Ya, aku berjanji]

Dengan girangnya mengangkat kedua tangannya dengan senyumnya yang bermekaran, Petra melompat-lompat menuju lorong.  Melihat punggung dari tubuhnya yang kecil menghilang menuju lorong, pikiran Subaru teralihkan dengan masa depannya yang mungkin terjadi. Gadis menggemaskan dengan masa depan yang cerah menantinya. Dalam lima, bukan, tiga tahun kedepan, dia akan bertumbuh menjadi gadis yang cantik.

Ketika saat itu tiba, dia seharusnya akan mulai lupa tentang perasaannya pada Subaru. Tetapi, kenyataan bahwa gadis seperti itu memilih Subaru sebagai kencan pertamanya membuat Subaru merasa puas dan berdosa. Jadi,

[Subaru: Aku akan berusaha memenuhi janji tersebut, Petra]

Dia tidak akan mengingat janji di antara mereka di dunia yang akan hancur ini.

Namun Subaru akan selalu mengingat kenyataan bahwa dia telah membuat janji tersebut.

Ketika dia akhirnya memilih msa depan yang terbaik, dia akan membuat janji tersebut padanya sekali lagi. Dengan senyuman Petra yang terngiang di pikirannya, Subaru menggerakkan langkahnya menuju ruang tamu.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Duduk di sofa yang berada di ruang tamu, Subaru tersenyum kaku kepada Petra, yang duduk di seberangnya dengan wajahnya yang cemberut dan kemerahan.

Sambil mengayunkan kakinya di ujung sofa, Petra tidak sedikitpun menahan dirinya untuk tidak menunjukan rasa ketidakpuasannya karena hasil dari pembicaraan sebelumnya. Melihat Subaru tersenyum atas kelakuan gadis tersebut, pelayan lain yang lebih tua yang duduk di sampingnya akhirnya mengatakan sepatah atau dua patah kata,

[Frederica: Kenapa kau membuat wajah seperti itu, Petra? Sangat tidak sopan untuk melakukan hal seperti itu di depan Subaru-sama]

[Petra: Tapi, tapi, Frederica onee-chan……]

[Frederica: Tidak ada tapi-tapian. Bahkan jika kau cukup akrab satu sama lain, tidak ada alasan untuk bertindak tidak sopan. Jika dalam kegiatan sehari-hari kau tidak mengingatnya, bagaimana kau bisa mengingatnya saat ada acara penting? Kau merupakan anak yang pintar, tetapi kau harus lebih berhati-hati akan hal seperti ini]

[Petra: Uuuu~~]

Petra dengan kecewanya menggigit bibirnya dan menundukkan kepalanya.

Merasa tidak enak melihat gadis itu dimarahi, Subaru mencoba menenangkan suasana dengan mengatakan [Tidak apa-apa, tidak apa-apa], namun akhirnya menyerah saat Frederica menatapnya dengan tajam. Setelah berkumpul dengan Frederica, yang baru saja kembali dari kandang, dan Petra, saat dirinya telah selesai menyajikan teh, mereka bertiga akhirnya duduk di kursi masing-masing di ruang tamu dan memulai pembicaraan yang penting tersebut.

Dan sekarang, Petra sedang kecewa karena perkataan Subaru. Isi dari perkataan tersebut adalah,

[Petra: Kenapa aku harus pergi meninggalkan Mansion? Aku baru seminggu berada disini dan….]

Melihat mata Petra yang berair seakan dia akan menangis, Subaru merasa dirinya tertusuk akan rasa bersalah. Namun, mengingan bencana yang tidak lama lagi akan meninmpa Mansion, Subaru tidak bisa menjaga dirinya tanpa rasa bersalah.

Jadi Subaru menguatkan hatinya dan menggelengkan kepalanya.

