The Novel’s Extra Chapter 2

Dibaca 399 orang
Font Size :
Table of Content

Kami sangat membutuhkan Penerjemah & Editor baru! Jika kamu berminat untuk membantu kami, baca post ini: Klik Disini

The Novel's Extra Bahasa Indonesia

Penerjemah: R²⁴
Penyunting: –
Korektor: –

Novel ini merupakan Teaser, yang artinya bukan proyek utama. Jika kamu ingin novel ini dijadikan ke proyek utama, maka kirimkan reaksi atau komentar kamu!


Chapter 2 – Cube (2)

Institut pelatihan terbaik dunia yang terkenal dengan fasilitas sihir, sains, dan teknologi terkini.

[Cube]

Cube merupakan nama dari pulau besar yang terletak di Laut Timur. Pulau buatan ini berukuran  dua kali lipat dari ukuran Yeouido. [1]

Di tempat yang besar ini, hanya terdapat sekitar 5000 kadet Pahlawan, dimana 1300 diantaranya merupakan murid tahun ajaran pertama Ketika 2000 kadet non tempur belum lama lulus dua minggu yang lalu, para kadet elit dari segala penjuru dunia berkumpul di sini, membuat persaingan semakin kompetitif dari sebelumnya. Bisa dibilang, tempat tersebut terlalu keras dan kelam untuk menjadi rumah bagi para remaja berumur 17-19 tahun.

Dan dimulai dari tahun ajaran kedua, para penyihir yang memutuskan untuk menjadi Pahlawan akan berdatangan dari ‘Universitas Sihir Negeri’, sehingga terdapat 200-300 tambahan kadet lainnya.

Ditambah lagi, di sana terdapat instuktur pelatih, ibu kantin, pembersih, perekruit yang terkadang datang berkunjung, asosiasi pemerintahan, teknisi yang melakukan perawatan dan operasional, tentara yang bertugas sebagai pengaman, dokter dan ilmuwan untuk merawat para kadet, pekerja toko swalayan yang bekerja untuk Cube, dan masih banyak lagi… Dengan semua orang tersebut, sekitar 50.000 orang singgah di Cube.

Sudah wajar, tempat ini merupakan tempat keramaian yang sangat penting dimana perhatian para investor berkumpul. Berdasarkan latar novelku yang diikuti dengan baik, Korea merupakan negara adidaya yang menyaingi Amerika Serikat. Aku sepertinya ingat pernah menuliskan beberapa alasannya, namun alasan yang paling jelas karena aku merupakan warga negara Korea.

Setidaknya, Chundong merupakan anggota dari Cube yang bisa dibilang dia termasuk seorang elit. Namun aku tidak membuat satupun kisah untuk Chundong.

Jadi seharusnya Chundong menjalani takdir dimana kehidupannya terlepas dari jalan cerita utama. Sementara dirinya tidak akan menjalani kehidupan tokoh utama yang penting dan berat, dia kemungkinan akan menjalani kehidupan yang nyaman tanpa masalah.

…Dan itu merupakan kehidupan yang juga kuinginkan.
Menatap ke pintu kelas, aku pun menghela nafas.

[Novice –  Veritas]

Novice (pemula) merujuk ke kadet tahun ajaran pertama, sementara Veritas merupakan nama dari kelasnya. Sederhanya, aku merupakan murid tahun ajaran pertama kelas 1.
Aku mengetahui seperti apa kelas ini.
Shin Jonghak dan Kim Suho merupakan bagian dari kelas ini, dan sembari beberapa kubu terbentuk diantara mereka, banyak skema, yang sebagian besar berasal dari Shin Jonghak dan pengikutnya, akan mebuat kelas ini ricuh. Dan sebagai bagian dari kelas ini, aku kemungkinan besar juga akan terseret terlepas dari kemauanku.

“Huu.”

Setelah mengambil nafas, aku perlahan membuka pintu.

Interiornya terlihat mewah; putih tanpa adanya sedikitpun noda debu dan terdapat tiga meja panjang yang berjejer.
Dimanakah aku harus duduk? Aku melihat ke sekitar ruangan kelas dan menemukan Shin Jonghak duduk di kursi paling belakang. Dengan matanya yang tertutup dan tangan di sakunya, dia terlihat garang. Disampingnya terdapat teman masa kecilnya, Yoo Yeonha, yang sedang berbincang-bincang.

Keduanya tidak memberikan sedikitpun perhatian kepadaku.
Syukurlah.

Aku akhirnya duduk di ujung kursi dari baris tengah.
Seperti layaknya seorang ekstra, aku melamun melihat ke depan, Di sana tidak terdapat papan tulis, melainkan layar proyektor untuk menyangkan hologram.
Melihatnya, aku tidak dapat menahan diriku untuk mendesah. Setelah melalui SMA dan bahkan wajib militer, aku tidak dapat percaya bahwa aku harus kembali bersekolah. Sungguh bencana yang amat besar.

