Yuusha-sama no Oshishou-sama Chapter 54

Dibaca 769 orang
Font Size :
Table of Content
Dark Mode
Bagaimana menurutmu tentang situs ini? Berikan ulasanmu disini: Halaman Ulasan

Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia

Penerjemah: niznet
Penyunting: RiceCooker
Korektor: –

Chapter ini saya terjemahkan ulang agar kalian dapat membiasakan diri dengan cara menerjemah (Rasa Bahasa) saya.

Chapter 54 – Iblis (2) ReTL

Kepulan debu dan kobaran api yang berputar disertai goncangan yang terjadi di sekitarnya.

Terjadilah ledakan yang menggelegar ketika tanah berguncang. Gelombang udara yang sangat panas membuat semua orang terpaksa untuk menutupi wajah mereka.

Wynn membaringkan tubuhnya ke tanah agar dirinya tidak ikut terhempas dikeranekan ledakan itu.

 

Betapa kuatnya, Eliza terkagum selagi ia menutupi wajahnya dengan lengan jubahnya.

 

Debu yang bertebangan di udara mencegahnya untuk membuka lebar matanya, dan dia berusaha untuk menemukan Leti. Berusaha untuk mengabaikan rasa perih di matanya, dia akhirnya berhasil menemukan Leti.

Leti sudah berjongkok lebih dulu saat goncangan itu terjadi.

Setiap kali merapal mantra, sang pengguna akan dikelilingi oleh sisa mana yang berfungsi sebagai perisai untuk melindungi mereka.

Semakin kuat mantranya, semakin besar sisa mana yang tersisa, jadi perisai Leti seharusnya sudah menghalau sebagian besar goncangan?

“Fireball” adalah salah satu mantra serangan yang paling dasar, tapi mantra yang dirapal oleh Eliza tidak sebanding dengan yang baru saja di rapal oleh Leti. Meski ia menggunakan mantra yang jauh melebihi kemampuan Eliza, Leti sama sekali tidak terlihat lelah.

 

Dengan mantra ini, bahkan Iblis pun akan…

 

“Awoooooooo!”

 

Pikiran Eliza terhenti oleh lolongan yang mirip dengan serigala.

Pada saat yang sama, cahaya merah marun menembus kobaran api itu.

Api menyebar disertai kepulan asap dari tempat terakhir serigala terlihat.

 

“Tidak… Tidak mungkin…” Ucap Eliza yang gagap dengan mata melebar.

“Mustahil!” Teriak Louis yang tak percaya.

 

“Wah, mengejutkan. Tak disangka akan ada penyihir yang kuat di sini.”

 

Veldaroth menebas api tersebut, namun masih terlihat asap yang mengepul dari tubuhnya

Lengan kanannya mulai membesar dan cahaya merah maron berdenyut di sepanjang

lengannya.

 

“Ada banyak mana, tapi aku ga tau kenapa dia gunain api biasa. Kayaknya dia masih amatiran, ya?”

 

Eliza mengeritkan giginya saat dia mendengar iblis itu tak terluka.

Bola api yang dirapal oleh Leti sama dengan mantra yang digunakan oleh Eliza.

Dia membayangkan mantranya persis dengan Eliza, jadi Leti tidak mengalirkan mananya dengan tepat ke mantranya.

Sesuai yang dikatakan Veldaroth sebelumnya, Eliza masih jauh dari penyihir kelas satu. Dia terampil… tapi hanya untuk seorang petualang. Jika dibandingkan dengan para kesatria kekaisaran dan para penyihir istana, dia tak lebih dari seorang pemula.

 

Soalnya jelas dari mantra Bola Api yang dia rapalkan.

Untuk setiap 10 unit mana yang digunakannya untuk membuat bola api, paling banyak, hanya dua api lah yang akan mempunyai efek sihir.

Dari delapan unit sisanya, dua unit-nya lagi akan dihabiskan untuk merapal mantra, dan kelima unit sisanya digunakan untuk membuat api biasa, yang tak mempunyai efek sihir.

Sisa unit terakhir, akan menjadi pelindung dari sisa-sisa mana yang digunakan.

Kemampuan penyihir sangat tergantung pada pemahaman mereka sendiri, yang diperluas dengan memperoleh pengetahuan dan grimoire-grimoire misterius, serta pengalaman yang diperoleh dari berbagai percobaan dan kesalahan.

