The Novel’s Extra Chapter 1

Dibaca 428 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

The Novel's Extra Bahasa Indonesia

Penerjemah: R²⁴
Penyunting: –
Korektor: –


Chapter 1 – Cube (1)

Suatu hari, aku menerima sebuah email. Si pengirim menanyakan apakah dia boleh membuat ulang novel ku. Pada waktu itu, aku merasa dibodohi.  Memang belum lama ini aku sedang menjalani hiatus, tetapi untuk meminta izin membuat ulang novel yang dibayar serialisasinya….

Tentu saja aku menolaknya. Lebih tepatnya, aku tidak memberi balasan.

Mungkin sebagian alasannya karena jika melakukan hal seperti itu tanpa izin akan melanggar undang-undang hak cipta, namun alasan lainnya karena aku merasa malu akan status ‘hiatus’ yang aku jalani saat ini.

Webnovel yang sedang kutulis berjudul ‘The Returnee Hero’. Meskipun tidak sensasional, namun novel ku cukup populer dan merupakan karyaku yang terlaris selama 5 tahun karirku menulis.

Namun saat aku menerima email tersebut, aku sudah hiatus selama tiga bulan.
Alasannya cukup sederhana. Tidak ada kata-kata yang terpikir olehku.

Pada mulanya, aku mencurahkan seluruh hasratku kedalam penulisanku.  Catatan pribadiku tentang latar belakang dunia ceritanya mencapai 50.000 huruf[1], dan aku mencurahkan seluruh isi hatiku ke dalam setiap penulisan ceritanya.

Tetapi setelah menulis selama setahun, aku terjatuh ke lubang yang menyedihkan.

Meskipun demikian, novelnya tetap berlanjut selama enam bulan dan akhirnya memasuki ke pertengahan cerita. Tetapi, karena aku memaksakan diriku untuk menulis, ceritanya menjadi penuh dengan lubang plot, dan kepribadian setiap tokoh menjadi hancur. Tidak heran, jumlah pembaca menjadi menurun setiap harinya. Bahkan aku terlalu takut untuk membaca setiap komentar.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk hiatus.
Namun, tidak peduli selama apapun aku beristirahat, aku tidak bisa melanjutkan ceritanya, bahkan tidak satupun kalimat yang dapat kutulis.
Ketika aku berlarut-larut dalam kesedihanku menyadari betapa kurangnya kemampuan ku dalam menulis…..
Aku menerima email lain yang meminta izin untuk membuat ulang novel ku.

[[email protected]]
[Aku mohon. Semua ini hanya untuk kepuasanku pribadi. Aku tidak akan mempublikasikan hasil buatan ulang novelmu ke mana pun. Ini hanya akan menjadi di antara kau dan aku. Siapa yang dapat mengira? Mungkin saja kau akan terinspirasi dari hasil buatan ulang tersebut dan menemukan cara untuk bisa melanjutkan ceritanya…]

Untuk sebuah email yang hanya terdiri dari enam kalimat, email tersebut terasa cukup panjang. Tetapi yang diminta cukup sederhana.

Ia hanya ingin membuat ulang novel ku untuk semata-mata kepuasan pribadi.

Seberapa besarkah dia menyukai novelku hingga dia mengirim email seperti ini? Semenjak aku tidak terlalu bangga akan karyaku, aku menyetujuinya, sembari merasa bersyukur dan malu.

…. Apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi? Ada yang mengatakan bahwa kemungkinan untuk memenangkan lotere adalah 1 banding 8.145.060. Jadi apa yang terjadi padaku saat ini bisa dibilang kemungkinannya 1 banding 7 milyar.

Aku sedang berdiri di tempat tinggal keluarga yang biasa saja.

Namun dunia yang aku berada saat ini bukanlah duniaku, dan ‘aku’ bukanlah diriku. Orang-orang mungkin akan berpikir bahwa aku sedang berfilosofi, tetapi kenyataannya tidak. Hanya itulah cara yang paling tepat untuk menjelaskan keadaan ku saat ini.

