Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 – Chapter 61

Dibaca 574 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Penerjemah: R24
Penyunting: AcunBJ
Korektor: –

ARC 4 – PERJANJIAN KONTRAK YANG ABADI

Chapter 61 – [Jeritan Dari Empat Ratus Tahun yang Lalu]

Terhipnotis oleh kesedihan di matanya, Subaru tidak dapat menahan dirinya untuk berpaling.

Sebuah emosi meluap di dadanya, membuatnya ingin terkekeh dan tertawa akan perkataanya.

――Apa yang baru saja kau katakan?

Dia seharusnya membalas balik perkataannya yang tidak masuk akal itu.

Dia seharusnya melengkungkan bibirnya menjadi senyuman dan membuat lelucon seperti yang biasanya mereka lakukan.

Tetapi hanya saja ada―― suatu firasat, yang mengatakan padanya bahwa itu tidak akan berhasil.

Karena sebaliknya,

 

[Subaru: ――――]

Apa yang membuatnya harus mentertawakan permohonan kematian gadis tersebut sebagai sebuah lelucon?

 

[Subaru: Apa yang baru saja…… kau katakan?]

 

Setelah keraguan sesaat dan jeda di dalam kesunyian, Subaru terabata-bata mengucapkan apa yang sudah ia pikirkan.

Semuanya itu akan sempurna jika bibirnya tetap tersenyum dan bahunya tidak gemetaran.

Namun,

 

[Subaru: …..a]

Pipinya mulai menjadi kaku, dan jangankan bahunya, dia gemetaran di sekujur tubuhnya, bahkan hingga ke ujung jemarinya.

Itu semua seolah Natsuki Subaru yang terpantul di mata Beatrice sedang terpaku di tempat, terjebak dalam kekangan dunia itu.

[Beatrice: Sesuai permohonanmu, aku akan mengatakannya sekali lagi, kurasa]

[Subaru: Tidak, tunggu……]

[Beatrice:  ――Betty ingin hidupnya diakhiri oleh tanganmu]

[Subaru: HENTIKAN!!]

 

Berteriak, Subaru membentak atas perkataan Beatrice.

Cukup aneh melihat bagaimana mereka bertukar posisi dari beberapa saat yang lalu

Itu merupakan kata yang sama yang Beatrice teriakkan ketika Subaru tanpa hentinya mengatakan pemikirannya.

Dan demikian, Subaru tidak punya hak yang sah untuk mengeluh ketika Beatrice melakukan hal yang sama padanya.

Akan tetapi, meskipun dia tahu bahwa dia tidak berhak,

 

[Subaru: Apa kau… sudah menyadari… apa yang telah kau katakan?]

[Beatrice: Aku yang seharusnya bertanya padamu. Apa kau mengerti apa yang kuminta, kurasa?]

[Subaru: Apa?]

[Beatrice: Aku ingin kau menjadi orang yang mengakhiri hidup roh ini, Beatrice. Kau akan menjadi “orang tersebut” yang menandai akhir dari kontrak ini, yang selama empat ratus tahun lamanya telah mengikatku]

 

“Kau seharusnya menganggap itu sebagai sebuah pujian”, seolah dia mengatakan hal tersebut melalui senyumannya yang aneh dan ironis.

Itu merupakan senyuman yang seolah haus akan sesuatu―― melihatnya, Subaru merasa seakan ada cakar yang berputar dan mencabik-cabik dadanya dari dalam.

Tidak dapat menahannya, dengan tangannya dia meremas dadanya,

 

[Subaru: Aku tak mengerti…… apa kau memberitahukanku bahwa kau ingin mati?]

[Beatrice: Apakah aku ingin mati? Sebenarnya, tidak, kurasa. Betty berharap agar kontrak ini berakhir. Betty ingin terbebas dari perjanjian kontrak yang abadi ini]

[Subaru: Jika itu berarti harus merenggut nyawamu, apa bedanya!!]

 

Menghentakkan kakinya, Subaru berteriak dari paru-parunya yang bergetar.

Dia sedang menginjak lembaran-lembaran gospel yang berserakan, tetapi dia tidak peduli.

Mengacungkan jarinya, Subaru menatap tajam Beatrice dan memakinya.

 

[Subaru: Jangan mengucapkan bahwa kau ingin mati seolah itu sebuah lelucon! Ingin mati atau apapun itu…… aku tidak peduli apa yang kau ucapkan pada orang lain…… hanya saja jangan ucapkan itu di hadapanku!]

 

Sekali kau mati, kau tidak dapat hidup kembali.

Natsuki Subaru merupakan pengecualian, dan bahkan dapat mengulangnya kembali jika ia mati. Hanya subaru yang dapat membuang hidupnya dan masih mendapatkan suatu yang bernilai, dan juga hanya Subaru yang dapat membenarkan bunuh diri.

Namun itu hal yang berbeda untuk Beatrice, ataupun bagi orang lain.

 

Sekali kehidupan itu hilang, selamanya tidak dapat bisa diselamatkan.

Mengetahui hal tersebut, dia masih mengatakannya di muka Subaru.

 

[Subaru: Apa maksudmu ingin mengakhirinya!? Apa kau menyadari seberapa egoisnya itu!? Meminta untuk mengakhiri…… mencoba untuk mati, bahkan jika semua orang lain memaafkanmu, aku tidak akan pernah memaafkanmu akan hal tersebut!]

