Sono Mono Nochi ni Chapter 182

Dibaca 1051 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

Sponsor Chapter: Fidhya Fachrezy

Penerjemah: Devine
Penyunting: Darksouls
Korektor: –

Ada pengumuman terkait Sono Mono dan Sistem Donasi atau Sponsor bareng-bareng: Pemberitahuan Sistem Donasi


Chapter 182 – Pasangan yang didambakan sang Putri

Setelah mendengar situasinya, Putri Eris meminta kami membawanya keluar dari Ibukota. Kami saling menatap sambil menampakkan ekspresi ruwet. Kami juga saling bertanya menggunakan mata ‘Apa yang harus dilakukan’ dan ketika melihat kelakuan kami, Putri Eris berbicara dengan perasaan menyesal.

“… Kalian kesusahan ya karena mendadak diminta melakukan itu, kan? Aku minta maaf.” (Putri Eris)

Melihatnya menundukkan kepala dengan sopan, Para gadis dan Dewi Cahaya tampaknya punya sebuah ikatan karena sama-sama wanita, mereka menatapku dengan mata memohon seolah-olah bertanya ‘tak bisakah kau lakukan sesuatu untuknya?’ Hei, Dewi Caha-… Kenapa kau juga menatapku? Aku berbalik melihat Dewi Cahaya yang seakan-akan bilang ‘Kau ‘kan Dewi jadi lakukanlah sesuatu’ Kemudian Dewi Cahaya memutuskan kontak mata denganku dan ketika aku berpikir dia mulai bersiul tanpa suara, Dewi Cahaya menepuk telapak tangannya.

“… Aku minta maaf Wazu-san… batas waktuku menggunakan wujud ini akan habis… aku merasa tidak enak meninggalkan kalian tapi kami para Dewi harus menghemat kekuatan untuk menghadapi kebangkitan Dewa Jahat jadi… Wazu, utusan para dewi… kita akan bertemu lagi…

… aku menyerahkan masalah ini padamu!” (Dewi Cahaya)

Dewi Cahaya Menghilang kembali ke kartu petualangku dengan tergesa-gesa setelah mengucapkan hal itu.

Dia menuturkan alasan-alasan yang nggak jelas, dengan seenaknya menjadikanku utusannya, dan setelah mendesak semua masalahnya padaku dia kembali!! Guh… Dia mungkin Dewi Cahaya tetapi aku tidak tahu apa yang dia inginkan… Haa…

Menanggapi kata-kata Dewi Cahaya, mata Putri Eris berkilauan saat melihatku. Apa kau salah paham? Aku minta maaf, tolong jangan lihat aku dengan mata itu, itu menggangguku… aku tidak menganggap diriku seorang utusan para Dewi sedikit pun…

Aku menenangkan diri dan bertanya pada Putri Eris

“Haa… jadi kenapa Putri Eris ingin pergi dari Ibukota? Jika aku gak tahu alasannya, aku juga nggak akan membantumu. Bisakah kau memberi tahu kami kenapa kau ingin pergi?” (Wazu)

Sarona dkk mengangguk dan Putri Eris melakukannya juga seakan-akan dia sudah mengerti.

“… Jika aku tetap di ibukota… aku akan dipaksa menikahi Hero-sama…” (Putri Eris)

… Eh?

“Aku tahu kalau Hero-sama sudah menikah dengan banyak wanita… tapi poligami diizinkan disini dan aku juga mengerti kalau Keluarga Kekaisaran ingin mempunyai hubungan yang lebih erat dengan Pahlawan, jadi sebagai tanda persahabatan Keluarga Kekaisaran memberikan seorang pengantin … Aku mengerti tapi aku tidak suka itu.” (Putri Eris)

… Haa…

“ Bukan berarti aku benci Pahlawan. Tapi ketika Pahlawan mendengar kabar pernikahan kami, dia berubah menjadi terlalu akrab dan itu menjengkelkan, saat dia berbicara denganku aku merasa jijik, dan saat dia melihatku tatapannya sangat cabul sampai aku ingin muntah…” (Putri Eris)

… Bukankah gak apa-apa kalau kau bilang tidak mau menikah dengannya?

“Tapi ayah kukuh dengan pernikahan ini dan terlebih lagi aku tidak bisa menolaknya semauku. Selain itu aku juga tidak bisa dengan sembarangan menolaknya demi kesejahteraan negara ini… Tetapi ada seseorang yang aku cintai. Aku ingin menikah dengannya. Aku mengerti niat ayah menikahkanku dengan Pahlawan adalah pilihan terbaik untuk negara ini, namun meski aku tau itu, aku masih ingin menikah dengan orang itu!!” (Putri Eris)

… Fumu, fumu

“Jadi begitu, aku beranggapan kalau orang yang Putri Eris ingin nikahi ada diluar Ibukota?”

