Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog

Dibaca 20 orang
Font Size :
Table of Content

Penerjemah: niznet
 Penyunting: Aristia
 Korektor: Amakawa Haruto 


Volume 2 Prolog – Endo Suzune

Suatu hari saat hujan, ketika air jatuh dari langit.

“Weh… hic… Hik…” (menangis tersedu-sedu)

Di saat senja– pada waktu itu.

Aku masih siswa kelas tiga sekolah dasar… dan aku sedang menangis di bus setelah pulang sekolah.

Sekolah itu jauh dari rumah, itulah kenapa aku biasanya naik kereta api ke sekolah. Tetapi, pada hari hujan lebat seperti ini, aku akhirnya naik bus saja.

Hari ini sedikit berbeda dari hari lainnya. Setelah mengerahkan semua tenaga dalam kelas olahraga, pergerakan bus membuatku tertidur. Ketika terbangun, aku menatap pemandangan asing di luar. Sebagai siswa sekolah dasar, aku tidak diberi uang saku lebih– hanya seperlunya saja.

Aku langsung panik dan secara alami menangis tersedu-sedu. Saat itulah seorang pemuda, seusia mahasiswa, memperhatikan sikapku dan memanggil dengan suara lembut.Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog Bahasa Indonesia

“Ada apa?”

“Hweh…?”

Tubuhku mengejang dengan kaget dan menatapnya. Dia terlihat sangat keren, seperti… kakak laki-laki. Dia tersenyum lembut, seolah meyakinkanku.

“Apa kau salah naik bus?”

“Huh? Ah, tidak… aku melewati halteku….”

“Oh, aku mengerti. Dimana seharusnya kamu turun?”

Ketika pemuda itu melangkah sambil mengajukan pertanyaan, aku sedikit terkejut saat menjawab.

“T-Taman di distrik ketiga….”

“Oke. Ayo kita turun saat pemberhentian berikutnya. Aku akan mengantarmu ke halte terdekat yang menuju rumahmu.”

“…O-Oke.”

Meskipun aku telah diajarkan di rumah dan di sekolah untuk tidak mengikuti orang asing, aku tidak ragu untuk benar-benar percaya pada orang ini dan merasa sangat senang dengan bagaimana dia terlihat seperti pahlawan di manga shoujo yang populer, muncul entah darimana dan menolongku, tapi….

“Ah, aku tidak punya… banyak uang….”

Aku segera ingat fakta bahwa aku tidak punya banyak uang.

“Tidak apa-apa,” laki-laki itu berkata, tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.

Saat kami tiba di halte bus berikutnya, dia membayar tarifku dan kami berdua turun. Kemudian, dia menuju ke arah yang berlawanan dengan halte bus dan menatap jadwal. Aku sangat gugup dan diam-diam melihat punggungnya.

“Bus berikutnya akan segera datang, jadi ayo kita tunggu bersama.”

“O-Oke!”

Melihat punggungnya lagi, aku seharusnya sudah mengucapkan terimakasih padanya karena membayar tarifku.

Tetapi, aku sangat gugup saat itu sehingga melupakannya. Akhirnya, aku tetap diam dan menatap lantai saat jantungku seperti akan melompat dari dada.

“Kamu seharusnya tidak mengikuti orang asing manapun, tetapi ini darurat. Maafkan aku,” laki-laki itu tiba-tiba berkata dengan senyum canggung. Dia mungkin mengira aku diam karena curiga padanya.

“Tidak! Itu… bukan seperti itu!”

Aku mencoba menyangkal dengan cepat, tetapi kegugupan membuat kata-kataku tampak kaku. Setelah itu, laki-laki itu terus berbicara kepadaku agar tidak merasa canggung.

Dia perhatian…. tetapi aku sangat malu saat jawabanku terdengar di seluruh tempat.

Seperti itu, waktu seperti terbang dan kami sampai di halte bus yang menuju ke rumahku.

“Akankah kamu baik-baik saja dari sini?”

“Huh? Ah…”

Itu seperti sebuah mantra pengangkut yang menjatuhkanku kembali ke kenyataan.

Ini adalah… perpisahan?

