The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Prolog 1 Part 1 Bahasa Indonesia

Dibaca 356 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

Penerjemah: Alienix
Penyunting: –
Korektor: Alienix


Prolog 1 Part 1

Seorang pria berdiri kebingungan di sebuah ruangan kosong. Tanda kelelahan bisa terlihat di wajahnya dan uban bisa terlihat di rambutnya; dia kemungkinan besar berusia empat puluh tahun terakhir walau sosoknya nampak menyangkal hal itu.

Pria itu berpakaian untuk tidur, hanya mengenakan kaos biasa dan celana pendek, membuat mudah untuk melihat sosoknya. Kontras dari wajah tuanya, tubuhnya dilimpahi oleh otot dan kekuatan.

“Huh … ini di mana?” [???]

Ketika pria itu mengatakan hal tersebut, tiga orang muncul di hadapannya.

“Kamu sudah sadar?” [Pria Tua]

“Apa pikiranmu sudah jernih?” [Anak Lelaki]

“Kamu tahu akan lebih baik jika kamu mengatatakan sesuatu.” [Wanita]

“Umm … iya. Aku sudah baikkan. Kalian tiba-tiba datang entah dari mana, jadi aku sedikit kaget. Maafkan aku. Biarkan saya memperkenalkan diri. Saya Ryouma Takebayashi.”

“Kamu tidak perlu formal. Mari berbicara sambil minum teh.” [Pria Tua]

Pria tua itu melambaikan tangan, tiba-tiba sebuah meja teh muncul, di atasnya terdapat beberapa cangkir berisi teh dan beberapa bantal untuk duduk di sisi.

“Ayo, mari duduk.” [Wanita]

“Terima kasih.” [Ryouma]

Wanita muda itu tersenyum dan meminta Ryouma duduk yang langsung dia terima dengan cepat. Yang lain juga ikut duduk; si wanita duduk di kanan, anak lelaki di sebelah kiri, sedangkan si pria tua duduk di hadapan Ryouma.

Ketika sudah duduk, semua orang, termasuk Ryouma, menyisip teh masing-masing.

“Aku harap kalian tidak keberatan jika aku bertanya sesuatu.” [Ryouma]

“Tentu saja tidak. Itu alasan mengapa kami di sini. Namun, aku sudah bisa menebak apa yang ingin kamu tanya, jadi bagaimana kalau mendengarkan cerita kami dahulu?” [Pak Tua]

“Oke, baiklah.” [Ryouma]

Setelah Ryouma mengangguk untuk menunjukkan persetujuan, si pak tua mulai berbicara.

“Kami adalah apa yang kamu sebut Dewa. Aku Gayn, Dewa Pencipta. Wanita di sebelah kananmu adalah Rurutia, Dewi Cinta, dan anak lelaki di sebelah kirimu adalah Dewa Kehidupan, Kufo. Kami adalah dewa dari dunia lain.” [Pak Tua]

“Kamu mungkin tidak tahu ini, tetapi kamu telah meninggal malam tadi. Ketika jiwamu keluar dari tubuh, kami membawanya ke alam ilahi ini.” [Gayn]

“Aku mengerti. Jadi itu yang terjadi.” [Ryouma]

Ryouma tanpa basa-basi menerima penjelasan Gayn sambil menyisip teh. Tiga dewa tersebut bingung dengan reaksinya, terutama yang terlihat paling muda dari mereka, Kufo.

“Umm, tunggu, itu saja? Bukankah kamu seharusnya bersikap lebih panik panik dan berteriak tidak mungkin! Mustahil! Bagaimana aku bisa mati? Atau sejenisnya?” [Kufo]

“Kamu tahu … orang lain sebelum kamu kebingungan saat kami berbicara pada mereka.” [Gayn]

“Oh, jangan salah. Aku terkejut. Walau, aku harus mengakui ini semua terasa tidak nyata bagiku. Selain itu, jika ini semua hanya sekadar mimpi, aku akan terbangun nanti, bahkan jika tidak, ya … bagaimanapun semua orang akan meinggal.” [Ryouma]

Ryouma sungguh puas dari lubuk hatinya, tetapi hal itu hanya membuat para dewa tambah kebingungan.

