Sono Mono Nochi ni Chapter 186 Bahasa Indonesia

Dibaca 1412 orang
Font Size :
Table of Content

Kami Resmi Tutup! Baca Selengkapnya di postingan FacebookPengumuman Terakhir

Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia

Sponsor Chapter: Fidhya Fachrezy

Penerjemah: Devine
Penyunting: DarkSoul
Korektor: –


Chapter 186 – Apa kau beneran mantan Raja?

Ibu Naminissa dan Narelina, Mirelina-okaasan pergi menyambut ayah mereka Givirio-san di pintu masuk. Setelah melihat Mirelina-okaasan pergi, aku melepaskan keteganganku dan berbaring di meja.

“A-Aku sangat gugup…” (Wazu)

“Kau bisa gugup juga ya, Wazu-sama?” (Naminissa)

Melihat kondisiku, Naminissa terkekeh kemudian kujawab pertanyaannya.

“Tentu saja aku gugup… ini ibumu dan Narelina tahu…? Susah nanti kalau mereka nggak merestui aku menikahi kalian gara-gara kesanku yang buruk…” (Wazu)

Pipi Naminissa dan Narelina memerah dan terlihat gembira mendengar kata-kataku.

“Tenang saja, mama tidak akan menolaknya dia menghormati pilihan kami.” (Naminissa)

“Yeah, meskipun Orang tua kami menolak, kami nggak akan meninggalkan Wazu, apapun yang terjadi. Dan itu perasaan kami semua yang ada disini.” (Narelina)

Gadis-gadis yang lainnya mengangguk pada kata-kata Naminissa dan Narelina lalu tersenyum membuatku merasa nyaman. Freud juga ikut tapi aku nggak peduli padamu…

Dan kami mendengar dua pasang langkah kaki menuju kesini. Langkah kaki itu milik Mirelina-okaasan dan Givirio-san. Aku bangkit dari tempat duduk dan bersiap-siap menyambut mereka, semua orang juga ikut berdiri. Sang ayah Memasuki ruang keluarga, wajahnya menyerupai Navirio tua, wajah maskulin dengan janggut lebat, kulit berwarna coklat dan berotot, pakaiannya bukan pakaian mantan bangsawan melainkan kaos lengan pendek, celana pendek dan sandal, di punggung beliau ada jaring yang di dalamnya terdapat berbagai jenis ikan.

… Apa beliau beneran Mantan Raja Givirio-san? Beliau sama sekali nggak terlihat kayak bangsawan. Beliau terlihat kayak nelayan biasa…

Aku menoleh melihat Naminissa dan Narelina buat memastikannya tapi yang kulihat mereka juga terkejut. Emm… Apa benar itu dia? Mereka berdua terlalu terkejut atas perubahan sang ayah? Yang membuktikan bahwa orang berkulit coklat ini Givirio-san adalah Mirelina-okaasan yang berada di samping beliau.

“O-Otou-sama… kenapa kulitmu berubah jadi coklat? (Naminissa)

“Ohh!! Naminissa, Narelina!! Gimana kabar kalian? Melihat kalian seperti ini tampaknya sehat-sehat saja, yah, jadi nggak ada yang perlu di khawatirkan!! Ahh ini, ini hadiah!! Tangkapan ikan pagi ini luar biasa!! Aku udah terlibat industri ikan, kalian tau. Aku mencobanya sebentar dan rupanya sangat menyenangkan!! Setelah aku meninggalkan tahta, aku udah nggak stres lagi dan merasakan kebebasan yang luar biasa, semua nelayan di kota ini orang-orang hebat, oh ya tetua juga membiarkan kami tinggal di rumah ini, kalian tau? Apa kalian terkejut? Dan sekarang ada perbincangan untuk membuat Guild Nelayan di kota ini! Menurut kalian bagaimana? Haruskah kita membuatnya?” (Givirio)

Dia menjawab pertanyaan Naminissa dengan penuh semangat. Lebih tepatnya, dari cara suami Mirelina-okaasan berbicara menandakan betapa santai perasaan beliau…kupikir pembicaraan ini akan berlanjut seperti itu, tapi tiba-tiba dia memalingkan pandangannya dari Naminissa dan Narelina, ke arahku. Aku sedikit panik.

