Sono Mono Nochi ni Chapter 169

Dibaca 1455 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

Penerjemah: Devine
Penyunting: VinsAriez
Korektor: –

Chapter 169 – Perasaannya sebagai ayah tidak ingin menerimanya…

Aku bermalas-malasan beberapa hari ini setelah membuat armor dan senjata sarona dkk. Aku juga membuat banyak baju untukku sendiri yang berbentuk sama persis seperti baju yang selalu kugunakan, dan karena aku selalu menggunakan pendewaan saat membuat peralatan, aku merasa sedikit lelah. Ini mungkin karena tubuhku mencoba beradaptasi karena aku belum pernah menggunakan pendewaan dengan waktu yang lama. Aku prihatin dengan persentase rasku, tetapi aku merasa kalah kalo mengkhawatirkannya jadi aku sekarang tidak terlalu memikirkannya. Selain itu, jika aku berfikir bisa membuat peralatan yang bisa menjamin keselamatan mereka, aku merasa sangat senang.

 

Karena itu aku jarang meninggalkan ruangan dan berguling-guling di kamar, dan saat waktu makan tiba istri-istriku akan memberiku makan. Ketika aku bilang kepada mereka kalo aku bisa makan sendiri, mereka dengan tegas menentangnya dan sekarang aku disuapi makanan dari mulut ke mulut. Apakah aku ditaklukan oleh makanan? Yah siapa peduli karena itu membuat rasanya semakin enak. Dan tentu saja, saat tidur aku memeluk Meru supaya bisa tidur nyenyak. Rasanya memeluk Meru sangat enak… Dia sangat lembut, terasa nyaman dan dingin.

(T/N : tenanglah wahai pembaca saya sebagai Translator disini juga NGIRI tapi apa daya kita hanya seorang jones yang hanya bisa membaca saja)

 

Ketika aku sedang berduaan santai dengan Meru, Ibunya Meral memanggilku. Aku dipandu oleh Meru yang duduk diatas kepalaku ke aula tempat Meral berada. Di dalam ruang Aula terlihat Ragnil yang sedang memberiku tatapan membunuh dan disampingnya ada Megil yang menatapnya dengan wajah jengkel.

 

“Yo!! Ragnil, apakah kau sudah bebas dari hukuman dogeza?” (Wazu)

 

“Yah, entah bagaimana… karena dia selalu melakukan dogeza, aku memaafkannya untuk menghormati keuletannya… tapi tidak ada kata maaf untuk berikutnya, oke?” (Megil)

Ragnil sedikit bergidik saat mendengar kata kata Megil tapi dia langsung memberiku tatapan membunuh.

“… Haa… dan? Kenapa kau melihatku seperti itu Ragnil? Aku berfikir kita itu teman…” (Wazu)

 

“Tanyakan pada dirimu sendiri.” (Ragnil)

 

Aku meletakkan tangan ke dada sambil berfikir…

 

“… Tidak, Aku tidak tahu apa kesalahanku.”

 

“Dosamu ada dua… pertama kau tidak mengatakan apapun untuk membelaku pada naga kejam ini… dan karena itu aku mengalami waktu yang mengerikan… meskipun itu bukan salahku…” (Ragnil)

 

Ooi! Aku tidak tau itu karena marah atau apa tapi jangan lanjutkan. Lihatlah disampingmu! Megil terlihat sangat kesal! Aku mohon, tolong jangan libatkan aku…

 

“Dan dosa kedua mu yang paling parah… Kau telah melanggar tabu…” (Ragnil)

 

“Tabu?” (Wazu)

 

“… Kau bilang kau adalah Suami dari PUTRIKU YANG IMUT!!!! Sebagai ayah aku tidak menyetujuinyaaaaaaa!!! Meru pernah bilang saat dia masih kecil dia akan jadi istri papa!!!!! Dan bajingan itu datang dan…!!! Kau bajingan datang…!!!” (Ragnil)

Oi, itu adalah sesuatu yang gadis kecil selalu katakan, tapi sebagai seorang ayah suatu hari nanti harus merelakan putrinya pergi… aku berpaling melihat Megil dan dia memberi tanda untuk leher Ragnil dengan ibu jarinya dan mengayunkan lehernya seolah memotongnya. Tunggu sebentar… kau menyuruhku untuk membunuhnya? Apa kau mengatakan aku harus membunuhnya?

 

“… Tunggu, tunggu. Sekarang waktunya untuk melihat orang disampingmu, Ragnil.” (Wazu)

 

“Haa?” (Ragnil)

Ragnil melakukan apa yang kukatakan dan melihat Megil ternyesum manis. Senyum itu benar-benar menakutkan… apa dia baru ingat kalo Megil ada disampingnya? Dia memalingkan wajahnya ke langit seolah berkata ‘aku mengacaukan semuanya!’ dan air mata mulai turun. Itu gak apa apa… jika kau masih hidup kita pasti akan bertemu lagi… jadi jangan menangis… maaf, itu bukan air mata itu hanya air garam, kan? Ketika aku berfikir aku melihat Ragnil dan dia perlahan mulai menurunkan kepalanya dengan suara ‘gigigi’ kemudian menatapku. Sudah tidak ada air mata di matanya… tapi masih ada jejak air mata di pipinya…

“… *gulp*… M-Mari kita lihat, kita bisa melupakan dosa pertama… tapi aku tidak akan menyetujui pernikahan Meru!! Kau harus melangkahi mayatku dulu!!” (Ragnil)
Dan untuk beberapa alasan, ini berubah menjadi aku harus melawan Ragnil. Kami bertukar pandang di padang rumput, luar kastil. Meru, Meral dan Megil berakting seolah jadi penonton dan menyiapkan berbagai makanan dan minuman… Yup, ini sebuah pertunjukan di mata mereka. Mereka melihat dan bersorak pada kami.

