The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Prolog 1 Part 2 Bahasa Indonesia

Dibaca 270 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Penerjemah: Alienix
Penyunting: –
Korektor: Alienix


Prolog 1 Part 2

“Heh, para manusia yang datang ke sini sering mengatakan hal itu. Terutama, mereka yang membaca novel ringan.” [Kufo]

“Sebenarnya—walau hal itu tidaklah umum—itu juga tidak terlalu mengesankan.” [Rurutia]

“Benarkah?” [Ryouma]

“Iya. Orang yang terlahir dengan bakat tidaklah sedikit dan semua orang bisa mahir dalam semua elemen dengan usaha yang cukup. Bahkan, ada sepuluh sampai dua puluh orang di setiap asosiasi kesatria sebuah negara yang lahir dengan keahlian.

“Ada juga fakta. Walau kamu memiliki banyak elemental yang bisa digunakan, kamu tidak akan bisa hebat dalam menggunakannya, kecuali kamu melatih semua dengan baik. Jika kamu melatih semua, perkembangannya akan lambat. Di antara seseorang yang bisa menggunakan sihir dasar setiap elemen dan yang bisa menggunakan sihir lanjutan satu elemen, siapa menurutmu yang lebih berharga? Orang kedua.” [Gayn]

“Dengan kata lain, seseorang yang dapat melakukan banyak tipe pekerjaan, tetapi bukan master dalam bidang apa pun.” [Ryouma]

“Tepat sekali.” [Gayn]

“Karena tidak ada kerugian dalam melakukan itu, tidakkah kamu berpikir hal ini sangat cocok bagimu yang ingin bermain dengan sihir?” [Rurutia]

“Dalam hal itu, aku akan menerimanya.” [Ryouma]

Setelah itu, Ryouma dan para dewa melanjutkan berdiskusi tentang kemampuan yang akan menjadi miliknya.

“—Bagus. Dengan ini, kita selesai. Namun, apa kamu yakin dengan semua bonusmu berhubungan dengan sihir? Kami juga bisa memberimu keahlian bertarung jarak dekat jika mau. Bisa menggunakan sihir baik-baik saja, tetapi kamu tidak bisa menggunakan sihir kuat di awal sebagai konsekuensi.” [Gayn]

“Selama aku tidak memiliki masalah dalam hidup, aku sangat senang dengan apa yang telah kita diskusikan.” [Ryouma]

“Baiklah. Hal terpenting adalah kamu puas. Ayo pindah ke bagian terakhir.” [Gayn]

Merasakan keputusan bulat Ryouma, Gayn mengeluarkan papan kayu yang di atasnya terdapat selembar kertas dan pena bulu. Dia memberikannya pada Ryouma. Apa yang tertera di kertas itu adalah semua yang telah mereka diskusikan dan di bagian bawah kanan terdapat ruang kosong untuk nama Ryouma.

“Menandatangani kontrak setelah kamu meninggal agak sedikit ….” [Ryouma]

“Oh, kamu tidak menyukainya?” [Rurutia]

“Bukan karena aku tidak menyukainya. Itu hanya terasa sedikit … aneh.” [Ryouma]

“Baiklah, kita bisa menyingkirkan kontraknya jika kamu mau.” [Kufo]

“Huh?” [Ryouma]

Tangan Ryouma berhenti ketika mendengar ucapan Rurutia dan Kufo.

“Sebenarnya kami hanya memastikan apakah kamu baik-baik saja dengan apa yang telah kita diskusikan dan kamu memahami semua dengan jelas. Tanda tangan hanyalah sebuah metode. Jika kamu tidak ingin tanda tangan, kita bisa melakukannya melalui ucapan.” [Gayn]

“Benarkah?” [Ryouma]

“Kita menyesuaikan metode sesuai tergantung orang. Ucapan biasanya hanya untuk anak kecil karena lebih mudah.” [Rurutia]

Setelah diberitahukan hal itu, Ryouma membaca kontraknya dengan hati-hati. Ketika yakin semua baik-baik saja, dia menandatanganinya.

—Ketika dia melakukannya, cahaya tipis membalut sekujur tubuhnya.

“!?” [Ryouma]

“Tenang. Itu hanyalah tanda telah dimulai. Kamu tidak akan tersakiti.” [Rurutia]

“Sayang sekali, ini adalah peraturannya. Setelah semua sudah mendapat keputusan, kamu tidak bisa berada di sini lebih lama lagi. [Kufo]

“Huh … Aku penasaran kenapa yang menyebalkan selalu tinggal lebih lama, tetapi yang baik selalu pergi dengan cepat.” [Gayn]

Mendengar hal tersebut, Ryouma paham bahwa waktu mengucapkan selamat tinggal telah tiba.