“Oh!! Apa kau Wazu-kun?” (Givirio)

“Ah, B-Benar!! Nama saya Wazu.” (Wazu)

Aku membungkuk hormat.

“Ah, jangan khawatir! Jangan terlalu kaku!! Aku berhenti jadi raja karena aku nggak menyukainya! Dan di samping itu kami sudah diselamatkan olehmu! Malah, posisimu lebih tinggi dari kami. Selain itu, kau bersama putri-putriku, artinya apa kau menikahi mereka, kan? artinya kau sekarang keluarga kami!! Kau bisa memanggilku Ayah!! Tidak, aku nggak bakal menerima sebutan apapun selain itu…!! Hanya bercanda.” (Givirio)

“Ha.. Ha… Haa…” (Wazu)

Sangat santai! Perilakumu sangat santai! Givirio-otousan!!

“Kalau begitu Mirelina, tolong masak ini buat makan malam ditambah beberapa lauk.” (Givirio)

“Baik sayang.” (Mirelina)

Givirio-otousan gives Mirelina-okaasan the net with the fish inside and then he urges us to sit while he himself takes a seat. Freud also gave a respectful bow the moment Givirio-otousan passed by his side. Can’t you do that for me too? Givirio-otousan sits in front of me, cleans his throat with a cough and asks me.

Givirio-otousan memberi Mirelina-okaasan jaring penuh ikan lalu mempersilakan kami duduk selagi beliau menyentuh kursi. Freud juga membungkuk hormat saat Givirio-otousan melewatinya. Nggak bisakah kau melakukan hal yang sama untukku? Givirio-otousan duduk di depanku, membersihkan tenggorokannya dengan batuk kemudian menanyaiku.

“Dan? Apa yang terjadi?” (Givirio)

Setelah ditanyai, kami memberitahunya alasan kunjungan ini kepada Ayah dan Mirelina-okaasan, sekaligus mengenalkan mereka kepada Putri Eris.

“S-Sudah lama tidak berjumpa, Givirio-sama!!” (Eris)

“Oh! Kau anaknya Rusona. Memang sudah lama, sejak terakhir kali aku pergi menyapa hi.” (Givirio)

Kalau nggak salah, Rusona nama Raja di Kerajaan ini. Yah, meski aku belum pernah melihatnya.

“Jadi kau ingin menikahi Navirio?” (Givirio)

“Y-Yes!!”

“I-Iya!!” (Eris)

“Well, why not? If you are fine with him. More importantly, does Rusona knows?”

“Ya, kenapa tidak? Jika kau oke-oke saja dengannya. Yang lebih penting, apa Rusona mengetahui ini?” (Givirio)

“… Ayah… menentangnya… katanya dia tidak tahan memiliki hubungan keluarga dengan orang itu….” (Eris)

“Gahh… selalu saja khawatir tentang hal-hal kecil… Meski begitu kau masih ingin menikahi Navirio?” (Givirio)

“Tentu saja!!! Walaupun mereka menghapus hak waris saya, keputusan ini takkan berubah!”

“Yah, yang tersisa sekarang cuma pendapatmya Navirio…” (Givirio)

Yeah, yeah, kita harus menanyainya.

“Maaf, apa anda tahu dimana Navirio? Jika bisa, kami ingin menemuinya secepatnya.” (Wazu)

“Eh? Kau nggak diberitahu Mirelina?” (Givirio)

“Tidak, kami cuma diberitahu kalau dia hendak memberantas perompak…” (Wazu)

“Ahh benar juga. Kuyakin dia sudah pergi sepuluh hari yang lalu.”

… Sepuluh hari yang lalu… itu lebih lama dari yang kupikirkan

“Lalu dia menuju ke mana?”

“Kupikir dia pergi ke sebuah pulau terlantar yang jaraknya 3 km dari pantai, dekat kota ini.”

Setelah mendengar infonya, aku mengangguk lalu menoleh ke arah Sarona dkk.

“Apa kau mau pergi?” (Sarona)

Tanya Sarona dan aku mengangguk.