[Subaru: Aku tidak bermaksud memintamu pergi meninggalkan Mansion selamanya. Kami tidak ingin meninggalkanmu, hanya memintamu untuk tinggal di desa selama seminggu…. Aku hanya ingin kau tetap berada dirumah selama waktu tersebut]

[Frederica: Dan kau tidak bisa mengatakan alasannya mengapa demikian, benarkan?]

[Subaru:….. Tidak secara detail. Namun, salah satu alasannya adalah karena ada bahaya yang akan menimpa Mansion. Frederica, kau tahu tentang penyerangan dari Witch Cult/sekte penyihir belum lama ini, bukan?]

Witch Cult/Sekte Penyihir. Ekspresi Frederica mulai menjadi gelap mendengar kata tersebut. Ketika dirinya sedang pergi, para Witch Cult/Sekte Penyihir yang dipimpin Betelguese menyerang Mansion dan Desa Arlam. Kejadian tersebut terjadi baru dua minggu yang lalu.

Mendapati dirinya tumbuh di Sanctuary, Frederica seharusnya sadar bahwa identitas dirinya sebgai setengah elf dapat memancing perhatian yang tidak diinginkan, dan bagaimana hal tersebut akhirnya memicu penyerangan ini terjadi.

Seperti yang Subaru perkirakan, terlihat ekpresi rumit dari wajah Frederica sembari dirinya menganggukkan kepalanya,

[Frederica: Jika itu benar, maka keputusan Subaru-sama merupakan pilihan yang tepat. Lagipula, kau masih belum menemukan cara untuk melindungi dirimu sendiri, Petra]

[Petra: Tetapi itu bukan masalah! Subaru akan melindungiku!]

[Subaru: Meskipun aku ingin mengatakan “Serahkan padaku!’ layaknya seorang pria, aku sangat menyadari akan betapa lemahnya dan tidak kompetennya diriku ini, jadi aku tidak akan mengatakan hal seperti itu]

Meskipun Petra berdiri untuk membantah, tetapi bantahannya yang kekanak-kanakan langsung ditolak dengan pengakuan Subaru atas kelemahan dirinya. Petra dengan kecewanya menurunkan bahunya mendengar respon Subaru, sementara Frederica mengelus kepalanya dengan lembut untuk menenangkan dirinya,

[Frederica: Petra, jangan bersedih. Tidak bisakah kau lihat seberapa menyesalnya Subaru-sama mengakui atas ketidak berdayaan dirinya?]

[Petra: ….Uunn, Frederica onee-chan]

[Frederica: Semua orang pernah meragukan atas keterbatasan mereka masing-masing. Subaru-sama pun demikian, begitu juga dengan kau. Dengan mengakuinya, Subaru-sama tanpa henti mencari cara untuk mengatasinya. Jadi, bagaimana dengan Petra?]

[Petra: Uu~]

Menahan kembali lagi tangisannya, Petra melihat ke arah Subaru,

[Petra: Apa, apakah sungguh…… tidak ada hal yang dapat kulakukan di Mansion?]

[Subaru: …..Mn, maaf. Tidak ada apapun yang Petra bisa lakukan untuk membantuku saat ini. Dan aku tidak cukup kuat untuk dapat menjagamu. Maafkan aku]

Melihat Subaru menundukkan kepalanya, Petra mengejamkan matanya dan mengusapnya dengan lengan bajunya.

Ketika dia membuka kembali matanya, tidak terlihat sedikitpun bekas tangisan air mata. Dengan sedikit warna merah pucat yang tersisa di sudut matanya, dia mengangkat ujung roknya dengan sopan,

[Petra: Saya mengerti, Subaru-sama. Mulai malam ini, Petra akan mempersiapkan dirinya untuk pergi. Saat semuanya telah berakhir, tolong pastikan untuk memanggilku kembali]

[Subaru: Ya, tentu saja. Saat semuanta telah berakhir…..]

Saat semua orang di Mansion dan semua orang di Sanctuary aman, dan saat wajah mereka dipenuhi akan senyuman.

Petra menerima permintaan Subaru, dan akhirnya hal tersebut tanda berakhirnya fase awal dari pembicaraan mereka.