Aku telah menjadi extra di dalam novel ku.
Sebuah extra yang tidak tidak ada sedikitpun ingatan ku pernah ku tulis.

Kim Chundong.
Chundong tinggal di kamar apartemen yang biasa saja, namun dia tidak memiliki orang tua. Dan apa penyebabnya, aku, tentu saja tidak mengetahuinya.
Pada umur 9 tahun, Chundong diakui oleh ‘Akademi Agen Militer’, sebuah tempat yang mengembangkan para elit untuk melawan monster dan Djinn.
Kemampuan apakah yang dimiliki Chundong sehingga ia bisa melewati ujian masuk?
Aku tidak tahu.
Aku tidak mengetahui apapun tentang dirinya. Aku bahkan tidak mengetahui wajahnya. Aku tidak bercanda. Aku sungguh tidak tahu.

Ketika aku melihat ke cermin…

(?)
Itulah yang ku lihat. Sebuah oval dengan tanda tanya di dalamnya.

Kepemilikkan (?) atau perpindahan (?) tubuh yang aneh ini sungguh tidak masuk akal. Aku hanya beranjak ke kasur seperti hari lain yang biasanya ku lalukan, namun ketika ku terbangun, aku mendapati diriku berada di hari terakhir dari semester di  Akademi Agen Militer.

Pada awalnya, aku mencurigai dua hal.
Pertama, bahwa aku telah dikerjai.
Tetapi pemikiran tersebut lenyap hanya dalam waktu lima detik. Aku bahkan merasa tidak perlu untuk menjelaskan mengapa.
Kedua, bahwa aku sedang bermimpi.
Tetapi aku secara tidak langsung menolak pemikiran tersebut. Seperti yang orang-orang ketahui, pemikiran bahwa orang sedang bermimpi di dalam mimpi tidak pernah terjadi pada orang yang sedang bermimpi. Dan yang lebih penting, tidak ada mimpi yang berjalan selama dua minggu dengan sensasi yang terasa sangat nyata.

Pada akhirnya, aku membuang waktu dua minggu mempertanyakan apakah ‘dunia di dalam novel’ harus ku terima sebagai ‘kenyataan’ yang saat ini ku jalani.

Ding Dong—
Tatatatatata~

Seperti yang telah kulakukan selama dua pekan terakhir, aku hanya terbaring di kasur dan menatap langit-langit dengan tatapan kosong ketika alarm smartphone ku berbunyi. Sambil menoleh sedikit, aku bisa melihat ‘waktu berangkat sekolah’ tertulis di smartphone ku.

“Mengapa aku harus repot-repot kembali ke sekolah?”

13 hari yang lalu merupakan hari kelulusan Akademi Agen Militer. Tetapi mereka yang lulus hanyalah kadet-kadet tipe non-petarung, dan kadet-kadet non-petarung tidak dapat disebut debagai Pahlawan. Kadet tipe petarung harus mengikuti akademi selama tiga tahun.

Mereka akan menjalani tiga tahun tersebut di [Cube], sebuah Akademi Pahlawan.

Sayangnya, si Chundong sialan ini merupak kadet tipe petarung. Dan sekali lagi, aku tidak memiliki petunjuk apapun mengenai dirinya.

“Ah…  Sungguh memusingkan.”

Pada akhirnya aku hampir tidak melakukan apapun selama dua minggu. Aku membuang waktu paling banyak dengan berinternet, makan ketika lapar, dan kembali online untuk mencari cara untuk bisa kembali, tertawa saat menonton acara yang sangat lucu yang tayang di TV, mencari makanan ketika lapar…

Akhirnya, satu-satunya kejadian penting yang kujalani adalah saat pergi ke Seoul dua hari yang lalu, untuk menghadiri  ‘Upacara Penerimaan Siswa Baru Cube’ yang berlansung selama tiga jam lamanya.

