Sono Mono Nochi ni Chapter 171

Dibaca 1887 orang
Font Size :
Table of Content

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

Penerjemah: Devine
Penyunting: VinsAriez
Korektor: –

Chapter 171 – Kesatria Mabondo

Setelah kami menuruni gunung, kami memasuki area hutan. Di pertengahan jalan banyak monster yang datang tapi, semuanya dikalahkan oleh sarona dkk. Aku bahkan tidak perlu melakukan apapun. Haosui ada di depan karena dia yang paling kuat dan terima kasih berkat pelatihanku dan ditambah peralatan ‘legenda’ yang aku buat, dia menjadi jauh lebih kuat lagi, jadi aku sekarang tidak perlu khawatir. Yang lainnya juga sedang mencoba peralatan mereka. Ada juga beberapa kasus saat mereka menguji armor dan menerima serangan monster, ketika aku melihatnya tubuhku merinding. Karena mereka dengan tegas melarangku untuk terlibat dan Freud yang tidak ikut bertarung sekarang sedang menahanku jadi aku tidak bisa melakukan apa apa… Tidak peduli aku tau mereka akan baik baik saja tapi aku tidak suka melihatnya. Orang yang paling bersemangat bertarung disini Tata. Apa nasihat dari Dewi Perang begitu efektif? Dia terlibat pertarungan secara proaktif sambil memastikan kekuatannya sendiri. Yah kalo boleh jujur, di kelompok ini yang paling lemah itu Tata tapi dari yang kulihat dia juga kuat bahkan petualang Rank A tidak bisa melukainya. Aku selalu berfikir bahwa dia akan menjadi seseorang yang mentalnya kuat tapi sekarang dia juga kuat secara fisik.

 

Dan saat kami maju membasmi para monster, kami melihat kelompok bersenjata di dalam hutan. Kami segera bersembunyi, sepertinya mereka tidak melihat kami. Dari armor mereka, mereka mungkin Pasukan Ksatria dari suatu tempat atau sesuatu seperti itu. Apa yang mereka lakukan di dalam hutan?

Dari keadaan pasukan mereka kami tahu 2 hal, mereka adalah kelompok beranggota 30 orang, ada beberapa yang melepas armor dan membuat makanan dengan mengaduk panci, ada juga yang berlatih tanding dengan pedang kayu dan 3 dari mereka terlihat seperti orang yang paling penting di kelompok ini, dari armor dan mantel yang mereka gunakan, mereka mungkin sedang melakukan pertemuan. Dan, karena di tengah-tengah perkemahan mereka terlihat bekas api unggun, kantong tidur yang tersebar dan armor yang kotor dan buram, mereka mungkin sudah berkemah beberapa hari disini.

Ketika kami melihat mereka, Naminissa dan Narelina mengahampiriku dan berbicara dengan suara pelan

 

“… Wazu-sama, bisakah saya meminta waktumu sebentar?” (Naminissa)

 

“Mh? Apa itu? Jangan bilang padaku kau ingin melakukan sesuatu sendirian. Itu akan jadi sedikit…” (Wazu)

 

“Bukan itu salah. Sebenarnya saya tau seseorang dari kelompok itu.” (Naminissa)

 

“Ahh, aku juga bisa memastikannya, tidak diragukan lagi… Pasukan Ksatria itu adalah Pasukan Ksatria Mabodno.” (Narelina)

 

… Eh? Mabondo? Jika aku tidak salah, itu tempat kelahiran Naminissa dan Narelina, kan? Dengan kata lain, Ksatria itu adalah Ksatria yang dipekerjakan oleh Kerajaan kedua gadis ini.

 

“Eh? Tapi kenapa Ksatria Kerajaan kalian ada disini? Selain itu dalam keadaan menyedihkan… bukankah Kerajaan Mabondo cukup kaya…?” (Wazu)

 

“… Tentang itu…” (Naminissa)

 

“… Sekarang sudah tidak ada lagi Kerajaan Mabondo.” (Narelina)

 

“.. Huh?” (Wazu)

Dan aku mulai mendengar cerita Naminissa dan Narelina. Tepat setelah mereka memutuskan untuk mengejarku dan keluar dari kerajaan, Orang tua mereka juga memutuskan untuk keluar dari Kerajaan dengan Ksatria dan penduduk mereka, dan Kerajaan Mabondo sekarang menjadi negara bagian dari Kerajaab Flebondo. Setelah mendengarnya, Aku pikir Raja adalah orang yang sangat ceria mungkin karena itu Ksatria dan penduduknya ingin mengikuti mereka.