Iblis berbeda dengan kebanyakan makhluk hidup dan monster-monster yang bisa terluka oleh api biasa. Veldaroth hanya bisa dilukai oleh sepersepuluh dari keseluruhan jumlah daya sihir yang digunakan untuk mantra—dua persepuluhnya mempunyai efek sihir.

 

“Lebih… Kalau saja aku menggunakan lebih banyak mana….” gumam Eliza yang menyesal.

 

Karena Leti hanya menirukan mantra “Bola Api” milik Eliza, termasuk komposisi sihirnya yang buruk, akibatnya mantranya pun sangat jauh dari potensi penuhnya.

 

“Kau sepertinya lebih menarik daripada yang lain.”

 

Veldaroth mengalihkan tatapan haus darahnya ke Leti.

Para petualang bisa merasakan tekanan yang kuat dan menyesakkan.

Wajah Leti menjadi Kaku ketakutan saat si haus darah itu fokus padanya.

Dia tidak bisa bersuara, kaki dan giginya gemetar.

Air mata mengalir dari matanya dan membasahi pipi putihnya yang cantik.

 

“Hei, tunjukkan mantra itu lagi. Mainlah denganku.”

“Eeek!” Teriak Leti yang ketakutan.

 

“Cih… cuman bocah bau kencur. Bahkan untuk bertarung saja takut. Ada apa? Aku ingin lihat mantra itu lagi. Atau cuman itu aja yang bisa kau lakukan? Kalau emang begitu…. kau kubunuh saja, ya?”

Ancam Veldaroth sambil memperlihatkan giginya pada Leti, yang tegang dan pucat.

 

Menunjuk gadis itu dengan tangan kanannya, dia berkata, “Kalau aku tidak bisa main denganmu, kalau gitu aku mungkin bunuh kau aja. Kalau kau kubiarkan hidup, saat besar nanti kau akan menjadi mainan yang sangat bahaya.”

Cahaya merah marun terkumpul di ujung tangan kanan Veldaroth dan mulai tumbuh dengan cepat.

“Leti!”

Tepat sebelum sihir Veldaroth meledakan kepala Leti hingga berkeping-keping, Wynn berlari dengan cepat ke sebelah Leti dan meraih lengannya.

Dia berlari sambil menyeretnya menjauh.

Cahaya merah maron meleset dari targetnya dan menghantam tanah, menerbangkan material tanah ke udara.

Wynn memeluk Leti untuk melindunginya dari serpihan-serpihan yang terbang ke arah mereka.

 

“Ugh…”

Leti mendengar rintihan Wynn di tengah-tengah badai serpihan-serpihan yang dahsyat.

Saat debu mereda, dia membuka matanya dan melihat anak lelaki yang memeluknya erat-erat.

 

“O-Onii… chan…?”

“Kau tidak apa-apa, Leti?    

Tanya Wynn selagi darah mengalir dari dahi dan lengannya.

 

“Onii-chan… darah… berdarah…”

“Jangan khawatir. Yang lebih penting, apa kau terluka, Leti?”

Leti sambil menangis, menggelengkan kepalanya.

Dia mencoba untuk memeluknya, tapi Wynn dengan pelan mendorongnya.

Dia berdiri dan mengangkat pedangnya saat dia berposisi bertahan di depannya.

 

“Betapa beraninya kau.” Ejek iblis itu.

“Onii-chan!” teriak Leti.

 

Meninggalkannya di belakang, Wynn berputar-putar di sekitar Veldaroth.

Dia melakukan gerakan zigzag dan terlihat mencoba menusuk badannya Veldaroth.

Tiba-tiba, dia membungkuk dan mengarahkan serangannya pada kakinya.

namun, tepat sebelum pedangnya mengenainya, Veldaroth melompat ke udara.

Wynn pun ikut melompat untuk mengejarnya, dan memutar tubuhnya, lalu bersiap untuk menebas si iblis di udara.

 

“Huh?”

Tapi Veldaroth berhasil lolos dari pandangannya.

 

“Gerakanmu lumayan juga, tapi masih terlalu lambat!”

“!?”

 

Saat Wynn mendarat, dia langsung mencoba berbalik.

Dia melihat Veldaroth menyerangnya.

Wynn coba untuk menguatkan diri dengan berposisi bertahan, tapi Veldaroth mengayunkan kaki kanannya ke bagian ulu hati Wynn sebelum dia bisa melakukannya.