Sebenarnya aku tidak ingin pergi, tetapi aku tidak punya pilihan lain karena aku diberitahukan bahwa aku akan dikeluarkan jika aku tidak menghadiri acara tersebut.

“Aku akui bahwa aku harus pergi, namun….”

Tak habis pikir oleh ku, siapa yang memindahkan ku kemari, untuk alasan apa dan dengan kekuatan apa?

Tetapi setelah menjalani dua pekan terakhir tanpa melakukan apapun, mau tak mau akhirnya aku menerima takdirku.

Sepertinya aku akan menjalani kehidupan ini untuk waktu yang cukup lama. Jika demikian, setidaknya aku harus mencari cara untuk menafkahi diriku sendiri.

Di dalam novel ku, menjadi ‘Pahlawan’ adalah pekerjaan impian setiap orang. Mekipun pekerjaan ini menjadi pekerjaan yang serius karena para Penjahat, tidak lama lagi setelah hal itu adalah saat dimana diriku sedang hiatus. Aku hanya perlu bertahan hidup sampai saat itu tiba. Ketika waktunya tiba, aku yakin bahwa aku dapat menemukan sesuatu kedepannya.

[7:33 AM]

Hanya tersisa waktu 57 menit sampai sekolah dimulai.
Aku terbangun dan bergegas ke kamar mandi.
Berdiri di depan cermin, terlihat si tuan tanda tanya yang menyapa diriku.

“… Persetan dengan tanda tanya ini. Tidak akankah ini kunjung pergi?”

Tanpa bercanda sedikitpun, wajahku benar-benar merupakan tanda tanya. Aku tidak tahu mengapa.

Mungkin karena aku tidak mendeskripsikan wajahku. Tetapi jika itu penyebabnya, sungguh tidak masuk akal kalau milyaran orang lainnya disana memiliki wajah mereka masing-masing. Jadi, mengapa hanya Chundong yang berwajahkan tanda tanya?

“Aku tidak mengerti.”

Sambil bergerutu, aku membasuh muka ku. Aku bisa merasakan kulit ku. Aku ternyata  juga memiliki rambut. Hal-hal tersebut membuat semuanya terasa semakin mengerikan.

Tidak lama setelah aku membasuh diriku, aku mengganti pakaian ke seragam Cube, yang aku dapatkan saat upacara penerimaan siswa baru. Selain dari itu, aku tidak mempunyai barang bawaan apapun.  Orang-orang yang melihat mu memakai seragam ini tidak diragukan lagi akan melihat dengan tatapan iri. Tetapi aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Muka ku merupakan sebuah tanda tanya yang tidak jelas, bagaimana bisa aku menyadari hal lainnya?

Setelah memutar gagang pintu, aku pun menatap kebelakang.

Rumah ku selama dua pekan terakhir. Kamar apartemen yang akhirnya kutemukan berkat alamat yang tertulis di kartu kadet ku. Sepertinya aku sudah melekat dengan tempat itu dalam waktu yang singkat ini. Aku merasa bahwa aku akan merindukannya.

Cube terlihat mengambang di tengah-tengah Laut Timur. Sekali aku pergi, kemungkinan aku tidak dapat pulang kembali.

“Ehew.”

Meninggalkan kamar apartemen besar yang aku cukup senang dapat memilikinya, aku berjalan menuju dunia yang asing dan kelam.


1.  50.000 huruf Korea setara dengan sekitar 10.000 kata dalam bahasa Inggris.

 

Novel ini merupakan Teaser, yang artinya bukan proyek utama. Jika kamu ingin novel ini dijadikan ke proyek utama, maka kirimkan reaksi atau komentar kamu!

tags: baca novel The Novel’s Extra Bahasa Indonesia, web novel The Novel’s Extra Bahasa Indonesia, light novel The Novel’s Extra Bahasa Indonesia, novel The Novel’s Extra Bahasa Indonesia, baca The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 1, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 1 manga, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 1 online, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 1 bab, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 1 chapter, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 1 high quality, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 1 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!