–Sembari mengambil cangkir yang sudah kosong dan sedikit merapihkan dirinya, Petra pun beranjak pergi dari ruang tamu, dan hanya Subaru dan Frederica yang tersisa di ruangan.

Dengan suara dari pintu yang tertutup, dan merasakan langkah Petra yang perlahan semakin menjauh menuju lorong, Subaru mengambil sepotong biskuit manis dan mulai mengambil satu gigitan,

[Subaru: Apa kau keberatan jika aku menanyakan beberapa pertanyaan, Frederica?]

[Frederica: Tergantung atas pertanyaanya, Subaru-sama]

Mendengar jawabannya yang seakan menyatakan  dirinya sedikit keberatan, Subaru pun tersenyum kaku. Tanpa mempedulikan hal tersebut, Frederica tetap tenang, menunggu pertanyaan pertama dari Subaru.

Mengambil nafas yang dalam, Subaru membebankan pikirannya untuk berpikir mencari perkataan apa yang harus dia katakan pertama kali. Tetapi hanya ada saut-satunya pertanyaan yang dia ingin dengar jawabannya.

[Subaru: Apa sebetulnya hal yang Garfiel ingin capai di Sanctuary?]

[Frederica: –Apa ada yang terjadi antara anda dan adik laki-laki saya yang tidak berguna itu?]

[Subaru: Ada banyak hal, sebenarnya. Entah itu tentang perbedaan pendapat kami yang bertolak belakang sepenuhnya, atau jika hal tersebut dapat diselesaikan dengan kata-kata…. Hal itulah yang ingin aku ketahui]

Tergantung dari jawabannya, Subaru akan perlahan menyesuaikan rencananya

Entah untuk memperlakukan Garfiel sebagai musuh yang harus dihancurkan, atau sebagai rekan yang layak dibawa di sisinya.

[Frederica: Semenjak anda tidak terdengar terkejut, adik laki-laki ku sepertinya sudah memberitahukan hubungannya denganku?

[Subaru: Lewes-san pun tidak membantahnya. Kau mengenal Lewes-san, bukan?]

[Frederica: Tentu saja. Ketika saya masih tinggal di Sanctuary, dialah orang yang mengasuh kami seperti keluarganya sendiri….. Mengingat lamanya kami tinggal bersama, dia suah seperti ibu, atau nenek bagi kami]

[Subaru: Hal itu menjelaskan mengapa Garfiel tetap memanngilnya nenek]

Subaru masih bisa mengingat jeritannya yang memilukan hati memanggil “Nenek” saat dia meninggalkannya.

Mungkin seperti itulah Garfiel biasa memanggilnya, sebelum akhirnya dia menggunakan panggilan yang lebih kasar “Nenek tua”. Jika seperti itulah yang ia rasakan,

[Subaru: Apakah Garfiel bertingkah seperti cucu yang manja saat dia masih kecil?]

[Frederica: Jika yang anda maksud tentang hubungannya dengan nenek kami…. maka itu benar. Disamping penampilannya yang seperti itu, adik laki-laki saya sangat sentimental, dan saya percaya bahwa dia sangat sayang dengan nenek kami, meskipun dia berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikannya]

Di mata kakaknya, perasaan mendalam Garfiel terhadap Lewes terlihat sangat jelas.

Tetapi Subaru masih tidak mengerti apa yang salah hingga membuat orang yang menyatakan dirinya sebagai pelindung Sanctuary akhirnya melakukan hal kejam seperti yang telah ia perbuat.

[Subaru: Kebiasaan tingkah lakunya mungkin merupakan salah satu pertimbangan, tetapi tentang apakah aku bisa memafkannya…..]

[Frederica: Subaru-sama?]