“B-benarkah? Apa para manusia benar-benar berpikir seperti itu? Tiadakah orang yang pernah mengatakan bahwa caramu berpikir itu aneh?” [Kufo]

“Aku juga tidak berpikir ini semua berhubungan dengan hobimu. Banyak orang dengan hobi sepertimu di luar sana dan mereka juga kebingunga. Bahkan, makin kebingungan, beberapa orang tidak mendengarkan sama sekali. Hanya bertemu seseorang yang tidak murung saja adalah sebuah prestasi tersendiri.” [Rurutia]

“Ya, setidaknya hal ini mempermudah kita. Walau, hal ini juga meninggalkan kami banyal waktu yang tersisa. Adakah hal lain yang ingin kamu tahu?” [Gayn]

Ryouma berpikir sejenak sebelum berbicara.

“Bagaimana aku mati?” [Ryouma]

“Hmm? Kamu memulai dari itu?” [Gayn]

“Iya. Aku tidak berpikir ada yang aneh dari pertanyaanku. Lagi pula aku tidak memiliki ingatan kematianku.” [Ryouma]

“Ya, kamu meninggal seperti itu, jadi tentu saja kamu tidak ingat.” [Rurutia]

“Kamu meninggal karena pendarahan otak setelah kepalamu terbentur.” [Kufo]

“Huh, bukankah aku hanya tidur di kamar?”

“Yep, kamu benar. Lalu, kamu bersin saat tertidur … sangat banyak sebenarnya.” [Rurutia]

“Kamu bersin empat kali. Setiap kali, bantalmu bergeser dan kepalamu membentur tanah. Sayang sekali bantalmu jenis yang murah, jadi itu terlalu tipis untuk melindungi kepalamu.” [Gayn]

“Dampaknya tidak cukup untuk membangunkanmu, jadi pendarahan dalam terus berlangsung, dan kamu meninggal ketika fajar menjelang.” [Kufo]

Ketika mendengar hal tersebut, mata Ryouma jatuh ke tanah dan dia bergumam pada diri sendiri. Tiba-tiba dia berteriak.

“Aku tidak bisa menerima ini … kenapa? Kenapa aku bisa meninggal karena bersin dari semua hal?” [Ryouma]

“Huh?” [Kufo, Gayn, Rurutia]

“Aku telah bertahan hidup dari sekian banyak botol bir bosku, pipa besi pria paruh baya, bahkan makian ayahku yang tidak terhitung. Dari semua itu, yang mengambil nyawaku adalah bersin?” [Ryouma]

Penuh dengan kesedihan, Ryouma tidak bisa melihat keadaan sekitar saat bergumam pada diri sendiri.

“Ah, dia jadi depresi.” [Kufo]

“Walaupun dia baik-baik saja setelah mendengar dia telah meninggal. Sungguh bocah aneh.” [Rurutia]

“Sepertinya dia lumayan bangga pada tubuhnya. Ya, dia dipaksa latihan oleh ayahnya sejak kecil dan didorong tepat ke ambang kematian setiap hari.” [Gayn]

“Apa?” [Rurutia]

“Apa ada masalah?” [Kufo]

“Ada sesuatu pada anak ini yang membuatku terganggu. Coba bantu aku sembari kita menunggu dirinya tenang.” [Gayn]

Ekspresi Gayn berubah cepat menjadi serius saat berbicara, sedangkan dua dewa yang lain menjawab dengan ucapan yang tidak bisa didengar oleh manusia saat merasakan sesuatu yang tidak beres. Namun, usaha mereka sia-sia karena Ryouma terlalu depresi untuk mendengarkan apa pun.

 

……

 

“Ah, maaf. Aku kehilangan kendali untuk sesaat.” [Ryouma]

Ketika Ryouma pulih dan mengangkat wajahnya, para dewa masih menyip teh dengan tenang.

