Sono Mono Nochi ni Chapter 160

Dibaca 1810 orang
Font Size :
Table of Content

Kami Resmi Tutup! Baca Selengkapnya di postingan FacebookPengumuman Terakhir

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

Chapter 160 – Pembunuh bayaran ketiga

Pagi hari setelah aku memastikan ukuran para gadis aku mulai merasakan kehadiran, dan mulai bangun. Ini bukan kehadiran Meru. Atau lebih tepatnya, aku tak bisa merasakan kehadiran Meru sama sekali. Apakah dia pergi berjalan-jalan pagi atau apakah dia pergi untuk mencari ibunya, Meral? Apakah gadis-gadis itu masuk lagi? Kemarin karena kelelahan mental, aku lupa mengunci pintu dan aku tidak menempatkan sesuatu untuk menutup pintu … hmmm … yah, itu tidak bisa dihindari.

Dengan perlahan aku membuka mata dan…

“Ya… kamu sangat luar biasa tadi malam.” (seorang wanita)
“…” (Wazu)

Di sampingku ada seorang wanita yang berbaring dan mengatakan sesuatu. Wanita itu mempunyai rambut merah semerah api, tatapan yang tajam dan wajah yang berkemauan keras, tetapi dia benar-benar cantik.
Namun, dadanya berada pada sisi yang mengecewakan, dan fisiknya yang langsing tapi, hanya dengan melihat kau bisa tahu kalau itu terlatih dengan baik. Otot perutnya terbentuk dengan sempurna. Kenapa kau tanya kalau aku tahu hal itu? Karena wanita itu hanya mengenakan jaket yang hanya menutupi bahu dan celana dalamnya saja.

“Yah~aku ingin mencoba mengatakannya sekali lagi… are? Apa dia sudah bangun? Sepertinya dia melihat kemari… Hei!, Hello~!” (seorang wanita)
“…” (Wazu)

… eeeeeehhhhhhh!!!!

Aku beranjak ditempat dan memasang sikap tempur.

“Si-siapa kamu?! Kenapa kau tidur di ranjangku?!” (Wazu)
“Mh? Sekarang setelah kau menyebutkannya, ini adalah pertemuan pertama kita. Aku adalah Dewi Perang.” (Dewi Perang)

… Dewi Perang… Dewi Perang… Dewi Perang… Dewi Perang?

DEWI PERANG!!

Lagi-lagi ini?

Setelah aku berteriak di kepalaku, aku membuang seluruh kelelahanku sekaligus, dan duduk dengan keras di tempat itu. Wanita yang ada di depanku melakukan hal yang sama dan duduk. Aku mungkin harus memastikan untuk berjaga-jaga seandainya…

“Untuk berjaga-jaga seandainya aku bertanya, apa kamu benar-benar asli?” (Wazu)
“Mh? Apakah tidak masalah dengan ini?” (Dewi Perang)

Mengatakan itu, wanita yang ada di depanku memakai aura dewa seolah-olah untuk membuktikan dirinya. Yeah, aku sudah tahu… aku sudah tahu kalau dia asli… tetapi aku masih menginginkan kalau ini hanya sebuah mimpi… haa…

“Sudah oke, aku paham” (Wazu)
“Benarkah?” (Dewi Perang)

Dewi Perang menghapus auranya dan tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan senyum pahit.

“Dan? Apa yang Dewi Perang lakukan disini? Atau lebih tepatnya, bagaimana kau sampai disini?” (Wazu)
“Ceritanya sederhana. Di antara kami para Dewi aku adalah yang menguasai peperangan dan dengan demikian dapat menyimpan kekuatan dengan lebih mudah. Dan dengan begitu aku menyimpan kekuatan untuk dapat memanifestasikan diri karena aku ingin bertemu dengan mu… dan pada saat yang sama ingin melihat bagaimana kabar dunia.” (Dewi Perang)
“Haa…” (Wazu)

… eh? Apa ini? Mengesampingkan bagian tentang ingin bertemu denganku… Aku merasa bahwa apa yang dikatakannya sangat normal sekali… Mh? Bukankah dia temannya si Dewi? Rekannya? Begitu?

“… Uhm… Hanya itu saja?” (Wazu)
“Apa ada yang lain?” (Dewi Perang)
“… Tidak…tidak ada.” (Wazu)

Bagaimana mengatakannya… itu seperti… jika seorang Dewi mengatakan sesuatu yang normal, aku merasa tidak ada yang beres…
“Jadi, kau sudah bertemu denganku, dan sekarang. Kau akan pergi melihat kabar dunia?” (Wazu)
“Mari kita lihat… yah, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan… meskipun aku memanifestasikan diriku, aku tak bisa bertarung.” (Dewi Perang)
“Kau tidak bisa bertarung? Kau adalah Dewi Perang, benarkan?” (Wazu)

Ketika aku bertanya padanya, Dewi Perang mengatakan “ahaha…” sembari tersenyum pahit.