 

“Kyui kyui~!!” (Meru)

 

“Meru bilang, lakukan yang terbaik! Wazu, tolong lakukan yang terbaik untuk masa depan Meru~!” (Meral)

 

“Bunuh dia!! Wazu, Bunuh naga goblok itu!!”

… Maaf, itu bukan kami tapi cuma aku saja yang didukung… Yah, salah satu dari mereka berharap seseorang mati… Seseorang tolong dukung Ragnil…dia terlihat semakin despresi hanya dengan melihatnya…

(ED; Naga ngenes :v)

 

“… Aku tak ingin kalah… Aku tak boleh kalah!!”

 

Ragnil mengaum dan membuatku terpental, disaat itu dia menyerangku dengan cakarnya. Aku menghidar dengan melangkah mundur tapi sebuah cakar besar muncul di tanah tempat aku berdiri.

 

“… Oi Ragnil… Kau benar benar serius ingin membunuhku…” (Wazu)

 

“Tentu saja!! Aku tak akan menyerahkan  putriku!!” (Ragnil)

 

Dan selanjutnya Ragnil mulai menyerang serius dari berbagai arah dan aku mendedikasikan untuk bertahan saja. Meskipin aku tidak akan terluka walaupun kena pukul. Dia menyerangku dengan nafas api, aku mengayungkan lengan ke samping untuk membuat aliran udara jadi baju yang baru kubuat tidak akan terbakar.

Saat kami saling bertarung, aku melihat high elf yang sebelumnya bertarung melawanku, mendekati sarona, jadi aku terbang untuk memastikan dia tidak melakukan apapun. Jika dia berani meletakkan 1 jari ke Sarona, aku akan membunuhnya…

 

Pertarungan kami? Itu masih berlanjut sampai akhirnya Ragnil mulai terengah-engah dan nafasnya mulai tak teratur.

 

“Haa… fuuu… guahh…” (Ragnil)

 

“Ooi~ apa Kau sudah puas sekarang?” (Wazu)

 

“Tidak… masih belum…” (Ragnil)

Haa… jadi begitu… jika ini terus berlanjut seperti ini, ini tidak akan pernah selesai…

aku memperpendek jarak dengan Ragnil dalam sekejab dan memukulnya sekali dengan kekuatan yang cukup untuk tidak membunuhnya

(T/N : One Punch Man 2.0)

.

Hari berikutnya aku dipanggil lagi ke aula. Tentu saja Meru duduk diatas kepalaku. Ketika aku sampai di Aula, aku melihat Ragnil, Meral dan Megil berbaris. Ragnil memanggilku.

 

“Aku kalah darimu Wazu… Jadi aku tidak punya pilihan lain selain mengakuinya… Tolong biarkan aku berkata sesuatu sebagai ayah Meru… Tolong buat putriku bahagia…” (Ragnil)

 

“………. Mengerti. Aku akan mengbahagiakan Meru.”(Wazu)

 

Saat aku menjawab Ragnil, Meru terbang dari kepalaku dan dengan riang memberi ciuman di pipi. Aku menjawab perasaan Meru dengan mengelus kepalanya, sepertinya dia puas dan kempali ke kepalaku.

“Kemudian? Kapan kalian melanjutkan perjalanan?” (Megil)

 

Megil bertanya seperti itu

 

“Coba kita lihat … Aku sudah membuat semua baju, senjata dan armor, Meru juga sudah dimanja oleh Meral jadi, aku harus berdiskusi dengan sarona dkk, kupikir kita akan pergi besok kalo atau lusa.” (Wazu)

 

“Jadi begitu… Kalian akan selalu diterima disini. Setelah menjadi suami Meru, ini juga rumahmu.” (Megil)

 

“Ya, aku akan datang lagi.” (Wazu)

Setelah bicarakan itu, aku pergi dari aula untuk berdiskusi dengan yang lainnya tentang waktu meneruskan perjalanan kami.

 

Aku sengaja tidak menyentuh subjek ini tapi, Ragnil sekarang disuruh melakukan dogeza dan lebih parah lagi di punggungnya diberi batu yang membuatnya tambah berat… bertahanlah Ragnil… Aku pastikan kau akan bersinar besok juga… mungkin…

tags: baca novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, web novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, light novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, baca Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 169, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 169 manga, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 169 online, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 169 bab, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 169 chapter, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 169 high quality, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 169 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!