“Tidak masalah. Kami biasanya bebas dan kami menjadwalkan waktu denganmu. Jadi, tidak perlu terburu-buru. Lagi pula kami sudah terbiasa dengan orang yang kehilangan akal sehat setelah meninggal.

“Toh jiwa manusia terhubung dengan tubuh, jadi terjadinya kelabilan ketika kamu memotong koneksi kedua itu sudah hal yang diduga. Kelabilan itu biasanya terjadi dalam emosi seseorang yang menjadi liar.

“Bagaimanapun, intinya kami tidak masalah, jadi jangan khawatir.” [Gayn]

“Aliran waktu di alam ilahi ini berbeda dan jiwa tidak akan kelaparan. Harus menunggu empat tahun bagi seorang manusia untuk tenang adalah hal yang normal.” [Kufo]

“Empat tahun?” [Ryouma]

Ryouma terkejut.

“Kita tidak boleh asal ikut camput ketika manusia menjadi panik atau mereka hanya akan meningkatkan kewaspadaan. Beberapa manusia juga menjadi gila ketika kami sedang berbicara. Bagaimanapun, kami biasanya hanya menunggu sampai mereka tenang sendiri. Menunggu sampai empat tahun adalah hal yang normal, jadi kamu masih baik-baik saja, Ryouma-kun.

“Dari semua itu, karena kamu sudah kembali, aku harap kamu tidak keberatan bila kami melanjutkan.” [Gayn]

“Tentu saja.” [Ryouma]

Gayn mengangguk.

“Baiklah, biar kami jelaskan kenapa kami memanggil jiwamu. Bila aku harus menyimpulkan alasannya, itu akan menjadi … klise. Kamu mengerti?” [Gayn]

“Klise? Ah, aku percaya begitu. Kalian menginginkan aku untuk tinggal di dunia lain, kan? Jika benar, apa aku akan direinkarnasi atau sekadar ditransmigrasi?” [Ryouma]

“Kamu memang cepat tanggap.” [Rurutia]

Rurutia terkejut saat melihat Ryouma mengerti apa yang terjadi dengan mudah, tetapi Gayn tidak menghiraukannya dan melanjutkan berbicara.

“Dalam beberapa hal, kamu akan ditransmigrasi. Aku akan menciptakan tubuh baru untukmu agar bisa tinggal di dunia kami, jadi kamu tidak punya orang tua.” [Gayn]

“Tubuh barumu akan lebih muda, jadi kamu bisa mengatakan hal ini mirip dengan reinkarnasi. Jika kamu punya permintaan, aku bisa mengubah tubuhmu sesuai keinginanmu.” [Kufo]

“Sebenarnya tubuh baruku berumur berapa?” [Ryouma]

“Kamu akan berumur kurang lebih sepuluh tahun. Pada umur itu, kamu seharusnya akan baik-baik saja jika tersesat di hutan. Kamu akan terlihat seperti anak kecil di mata orang lain, jadi mereka tidak akan curiga dan kamu dapat pergi ke kota dengan aman. Tentu saja, kami juga punya beberapa jaminan untuk memastikan semua berjalan lancar.

“Karena kamu akan menjadi anak yatim piatu di dunia lain, Kami akan mengirimkanmu ke negara yang memiliki toleransi terhadap status sosial. Dengan begitu, seharusnya tidak ada masalah untukmu menjalankan kehidupan normal.” [Gayn]

“Terima kasih. Untuk penampilanku, asal jangan membuatnya aneh saja. Apakah ada hal tertentu yang harus kulakukan di dunia kalian? Sebuah misi atau sejenisnya?” [Ryouma]

“Tidak. Jika ada, ya, kamu sudah cukup banyak menyelesaikannya ketika telah ditransmigrasi, jadi tidak ada secara teknis. Kamu pergi ke dunia lain adalah satu-satunya misimu.” [Rurutia]

“Tujuan kami adalah mentransfer mana dari duniamu ke dunia kami yang sedang kekurangan mana.” [Kufo]

Ryouma mengangguk setelah paham, tetapi tiba-tiba sesuatu terlintas dalam pikirannya.