[Subaru: Bukan apa-apa. Aku hanya teringat akan sesuatu yang membuat kebencianku sedikit meluap. Meskipun aku mencoba sebaik mungkin membiarkan prasangkaku menutupi penilaianku…]

Apa yang Garfiel pikirkan sehingga mendorongnya untuk membantai para penduduk desa? Bahkan saat ini, Subaru tidak dapat menyimpulkan apa yang terjadi di dalam pikirannya.

Namun, sebagai hasil akhir dari eksperimen keabadian Sanctuary, hak kendali untuk mengawasi Lewes Meyers dan proses pemeliharaan fasilitasnya seharusnya sudah pasti di tangan Garfiel.

Lalu, mengapa dia akhirnya akan menghancurkan fasilitas tersebut? Dan sebelum semua itu, bagaimana dia bisa mempunyai hak kendali atas semua itu? Masih terlalu banyak hal yang Subaru tidak mengerti——

[Subaru: Frederica. Aku sudah mengetahui bahwa kau pernah menjadi bagian dari Sanctuary. Dan, sebagai darah campuran, kau dapat melewati barier tanpa kesulitan sedikitpun]

[Frederica: Bagaimana anda bisa….]

[Subaru: Dan begitu juga dengan Garfiel. Namun, meskipun dia bisa pergi, dia memilih untuk tetap tinggal. Katakan, Frederica. Apakah kau….. mengetahui alasan utama mengapa Sanctuary didirikan?]

Hanya baru empat hari semenjak Subaru pergi menuju Sanctuary. Jumlah informasi tak terkira yang telah ia kumpulkan sungguh mengejutkan,  tetapi mata Frederica semakin terbuka lebar saat dia mendengar pertanyaan Subaru.

[Frederica: Tidak, saya tidak mengetahui secara detail. Saya mengerti bahwa Sanctuary pertamakali didirikan oleh leluhur Witch of Greed dengan tujuan untuk melakukan suatu ekperiman, tetapi….]

[Subaru: Kau tidak tahu? Benarkah? Kau yakin kau tidak ingin merubah jawabanmu?]

[Frederica: Saya tidak dapat mengetahui apa yang anda curigai dari saya, tetapi jawaban saya tidak akan berubah. Sanctuary memang sudah menjadi tempat ekperimen Witch dan Pengikat/Pembatas yang telah digambar oleh Witch masih berbekas, dan tidak akan bisa lenyap sampai Ujian akhirnya dapat terselesaikan. Sejauh itulah yang saya ketahui]

[Subaru: Tunggu. Kalau begitu, Frederica….. kau tidak mengetahui apapun tentang kuasa kendali yang digunakan untuk mengontrol para replika?]

[Frederica: Repli…..ka? Tidak, saya tidak pernah mendengar hal semacam itu]

Bantahannya terlihat sama seperti sebelumnya.

Mendengar jawaban darinya, Subaru merasa kehabisan kata sembari menyenderkan dirinya ke sofa.

[Frederica: Saya mohon maaf. Sepertinya jawaban saya tidak memenuhi ekspetasi anda]

[Subaru: Tidak, tidak apa-apa. Itu bukan salahmu….. Frederica, sudah berapa tahun berlalu sejak kau terakhir kali meninggalkan Sanctuary? Jika kau tidak keberatan, boleh aku bertanya?]

[Frederica: Sudah sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika saya pergi meninggalkan Sanctuary untuk menjadi pelayan di Mansion. Ram tiba beberapa saat kemudian setelah saya, jadi bisa dibilang saya adalah pelayan tertua di sini]

Nama Rem tidak sedikitpun terbenak dalam pikiran Frederica, dan isi dari pengetahuannya tentang Sacntuary tidak berbeda dengan lingkaran sebelumnya.

Menghelakan nafasnya, Subaru memutuskan bahwa kemungkinan Frederica sedang menyembunyikan infromasi darinya mendekati nol. Meskipun sudah mengganti cara pendekatannya, jawabannya tetap sama, yang bisa dibilang bahwa semua pernyataan itu merupakan kebenarannya.

