Sono Mono Nochi ni Chapter 180

Dibaca 1301 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

Sponsor Chapter: Fidhya Fachrezy

Penerjemah: Devine
Penyunting: niznet
Korektor: –

Ada pengumuman terkait Sono Mono dan Sistem Donasi atau Sponsor bareng-bareng: Pemberitahuan Sistem Donasi


Chapter 180 – Makhluk Imitasi

Aku berjalan ke arah Shiro sambil melihat pertarungan antar Dewi.

I feel from Shiro that he is from the human race so, since we are inside the ‘No Damage Barrier’ there will be no fighting.

Kurasa rasnya Shiro masih manusia juga jadi, selama kami masih berada di dalam ‘Barier Anti Serangan’ gak akan ada perkelahian.

Ketika aku berjalan di samping perkelahian kedua Dewi itu, aku mendengar “”Gugigig… “” tolong deh, aku mau berbincang hal penting dengan Shiro jadi bisakah kalian diam sebentar? Aku gak masalah kalau kalian tetap berkelahi tapi jangan terlalu gaduh sampai mengganggu kami ya.

Aku mendekati Shiro, menyedekapkan tangan dan bertanya.

“Dan? Apa maksudmu kalau kita itu ‘Makhluk imitasi’?” (Wazu)

Sewaktu aku bertanya, Wajah Shiro terlihat senang.

“Benar, sepertinya para Dewi juga sibuk jadi mari lanjutkan perbincangan kita. Waktu itu kupikir Wazu-kun hanya manusia super saja tapi, setelah aku menyelidikinya sedikit aku sadar kalau kita itu makhluk yang sama. Meski ada rasa permusuhan diantara kita, ini masih menarik!”

“Makhluk yang sama?”

Aku gak paham sama apa yang dia katakan… bentar… Makhluk yang sama… aku gak ingin mengakuinya sih tapi kami berdua sama-sama punya Dewi yang memihak kami… dan rambutnya juga berwarna hitam dan putih sepertiku… apa maksudnya kalau dia sama sepertiku… jangan jangan…?!

“… Jangan jangan kau juga…?!” (Wazu)

“Tepat! Aku juga menerima berkah dari Dewi Kegelapan dan aku juga bisa menggunakan ‘Pendewaan’.” (Shiro)

Aku kaget dengan apa yang dikatakannya. Aku melepas sedekapku dan bersiaga. Seolah tau apa yang sedang kupikirkan, Shiro tersenyum senang.

“Jangan khawatir, aku nggak punya rencana untuk bertarung melawanmu disini. Aku benar-benar cuma ingin bicara denganmu. Dan nggak kayak kau, aku cuma bisa nggunain Pendewaan sebentar… Haa…”

Shiro terlihat kecewa. Tapi aku tetap gak boleh lengah. Walaupun hanya sebentar dia masih bisa menggunakan pendewaan… dan itu artinya dia punya kekuatan sebanding denganku. Aku melirik ke arah para gadis.

“Aku juga gak punya rencana apapun pada mereka. Dan seperti yang kubilang aku cuma bisa nggunainnya sebentar… aku gak yakin bisa menang lawan Wazu-kun yang bisa menggunakannya lama… untuk sekarang.” (Shiro)

“… Untuk sekarang itu artinya kau berencana untuk bertambah kuat nanti… kalau gitu aku harus menggunakan sekarang…” (Wazu)

… Gunakan pendewaan dan…

“Sebaiknya jangan. Jika kau melukaiku sekarang, aku gak tau apa yang nanti bakal terjadi sama orang yang ku siapkan sebagai hadiah.” (Shiro)

… Orang yang disiapkan sebagai hadiah… apakah yang dia maksud Aria…? Bukan berarti aku gak merasa aku tidak dapat melakukan sesuatu terhadap Aria, namun ada Dewi yang mendampingi orang ini jadi aku gak boleh ceroboh.

Aku menghentikan sikap siagaku dan mulai bersedekap lagi, yah ini persiapan kalau nanti terjadi apa apa.