“…Huuaam.”

Semester Cube dimulai di Februari. Suasana diluar yang dingin dan ruangan yang hangat perlahan membuat diriku mengantuk.

Saat ini, waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Kelas dimulai pukul 8:30.

Sejujurnya, aku tidak mengira akan tiba sepagi ini. Sebenarnya berangkat dari Seoul ke Cube menggunakan ‘Portal’ sangat cepat, tetapi aku mengira akan tersesat setibanya kemari. Namun, di sana terdapat layanan yang disebut Cube Bus, sebuah bus yang beroperasi setiap 10 menit di sekitar Cube yang aslinya tidak ada di latar ceritaku.

Jika dipikirkan kembali, itu merupakan kesalahanku untuk membuat tokoh utama berjalan kaki sekitar kampus setiap waktu. Semenjak novelku menjadi kenyataan, sepertinya dunia ini secara sendirinya memperbaiki lubang-lubang plot tersebut.

Jadi… mari tidur sejenak. Aku tidak ingin berpikir lebih jauh lagi.

Menutup mataku, aku meletakan kepalaku ke meja.

—Sekarang!

Teriakan yang menggelegar membangunkanku.
Ketika kubuka mataku, terlihat instruktur yang sedang berdiri di belakang podium.

“Hari ini merupakan hari pertama, jadi tidak akan ada latihan spesial apapun, namun aku berharap kalian semua melakukan latihan pagi kalian. Tidak ada salahnya berlatih, terutama di pagi hari dimana kepadatan mana sedang tinggi.”

Latihan pagi?
…Oh, ya. Ada sesuatu yang seperti itu. Sebuah tempat latihan yang dibuka dari jam 5-8 pagi. Aku terburu-buru memasukaannya ke dalam cerita untuk membuat kesempatan bagi para karakter-karakter penting untuk saling bertemu.

“Sekarang, saatnya pengenalan diri. Namaku Kim Soohyuk, instruktur yang bertugas untuk menangani kalian semua tahun ini.”

Nama tersebut, aku samar-samar dapat mengingatnya.

“Ranking poinku 3850. Ranking dunia 9737. Berdasarkan kasifikasi Asosiasi, aku berada di peringkat menengah-keatas tingkat 5.”

Mata para muridpun bersinar. Itu masuk akal. Di luar sana terdapat sekitar dua juta pahlawan di dunia. Peringkat 9737 mengartikan bahwa dirinya sanagat berbakat.

“Aku rasa itu cukup untuk pengenalanku.”

Kim Soohyuk sepertinya menyukai reaksi para murid sembari terlihat ujung dari mulutnya melengkung membentuk senyuman.

“Hari pertama akan terasa spesial. Kalian mungkin terjaga dari tidur kalian akibat girang dan khawatir, atau mungkin kalian merasa hebat mengenai dapat mengembangi diri kalian sendiri. Heh, mungkin kalian senang karena dapat melihat kembali orang yang kalian suka.”

Para kadetpun tertawa kecil mendengarnya. Namun instruktur memasang ekspresi serius.

“Tetapi Cube tidak sama seperti sebelumnya. Percayalah, tidak akan ada waktu untuk pacaran. Di Cube, kalian akan mengalami beberapa situasi  tempur sesungguhnya. Nantikan saja untuk merasakan seberapa kejamnya kenyataan dunia ini.”

Senyumannya yang seram membuatku merinding.
Latihan tempur, aku juga harus ikut berpartisipasi dalam hal tersebut.

“Selanjutnya, Cube itu obyektif. Satu-satunya indikator kesuksesan kalian merupakan nilai kalian. Guild hanya akan melihat nilai kalian. Oleh karena itu, kami akan menilai kalian dengat tepat dan ketat. Jika kalian berperforma rendah, kalian akan tertinggal. Secara statistik, kurang dari setengah dari para kadet Cube yang lulus tanpa mengulang semester. Terlebih lagi, kalian hanya boleh tertinggal selama dua tahun. Jika lebih dari itu, kalian akan dikeluarkan. Jika kalian tidak menjadi Pahlawan, kalian akan menjadi agen atau mercenary (prajurit bayaran). Aku menganggap bahwa bukan itulah yang kalian inginkan.”

Setelah menakut-nakuti para murid, instruktur berhenti dan memeriksa wajah para murid.

“Aku dapat melihat beberapa wajah yang kukenal.”

Akupun demikian.
Kim Suho, Shin Jonghak, Yoo Yeonha, Chae Nayun. Rachel, Yi Yeonghan.
Mereka berenam merupakan karakter penting yang dapat kulihat dalam lirikan pertama. Shin Jonghak duduk dengan Yoo Yeonha. Semenjak Kim Suho dan Chae Nayun menganggap satu sama lain sebagai rival, mereka duduk berjauhan. Putri Rachel duduk sendirian, dan Yi Yeonghan duduk di belakang Kim Suho.