Frederica tidak mengetahui tentang ekperimen keabadian, dan kemungkinan juga tidak menyadari akan replika Lewes. Entah karena para Lewes dapat dengan baiknya menyembunyikan kegiatan mereka sehari-hari, atau Frederica saat kecil merupakan anak yang bodoh.

[Subaru: Tetapi kalau begitu, bagaimana dengan Garfiel? Kapan pria tersebut mengetahui kebenaran tentang Sanctuary…..?]

Jika Garfiel memegang kuasa perintah atas para replika, dia seharusnya mengetahui tentang fasilitas tersebut. Bahkan jika bukan karena hal itu setidaknya dialah satu-satunya yang mungkin akan menghancurkannya di kemudian hari. Jika dia mengetahui hal ini ketika kakaknya tidak mengetahuinya, maka kemungkinan dia menemukannya setelah kakaknya pergi meninggalkan Sanctuary. Atau, mungkin, karea ia tahu maka dia memilih untuk tetap tinggal disana?]

[Subaru: —— Ah]

Memikirkan hal itu, Subaru tiba-tiba menyadari potongan penting yang selama ini dia abaikan. Saat dia menyadari hal ini, dia tidak dapat percaya betapa bodohnya dirinya selama ini.

[Subaru: Jika pria itu memegang kuasa perintah atas para replika, bukankah itu berarti dia telah memenuhi syarat sepertiku? Artinya, pria itu juga diakui sebagai Apostle of Greed, bukan….]

Bisa dibilang, tidak ada bukti lain yang lebih baik selain kenyataan bahwa Garfiel telah bertemu dengan Witch of Greed, Echidona.

Subaru memeluk kepalanya, membenci kenyataan bahwa dirinya tidak menyadari hal ini lebih awal. Entah itu semua karena penilaiannya saat menjalani Ujian atau empatinya terhadap kegagalan Emilia, hal itu dapat menjelaskan semuanya.

[Subaru: Frederica —— Garfiel pernah menantang Ujian sebelumnya, bukan?]

[Frederica : ——! Bagaimana anda bisa-]

[Subaru: Itu semua karena semua petunjuk menuju ke sana sehingga aku dapat menyimpulkannya seperti itu. Meskipun tentu saja, aku rasa dia gagal….. namun apa yang sebenarnya terjadi?]

Pengakuan dari Frederica terdengar sangat bagus yang membuat Subaru seakan sedang mengepal genggamannya ke sekitar pecahan utama dari teka-teki ini.

Sambil menghela nafasnya di depan Subaru yang dengat semangatnya mencari tahu kebenaran tersebut, Frederica memejamkan matanya seolah untuk mereka kembali ke dalam ingatannya.

[Frederica: …..  Saya bukanlah satu-satunya yang berharap agar Sanctuary bisa dibebaskan. Ada saat dimana adik saya juga berjuang  agar nenek dan yang lain suatu hari nanti dapat melihat dunia luar. Saat itu adik saya masih sangat muda, saat dia mengendap-endap masuk ke Makam untuk menantang Ujian. Dan saya masih mengingat betapa cemburunya saya atas kecerobohannya]

[Subaru: Frederica… pernakah kau pergi ke dalam sana?]

[Frederica: Saya sendiri tidak pernah punya keberanian untuk melakukannya. Meskipun saya mengetahui kalau berhasil melewati Ujian artinya pembebasan dari Sanctuary, saya selalu diberitahu untuk tidak boleh pergi kesana.  Itulah sebabnya saya merasa sangat iri dengan adik saya saat dia berlari menuju ke dalam sana]

Dia hampir dapat melihatnya.

Bahkan lebih gegabah dari dirinya yang sekarang, si Garfiel muda seharusnya telah pergi ke Makam dengan penuh percaya diri hanya dengan keinginan sederhana untuk membiarkan orang-orang yang dia kasihi bisa mendapatkan sedikit gambaran akan dunia luar.

