Sono Mono Nochi ni Chapter 170

Dibaca 1382 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

Penerjemah: Devine
Penyunting: VinsAriez
Korektor: –

Chapter 170 – Ayo kita pergi~

(T/N : Udah 2 bulan ane ambil ini project tapi baru translate 16 chapter doang, apakah harus di gaskeun? Au ah gaskeun yok walupun ulangan)

 

….

Setelah berdiskusi sama Sarona dkk, kapan sebaiknya kita akan pergi,  kami memutuskan untuk pergi besok lusa karena yang lainnya perlu menyiapkan barang-barang. Aku pengen tau apa yang terjadi sama Dewi Perang setelah kita berbicara jadi aku bertanya pada yang lainnya siapa yang bertemu dengannya dan sepertinya hanya Tata yang bertemu dengannya. Tata sangat berterima kasih padanya karena dia diberi nasihat dalam pertempuran.

Beneran… Untuknya menjadi Dewi Perang yang baik… Aku ingin Dewi dan Dewi Tanah belajar darinya. Gadis-gadis lain bilang ingin bertemu dengannya setelah mendengar ada dewi yang baik, jadi aku jika dia datang lagi aku akan mengenalkannya. Aku ingin tau dimana dia sekarang… Dia mungkin kembali ke tempatnya saat aku sedang tidur…

Setelah kami selesai berdiskusi tentang persiapan keberangkatan, diskusi berakhir dan aku meninggalkan ruangan, aku tiba tiba menyadari Freud tidak keliatan dimanapun. Bagaimana aku mengatakannya ya, aku hanya merasa gelisah saat orang itu tidak ada… aku merasa dia merencanakan sesuatu… Serius orang itu…

(T/N : Apakah Wazu sekarang udah jadi kaum yara?)

(ED : Kaum duafa :d )

 

Ketika aku mencari Freud di dalam kastil aku mendengar orang lagi berbicara di ruangan tertentu jadi aku memutuskan untuk melihat apa yang terjadi di ruangan itu, dan aku melihat di dalamnya ada Megil dan Freud sedang berbicara.

 

“… Jadi seorang yang kesep-… Itu… menyakitkan…” (Megil)

 

“Kau…… benar…. Tentang itu….. Tapi sekarang aku…. Seorang butler…” (Freud)

 

“Aku mengerti……” (Megil)

 

“…… Itu harus diselesaikan……” (Freud)

 

“…… Segel… Jahat…… atau…..” (Megil)

 

“Fumu……. Aku juga…..” (Freud)

Hmm… ini sepertinya mereka berbicara tentang sesuatu tapi karena aku diluar dan mereka ngomong pelan aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas… atau lebih tepatnya, sepertinya Freud pernah kesini sebelumnya, Dia terlihat kenal sama Megil, apakah dia pernah kesini sebelum aku?

 

Ketika aku bersandar di dinding dan berpikir tentang Freud, dia tiba-tiba keluar dari ruangan.

“Apakah itu Wazu-sama? Apa yang anda lakukan di sini?” (Freud)

(T/N : ane pake anda dan saya disini karena Freud itu manggil pake -sama dan dia butler wazu otomatis harus sopan)

 

“… Tidak ada… hanya berfikir sesuatu tentangmu.” (Wazu)

 

“OOH! Anda akhirnya sadar kalau Anda adalah tuanku?” (Freud)

 

“Bukan itu!” (Wazu)

 

Serius orang ini… ketika aku memberinya tatapan menghina, Freud mengarahkan tangannya padaku.

“… Ada apa dengan tanganmu?” (Wazu)

 

“Wazu-sama membuat peralatan untuk semua orang jadi saya ingin tahu apakah anda membuatkanku juga.” (Freud)

 

“… Eh? Emang kau butuh senjata? Tentu saja tidak. Kau bahkan masih bisa berdiri setelah aku pukul dengan God Punch-ku jadi kupikir kau tidak butuh senjata.” (Wazu)

 

“… Tentu saja. Itu karena waktu yang sempurna dan bantuan dari hambatan udara, bukankah begitu?” (Freud)

 

“… Yah, aku tidak mengharapkan jawaban yang jujur darimu.” (Wazu)

Seperti biasa, Freud tetaplah Freud… Haa… aku bertanya meru yang ada diatas kepalaku untuk membuka sihir penyimpanan-nya dan mengambil 2 baju butler yang sama persis dan melemparnya ke Freud

 