[Beatrice: Sungguh perkataan yang cukup arogan, kurasa. ―― Dan hanya seberapa banyak yang kau ketahui tentang Betty?]

 

Namun, Beatrice membalas ucapannya dengan perkataan yang dingin dan keras kepala.

Dia merapikan gaunnya, berdiri, dan memainkan ujung rambut keritingnya dengan jemarinya,

 

[Beatrice: Betty adalah Penjaga dari perpustakaan Pengetahuan, dan telah mengawasi Perpustakaan Terlarang selama empat ratus tahun lamanya. Empat ratus tahun…….. sesuai kontrak, Betty telah menunggu di sini]

[Subaru: Empat… ratus tahun……?]

 

Angka itu lagi? Subaru ingin mendecakkan lidahnya dan mengerutkan alisnya.

Empat ratus tahun yang lalu merupakan jaman dimana para Penyihir merajalela, era kejam dimana sangat sedikit hal yang dilakukan oleh makhluk hidup berumur panjang yang ia ketahui.

Beatrice, juga hidup di jaman tersebut, dan masih hidup hingga hari ini.

 

[Beatrice: Aku mengikat kontrak dengan si Penyihir, dan akhirnya tinggal bersama Kediaman Mathers yang juga mengikat kontrak dengannya. Pada awalnya, aku mengikuti instruksi dari gospel, dan dengan sederhananya melewati hari demi hari dalam kesunyian, menunggu sampai waktu itu tiba]

[Subaru: ――――]

[Beatrice: Namun selama aku menunggu di sini, waktu di dunia luar terus berjalan, kurasa. Satu persatu, kepala keluarga dari Kediaman Mathers, yang juga menjalani tugas bersamaku, meninggal akibat umur yang tua dan diteruskan oleh generasi selanjutnya. Aku menyaksikan perpindahan kuasa mereka, tetapi waktu yang Betty jalani, tidak berubah, kurasa]

 

Dan seberapa menyakitkankah waktu tersebut yang telah dilalui Beatrice?

Nada patah semangatnya yang seolah menjadi cerminan dari abrasi yang tersisa oleh jalannya waktu yang hampa, membuat hati Subaru merasa dingin saat mendengarnya.

 

[Beatrice: Takdir datangnya hari yang dijanjikan――Beatrice tidak tahu kapan hari itu akan tiba, atau siapakah yang akan menjadi “orang tersebut”, dan aku melewati hari-hari tersebut tanpa mengetahui apapun]

 

“Namun, meskipun demikian”, Beatrice menggelengkan kepalanya,

 

[Beatrice: Hal itu tidak pernah membuatku khawatir, kurasa. Lagipula, Injil tersebut berada di tangan Betty. Selama aku menaruh keyakinanku kepada gospel yang mencatat masa depan, dan menunggu hari yang akan tiba itu tertulis di dalam lembaran putihnya, maka semuanya akan indah pada akhirnya. Jika aku hanya menunggu, saat itu pasti akan tiba…… aku telah mempercayai hal tersebut]

[Subaru: Tapi……]

 

Melihat kertas yang terinjak di bawah kakinya, Subaru merasakan kejamnya dari warna putih yang tak ternoda itu. Seakan mengerti maksud dari tatapan Subaru, Beatrice menganggukan kepalanya.

Kenyataannya, sebelum dia mengetahuinya, gospel tersebut yang seharusnya menjadi cahaya atas harapannya, telah――

 

[Beatrice: Setiap hari, memeriksanya dari waktu ke waktu, instruksinya tidak berubah……. bahkan sampai saat dimana waktu yang terlewati untuk memeriksanya pun tersa sangat menyakitkan]

 

[Subaru: ………..]

[Beatrice: Sudah berapa kali aku bermimpi akan munculnya kata-kata baru di halaman dari bagian isi terakhir, kurasa. Dari waktu ke waktu lagi, aku bermimpi bahwa hari dimana “orang” yang tidak aku ketahui itu akan datang mengunjungi Betty, saat dimana akhirnya aku akan memenuhi tugas yang diberikan padaku]

[Subaru: …….Beatrice]

[Beatrice: Kediaman Mathers bukannya tidak mempunyai pengunjung, kurasa. Banyak manusia yang telah mengunjungi Perpustakaan Terlarang Betty, dan banyak yang telah menyentuh pintu dari Perpustakaan Terlarang…… namun setiap kali, hati Betty akhirnya terkhianati]

 

Dan yang membuka pintu tersebut bukanlah “orang tersebut”.

Sudah berapa kali, dia telah kecewa, dan sudah berapa kali harapannya telah pergi. Berulang dan berulang kali, harapannya yang terkhianati telah menyayat hatinya hingga akhirnya tatapannya diselimuti akan kehampaan.

Dari waktu ke waktu lagi, harapan Beatrice berujung sia-sia. Dan bahkan sekarang, harapan itupun telah sirna. Dia tidak dapat lagi menahan rasa sakit saat dirinya diangkat oleh harapannya, sebelum pada akhirnya dirinya sekali lagi terjatuh ke tanah.

Sudah wajar kalau hatinya, yang sudah menahan terlalu banyak, akhirnya mulai terkoyak.

 

[Beatrice: Pada waktu itulah, bahwa aku menyadari……. atau mungkin, aku telah menyadarinya sejak lama, kurasa]

[Subaru: Menyadari apa?]