“Benar. Dia ada di kota pelabuhan dekat Ibu Kota Kekaisaran. Aku ingin meminta kalian untuk membawaku kesana tapi… Tidak masalah kok jika sampai diluar ibukota saja… bisakah kalian melakukannya?” (Putri Eris)

Aku mengerti. Itulah kenapa dia pengen pergi dari Ibukota…dia punya kesempatan bagus saat ini … bisa kurasakan dari kegigihannya, ekspresi dan aura kebulatan atas pilihannya untuk menikahi seseorang meskipun dia harus membuang negaranya…Yah, sebagai seorang rakyat jelata aku ingin membantunya … Tetapi negara ini mungkin akan bermusuhan dengan orang itu…Mh? Oh ya, darimana aku mendengar perbincangan tentang Kota Pelabuhan dekat Ibukota…? Yah, gak masalah toh ini bukan sesuatu yang bisa kupilih sendirian.

Aku sekali lagi berbalik pada Sarona dkk untuk mendiskusikannya

“Kita kurang lebih sudah mendengar situasinya, jadi menurut kalian?” (Wazu)

“ Aku ingin membantunya.” (Sarona)

“Aku ikut membantunya. Pernikahan tanpa didasari keinginan para pengantinnya tidak bagus.” (Tata)

“Sebagai mantan keluarga kerajaan, aku percaya kita harus membawanya ke kastil… Tetapi sebagai seorang Wanita kupikir dia harus pergi ke tempat orang yang ingin dia nikahi.” (Naminissa)

“Pendapatku sama seperti Naminissa. Sebuah negara memang penting tapi jika harus mengorbankan seseorang kupikir salah.” (Narelina)

“… Kita harus membawanya kesana.” (Haosui)

“Menyerahkan tubuhmu demi negara mungkin terdengar mulia, tapi bisa melahirkan keturunan yang salah. Aku juga berpikir kalo kita harus membantunya pergi ke tempat orang yang dicintainya.” (Kagane)

“Aku juga sependapat dengan yang lain. Pernikahan adalah sesuatu yang diinginkan kedua belah pihak. Aku gak akan mengakui sesuatu yang sepihak. Kita harus membawanya ke tempat orang yang dicintainya.” (Maorin)

Kayaknya semua orang ingin mewujudkan harapan Putri Eris. Yah aku juga ingin membantunya sih kalau aku bisa tapi, jika kami mengantarnya keluar seperti ini, kami bisa menambah musuh di luar negara… tunggu, bagaimana kalo kami bawa orang itu dari kota pelabuhan… Gak, dia tidak akan diperbolehkan masuk gerbang…

Sekarang kalo dipikir – pikir lagi, kami masih belum tahu orang seperti apa dia… Tidak akan terlambat untuk membuat keputusan setelah mendengar orang macan apa yang dicintai Putri Eris. Jika orang itu terlihat mencurigakan, maka lebih baik kami membawa Putri ke kastil …

Terlalu lama kumenyadarinya jadi aku langsung bertanya pada Putri Eris.

“Ngomong-ngomong, orang macam apa dia?”

Putri Eris menutup matanya sambil mengingat-ingat seraya mengatakan kata-kata cinta.

“Dia baru saja tinggal di Kota pelabuhan dan dan datang kesini untuk mengucapkan salam, Dia sepertinya putra teman lama ayah dan ketika bertemu dengannya aku jatuh cinta. Sikap dan penampilannya, suaranya serta cara berbicaranya, juga wajahnya yang molek … Dia sudah mencuri hatiku.” (Eris)

Pipi Putri Eris memerah dan ekspresinya tampak terpesona.

“Aku mengukir dalam nama orang itu dihatiku… Ahh… Navirio-sama…” (Eris)

… Hmm?

“Navirio?” (Wazu)

“Benar, Navirio-sama.” (Putri Eris)

… Tunggu Bentar… jangan-jangan dia…

“apa dia dari Keluarga Mabondo?”

“Apa dia kenalanmu?” (Eris)

Putri Eris mendadak condong ke depan sampai-sampai aku jatuh kebelakang karena kaget.

Kenalkah aku dengannya … Ya… Kurasa aku ingin memegang kepalaku…

tags: baca novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, web novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, light novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, baca Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 182, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 182 manga, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 182 online, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 182 bab, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 182 chapter, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 182 high quality, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 182 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!