“Ya, dia mungkin sudah ada disana jadi aku akan menemuinya dan melihat apa yang terjadi.” (Wazu)

“Kalau begitu, kami akan ikut.” (Sarona)

“Kali ini aku akan pergi sendiri.” (Wazu)

Mendengar Kata-kataku, para gadis melihatku seolah bertanya ‘Mengapa?’ jadi aku memberitahu mereka.

“Pertama, kita tidak tau kapan Ksatria dan Tentara Iscoa akan datang jadi aku ingin kalian bernegosiasi dengan mereka, dan juga Naminissa serta Narelina akhirnya bertemu dengan orang tuanya setelah sekian lama jadi aku ingin mereka bersama dulu… Dan ini alasan yang paling penting dan sulit… Lebih cepat jika aku pergi sendiri. 10 hari telah berlalu, aku harus segera pergi.” (Wazu)

Sarona dkk membuat wajah cemberut. Ya, aku juga nggak ingin berpisah sama kalian tapi firasatku buruk mengenai situasi sekarang, jadi aku harus sedikit keras pada mereka…

“Ayolah, percaya padaku dan tunggu aku disini… Aku pasti membawa Navirio dan kelompoknya kesini.” (Wazu)

“… Mengerti.” (Sarona)

“Aku percaya padamu, Wazu-san.” (Tata)

“Kupercayakan Onii-sama padamu.” (Naminissa)

“Kutinggalkan kakakku padamu.” (Narelina)

“… Aku akan menanti.” (Haosui)

“Mau bagaimana lagi … dengan kekuatan Onii-chan nggak akan ada masalah.” (Kagane)

“Ini artinya kami masih perlu banyak latihan…” (Maorin)

Masih berwajah cemberut, mereka mengerti lebih baik aku segera pergi dan setuju pada keputusanku.

“… Aku minta maaf.” (Wazu)

Aku nggak bisa menahannya dan meminta maaf pada mereka, dengan wajah ruwet mereka memberitahuku

“K-Kamu tidak perlu minta maaf, Wazu-san!!” (Sarona)

“Itu benar!! Ini karena kami masih lemah!!” (Tata)

“Kamu tidak perlu khawatir tentang ini!!” (Naminissa)

“Aku mengerti kalau ini yang terbaik untuk kakakku.” (Narelina)

“… Tidak apa-apa, kami kan Istri Danna-sama.” (Haosui)

“kesabaran kami luar biasa!! Tapi cuma untuk Onii-chan!!” (Kagane)

“Jangan khawatir!! Kami akan semakin kuat dari sini!!” (Maorin)

“Terima kasih…” (Wazu) .

Para gadis menyemangatiku setelah aku meminta maaf, Yah aku harus membalas perasaan mereka.

“Kita akan berlatih dengan keras saat aku kembali!” (Wazu)

“””Kami akan menunggunya!!””” (Sarona dkk)

Mendengar kata-kataku Sarona dkk mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi. Kok jadi menyenangkan. Aku akan serius melatih kalian.

And so I heard the details of the deserted island from Givirio-otousan, and after telling the girls ‘I’ll be back soon’ I left them to take care of Meru and quickly departed.

Jadi aku mendengar lebih detail tentang pulau tak berpenghuni dari Givirio-otousan, menyerahkan Meru kepada para gadis dan sesudah berkata Aku akan segera kembali, pergilah diriku.

Freud berkata dia ingin berdiskusi dengan Givirio-otousan jadi dia tetap disini… bukan berarti aku ingin kau ikut denganku…

tags: baca novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, web novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, light novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, novel Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia, baca Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 186, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 186 manga, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 186 online, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 186 bab, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 186 chapter, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 186 high quality, Sono Mono Nochi ni Bahasa Indonesia 186 manga scan, ,
Table of Content

9
Leave a Reply

7 Comment threads
2 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
8 Comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Maulud

Thanks min..
Next..

Mizuhashi Kazuma

masih menunggu si wazu ketemu aria :V

Quick

Drop ya min?

Katy shi

Drop knp?

Quick

Sibuk sih translatornya kata mimin..

Budi Setiawan

Siip

Manga-kun

Up

Lux2312

Lanjut, ttp semangat

Otongs

akhirnya bebas dari kesibukan, langsung baca nih novel:’v. lanjut min gaspol tetap semangat TLnya:’v