[Beatrice: Bahwa gospel tersebut tidak akan penah menunjukkan Betty instruksi lainnya]

 

Beatrice menekuk lututnya, dan mengambil sampul gospel yang tergeletak di bawah. Kehilangan semua lembarannya, sampul tersebut terlihat sangat hampa.

Mengangkatnya, dia mengelus sampul tersebut dengan jarinya, dan memulai kembali,

[Apa kau tahu, kurasa?],

 

[Beatrice: Bahwa gospel tersebut mencatat masa depan pemiliknya? Semakin sedikit pemiliknya menyimpang dari ingatan dunia, semakin jelas rincian yang tertulis]

[Subaru: kenangan dunia…..?]

[Beatrice: kenangan dari Dunia, kurasa. ―― Benda itu tidak hanya mengetahui tentang dunia saat ini dan di masa lampau, tetapi juga mengetahui tentang masa depan yang akan  datang. Itu merupakan buku terlarang yang mengambil beberapa pengetahuan yang secukupnya dari Buku Kebijaksanaan. Sedangkan gospel tersebut hanya mewarisi sebagian dari fungsi-fungsinya]

 

Echidona sendiri pernah menyebut Buku Kebijaksanaan sebagai “Kenangan dari Dunia”.

Sudah jelas, tidak diragukan kalau ada suatu hubungan erat antara Echidona dan Beatrice. Di sana, Beatrice sedang memegang sampul hitam tersebut, seolah untuk menunjukkannya kepada Subaru,

 

[Beatrice: gospel yang salah yang dimiliki witch of Cultist menggunakan prinsip yang sama, kurasa. Meskipun hanya akurasi mereka lah yang menjadi perbedaan, semua alogatima mereka berdasarkan dari buku ini]

[Subaru: …….. Bagaimana bisa teknologi ini terkuak setelah kematiannya Echidona? Bukankah seharusnya hanya kau dan Roswaal yang memiiki dua Injil yang tersisa?]

[Beatrice: Siapa yang tahu. Aku tidak terlalu peduli, kurasa. Siapapun yang membuat salinan palsu tersebut, dan kepada siapa mereka memberikannya, semuanya tidak ada hubungannya dengan Betty]

[Subaru: Lalu mengapa kau mengaitkannya dengan witch of Cultist?]

[Beatrice: Karena ada sesuatu yang perlu kulakukan dengan gospel witch of Cultist, kurasa. Jangan mencoba mengambil kesimpulan]

 

Tidak terpengaruh oleh tantangan Subaru, Beatrice menjawab dengan tenangnya. Kemudian, dia bertanya padanya, [Bukankah kau sendiri mempunyai gospel witch of Cultist, kurasa?]

 

Subaru membalas dengan menganggukan kepalanya.

 

[Subaru: Buku itu tidak ada di sini. Aku membawanya ke Sanctuary, dan untuk saat ini buku tersebut aman di sana. Dan untuk yang satunya lagi yang kami ambil dari Witch of Cult lainnya, kami menyerahkannya ke tangan yang dapat diandalkan]

 

Satu-satunya gospel yang dimiliki Subaru merupakan milik Petelgeuse.

Kebanyakan gospel lainnya, yang dimiliki oleh bawahan Petelgeuse, telah dihancurkan oleh Sekte tersebut di saat terakhir mereka. Sementara sisanya yang berhasil diselamatkan diserahkan ke perkemahan Crusch untuk ditangani dengan tepat.

Kenyataannya, jika semuanya berjalan sesuai rencana, mereka seharusnya telah mengirim balik Roswaal dari Sanctuary dan berkumpul di perkemahan Anastasia dan Crusch untuk membagikan hasil kemenangan mereka atas Petelgeuse dan Paus Putih.

 

[Beatrice: Apakah kau telah melihat seluruh isinya, kurasa?]

[Subaru: Bisa dibilang… aku tidak tahu mengapa, tetapi aku tiba-tiba bisa membaca semua isinya. Aku kurang lebih dapat memahami tulisan ceker ayam tersebut, namun pada dasarnya itu berisi informasi terperinci. Hanya saja…… bagiku benda itu lebih seperti buku perintah dibandingkan dengan buku ramalan]

 

Subaru mengingat kembali isi dari gospel tersebut, yang mungkin dapat dibacanya karena pengaruh dari Echidona.

Mayoritas dari teks gospel milik Petelgeuse sederhanya mencatat dimana Petelgeuse harus pergi dan apa yang Petelgeuse harus lakukan. Tentang apa yang akan terjadi selanjutnya biasanya tertulis dengan jelas, dan bagaimana perintah itu akan dijalankan semuanya terserah dari keinginan pemiliknya.

Dengan demikian, tidak seperti buku ramalan yang mahakuasa, gospel milik witch of Cultist lebih mendekati sebagai buku petunjuk akan masa depan―― dan tidak lebih dari itu.