“Kuulangi. Di Cube, kalian perlu memastikan hal-hal yang telah kalian pelajari sampai saat ini dan meningkatkan kemapuan kalian untuk digunakan saat bertarung. Tidak akan ada latihan lembut di sini. Ingat itu baik-baik.”

Dengan itu, Kim Soohyuk mengumumkan,

“ Sekarang bersiap-siap. Apa yang dijadwalkan hari ini tidak akan belangsung lama. Tugas pertama merupakan pemilihan ‘senjata utama’.”

“Senjata apapun yang kalian pertimbangkan akan ada di sini.”

Senjata utama merupakan seperti apa yang terdengar. Pahlawan tingkat Tinggi menyebut senjata mereka sebagai ‘treasured weapon ‘ (senjata berharga), sementara senjata dengan tingkat di atas [Unique] diberi julukan ‘armament’ (persenjataan tempur).

Tetapi aku tidak mengetahui apa senjata utamaku. Aku tidak mengetahui apapun tentang masa lalu Chundong.

“Berdirilah di depan senjata yang kalian inginkan. Kami akan menyediakan kalian dengan senjata latihan. Akan tetapi, jangan meremehkannya semata-mata karena senjata tersebut senjata latihan. Harga pasarannya masing-masing mencapai 5 juta won.”

Di sana terdapat berbagai jenis senjata, melebihi dari apa yang pernah kubayangkan.

Pedang, tombak, saber[2], pisau, rapier[3], halberd[4], greatsword, zweihander[5], panah, senjata api, cambuk, sarung tinju, dll… 100 murid dari kelas Veritas berdiri di depan senjata yang mereka inginkan.

“Pilih matang-matang. Sekali kalian memilih senjata utama kalian, kalian tidak bisa dapat menggantinya untuk paling sedikit 6 bulan.”

Pedang dan tombak sudah jelas merupakan pilihan terpopuler. Kim Suho dan Shin Jonghak masing-masing berdiri di depan pedang dan tombak. 70 dari 100 memilih pedang, tombak, atau saber, yang biasa dujuluki Tiga Senjata Suci. Di sisi lain, Yoo Yeonha memilih cambuk, Cahe Nayun memilih panah, dan Rachel memilih rapier.

Akan tetapi, aku hanya berdiri melamun.

“Kim Chundong, kenapa kau diam di tempat?” tanya Kim Soohyuk.

Aku melamun menatap ke satu senjata yang tidak dilirik siapapun.

Senjata pilihan di dunia modern, yang tidak memerlukan instruksi manual dan siapapun dapat menggunakannya dengan satu ceklikan. Namun di dunia ini, senjata ini merupakan yang gumpalan logam terlemah, sebuah senjata yang dihindari oleh setiap Pahlawan. Kemungkinan besar, senjata itu berada di sini hanya demi kepentingan melengkapi jenis-jenis senjata di sini.

Namun, inilah satu-satunya pilihan yang kupunya.
Aku tidak dapat menggunakan senjata jarak dekat apapun. Bahkan jika Chundong berbakat, aku tidak inign turut serta dalam pertarungan jarak dekat dimana darah bercereran kemana-mana.

“Kim Chundong.”

Suara instrukturpun mengecil, dan pandangan para murid lainnya tertuju padaku. Shin Jonghak dan Kim Suho pun juga terdapat diantaranya.
Aku tidak suka menjadi pusat perhatian.
Aku bergegas berjalan dan meraih senjata tersebut.
Aku dapat merasakan berat dari logam tersebut ditanganku dan aroma karat mulai tercium olehku.
Banyak mata tertuju padaku.

Senjata yang ada di tanganku adalah sebuah pistol.


******

  1. Yeouido merupakan sebuah pulau besar di Seoul, berukuran 8,4 km dan berpenduduk sekitar 31.000 orang.
  2. https://en.wikipedia.org/wiki/Sabre
  3. https://en.wikipedia.org/wiki/Rapier
  4. https://en.wikipedia.org/wiki/Halberd
  5. https://en.wikipedia.org/wiki/Zweih%C3%A4nder

 

*Note:

Kedepannya beberapa kata dalam bahasa Inggris tidak akan saya terjemahkan dan tetap saya pakai dalam bentuk bahasa Inggris, tetapi setidaknya untuk kemunculan pertama dari kata-kata tersebut akan saya sandingkan terjemahannya sekali.

tags: baca novel The Novel’s Extra Bahasa Indonesia, web novel The Novel’s Extra Bahasa Indonesia, light novel The Novel’s Extra Bahasa Indonesia, novel The Novel’s Extra Bahasa Indonesia, baca The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 2, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 2 manga, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 2 online, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 2 bab, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 2 chapter, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 2 high quality, The Novel’s Extra Bahasa Indonesia 2 manga scan, ,
Table of Content
Advertise Now!