Tidak. Aku masih belum berterimakasih–orang-orang sering mengatakan bahwa aku memiliki kepribadian yang lemah, tetapi aku tidak pernah merasakannya lebih kuat dari saat ini. Itulah kenapa….

“Aku harus berterimakasih kepadamu! Untuk tarif busnya!”

Aku menyemburkan kata-kata tanpa menyadarinya.

“Tidak apa-apa–jangan khawatir tentang itu. Selamat tinggal.”

Dia menggelengkan kepalanya seolah menyatakan bahwa itu adalah tugasnya.

“Ah… tidak….”

Melihatnya membalikkan badan, aku berteriak dengan suara seperti ingin menangis.

Aku punya banyak hal yang ingin kuceritakan padanya, namun tak satu pun kata keluar.

“Ah… umm. Aku pikir aku akan menerima rasa terimakasihmu?”

Dia berkata dengan sedikit panik saat melihatku berteriak sampai menangis.

“T-Terimakasih b-banyak…!”

Aku mencoba menjawab dengan cepat dan gagap.

Lalu, dia tertawa… aku merasa sangat malu.

“T-terimakasih banyak….”

Aku mengatakannya lagi dengan wajah memerah, aku tidak gagap kali ini.

“Sama-sama.”

“Ya. Itu… ke sini.”

Aku mengajaknya ke rumah. Butuh satu menit berjalan kaki dari halte bus. Begitu kami sampai, aku membunyikan bel pintu dan Ibu segera keluar.

“Selamat datang di rumah, Suzune… ada apa?”

Ibu melihat kami dengan bingung.

“Ibu! Kita… kita harus berterimakasih kepadanya! Dia menolongku, dan!”

Karena kewalahan, aku mengeluarkan kata-kata yang membuat Ibu lebih bingung.

“Sebenarnya….”

Dia menggantikanku untuk menjelaskan situasinya kepada Ibu.

“Astaga, kami telah merepotkanmu. Terimakasih banyak.”

Ibu menundukkan kepalanya dalam-dalam dan berterimakasih padanya.

“Tidak, saya justru merasa senang bisa membawanya ke sini dengan selamat. Saya permisi, kemudian….”

Pemuda itu mencoba pamit dengan sopan.

“Oh, maukah kamu mampir  untuk minum teh?”

Ibu mengundangnya. Bagus, Ibu! — aku diam-diam bersorak dalam kepalaku.

“Maaf, tapi saya harus kerja paruh waktu sekarang. Saya menghargai tawarannya. Terimakasih.”

Dia punya sesuatu untuk dilakukan setelah ini dan ingin segera pergi. Ibu kembali ke dalam selama beberapa saat untuk mengambil uang untuk tarif busnya, lalu memberikan uang lebih padanya. Laki-laki itu menolaknya dengan hormat, tetapi Ibu bersikeras menyerahkannya. Dia berterimakasih kepada kami seperti meminta maaf dan pergi.

“Dia pemuda yang baik.”

Ibu berkata sambil melihatnya berjalan pergi.

“Yeah.”

Bukan hanya itu. Dia juga sangat keren.

“Dan dia sangat keren, kan, Suzune?”

Ibu berkata seolah membaca pikiranku.

“Yeah… huh?”

aku setuju dan mengangguk tanpa berpikir. Aku melihat Ibu menyeringai padaku. Tentu saja, wajahku memerah lagi saat ini.

“Fufufu, kamu harus menceritakan padaku tentang apa terjadi secara lengkap.”

Aku tidak bisa menyembunyikannya dari Ibu, jadi aku memulai menceritakan padanya tentang apa yang terjadi di dalam bus.

“Apakah kamu mau naik bus mulai sekarang?”

Ibu berkata setelah aku buru-buru menyelesaikan ceritaku.

“Huh? Benarkah?”

“Tentu. Amakawa Haruto, benar? Itu bagus jika kamu bisa akrab dengan pria muda itu.”

Ibu berkata sambil tertawa karena suaraku yang naik satu oktaf ketika menjawabnya.

 

Satu tahun kemudian, pada suatu hari di musim panas.

Aku meghadiri kelas renang yang diadakan di kolam renang sekolah sebelum liburan musim panas. Kelas berakhir di siang hari, setelah itu aku bergegas ke halte bus.