 

[Subaru: Jika mereka dapat memprediksi masa depan dengan sempurna, maka tidak ada hal yang dapat kami lakukan untuk menghentikan mereka. Jadi aku rasa aku dapat mengerti mengapa punya mereka dianggap tidak sempurna]

[Beatrice: Betty tidak tertarik akan isi dari buku tersebut. Yang ingin kuketahui apakah buku tersebut mencatat kematian pemiliknya, kurasa]

[Subaru: ――Kematian… itu tidak seperti yang ku ingat]

 

Sejauh yang Subaru ketahui, di halaman terakhir dari gospel milik Petelgeuse,

―― Selain dari kata “TAMAT” yang Subaru tulis dengan darahnya sendiri, isi terakhir dari gospel tersebut adalah kalimat berikut,

“Pergilah ke Domain Mathers, bawalah Setengah-Penyihir berambut perak ke Ujian”

Kalimat yang terlalu cepat muncul tersebut tidak memberikan indikasi apapun ke Petelgeuse tentang apa yang akan terjadi sebelum dan sesudahnya.

Tentu saja, jika sejauh itulah masa depan yang dapat diberitahukan gospel tersebut, itu tidak dapat menandingi ketepatan dari Return by Death (kembali dari kematian) Subaru.

[Beatrice:  ――Itulah yang ku kira]

 

Mendengarkan pernyataan Subaru tentang apa yang ia ketahui, Beatrice hanya mengangguk seolah setuju dengan pernyataannya. Lalu, dia memutarkan sampul kosong tersebut di tangannya.

 

[Beatrice: Adakah sesuatu yang muncul setelah itu, kurasa?]

[Subaru: ……Tidak, aku rasa tidak ada. Setidaknya, terakhi kali aku memeriksanya, isi terakhirnya masih tentang tugas terakhir pemiliknya. Lagipula, tidak mungkin akan ada yang muncul setelahnya, karena…]

 

Ketika dia hampir saja mengatakannya, seketika kata-kata tersebut tersangkut di tenggorokannya. Dan hanya setelah itu, akhirnya dia mengerti mengapa Beatrice menanyakan pertanyaan tersebut.

Dia mengangkat wajahnya, dan melihat Beatrice yang sedang tersenyum samar.

Sudah berapa banyak kejadian  dari pertemuan sesaat ini, dia telah melihat senyumannya yang hampa dan gersang itu?

 

[Beatrice: ――gospel tersebut berhenti menulis, karena itulah saat dimana masa depan pemiliknya berakhir]

[Subaru: Ti-Tidak, punyamu sama sekali tidak seperti miliknya…..]

[Beatrice: Sama saja, kurasa. Kenyataan bahwa Inji itu berhenti mencatat masa depan berarti bahwa meskipun keberadaanku sampai saat ini masih nyata, bisa saja aku seharusnya sudah tiada. ―― Bisakah kau membantah hal tersebut, kurasa?]

[Subaru: Tidak! Kau sa――!]

 

Penolakkannya yang meledak tiba-tiba membeku di depan pupil Beatrice yang tak bergerak. Dia tidak membutuhkan penghiburan yang semu itu. Karena, jauh di lubuk hatinya, dia sudah mengetahui jawaban dari pertanyaannya.

Merapatkan giginya begitu kencangnya sampai-sampai dapat membuatnya retak, darah pun mengalir dari ujung bibir Subaru,

 

[Subaru: Menga..pa kau…… melakukan ini!]

[Beatrice: …………]

[Subaru: Jangan asal membuat keputusanmu sendiri! Semua orang akan menempuh jalan itu ketika dibiarkan khawatir sendirian! Ketika kau terjebak dan merasa tidak ada jalan lain…… kau pada akhirnya akan berpikir bahwa hal yang paling menyedihkan yang pernah kau lihat adalah kenyataan!]

 

Setelah kesulitan dan desahan yang tak terhitung yang ia keluarkan atas ketidakberdayaannya, itulah hal yang telah Subaru pelajari.

Ketika dihadapkan dengan tanjakan yang tak dapat didaki dan rintangan yang tak dapat dilewati, dunia bisa terasa seperti sebuah dinding.

Bahkan jika itu memaksamu untuk sekuat tenaga melewatinya sendirian, kau mendapati adanya jari hitam yang tersangkut, menahan kembali keteguhan hatimu.

Itulah mengapa,

 

[Subaru: Jika itu terasa sakit, dan jika kau merasa ingin merubahnya……. maka katakan saja. Katakan saja ke seseorang yang akan mendengarkan, katakan saja bahwa kau ingin bantuan dan bahwa kau merasa sedih…… bahkan jika orang itu adalah aku!]

 

Tak berdaya dan terperangkap di takdir yang buntu, terbelenggu di dalam ketakutan kalau kau tidak dapat memanjat keluar dengan tenagamu sendiri, ketika rasanya kau hanya sendiriran, kau hanya perlu melihat ke sekitar.

Kemudian, untuk pertama kalinya, kau akan mnyadari adanya uluran tangan.

Ketika kau meraih tangan tersebut, dan merasakan tenaga tersebut menarikmu ke atas, hanya demikian, kau akan menyadari,

――Masih belum saatnya untuk menyerah.

 

[Subaru: Sudah berapa banyak, kau telah melakukannya untuk ku….. jadi saat ini biarkan aku melakukannya untukmu…..!]

[Beatrice: …… Aku ingin… melakukannya]

[Subaru: Ya……. benar]

[Beatrice: Aku ingin kau menolongku…….]

[Subaru: Ya! Begitulah, begitulah begitulah begitulah! Jika kau meminta, aku akan…]

[Beatrice: Aku sedih, dan rasanya sakit…… Betty, ingin terselamatkan dari kegelapan ini…..]

[Subaru: Ya, serahkan saja padaku――]

 

Jari yang kecil, gemetaran meraih Subaru.