“Itu dia… maksudku, meskipun aku tidak mau mengakuinya, kau telah membantu kami beberapa kali jadi ini adalah bentuk rasa terima kasihku padamu. Desain nya sama dengan yang kau pake jadi jangan terlalu berharap.” (Wazu)

(T/N : aku melihat Wazu jadi Tsundere)

(ED : njerrr! Klo ada unsur Hvmv gw hengkang aj :v )

 

“Ooh! dengan senang hati saya menerimanya! Jadi ini berarti dengan memberi saya baju, anda secara tidak langsung menerima saya sambil berkata ‘Kau sekarang adalah Butlerku’, kan?” (Freud)

“Tentu saja Tidak! Apa yang kukatakan itu adalah, kau mungkin membersihkan bajumu yang kau gunakan sekarang dengan sihir, tapi Kau harusnya membersihkannya dengan benar jangan hanya memakainya saja!!” (Wazu)

Haa… seperti yang kupikir setiap kali aku bicara dengan orang ini aku selalu lelah… Yah, dia terlihat senang jadi kupikir emang layak kuberikan baju itu padanya… meskipun aku sedikit menyesalinya…
….

 

Semua persiapan sudah selesai dan hari keberangkatan akhirnya datang.

 

Kami semua berbaris di depan kastil dan melakukan pengecekan terakhir. Dan didepan kita ada Ragnil, Meral, Megil dan untuk beberapa alasan ada High elf, Necromancer dan Beastman Berotot. Kenapa kalian juga ada disini… Aku berbalik untuk melihat ke tiga orang itu dan dengan serasi mereka mengalihkan pandangan, Serius, Kenapa kalian disini?

 

“Wazu.” (Ragnil)

Tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku jadi aku menoleh, disana terlihat Megil dan Meral yang dipimpin Ragnil. Aku akan berpura-pura tidak melihat bekas batu di kaki Ragnil.

 

“Janji kita tentang membahagiakan Meru adalah janji seorang pria jadi jangan lupa itu!!” (Ragnil)

 

“Tolong jaga Meru.” (Meral)

 

“Aku mengerti! Kami akan datang lagi!” (Wazu)

 

“Kyui! Kyui!!” (Meru)

(T/N : Ada yang tau bahasa Naga? Klo ada tolong di translate.)

(ED:  Kyaaah! Ahhhnn mmppsshh kimochi desu~ :v )

 

Aku menjawab kata kata Ragnil dan Meral sambil mengelus-elus kepala Meru.

“Wazu, aku meninggalkan Meru padamu…” (Megil)

 

Megil berekspresi serius. Bagaimana aku mengatakannya ya, wajahnya terlihat seolah sedang memutuskan sesuatu.

 

“A-Apa yang terjadi? Eh? Apa ini adegan saat mengatakan hal-hal serius?” (Wazu)

 

“… Tolong…” (Megil)

 

Megil mengatakan permintaannya, menutup matanya dan menunduk kepalanya kearahku. Ragnil, Meral dan aku sedikit terkejut, tapi melihat betapa seriusnya megil, aku juga harus menjawabnya dengan serius.

“Tentu saja. Aku akan melindungi Meru dari apapun. Jika ada orang yang ingin melukainya muncul, aku pasti akan membunuhnya.” (Wazu)

 

“Mendengarmu mengatakan itu membuatku lega…” (Megil)

 

apa dia sedikit lega setelah mendengar jawabanku? Megil mengangkat kepalanha dan melihat Meru dan aku dengan sambil tersenyum.

 

“Meru pastikan untuk selalu di dekat Wazu.” (Megil)

 

“Kyui!” (Meru)

Meru mengangkat tangannya dari atas kepalaku sambil menjawabnya.

 

“Kami akan pergi sekarang. Sampai jumpa lagi.” (Wazu)

 

“Ya… Aku berdoa agar kita berdua bisa bertemu lagi.” (Megil)

 

“Jangan mengatakan hal yang tidak menyenangkan…” (Wazu)

Dan seperti itu sekali lagi kita mengucapkan selamat tinggal untuk Ragnil dan lainnya dan berangkat dari kastil menuju ke Imperal Capital.


Yo akhirnya perjalanan Wazu bertemu Aria dimulai sekarang, sampai jumpa lagi ehh satu lagi aku butuh translator bahasa naga disini ada yang mau?

ED: naga apaan? Naga bonar yg di Indosiar :v

tags: baca novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, web novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, light novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, baca Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 170, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 170 manga, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 170 online, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 170 bab, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 170 chapter, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 170 high quality, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 170 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!