“Persiapanmu cukup matang.” (Wazu)

“Tentu saja. Aku gak akan datang menemuimu tanpa persiapan. Aku masih punya sesuatu yang harus dilakukan dan tujuan yang harus kuraih!” (Shiro)

“Tujuan, ya… dan apa tujuanmu? Apa itu berkaitan dengan pembicaraan kita?” (Wazu)

“Tentu ada kaitannya.” (Shiro)

Mengatakan itu Shiro turun dari meja dan dengan tenang mendekatiku.

“Tujuanku adalah menghidupkan kembali Dewa Jahat.” (Shiro)

“… Dewa Jahat?” (Wazu)

“Eh? Kau gak tau? Apa gak ada yang memberitahumu? Kalau gitu aku akan memberitahumu dengan singkat.” (Shiro)

Senyum Shiro semakin melebar.

“Beberapa ratus tahun yang lalu hiduplah seorang Dewa. Dia adalah Dewa Jahat. Ia tidak mempunyai nama jadi dia dipanggil Dewa Jahat. Dan layaknya namanya, dia mencoba untuk menghancurkan dunia dengan kekuatannya yang sangat besar. Tetapi ada juga dewa-dewa yang mencoba menghalangi Dewa Jahat. Dewa yang menciptakan dunia dan 5 Dewi pilar lahir dari dirinya. Dewa itu meminjam kekuatan para manusia dan naga demi menjaga kelangsungan hidup dunia, berjuang Melawan iblis yang lahir dari Dewa Kegelapan. Dan hasilnya dunia ini masih hidup. Dewa Jahat terkalahkan. Lebih tepatnya, Dewa pencipta menggunakan setengah kekuatannya untuk membuat 7 segel supaya bisa menyegel Dewa Jahat dan Lima Dewi Pilar menggunakan tubuh mereka untuk membuat 5 segel dan seperti itu Dewa jahat kalah dan tertidur selama-lamanya… atau itulah rencananya.” (Shiro)

“… Artinya rencanamu mau melepas segel segelnya.” (Wazu)

“Tepat sekali! Aku percaya kau bisa mengerti sekarang dengan apa yang kukatakan. Jika kau mengingat apa yang telah kau lakukan sampai sekarang.” (Shiro)

Aku meletakkan tangan ke daguku sambil mulai mengingat…

7 segel dan 5 segel… jika ku gabungkan kata-kata dan angka-angka tersebut dengan apa yang telah kulakukan sampai sekarang aku bisa menyadari sesuatu. Kuncinya adalah bola hitam dan merah yang diberikan Shiro tadi… jika aku menghitung berapa banyak bola yang pernah kuliat, aku sadar kalau bola merah adalah kunci dari 7 segel sedangkan bola hitam itu kunci 5 segel. Dan untuk mendukung asumsiku, setiap kali bola hitam digunakan, Dewi di kartu petualangku bertambah… tidak tunggu dulu… pemikiran itu nggak menjelaskan 1 hal…

“… Lalu kapan segel Dewi Cahaya terlepas?” (Wazu)

“Fufu…. Kau bisa tau kalau kau berfikir lebih keras lagi. Petunjuknya 4 tahun yang lalu.” (Shiro)

“4 tahun yang lalu?” (Wazu)

4 tahun yang lalu itu saat Aria mulai berpetualang untuk mengalahkan Raja Iblis…

“… Aku mengerti, maksudmu kau ingin berkata kalau Raja Iblis itu seseorang yang kau persiapkan dengan Bola Merah?”

“Benar!! Raja Iblis itu seorang ‘Rakus’, Dragonkin miskin yang berjuang untuk makan. Dan sekarang tersisa hanya 1 bola merah dan 1 bola hitam… kebangkitan Dewa Jahat semakin dekat. Dan kau nggak bisa menghentikannya, Wazu-kun.” (Shiro)

Melihat Shiro senang memberiku firasat buruk.