Terpicu oleh emosi yang meluap di dadanya, Subaru melompat dan memanjangkan tangannya.

 

Dia telah sepenuhnya melupakan alasannya datang kemari.

Dia seharusnya mencari jalan keluar dari kebuntuannya dan meminta bantuan Beatrice. Jika ada orang yang akan menolongnya, ia berharap orang itu adalah dia.

Namun semuanya lenyap ketika dia melihat kesedihannya dan kegelapan di dalam hatinya. Hanya keinginannya untuk menolong seorang gadis dari kesendiriannya yang terus mendoronya maju.

Mengambil uluran tangannya dapat berati mengambil beban yang tidak akan pernah dapat ia lepas. Mengabaikan berat yang menyakitkan yang ia pikul di bahunya, Natsuki Subaru memilih untuk kembali merangkul beban lain yang mustahil untuk dipikul.

Namun dia tidak keberatan, Karena,

 

[Beatrice: ――――]

 

――Bagaimana bisa dia meninggalkan seorang gadis dengan tatapan yang goyah seperti itu?

Beatrice telah meminta pertolongannya.

Permohonannya memicu emosi yang tak terbendung, tak tertahankan. Dia tidak tahu mengapa. Ataupun peduli hal tersebut. Karena hanya ada teriakkan di dalam jiwanya:

Tolong dia, selamatkan dia. Karena bagimu, dia itu――

 

[Subaru: Aku akan melakukannya, pasti――]

[Beatrice: Kalau begitu…..]

 

Mengulurkan jarinya, ujungnya menyentuh jari Subaru.

Dia merasakan jarinya yang lemah di tangannya dan merapatkan jari-jemarinya di sekitar telapak tangan gadis itu.

Menatap ke mata Beatrice, dia dapat melihat pantulan dirinya di matanya yang berkaca-kaca. Dan di sana, saat dia melihat air mata yang besar terjatuh,

 

[Beatrice: ――Aku mohon kau untuk tolong membunuh Betty]

 

―― Seolah untuk menyatakan “aku tidak minta untuk penyelamatan sederhana itu” dia melepaskan tangan Subaru.

Kenapa. Pertanyaan tersebut tertahankan di tenggorokan Subaru sembari dia mengambil nafas.

Melihat ke tangannya yang gemetaran, dan jari jemarinya, yang tidak memegang apapun, Subaru berbalik ke Beatrice, dan ingin menanyakannya kenapa.

 

[Subaru: ――――]

 

Tetapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar, karena dia dapat melihat di mata Beatrice bahwa itu sudah sangat, sangat, sangat amat――jauh terlambat untuk bisa kembali.

 

[Beatrice: Empat ratus tahun…… aku telah sendirian, kurasa]

 

[Subaru: B-Beatri……]

[Beatrice: “Orang tersebut” yang seharusnya datang, tak kunjung tiba, dan aku telah melewati empat ratus tahun sendirian di sini]

 

Dia tidak dapat memalingkan tatapannya dari mata Beatrice.

Dan bahkan ia ragu untuk dapat memanggil namanya.

 

[Beatrice: Aku tidak tahu sudah berapa kali aku berpikir untuk meninggalkan semuanya. Atau berapa kali aku berdoa berharap aku dapat melupakan semuanya. Mungkin itu sudah ratusan, ribuan, puluh ribuan, ratusan juta atau bahkan lebih, namun itu masih belum cukup…..]

 

Di ruangan yang redup dan sempit ini, sudah berapa lama waktu yang Beatrice lalui dalam kesendirian ini?

Memeluk lututnya, duduk di pijakan tangganya, dia menunggu akan seseorang yang wajah maupun namanya tidak ia ketahui.

Lautan buku membentang luas sejauh mata memandang――bahkan jika dia membaca semua buku di lautan tersebut, dia masih tidak dapat melhat kedatangan dari orang yang ia tunggu, sementara buku yang seharusnya memperlihatkan masa depan padanya tidak mempunyai apapun untuk ditunjukkan padanya.

Seberapa banyak kesendirian itu telah membunuh hati gadis ini?

 

[Beatrice: Aku ingin diselamatkan…..? Aku ingin jalan keluar…..?]

 

[Subaru: ――a]

[Beatrice: Apa kau tahu sudah berapa ratus kali….. pemikiran tersebut terlintas di pikiran Betty? Apa kau pikir Betty menyerah begitu saja tanpa mempertimbangkan hal seperti itu, kurasa?]

 

Perkataan kecewanya perlahan semakin memuncaks.

Sebuah tekanan mendorong punggung Subaru. Tenggorokannya membisu, semangat membara di jiwanya padam seketika, dan lengannya terasa seberat timah.

Entah apakah itu untuk mendekati gadis di depannya, atau untuk berputar dan berlari, tidak ada yang dapat dilakukannya,

 

[Beatrice: Apa kau pikir hanya dengan mengulurkan tangan ke dalam kegelapan, kau dapat menarik Betty keluar? Apa kau pikir kau dapat memberikan Betty jawaban atas jalan buntu yang tiada akhir ini, kurasa?]

[Subaru: ……….]

[Beatrice: Jika kau….. sungguh dapat melakukannya….. lalu kenapa…… kenapa]

 

Dia menundukkan kepalanya, dan perkataanya diselingi dengan isak tangis.