“Yah, tanpa diragukan lagi aku adalah Dewi yang menguasai peperangan akan tetapi, agar aku bisa bertarung ada banyak sekali batasan sehingga aku tak bisa melakukannya denga mudah.” (Dewi Perang)
“…Eh? Tapi kau menulis sebelumnya kalau kau ingin bertarng denganku jika kau bertemu dengan ku, bukan?” (Wazu)
“… Aku terbawa suasana saat itu.” (Dewi Perang)
“Jadi, kau tidak benar-benar ingin bertarung denganku?” (Wazu)
“Tidak, aku benar-benar menginginkannya.” (Dewi Perang)
“…Eh?” (Wazu)
“Saat Wazu mendapatkan pendewaan yang sempurna, kamu akan menjadi makhluk dengan sifat yang sama dengan kami, dan saat itu kita dapat bertarung tanpa masalah.” (Wazu)

… Yeah, Aku ingin pergi dengan cara yang tidak akan ku lakukan… Menjadi makhluk dengan sifat yang sama dengan para Dewi yang tidak memukulku dengan cara yang benar adalah sedikit… tapi aku mengerti… Jika aku melakukan pendewaan sempurna, aku akan menjadi sama dengan para Dewi… Haa…

“Yah, itu saat aku benar-benar menjadi dewa…” (Wazu)
“Yeyy!! Aku menunggu dengan penuh semangat sampai saat itu terjadi!! Mulai sekarang aku akan menantikan hari itu!!” (Dewi Perang)

Dewi Perang mengatakan hal itu dengan wajah yang benar-benar bahagia… Ahh… Jika dia membuat wajah bahagia seperti itu, aku jadi tak bisa meributkan persentasi ras ku yang menurun…

“Ugh…” (Wazu)
“Mh? Apa ada yang salah? Apa kau merasa tidak sehat? Apa kau ingin berbaring? Ah! Apa aku mengganggumu? Aku minta maaf, aku akan pergi sekarang.” (Dewi Perang)

Sudah ku duga!! Dengan semua percakapan ini aku mengerti!! Kau terlalu normal!! Ini percakapan yang normal!! Tidak, mengatakan normal itu kasar, dia orang yang baik… Dewi ini terlalu baik!! Apa Dewi ini sejenis dengan Dewi atau Dewi Bumi itu? Faktanya dia tidak, kan?

“Kalau begitu, sampai jumpa” (Dewi Perang)

Dan mengatakan itu, Dewi Perang mengulurkan tangan dan mulai meninggalkan ruangan.

“Ah, tunggu” (Wazu)
“Yah, ada apa?” (Dewi Perang)

Aree? Mengapa aku menghentikan Dewi Perang? Mungkinkah karena kami melakukan percakapan normal yang tak terduga, aku jadi sedikit terguncang? Dewi-dewi lain tidak pernah mengkhawatirkan keadaanku juga aku tak pernah ingat pernah melakukan percakapan yang benar dengan mereka… Atau lebih tepatnya, ketika aku memikirkan hal ini, Dewi Perang masih setia menunggu apa yang akan ku katakan. Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku katakan? Aku berbicara tanpa berfikir dan sekarang tak bisa mengatakan apa-apa… Ah! Benar!!

“Kau tidak dapat bertarung kan?” (Wazu)
“Yah, ada beberapa batasan” (Dewi Perang)
“Tapi apa kau bisa mengajari orang bertarung?” (Wazu)
“Mari kita lihat. Aku tidak bisa mendemonstrasikannya, tapi setidaknya aku bisa bicara tentang hal itu.” (Dewi Perang)
“Lalu, aku tahu ini kurang sopan tapi, bisakah kau ajarkan satu atau dua hal kepada gadis-gadis itu?” (Wazu)
“Mh… Yah, kenapa tidak. Aku pikir itu akan baik-baik saja. Lagipula, kami sama-sama sangat tertarik dengan Wazu dan aku berfikir untuk berbicara dengan mereka agar lebih akrab, jadi ini adalah kesempatan yang bagus. Tapi aku hanya memilik waktu untuk mengajari satu atau dua dari mereka. Dan aku akan melihat mereka dari jauh agar aku tidak mengganggu dan menunjukannya saat diperlukan. Maafkan aku, aku tidak bisa mengajari mereka semua.” (Dewi Perang)

SUNGGUH DEWI YANG BAIK SEKALI!!

Ada apa dengan Dewi ini? Dia normal!! Sangat normal!! Kau bisa berinteraksi dengan normal bersamanya!! Tidak ada kesalahan atau eksentrisitas yang ditemukan!! Maafkan aku!! Maafkan aku telah mengelompokkan mu dengan Dewi-dei yang lain!! Maafkan aku yang sudah berjaga-jaga dari awal!! Sebaliknya, silahkan datang kapan pun kau mau!! Atau lebih tepatnya, jika kau ingin tinggal selamanya itu juga tak apa-apa!! Jika kau membutuhkan kekuatanku untuk mempertahankan manifestasi wujudmu maka aku akan memberikannya kepadamu kapan saja!!

“Baiklah, aku akan pergi melihat bagaimana keadaan mereka dulu. Jika aku tidak benar-benar melihatnya, aku tidak tau apa yang harus diajarkan pada mereka.” (Dewi Perang)

Setelah mengatakan itu, Dewi Perang meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangannya dan aku membalas gerakan itu.

Aku pergi ke ruang kerja untuk membuat baju zirah para gadis setelah tercengang untuk sementara waktu, berfikir kalau ada Dewi semacam ini juga.

tags: baca novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, web novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, light novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, baca Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 160, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 160 manga, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 160 online, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 160 bab, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 160 chapter, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 160 high quality, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 160 manga scan, ,
Table of Content

4
Leave a Reply

4 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
4 Comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Rupawarnanya

Njir Sepi

Silent Kurumi

Thanks for the chapter!! :)) jaga kesehatan dan tetep semangat update min :))

Rifky Hernanda

Oe ini kok dewi nya normal sih😂

atma

njerr kirain sableng semua tuh dewi