 

“Kemudian, Para Ksatria itu…” (Wazu)

“Kemungkinan terbesarnya mereka tertinggal dan menyerah dengan Kerjaan Flebendo dan keluar… Tanpa tau apa apa mereka memutuskan untuk berhenti disini dan sedang mencari solusinya…” (Narelina)

 

… Fumu… Tentu saja setelah mendengar penjelasan dari putri-putri sepertinya memang itu yang terjadi.

 

“Tapi bukan berarti kita tidak bisa buktikan dan gk bakal terjadi apa apa jika kita hanya berdiskusi… Kau bilang kau kenal salah satu dari Ksatria itu, kan? Lalu kenapa kita tidak coba untuk memanggilnya? (Wazu)

 

“Anda benar.” (Naminissa)

 

“Ayo lakukan ??” (Narelina)

 

“… Tapi kita tidak tau keadaan mereka jadi mari kita tetap waspada…” (Wazu)

Jadi kami melangkah keluar sambil waspada karena kami tidak tau bagaimana tanggapan mereka. Ketika mereka melihat kita, Para Ksatria mengambil senjata dan mengarahkannya pada kami, kemudian 3 orang pemimpin mereka datang.

 

“Siapa kalian… Jika kalian tidak menjawab kami akan…” (Pemimpin 1)

 

Orang yang berbicara adalah seseorang yang ada di tengah-tengah ketiganya. Seorang pria berusia lima puluhan dengan wajah gagah, janggut yang tidak dicukur dan berbadan kurus. Dia mengulurkan tangannya ke pedangnya.

“Sudah lama ya Runo-sama.” (Naminissa)

“Sudah lama sekali ya Master Runo.” (Narelina)

 

Dari pihak kami Naminissa dan Narelina ada di depanku dan memanggilnya. Aku tetap berdiri supaya bisa kabur setiap saat.

“… Putri Narelina, Putri Naminissa.” (Runo)

 

Orang yang disebut Runo ini mulai berlutut di depan Naminissa dan Narelina pada saat dia menyadari siapa sebenarnya Narelina dan Naminissa. Para Ksatria lainnya juga segera berlutut meniru Runo-san.

 

“Saya senang melihat kalian berdua baik baik saja, Putri Narelina, Putri Naminissa.” (Runo)

 

“Fufu… sudah tidak ada lagi Keluarga Kerajaan Mabondo lagi, anda tau?” (Naminissa)

 

“Jadi kau tidak harus berlutut di depan kita dan memanggil kita putri lagi.” (Narelina)

 

“… Bahkan jika tidak ada lagi Kerajaan san Keluarga Kerajaan, saya tidak peduli. Bagiku kalian adalah Putri.” (Runo)

 

Naminissa dan Narelina terlihat terganggu dengan kata kata Runo-san tapi entah bagaimana senym bahagia mucul di wajah mereka.

 

Setelah itu kami bergabung dengan para ksatria untuk mempersiapkan pesta menyambut kamu, Sarona, Haosui dan Kagane akan mencari kayu bakar di sekitar, Tata dan Mao akan membantu memasak dan Narelina dan Naminissa sedang mendiskusikan sesuatu dengan Runo-san. Karena ini berakhir jadi seperti ini, Freud dan aku tidak punya sesuatu yang harus dilakukan jadi kami membantu mempersiapkan meja makan. Meru selalu berada di atas kepalaku menguap tanpa beban.

tags: baca novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, web novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, light novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, baca Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 171, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 171 manga, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 171 online, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 171 bab, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 171 chapter, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 171 high quality, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 171 manga scan, ,
Table of Content

2
Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
2 Komentar Chapter
0 Balasan Chapter
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Silent KurumiRendy Ardiansyah Recent comment authors
  Ikuti  
terbaru terlama top voting
Notify of
Rendy Ardiansyah
Guest
Rendy Ardiansyah

Wew bisa bisanya ketemu mantan prajurit
Kalo ga salah itu ketuanya yg pernah ngebantu wazu

Silent Kurumi
Guest
Silent Kurumi

Thanks for the chapter!! :)) jaga kesehatan dan tetep semangat update min :))