Tidak dapat melihat ekpresi Beatrice, Subaru merasa hatinya sedang terselimuti oleh kegelapan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Dia tidak dapat merasakan tanah dibawah kakinya, seolah dia telah kehilangan arah akan Beatrice meskipun dia berada cukup dekat untuk diraih.

Ketakutan dan keraguan menguasai dirinya, dan melalui kesunyian itu, Beatrice sekali lagi mengangkat kepalanya.

Menatap ke dalam matanya dia membuka mulutnya, menampakkan giginya.

 

[Beatrice: ――Lalu kenapa kau meninggalkan Betty di sini selama empat ratus tahun, sendirian!?]

[Subaru: ――――hg]

[Beatrice: Sendirian! Selalu! Selalu selaluu selalu, Betty selalu sendirian, menunggu untuk waktu yang tidak berarti ini berlalu! Aku sendirian! Aku ketakutan! Aku terbuang, tidak dapat memenuhi tujuanku, tidak dapat menepati janjiku, bahkan tidak dapat menua seiring berjalannya waktu….. aku harus menjalani waktu sendirian di sini sepanjang masa, sebanyak itulah aku menyadarinya!]

 

Air mata yang mulai mengalir dari matanya.

Tetesan besar air matanya mengalir dari pipinya, dan menetes dari dagunya ke lantai. Setiap tetesannya menjadi hantaman keras yang menyakitkan di dalam hati Subaru,

 

[Beatrice: Kau ingin menolongku!? Menyelamatkanku!? Lalu kenapa kau tidak datang lebih awal!? Kenapa kau meninggalkan Betty!? Jika kau mengatakan semua kata manis itu sekarang, lalu kenapa kau tidak memegang erat Betty dari awal!? Kenapa kau melepaskannya!? Kenapa! Kenapa! Kenapa kau membiarkan Betty sendirian!?]

 

Perkataannya seperti belati, seperti api, seperti baja, dan semuanya menyisakan luka di hati Subaru. Di setiap logika, dan di setiap cara, setiap rasa sakit yang dibawanya telah menyayat Subaru.

Tetapi apa yang Beatrice klaim semuanya tidak masuk akal.

Empat ratus tahun―― untuk bagian terbesar dari waktu yang ia jalani sendirian, bisa dibilang Subaru tidak ada kaitannya. Subaru bertemu dengannya hanya dua bulan yang lalu, dan, jika mengikuti standarnya, dia sudah jauh terlambat tidak peduli secepat apapun dia datang padanya. Jika dia ingin memprotes, dia bisa saja dengan mudahnya mengucapkan itu.

 

Tetapi apa gunanya memprotes, karena siapa yang akan tertolong?

Entah apakah itu Beatrice atau Subaru, itu tidak akan menolong siapapun.

Hanya sekarang Subaru tersadar, bagaimana dia telah mengabaikan seberapa banyak waktu yang Beatrice lalui untuk menunggu.

 

Empat ratus tahun. ―― Sudah empat ratus tahun lamanya.

Di permukaan, sepertinya tidak ada sesuatu yang penting tentang angka tersebut.

Di dalam fiksi fantasi, empat ratus tahun bahkan bukanlah angka yang besar. Di sana ada beberapa cerita dalam hitungan beberapa tahun yang tidak masuk akal, bahkan ada yang dalam sepanjang sejarah dunia. Dibandingkan dengan itu semua, empat ratus tahun bukanlah apa-apa.

 

Tetapi apakah dia idiot? Apakah dia sungguh orang yang idiot? Seberapa bodoh tidak tertolongkah dia harus menjadi?

Di dpan seorang gadis yang benar-benar telah melewati empat ratus tahun sendirian, terus kehilangan arah akan tujuan keberadaanya layaknya teka-teki yang tak terjawab, seberapa banyakkah yang dapat dia pahami dari tiga kata sederhana tersebut? Seberapa banyak dia dapat mengerti? Seberapa banyak yang dapat dia rasakan?

Dan hanya seberapa banyak perkataan ringan Subaru dapat menyembuhkannya atas empat ratus tahun kesendiriannya?

 

[Beatrice: Meminta pertolongan….. ingin keadaan berubah…… harapan itu sudah layu di dalam empat ratus tahun itu, kurasa……]

 

[Subaru: …………]

[Beatrice: Apa kau pikir hanya kau seorang yang telah mencoba membawa pergi Betty? Betty merupakan Roh Tingkat Tinggi. Demi mencari kekuatan tersebut, tak terhitung manusia yang berjuang mati-matian untuk membawa Betty pergi dari tempat ini]

 

Itu merupakan pertama kalinya dia mendengar akan hal ini. Bahwa telah ada manusia lain seperti layaknya Subaru yang mencoba membuat Beatrice meninggalkan Perpustakaan Terlarang. Mengenai apakah mereka berhasil, keberadaanya di sini sudah cukup menjawab.

Melihat Beatrice memperhatikannya dengan tatapan lemahnya, Subaru dengan cepatnya menggelengkan kepalanya.