“Tidak bisakah kalian mentransfer mana dengan sendiri?” [Ryouma]

“Tidak. Secara sederhana, terdapat dinding antara dunia yang berbeda. Secara normal, mana tidak dapat menembus dinding ini, jadi kami perlu menciptakan lubang dulu. Yang menjadi masalah adalah menciptakan lubang dan mengurusnya di waktu yang sama membutuhkan energi, jadi kami akan kehabisan kekuatan jika melakukan dengan normal.” [Gayn]

“Untung saja kami memiliki kamu! Kamu tidak akan sadar saat proses, tetapi kami dapat menjaganya untuk tidak menutup dengan mengisi jiwamu—yang dikuatkan dengan kekuatan kami—di antara lubang. Sementara itu, kami akan mentransfer mana dari bumi ke dunia kami.” [Kufo]

“Dunia kami mengandalkan sihir. Jika kehabisan mana, keseharian orang akan terpengaruh, para monster yang memakan sihir akan punah, dan ekosistem akan hancur.

“Di lain pihak, bumi tidak menggunakan sihir. Tidak ada monster juga di sana. Karena tidak menggunakannya, kami memiliki ide untuk mengambil sebagian.” [Rurutia]

“Jika tidak ada alasan tertentu untuk mana mengering, apa jangan-jangan tingkat produksi mana tidak dapat mengimbangi penggunaannya?” [Ryouma]

“Iya, tepat sekali. Sesungguhnya banyak alasan untuk itu, tetapi manusia, secara tertentu, merasa sangat sesuai untuk mengandalkan sihir. Karena itu, sihir mengalami banyak pengembangan dan konsumsi mana berangsur membesar.” [Kufo]

“Tidak mudah untuk mengurangi konsumsi mana. Selain itu, tubuhmu akan hancur jika terlalu banyak menggunakan mana internal. Jadi, akhirnya akan lebih mudah untuk menggunakan mana di sekitar. Sungguh hal yang menyedihkan.” [Gayn]

Ketika para dewa menggerutu soal manusia, Ryouma sendiri menjadi bersemangat.

“Umm … apakah aku juga bisa menggunakan sihir?” [Ryouma]

“Tentu saja.” [Gayn]

“Pasti.” [Kufo]

“Kamu bisa.” [Rurutia]

“Benarkah? Ah, maaf.” [Ryouma]

“Tidak apa-apa. Ketika kamu ditransmigrasi, kamu akan memiliki tubuh yang sama dengan manusia pribumi, jadi kamu dapat menggunakan sihir. Tentu saja semua akan bergantung pada latihanmu.” [Gayn]

“Seperti yang aku sebut tadi, kami akan menguatkan jiwamu untuk menjaga lubang tetap terbuka, jadi sebagian kekuatan itu akan menjadi milikmu sebagai hasilnya. Bahkan, kamu bisa menggunakan sihir walau tidak memiliki bakat. Namun, aku tidak yakin tentang menjadi penyihir terhebat di dunia.” [Kufo]

Ryouma merasakan wajahnya memanas saat para dewa melihatnya dengan ekspresi terhibur. Bagaimanapun, dia senang mengetahui dirinya akan mampu menggunakan sihir.

“Tentang sihir yang bisa kamu gunakan … mari beri dirimu akses menggunakan semua sihir elemental.” [Gayn]

“Umm … bukankah nanti akan jadi sedikit mencolok?” [Ryouma]

Ketiga dewa tertawa saat dia mengatakan hal itu.

tags: baca novel The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia, web novel The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia, light novel The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia, novel The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia, baca The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 manga, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 online, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 bab, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 chapter, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 high quality, The Man Picked Up By the Gods (Reboot) Bahasa Indonesia 0 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!