Dia pun terhempas melengkung di udara. Dia terpental sekali, dua kali, tiga kali.

 

“Onii-chan!!”

“Wynn!”

Meski Leti dan Paul berteriak, Wynn tetap tidak bergerak.

Cahaya pucat memudar dari pedang yang terjatuh di sampingnya.

 

“Ooh, dia pingsan. Yah, aku juga sudah bersang-senang, jadi aku akhiri aja buat hari ini.”

 

Veldaroth memelototi para petualang.

Dia mengangkat tiga jarinya dan berkata, “Tiga hari. Akan kuberi kalian waktu sebanyak itu. Seharusnya mana kalian bisa pulih hingga saat itu. Lalu, akan kubunuh kalian semua, mulai dari gadis itu, lalu si bocah Avian kurang ajar itu. Tuan Raja Iblis menyuruhku untuk membantai para Avian kapan pun aku menemukannya. Dan mana gadis itu juga terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup.”

 

Veldaroth tersenyum bengis, mulutnya hampir terlihat seperti terpisah dari seberapa lebar dia memperlihatkan taring-taringnya.

 

“Dan begitu aku membunuh kedua bocah sialan itu, kalianlah selanjutnya. Jangan pikir kau bisa lari dari iblis sepertiku, ya? Kalau kau ingin hidup, cepat persiapkanlah diri kalian. Bukannya itu lebih menyenangkan?”

 

Tertawa keras, Veldaroth meloncat tinggi dari tanah dengan mudahnya.

Dia pun langsung menghilang, dan tekanan yang kuat darinya pun juga hilang.

Tak ada satu para petualang yang bisa bergerak seinci pun.

 

***

 

“Gawat, kita tidak bisa mengalahkan…. si iblis itu,”

Keluh Oort sembari membalutkan bidai pada tangan kirinya yang patah.

 

“Bahkan sihir Eliza atau Leti sekali pun tak bisa melukai monster itu,”

Gumam Paul selagi meratap.

 

“Aku tak menyangka iblis sekuat itu,”

Gumam Louis sembari melihat api dengan tatapan kosong.

 

Dia sudah disingkirkan oleh serangan pertama Veldaroth, dan dia merasa begitu kesal dengan kenyataan tersebut ketimbang mengkhawatirkan peluang mereka untuk mengalahkan iblis itu.

Rasa frustasinya semakin membesar saat dia menyaksikan Wynn yang juga melawan iblis itu.

Anak lelaki itu tengah tertidur di pangkuannya Eliza.

Karena Leti kehabisan mana, luka yang disebabkan oleh batu-batu kerikil hanya bisa diobati dengan obat salep, lalu dibalut.

 

Dilihat dari noda merah pada perban yang membalut dahinya, lukanya pasti amat menyakitkan.

Leti menangis hingga tidur sambil berpegangan erat pada Wynn.

Para petualang tidak bisa kembali ke Simurgh, atau bahkan ke rumahnya Laura, karena kedua anak itu sudah dinyatakan akan dibunuh oleh Veldaroth sekembalinya lagi nanti.

Mereka tak punya pilihan selain menunggu dengan sabar hingga Leti terbangun, dan menerbangkan pulang mereka semua.

Para petualang juga kelelahan.

 

“Kita tak bisa mengalahkan iblis itu. Kita harus meminta Orde Kesatria untuk membantu.”

 

“Apa Orde Kesatira akan bertindak?”  Tanya Eliza.

 

Para iblis tak muncul secara semabarangan di garis depan sesukanya.

Alasan sebenarnya tak diketahui, tapi para ilmuan berpendapat bahwa itu disebabkan karena jumlah mereka yang sedikit.

Para iblis menghindari penyebaran kekuatan mereka karena takut dihancurkan oleh para dewa, roh, atau naga jikalau mereka melakukannya.  

tags: baca novel Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia, web novel Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia, light novel Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia, novel Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia, baca Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia 54, Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia 54 manga, Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia 54 online, Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia 54 bab, Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia 54 chapter, Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia 54 high quality, Yuusha-sama no Oshishou-sama Bahasa Indonesia 54 manga scan, ,
Table of Content

Tinggalkan Komentar untuk Dukung Kami!

avatar
  Ikuti  
Notify of