 

[Subaru: Ja-jangan menyamakanku dengan orang-orang tersebut! Aku hanya ingin untuk……]

[Beatrice: Layaknya dirimu, di sana juga ada beberapa dari mereka yang tidak peduli akan kekuatan Betty, yang semata-mata hanya ingin menyelamatkan orang di depannya……. dengan naif seperti itu, kurasa]

[Subaru: ――――]

[Beatrice: Tetapi tidak ada dari satupun mereka yang dapat membawa Betty keluar dari tempat ini. Itu sudah hal yang wajar, kurasa]

 

“Lagipula”, Beatrice mendesah dengan senyuman yang lemah dan dan,

 

[Beatrice: Perjannjian kontrak yang mengikat Betty ke tempat ini tidak dapat di akhiri hanya dengan keyakinan yang setengah matang seperti itu. Perjanjian kontrak yang telah mengikat Betty untuk menjalankan tugasnya selama empat ratus tahun…… tidak dapat dengan mudahnya dipatahkan hanya dengan keinginan manusia belaka]

[Subaru: Lalu… apa yang harus aku…..]

[Beatrice: ――Utamakan Betty di atas segalanya]

 

Perkataan yang dia katakan padanya begitu tenang, dan tetapi juga sangat tajam.

Sangat tajam seolah itu semua seperti jarum jarum yang menusuk ke dalam gendang telinga Subaru.

 

[Subaru: A, pa…..?]

[Beatrice: Utamakan Betty di atas segalanya. Pikirkan pertama kali akan Betty. Pilih Betty melebihi segalanya. Dan dengan demikian, tulis ulang kontraknya. Lukis ulang semuanya. Bawa Betty pergi dari sini. Pandu Betty dengan genggaman. Dan rangkul Betty]

[Subaru: ――――]

[Beatrice: Itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah dapat kau lakukan]

 

Itu adalah permohonan asli Beatrice, yang putus asa dan mendalam.

Sebuah permintaan yang jauh begitu berat, dan yang tidak dengan mudahnya dapat dikabulkan.

 

[Beatrice: Kau telah memilih orang yang terpenting di hatimu, kurasa. Entah itu si gadise berambut perak, atau pelayan berambut biru…… bagaimanapun, kau tidak akan pernah dapat mengesampingkan keduanya dan meletakan Betty di atas mereka. Pada dasarnya itu tidak dapat terjadi]

 

[Subaru: Emilia….. Rem…..]

[Beatrice: Kontrak itu mutlak. Mutlak, kurasa. Selain dari memenuhi isinya, mustahil dapat mengganti kontrak yang tersegel tanpa membayar harga yang sebanding. Betty tidak percaya bahwa janji itu telah terpenuhi, kurasa. Dan dengan demikian, satu-satunya cara untuk terbebaskan selain dari memenuhi kontraknya adalah……!]

 

Saat nama kedua gadis itu disebut, itu semua seolah ada sesuatu yang keras yang menghantam hati Subaru.

Kapanpun dia memikirkan mereka, hati Subaru akan berdegup, menjerit, dan membara dengan panasnya. Itu telah menjadi reaksi yang tak  dapat diredam yang terukir jauh di dalam jiwanya.

 

[Beatrice: Jadi, patahkan kontrak Betty…… dan hancurkan tubuh yang tak berguna ini yang telah hanyut melalui jalannya waktu yang tak berarti…..]

[Subaru: Kontrakmu…… sebegitu pentingnya kah itu bagimu? Jika kau begitu membencinya….. tidak bisakah kau mengubahnya dengan kehendakmu sendiri?]

 

Tidak dapat menjawabnya, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan ke Beatrice. Dan akhirnya, Subaru mengambil jalan pengecut dan memilih untuk mengalihkan pertanyaannya.

Seketika, warna kekecewaan terlintas di pupil Beatrcie. Dan Subaru segera menyadari bahwa dia telah membuat kesalahan fatal.

 

[Beatrice: Itu adalah…… alasan Betty untuk hidup]

[Subaru: Kontraknya…..?]

[Beatrice: Betty terlahir untuk kontrak ini, dan hidup untuk kontrak ini. Itu adalah tugas yang aku terima saat aku lahir, sebuah kontrak yang tidak pernah ku penuhi semasa hidupku…… dan kau ingin aku dengan egoisnya mematahkannya…… apakah itu maksud dari perkataanmu, kurasa?]

[Subaru: Itu tidak egois sama sekali! Kau telah mencoba yang terbaik selama empat ratus tahun, bukan? Siapa yang dapat menyalahkanmu ketika kau telah setia menjalani janji mu untuk waktu yang sangat lama!? Siapa yang berhak? Kau telah cukup melakukannya…..!]

[Beatrice: Dan tidak meraih apapun! Jika aku membuang jauh tujuan dari keberadaanku dan alasan mengapa aku dilahirkan, maka untuk apalagi aku hidup!? Tidak akan ada orang yang dapat menyalahkanku!? Betty akan menyalahkan dirinya sendiri! Roh Beatrice tidak akan pernah memaafkan cara pengecut seperti itu untuk tetap hidup!]

 

Subaru menghentakan kakinya yang gemetaran dan menggenggam bahu gadis kecil tersebut, berteriak.

Tetapi gadis tersebut menatap balik dan menjerit lebih keras, memecahkan kembali suasananya. Kekuatan dari gadis yang rapuh itu mendorong mundur tubuh Subaru.

Tak berdaya. Apa yang dia maksud? Dia tidak dapat mengerti apa yang telah ia lihat.