“Aku mengerti … sangat disayangkan. Bagaimanapun juga, aku tidak akan melupakan perbuatan kebaikan ini seumur hidup” [Ryouma]

“Jangan pikirkan. Ini adalah hidupmu, jadi hiduplah sesuai keinginanmu. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk mengirimmu ke hutan yang aman, jadi tenang saja.” [Gayn]

“Kami akan selalu mengawasimu. Kamu tahu … ini adalah saat terakhir, jadi kamu bisa sedikit lebih egois. Kami tidak akan memikirkannya.” [Rurutia]

“Kamu tidak perlu formal dalam ucapanmu.” [Kufo]

“Maukah kamu menunjukkan dirimu yang sebenarnya?” [Gayn]

“… Benar. Terima kasih atas semuanya. Kurasa tidaklah sulit untuk melihat jati diri seseorang ketika dia hanya melalui formalitas.” [Ryouma]

“Kami adalah dewa. Tentu saja kami menyadarinya. Dan, ada saat ketika kamu berbicara gagap.” [Gayn]

“Kamu bisa bicara informal dari awal.” [Rurutia]

“Aku pikir berbicara kasual dengan dewa tidak sopan.” [Ryouma]

“Tentu saja. Terlalu banyak adalah hal yang buruk. Namun, kamu tidak apa-apa. Lagi pula hatiku besar. Bagaimanapun, aku ini adalah seorang dewi.” [Rurutia]

“Benar.” [Ryouta]

“Ada rencana ketika kamu sampai ke dunia kami?” [Gayn]

“Jika ada sesuatu yang mengkhawatirkanmu, katakan saja.” [Rurutia]

“Kami akan mendengarkan.” [Kufo]

Ryouma terlihat termenung untuk sesaat, tetapi waktu belum lama berlalu sebelum dia berbicara secara natural.

“Sebenarnya … aku tidak pandai berurusan dengan orang lain. Aku hidup tiga puluh sembilan tahun, tetapi aku tidak pernah dekat dengan orang lain. Bahkan, aku tetap akan menjadi diriku ketika pergi ke dunia lain. Aku rasa bagian diriku yang seperti itu tidak akan berubah setelah pergi ke dunia lain. Jujur, aku rasa hubungan antara manusia itu melelahkan. Mungkin aku akan hidup seorang diri.” [Ryouma]

“Kamu bisa melakukan itu jika mau. Itulah hidup.” [Gayn]

“Aku juga berpikir itu sia-sia. Maksudku, itu adalah dunia lain. Sayang sekali bila tidak menjelajahinya.” [Ryouma]

“Kenapa kamu tidak hidup seorang diri untuk sesaat dan pergi berkelana ketika kamu merasa ingin?” [Kufo]

Ryouma bertanya apakah hal itu baik-baik saja.

“Tidak peduli apa pun, tempat pertama kamu tiba adalah hutan. Jika kita mengirimmu ke tengah kota, kegaduhan akan terjadi. Jadi yang bisa kamu lakukan pertama kali adalah tinggal dalam hutan setelah itu baru bisa ke kota. Lagi pula aku yakin kamu ingin bermain-main dengan sihirmu, kan?” [Rurutia]

“Ah, benar juga.” [Ryouma]

“Lakukan perlahan saja. Kamu terlihat seperti tipe orang yang menghadapi semua jalan di hadapanmu dengan rajin. Mulai sekarang, cobalah pergi melalui semua itu satu demi satu. Jika di akhir kamu tidak melalui semuanya maka tidak masalah.” [Rurutia]

“Kamu telah meninggal sekali, jadi kamu bisa terlahir kembali di satu sisi. Kamu bisa hidup berbeda dari yang kamu jalankan di bumi. Terutama karena kamu akan menjadi anak kecil di dunia kami. Selain hal yang kamu urus sendiri, kamu dapat bermain dan bersenang-senang.” [Rurutia]

“Oh, dan jangan lupa kalau kamu akan baik-baik saja jika bertemu bandit dengan keahlianmu.” [Gayn]

“Hidup sesuai keinginanku dan berjalan sesuai kecepatanku, huh. Jika begitu, aku rasa aku akan tinggal di hutan untuk sementara dan pergi ketika aku ingin. Terima kasih.” [Ryouma]

“Jika kamu pergi ke kota, jangan lupa untuk berkunjung ke gereja. Kita tidak dapat bertemu, tetapi jika kamu mendapatkan keahlian peramal, kita bisa berbicara untuk sesaat. Makin tinggi level, makin sering dan panjang.” [Kufo]

“Baiklah. Aku pasti akan mampir jika pergi ke kota. Aku tidak tahu kapan. Namun, aku berjanji.” [Ryouma]

“Bagus, kami akan menunggu. Ketika kamu mampir, kita akan berbicara banyak hal.” [Rurutia]

“Dari semua itu, kita memiliki waktu luang yang banyak, ho, ho, ho!” [Gayn]

Ketika Gayn tertawa, cahaya pada Ryouma membesar.

“… Sudah waktunya.” [Kufo]

Cahaya itu berangsung menguat sampai memenuhi pandangan Ryouma.

“… Semua sudah siap sepertinya.” [Gayn]

“Selamat tinggal dan hidup bahagia, oke?” [Rurutia]

“Pasti … terima kasih … terima kasih banyak.” [Ryouma]

“Sekarang pergilah! Kita tidak dapat menjaga pintu tetap terbuka untuk selamanya!” [Gayn]

“Berkat kami ada padamu.” [Rurutia]

“Semoga cahaya menerangi jalanmu!” [Kufo]

“Nikmati hidup barumu!” [Gayn, Kufo, Rurutia]

Setelah itu, cahaya tersebut menelan Ryouma.

Ketika cahaya menghilang, Ryouma telah pergi, begitu pun para dewa.

tags: baca novel The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia, web novel The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia, light novel The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia, novel The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia, baca The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 manga, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 online, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 bab, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 chapter, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 high quality, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!