Namun,

[Frederica: Ketika adikku tidak kunjung keluar, saya merasa sangat menyesal karena tidak menghentikannya dan akhirnya saya pergi mencari nenek….. dan meskipun nenek terlihat ragu sesaat, dia akhirnya memilih masuk untuk mencarinya. Saya duduk di sana sambil berdoa, dan, tidak lama kemudian, dia membawa pulang adik saya kembali. Namun…]

——*Jangan pernah pergi ke Makam lagi. Lupakan apapun yang kau lihat hari ini dan jangan pernah mengatakan hal ini kepada siapa pun.*

Pasti Itulah yang Lewes minta padanya.

Mendengar cerita ini, Subaru mengingat kembali pertentangan di antara perkataan para Lewes sebelumnya. Ada Lewes yang mengaku dirinya pernah pergi ke Makam, dan ada Lewes yang mengaku dirinya tidak pernah pergi kesana, beserta dengan kenyataan bahwa mereka tidak dapat berbohong, akhirnya pertentangan ini terselesaikan.

Dan, hanya setelah pembicaraan inilah dia baru menyadari,

[Subaru: Garfiel pernah menantang Ujian. Dan disana, seharusnya dia telah bertemu dengan Witch of Greed. Semua hal ini akhirnya mulai masuk akal…]

Kenapa Garfiel merasakan apa yang yang ia rasakan sekarang terhadap Ujian, dan kenapa kuasa perintah ada di tangannya. Jawaban tersebut terletak di masa lalunya. Kenapa dia ingin menghentikan Subaru membebaskan Sanctuary, dan kenapa Echidona tidak pernah meberitahukan Subaru tentang Garfiel. Semua jawaban itu berada di dalam Makam.

[Subaru: Aku harus bertemu dengan Echidona setidaknya sekali lagi…]

Dan untuk menguak semua rahasia yang Witch of Greed coba sembunyikan darinya.

Subaru dengan tenangnya membulatkan tekadnya sembari Frederica melihatnya di dalam kesunyian.

Merasakan tatapannya, Subaru menggaruk pipinya sambil mengatakan [Maaf],

[Subaru: Untuk semuanya. Dan untuk menanyakanmu pertanyaan yang tidak ingin dengar]

[Frederica: Tidak apa-apa, Saya tahu bahwa itu perlu. Saya juga menerima perintah yang serupa dari Master. Jika memberitahukanmu akan hal ini…. Dapat membantu Emilia-sama membebaskan Sanctuary, maka saya tidak keberatan sama sekali]

[Subaru: Sanctuary tentu saja akan dibebaskan. Ada alasan yang membuatku harus menjamin hal itu terjadi, dan aku akan melakukan cara apapun untuk membuat hal itu dapat terwujud. Namun seberapa banyak cara yang diperlukan untuk menyesuaikan dengan rencana Garfiel, aku perlu untuk menuliskan semuanya]

[Frederica:……….]

[Subaru: Aku tidak mengetahui apa yang dipikirkan Garfiel. Kasus terburuknya, dia akan selalu berurusan dengan ku di setiap saat, namun aku tidak akan berkompromi sedikitpun. Sebanyak apapun aku harus meminta maaf, itu semua demi kebaikan yang lebih besar]

 

Demi dapat mencegah musibah menimpa Mansion dan Sanctuary, Subaru harus menyingkirikan semua yang menghalangi jalannya.

Mendengar jawaban Subaru, Frederica sekali lagi dengan perlahan memejamkan matanya,

[Frederica: Tolong jaga adik saya yang tidak berguna itu dengan baik]

——Dia menundukan kepalanya dan membalas.

tags: baca novel Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia, web novel Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia, light novel Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia, novel Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia, baca Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia Arc 4 - 59, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia Arc 4 - 59 manga, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia Arc 4 - 59 online, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia Arc 4 - 59 bab, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia Arc 4 - 59 chapter, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia Arc 4 - 59 high quality, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia Arc 4 - 59 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!