 

[Beatrice: Bagi roh, kontrak itu mutlak! Kontrak yang tersegel diantara pengontrak dan roh merupakan hal yang paling penting! Itu juga sama seperti Nii-chan! Siapa lagi yang kau pikir yang dia utamakan selain gadis berambut perak itu di atas segalanya! Dia mengutamakannya di atas segalanya! Dia mencintainya melebihi apapun! Di antara Betty dan gadis itu, dia tidak akan berpikir dua kali untuk memilihnya! Bahkan Nii-cha tidak akan mendahulukan Betty!]

 

Sebagai sesama roh, tidak ada yang dekat dengan Beatrice selain Puck.

Itu merupakan pertemanan yang telah terbentuk selama empat ratus lamanya di antara mereka, sesuatu yang jauh melebihi dari yang umur manusia dapat raih.

Apa yang telah Beatrice pikir tentang Puck? Dan apa yang Puck pikirkan tentang Beatrice?

Namun Beatrice sendiri telah mempunyai jawaban atas pertanyaan tersebut.

Beatrice telah mempunyai waktu yang lebih dari cukup untuk merenungkan jawabannya.

 

Terengah-engah, bahunya gemetaran, bahkan ikalan rambut keriting rapinya telah menjadi berantakan. Air mata yang besar terbentuk di matanya yang besar dan bulat, dan bibirnya yang gemetaran masih mengulangi permohonannya yang putus asa.

Begitu kecilnya, dia hanyalah anak kecil, pikir Subaru.

Bagaimana bisa seorangpun meninggalkan gadis kecil seperti ini?

 

[Beatrice: Kau…… bukanlah orang yang di sebut di dalam kontrak. Aku tahu itu, kurasa…..]

[Subaru: ――――]

[Beatrice: Tetapi bisakah kau menjadi “orang tersebut” untukku? Atau, jika tidak menjadi orang itu, maka gunakan apapun cara lainnya untuk menyelamatkan Betty, kurasa?]

[Subaru: ――――]

 

Jawabannya tidak kunjung tiba.

Dia tidak dapat dapat membuat janji biasa dengannya, atau dengan keras menolaknya.

Di waktu singkat yang ia jalani di sini, Subaru telah berhasl mengerti hanya sebagian kceil dari misteri tentang Beatrice.

Namun, jika ia benar-benar mengerti akan kesendiriannya, Subaru harus melewati empat ratus tahun dalam kesendirian seperti yang telah dia katakan.

Tetapi sesuatu yang seperti itu pada dasarnya mustahil bagi manusia. Kesulitannya, kesendiriannya, dan kesedihannya semuanya berada terlalu jauh dari jangkauan Subaru.

 

[Beatrice: Betty mengetahui lebih dari siapapun akan seberapa mustahilnya hal tersebut]

[Subaru: Beatrice…..]

[Beatrice: Jadi tolong, bunuh Betty. Dengan kedua tanganmu sendiri. Bunuh diri merupakan pelanggaran terhadapat kontrak, jadi bagi roh itu merupakan hal yang terlarang. Jadi bahkan matipun bukanlah sesuatu yang dapat kulakukan sendiri]

[Subaru: Tetapi kenapa… aku……?]

 

Menjulurkan kedua tangannya, Beatrice memohon sekali lagi.

Ragu akan uluran tangannya dan takut bahwa dia mungkin akan menerima permintaannya, Subaru menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

 

[Subaru: Kematianmu, di akhir empat ratus tahun… kenapa kau menyerahkannya padaku…..?]

[Beatrice: Kenapa…… kurasa]

 

Terisak-isak, merintih, menghindar, Beatrice bisa saja menampar balik pertanyaan Subaru. Tetapi dia memilih untuk tidak melakukannya.

Dan seolah dia sendiri tidak mengetahui alasannya, dia perlahan menggelengkan kepalanya.

Dan setelah jeda sesaat dalam kesunyian, dia perlahan mengangguk.

 

[Beatrice: ――Ya, aku rasa aku tahu]

[Subaru: ……….]

[Beatrice: Betty… ingin menyerahkan kematiannya padamu….. karena]

 

Jika dia mendengarkan jawabannya, dia tidak akan memiliki jalan kabur.

Dia sangat yakin akan hal itu. Dia mengangkat kepalanya. Jika dia tidak menyumbat telinganya dan menolak untuk mendengar jawabannya, kecuali dia menaruh tangannya menutupi mulutnya dan mencegahnya berbicara――

Tetapi dia sudah jauh terlambat. Dia menyadari bahwa itu sudah jauh terlambat. Tidak ada lagi yang dapat dia lakukan untuk menghentikannya sekarang.

Bibir Beatrice akan mengumumkan jawabannya.

Dan, di saat itu――

 

[???: Maaf untuk mengganggu ketika kalian sedang berada di tengah pembicaraan kalian]

 

terdengar suara yang seharusnya tidak ia dengar, rasa menggigil mengalir di sekujur tulang punggungnya sembari dia memutar balik di tempat dia berpijak.

Dan di sana, dia melihatnya.

 

[???:―― Bagaimana jika aku menjadi “orang tersebut” untukmu, kurasa?]

 

Memegang dua pisau Kukri bersimpangkan darah yang tergantung di sisinya, seorang pembunuh berwarna hitam pekat berdiri di pintu masuk.

tags: baca novel Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia, web novel Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia, light novel Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia, novel Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia, baca Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia 61, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia 61 manga, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia 61 online, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia 61 bab, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia 61 chapter, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia 61 high quality, Re:Zero Kara Hajimeru Isekai Seikatsu Bahasa Indonesia 61 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!