“Dan sekarang ini perbincangan tentang kita. Kau mengerti apa yang sudah kukatakan padamu, kan?” (Shiro)

“Yeah.” (Wazu)

“Aku adalah utusan yang dipilih Dewa Jahat dan Dewi Kegelapan yang lahir dari Dewa Jahat, dan kau Wazu-kun adalah utusan yang dipilih Dewa pencipta dan 5 Pilar Dewi!! Mengerti? Kita itu makhluk yang sama, Makhluk Imitasi.” (Shiro)

Aku tidak percaya kalau aku utusan Dewa… aku gak merasa seperti itu… atau begitulah pikirku…

Aku melirik pada Sarona dan lainnya.

Aku nggak bisa berdiam diri sambil melihat bagaimana dunia gadis-gadis yang sangat memperdulikanku dihancurkan…

“Walaupun Dewa Jahat bangkit kembali, aku akan menghadapimu dan mengalahkan Kalian!!” (Wazu)

Aku menatap wajah Shiro sekali lagi sambil mengatakan itu. Shiro membuat senyuman paling bercahaya.

“Hahahaha!! Aku gak pernah mengharapkan yang lebih baik dari itu!! Itu akan membuat semakin menarik!!” (Shiro)

“… Masih ada yang ingin kutanyakan.” (Wazu)

“Apa itu?” (Shiro)

“Kenapa kau melakukan ini?” (Wazu)

“… Fufufu… kenapa! Karena itu menyenangkan!!” (Shiro)

“Aku gak merasa itu jawaban…” (Wazu)

“aku akan menceritakanmu tentang diriku di pertemuan selanjutnya… Dan ingat saat itu mungkin kita bertemu untuk saling membunuh.” (Shiro)

Setelah mengatakan itu, Shiro berbalik melihat Dewi Kegelapan.

“Dewi Kegelapan, waktu kita tidak banyak, saatnya untuk pergi!” (Shiro)

Setelah mendengar Shiro, Dewi Kegelapan melepas tangannya dari Dewi Cahaya dan muncul disamping Shiro. Daripada itu, daritadi kalian cuma saling menahan tinju…?

Dewi Kegelapan berbalik ke arah Dewi Cahaya setelah muncul di samping Shiro sambil menunjukkan jari tengahnya.

“Dewi Cahaya!! Aku akan membunuhmu lain kali!!” (Dewi Kegelapan)

“Itu kata-kataku, bego!!” (Dewi Cahaya)

Dewi Cahaya ikut-ikutan mengangkat jari tengahnya setelah menerima tantangannya. Serius… apa yang dilakukan oleh Dewi-Dewi ini…

“Sampai jumpa, Wazu-kun!! Saat kami menghilang, ‘Barier Anti Serangan’ akan menghilang juga dan hadiahku akan muncul! Aku bersemangat ingin melihat wajahmu nanti seperti apa!!” (Shiro)

Shiro terlihat melambai-lambaikan tangannya selagi mengatakan itu dan bersama dengan Dewi Kegelapan diselimuti kabut hitam kemudian menghilang. Dan tiba-tiba seorang wanita yang tengah tertidur tertinggal di tempat ini. Aku maju ke wanita tersebut untuk mengeceknya.

… ini bukan Aria…

Tapi pakaiannya memancarkan aura kalau dia seorang kalangan atas. Saat aku selesai memeriksanya, Dewi Cahaya mendekatiku.

“… Aku ingin berbicara sesuatu dengan Wazu-san.” (Dewi Cahaya)

“Apa itu?”

“Sebenarnya…

Aku tidak hanya Dewi. Sesungguhnya aku adalah Dewi yang berkuasa atas cahaya!” (Dewi Cahaya)

“… Yah, Dewi Kegelapan juga bilang begitu, dan aku juga sudah menduganya.” (Wazu)

Dewi Cahaya terlihat bingung seolah-olah berkata “… Eh?”. Ekspresinya membuatku gelisah.

Bisakah dewi-dewi ini menang melawan Dewa Jahat…?

 

tags: baca novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, web novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, light novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, baca Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 180, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 180 manga, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 180 online, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 180 bab, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 180 chapter, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 180 high quality, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 180 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!