Yay! Dia di sini hari ini juga! Aku naik ke dalam bus dan melirik pemuda yang duduk di dalamnya, itu membuatku bersorak. Aku hampir menyeringai lebar karena bahagia,  yang mana tidak bisa kukendalikan.

Pemuda itu bernama Amakawa Haruto.  Dia mahasiswa keren yang menolongku setahu yang lalu, ketika aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk pulang ke rumah saat di dalam bus. Dia sering naik bus di waktu yang sama seperti sekarang.

 

Antara kau dan aku … Alasan kenapa aku mengikuti kelas renang ketika aku tidak begitu bagus dalam olahraga karena kelas renang berakhir pada waktu dimana aku bisa melihat lebih sering.

Yah, ibu juga memikirkan itu lebih jauh.

Selain itu, mungkin itu karena liburan musim panas … Tapi bus itu memiliki lebih banyak penumpang daripada hari biasanya. Haruto duduk di tempat biasanya– empat baris dari belakang di samping kiri jendela– dan aku duduk di tempat biasa, di samping jendela di baris terakhir.

Sayangnya, aku tidak berbicara dengannya sejak hari dia menolongku. Yang paling bisa kulakukan adalah melihat penampilannya dari jauh. Aku tahu ini disebut stalker, tetapi terimakasih untuk itu, aku mengetahui banyak hal karenanya.

Contohnya : dia suka menatap keluar jendela, dia sering mendesah kecil, dan dia selalu memasang wajah sedih.

 

Apakah dia cemas akan sesuatu? Aku sangat penasaran dengannya, aku menjadi perhatian padanya tanpa menyadarinya. Hari itu, ketika aku melanjutkan untuk menatapnya … Dia memperhatikan tatapanku lagi.

Sekali dalam beberapa waktu — atau lebih tepatnya, cukup sering pada akhir-akhir ini — dia akan memperhatikan tatapanku. Aku merasa dia akan kembali untuk menatapku, jadi aku menundukkan kepala buru-buru dan membuang muka.

 

Kemudian, saat aku perlahan mengangkat kepalaku lagi untuk mengintipnya, aku melakukan kontak mata dengan gadis usia sekolah menengah yang duduk dua baris di belakang Haruto.

Dia adalah gadis yang sangat cantik yang tampak sangat dewasa.  Dia cepat berbalik menghadap ke depan, tetapi dia tersenyum pelan pada dirinya sendiri, seperti dia telah melihat sesuatu yang lucu.

Tapi bukan seperti itu … Dia memiliki semacam udara lembut di sekitarnya.

Sebenarnya, gadis yang lebih tua ini sering naik bus pada saat ini juga.  Dan-

 

Aku mungkin salah, tapi— rasanya dia akan sering menatap Haruto.

 

Bisakah gadis yang lebih tua ini menyukainya juga?  Jika demikian, aku tidak akan kalah darinya, aku menetapkan tekad dalam hati.

 

Pada saat itu, bus tiba-tiba menyentak.  Aku merasa seperti melayang sejenak, sebelum rasa sakit yang hebat segera menyebar ke seluruh tubuhku.  Pandanganku tiba-tiba menjadi gelap, dan aku tidak bisa melihat apa pun di depanku.

 

Lalu … Apa …?

 

Tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi, aku kehilangan kesadaran.


Saya mencari seseorang yang bisa menjadi editor ataupun proofreader biar pembawaannya lebih enak lagi, bagi yang ingin sukarela membantu saya di novel ini silahkan PM ke fanspage facebook ya!

Thx banget buat yang udah bantu nge-proof sama edit ini!

tags: baca novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog, web novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog, light novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog, novel Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog, baca Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog Volume 2 Prolog, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog Volume 2 Prolog manga, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog Volume 2 Prolog online, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog Volume 2 Prolog bab, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog Volume 2 Prolog chapter, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog Volume 2 Prolog high quality, Seirei Gensouki: Spirit Chronicles Volume 2 Prolog Volume 2 Prolog manga scan, ,
Table of Content

1
Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
1 Komentar Chapter
0 Balasan Chapter
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Wawan Recent comment authors
  Ikuti  
terbaru terlama top voting
Notify of
Wawan
Guest
Wawan

Lanjut lagi min